murniramli

Anak-anak SD turun ke sawah

In Belajar Kepada Alam, Manajemen Sekolah, Pendidikan Jepang, Serba-Serbi Jepang on April 2, 2007 at 12:59 am

p5080016.jpg

Kemarin, sembari beres-beres kardus-kardus pindahan, saya sempat menyaksikan program menarik di NHK. Judul programnya : 発見!田んぼのいのち~こどもたちの農漁業体験 (hakken ! tanbo no inochi~kodomotachi no nougyogyoutaiken) yang kalau diterjemahkan kira-kira berarti : Temukan, makhluk hidup di sawah! Praktek bertani untuk anak).

Program ini dirilis oleh Kementerian Pendidikan Jepang (Monbukagakusho) bagi semua SD di Jepang dan sekitar 5000 anak ikut berpartisipasi. Setelah program berjalan setahun, NHK melaporkan berbagai kegiatan di beberapa sekolah. Salah satu sekolah, yaitu SD Baba(馬場)yang ada di kota Yokohama membuat sawah kecil di samping sekolah demi berjalannya program ini. Anak-anak terlibat mulai dari mengolah tanah, menabur benih hingga panen. Program berlangsung kurang lebih 6 bulan. Yokohama adalah daerah industri di Jepang, sehingga kesempatan untuk melihat persawahan mungkin terbatas. Di Tokyo, SD Ookura (大蔵小学校)yang ada di kota machida (町田市)meminjam sawah yang ada di sebelah sekolah untuk kegiatan praktek anak-anak. Orang tua dan masyarakat setempat pun ikut menjelaskan kegiatan bertani kepada anak-anak.

Apa yang dipelajari sebenarnya di sawah ? Banyak sekali, tetapi program ini menekankan supaya anak mengetahui banyak makhluk hidup di sawah yang saling tergantung satu sama lain. Atau kalau ditulis dalam bahasa yang susah, anak diajar mengenali ekosistem dan simbiosis antar makhluk.

Pengamatan anak terhadap makhluk hidup tentu saja berbeda dengan pengamatan orang tua. Anak-anak cenderung teliti, baik dalam menggambarkan detil hewan/serangga yang mereka temukan, pun menggambarkan gerakan makhluk kecil tersebut. Setiap regu kemudian mempresentasikan hasil belajarnya di sawah. Presentasi yang disajikan tidak hanya berupa ceramah, tetapi juga menciptakan tarian di sawah, panggung boneka tentang kehidupan di sawah, dan lain-lain.

Saya sangat tertarik ketika guru meminta murid membawa alat apa saja untuk merontokkan padi dari malainya (tangkainya). Anak-anak dengan kreatifnya menggunakan sumpit, baskom saringan, wadah berlubang-lubang kecil, dan lain-lain. Saya jadi ingat sewaktu menggunakan huller yang ada di kampus IPB untuk merontokkan padi hasil panenan. Ya dalam jumlah banyak, mesin memang harus digunakan, tapi bagi pembelajaran anak, mereka perlu dikenalkan prinsip merontokkan tersebut. Dan Pak Guru di SD Baba berhasil merangsang kreativitas anak didiknya.

Tidak hanya itu, seorang siswa SD Baba pun berhasil memprediksi jumlah serangga belalang yang ada di sawah mereka dengan menghitung satu-satu per rumpun padi. Saya jadi teringat pelajaran hama dan penyakit di IPB. Dulu sewaktu praktikum ekologi tanaman, kami diminta menghitung ulat hijau yang suka nongkrong di dalam tongkol jagung muda atau menggulung di daun-daun jagung, plus membuangnya karena termasuk hama pengganggu. Saya paling suka pekerjaan ini, walaupun terkesan jijik pertama kali, tetapi lama-lama saya menikmati acara membuangi satu-satu ulat-ulat tersebut. Karena mengerjakannya sendiri, maka saya akhirnya paham di mana harus menemukan tempat persembunyian ulat-ulat itu. Duh, jadi kangen bakar jagung ! (OOT blas !!)

Beras yang didapat, dibuat onigiri, penganan berbentuk segitiga atau bulat lempeng berisi ikan, daging atau hanya ditaburi nori (seaweed), wijen, dll, dibungkus nori (sea weed). Makanan ini mungkin seperti lemper atau arem-arem di Indonesia, saya sangat menggemari makanan ini sebagai pengganjal perut sebelum berangkat bekerja atau tengah bekerja tapi tak sempat makan lengkap. Karena dijual di kombini-kombini yang buka 24 jam, onigiri termasuk makanan favorit sebagian orang Jepang. Apalagi anak-anak SD Baba yang menanam hingga memanen padinya sendiri, barangkali onigiri yang mereka makan waktu itu adalah onigiri terlezat yang pernah mereka cicipi.

Sekolah-sekolah yang berlokasi dekat laut, mengajak anak untuk memelihara kerang dan merangsang kreativitas anak untuk menciptakan masakan sederhana dari kerang. Di SD yang lain, anak-anak diajarkan membuat sayuran yang difermentasikan (つけもの=tsukemono), semacam kimchi di korea. Atau di provinsi yang terkenal dengan produksi jeruknya, maka anak-anak setempat pun belajar budidaya jeruk.

Suatu proses pembelajaran yang sangat menyenangkan.

Sebelum pergi ke Jepang, saya ingat pernah mengusulkan ke rekan guru biologi untuk menggunakan sawah di samping sekolah kami sebagai tempat praktek biologi karena sekolah kami tidak punya lab khusus. Dalam salah satu usulan kurikulum belajar pertanian di Pesantren Darul Fallah pun saya pernah mengajukan konsep perlunya mengajar fakta alam kepada siswa dan memperbanyak kegiatan belajar outdoor.

Siswa-siswa kelas 3 di MA Al-Haitsam bahkan harus menulis paper tentang wilayah Situgede, kampung tempat sekolah kami berada, mewawancarai Pak Kades tentang demografi dan potensi daerah. OSIS juga pernah mengadakan kegiatan `tour ke kampung-kampung` melalui pematang sawah. Ya, sekolah kami terletak di tengah persawahan. Saya masih ingat selalu berhenti lama-lama di tepi pematang sawah mengamati telur-telur keong yang berwarna pink, atau menyapa petani sebentar yang mengeluhkan harga pupuk yang makin melambung dan harga beras dari petani yang makin rendah. Hmm…seperti apa ya, sekolah saya sekarang ?

Iklan
  1. Saya juga jadi ingat masa kecil, di sawah, ikut-ikutan nyari keong sawah, buat dimasak. Terus mandi (berenang =ngebak) di kali = sungai, terus makan di pinggir sawah, minum air kelapa muda, di gubuk reot milik kakek dan nenekku, waduuuuuuh enaaaak deh. Jadi kangen sama suasana dulu…

    murni : ternyata masa kecil bagi semua orang punya kenangan tersendiri ya (^_^)

  2. kayaknya Anda sudah ketularan nulis dengan cara-cara yang detil Mbak.Moga-moga sepulang ke Indonesia akan muncul buku dari Anda ttg budaya masyarakat Jepang yang perlu kita tauladani. Soalnya podho-podho asiane ning biso ngalahin orang barat….Iku lak top dan patut dicontoh to…?

    murni : mohon doanya saja, Pak. Tahun pertama di Jepang sebenarnya saya sudah berencana menulis buku ttg pendidikan di Souya. Outlinenya sudah jadi, tinggal disempurnakan, tapi tertunda terus, apalagi sekarang sibuk dg menulis paper dan thesis. Tapi insya Allah saya akan tulis buku2 itu.

  3. Numpang nimbrung nih Mbak…
    Wah, kalo ke sawah dijadikan program rutin di SD saya dulu, apa nggak seneng saya Mbak… Bisa nangkepin ikan cupang (di tempat saya namanya ikan slomang) seharian. Cuma biasanya, guru-guru SD itu takut anak-anak SD jadi cacingan, mencret-mencret, atau sakit panas dingin gara-gara main di luar.
    .
    Kecuali pelajaran olahraga sih…

    bukan. yg takut anak2 mencret dan cacingan itu orang tuanya, bukan bu guru (^_~)

  4. Kita2 yang sudah sedikit tua memang masih punya pengalaman dengan alam seperti ikut panen di sawah atau menanam palawija di kebun. Memang makan di sawah atau kebun nikmatnya luar biasa. Beruntunglah kita, karena berdasarkan dari pengamatan saya terhadap anak saya yang sekarang duduk di SD, dia tidak tertarik saat saya ajak ngambil ikan2 kecil di kolam keluarga di kampung halaman saya di Garut ataupun dia bingung saat diajak makan di kebun (apalagi sawah kali ya). Ini bukanlah salah dia karena memang dia dilahirkan dan besar di Jakarta yang sekolahnya tidak punya kesempatan untuk mengenalkan sawah atau kebun sbg lahan praktek. Ketika dia pertamakali praktek berkebun yaitu menanam dan kemudian memanen ubi di sekolahnya sekarang, Takigawa Shogako, dia sangatlah exciting. Sekarang dalam banyak hal dia lebih reaktif dibanding sebelumnya, mungkin karena cara pengajaran yang dia terima saat ini lebih menuntutnya untuk kreatif dan inisiatif. Cara belajar yang santai dan menyenangkan membuat dia enjoy tidak masalah dengan keterbatasan bahasa. Sekarang saya malah jadi bingung, gimana nanti kalo kami balik ke Ina? Sebelumnya dia sangat stress dengan pelajaran yang sangat banyak dan padat di Ina.
    Ada joke, disuatu kelas di SD Jepang yang beberapa muridnya adalah orang Ina, menjelang pulang guru berkata “anak-anak di luar hujan”, saat itu anak2 Jepang sibuk mempersiapkan payung (yang memang selalu dibawa dan disimpan di sekolah untuk persiapan). Sementara murid org Ina malah duduk lagi dan membuka kembali catatan sambil menunggu kata2 berikutnya yang akan keluar dari mulut sang guru…. karena mereka pikir guru itu lagi mendiktekan pelajaran…..??????
    Mbak, kenapa di Jepang anak2 SD belajarnya sangat ketinggalan jauh daripada di Ina tapi kok hasil akhirnya mereka lebih pinter2 ya? (maaf saya hanya mau tau apakah jawaban Mbak Murni sama dengan yang ada dalam pikiran saya he..he..he…)

  5. mba teni :
    Anak Jepang diajari u mempunyai motivasi belajar dan mencari tahu, menjadi kreatif. Sedgkan anak Indonesia diajari u lulus ujian dan dapet A.
    Ibaratnya : guru di Jepang hanya memberi pancing, dan anak yg hrs berusaha menggunakan alat itu spy bisa bertahan hidup. Sedangkan di Indonesia, guru memberi pepes ikan gurame yg bisa lgsg ditelan.

    Jawabannya pasti laen dg yg ada di kepala hehhee…
    ikut hanamian ga ? tgl 15

  6. Ha..ha…ha… memang betul jawabannya ada bedanya…., disamping jawaban Mbak Murni yang saya yakini betul adanya, juga saya berpikir karena sistem pengajaran di Ina masih memakai sistem “menjejali sebanyak2nya” (maaf kalo saya memakai istilah itu…). Anak2 sering diberitahu terlalu banyak, disuruh menghapal dalam waktu yang singkat untuk kemudian diuji. Karena anak tidak disuruh mencari tahu sendiri, maka segala sesuatunya (biasanya) akan segera hilang. Lain kalo anak disuruh mencari sendiri, maka apa yang didapatnya akan tersimpan dalam memori. Saya sering menganalogikan otak anak seperti tanah, bila diguyur air sedikit2 dan dibiarkan sejenak maka air itu akan teresap dengan mudah tetapi bila terus2an diguyur air, tanah akan jenuh dan kehilangan daya resap akhirnya air akan mengalir percuma. Sama, pada titik tertentu otak akan merasa capek dan jenuh jika terus2an dijejali tanpa diberi waktu untuk menyimpannya (lewat praktek atau cara2 lain sebagai stimulan agar apa yang diajarkan bisa diterima dan disimpan dalam ingatan).
    Saya sering berharap kurikulum di Ina akan berubah sehingga anak2 bisa menyerap ilmu di sekolah dengan mudah. Berubah sih hampir tiap tahun ya (???) tapi makin hari malah makin berat. Pak dan Bu Guru, sebelum saya kesini saya seperti sekolah kembali di SD, SMP dan SMA karena kalo tidak saya tidak bisa membantu anak saya untuk mengerjakan PR. Waktu anak saya kelas 2, ada pelajaran seni menggambar dengan bahasan teori perspektif padahal saya masih ingat itu baru saya dapat ketika saya SMA kelas 2, itu hanya salah 1 contoh. Masih banyak yang membuat ortu terbengong2, dan mereka kesulitan utk membantu anak2nya. Alhasil ujung2nya guru2 di sekolah laris manis karena banyak murid yang minta les….

    Hanamian, Insya Allah datang. Sakura di Nagoya Jo juga sangat bagus….Mbak. UUiiiinndaaahhh rek…

  7. Mba Teni :

    Hmmm…kurikulumnya sebenernya teorinya sdh bener yg sekarang. Kurikulum baru, memberi keluasan kepada guru u berkreasi menciptakan bahan ajar, tapi sayang guru terjebak pada sistem ujian nasional, yg mau tdk mau mereka cenderung hanya punya waktu menyiapkan anak u ujian saja.

    masalah beban belajar yg sangat banyak, saya setuju itu. Selama mengajar saya keteteran menyelesaikan target pelajaran yg demikian banyak, plus harus melatih soal2 ujian. Jam belajar di sekolah memang tdk akan cukup u itu semua. Andaikan standar kelulusan tdk berdasarkan ujian nasional, tp cukup ujian sekolah sj yg tentu saja hrs mengacu kpd standar kompetensi nasional, mk mungkin learning process akan lebih nyantai dna menyenangkan.

  8. ..ehm.. kurikulum itu sebenernya makhluk apaan? berkali-2 dijadikan kambing item/obyek penderita
    .. kan kasihan dia!

    memang bener beban belajar anak indonesia kelewat lengkap, semuanya mau diraih serasa di awan 7 jadinya terasa berat begitu.
    barangkali Impian Cita-2 si penyusun kurikulum tak kesampaian, ..eeh.. kali-2 bisa diwujudkan orang lain [guru, pen.] kan bangga, …glek..glek…

    komposisi mboten pas alias rujak sentul, sitok ngalor setunggalipun ngidul?
    Proyek Dep P&K, Depdikbud, Dikbud & sekarang Diknas itu :
    pemerataan wajib belajar 9 tahun, dititik beratkan ke sekolah umum {SMP & SMU} itu pendidikan terminal u/ meraih S1 [minimal] atau tidak terserah. dengan asumsi semakin banyak tercetak sarjana, semakin berkurang ketertinggalan Indonesia dari negara tetangga.

    Arahan Pemerintah REPELITA I s/d VI [sebelum era repotnasi] :
    untuk isi pundi-pundi & peroleh devisa degan cepat dilakukan percepatan industrialisasi tanggalkan agraris.
    Pola pohon industri butuh tenaga terampil cerdas massal melebar kebawah & mengerucut keatas (-) intelektual minimal. Tersedia tenaga terampil cerdas, terdidik ada pada pendidikan kejuruan {ST-STM, SMEP-SMEA, SPMA,SKMA, SKP} lulus langsung siap pakai/bekerja atau menjadi ibu RT yang baik.

    Namun apa yang terjadi, Dep P&K, waktoe itoe, memberlakukan arah kebijakan berbeda jalan dengan pemerintah, dimana menganakemaskan sekolah umum, menganaktirikan sekolah kejuruan, dalihnya :
    1. biaya @satuan pelajaran sekolah umum lebih murah dan terlalu mahal {karna ada ekstra praktek lapangan}
    2. kekeliruan struktur penggajian berlaku di masyarakat, anak kejuruan dibawah anak umum {SMA, waktoe itoe berharga skali}
    3. pilih bikin kurikulum tambahan extra kurikuler u/ anak sekolah oemoem identik dengan materi ajar sekolah kejuruan, dengan dalih, sewaktu- waktu putus sekolah [droup out=do] atau tak mampu melanjutkan ke PT, anak telah dibekali keterampilan hidup mandiri??? hah masak sih…
    4. sungguh alasan sangat menggelikan sekaligus mengecewakan dari seorang Menteri P & K saat itoe Mashoeri [kini, alm.] …dst……
    5. dua konsep rujak sentul itu hingga kini benceng cueng/carut marut tak berkesudahan dan anak didik+guru obyek hidup penderita eksperimen kebijakan kurikulum coba-coba nasib manusia anak bangsa republik indonesia
    6. sepertinya perlu langkah jelas, balikkan jumlah komposisi dan fungsi + revitalisasi sekolah kejuruan sebagaimana mestinya ; dan merger likuidasi sekolah umum belum bermutu. Jika arah negeri ini mulai sadar & benar, balik ke industri berbasis pertanian? syukur alhamdulillah
    7. Jadi pilihannya jelas, karena kesulitan ekonomi/sisi intelektualnya biasa-2 saja & bisa cepat bekerja, sekolah kejuruan tempatnya. Dan bagi kelimpahan ekonomi lagi cemerlang bisa memilih jalur sekolah umum selanjutnya meraih ke PT.
    8. sensei/guru dan PT. pun, benar-benar terseleksi juga+jaga mutu, jumlah terbatas kualitas teratas,
    Diknas mudah awas (..ilah)
    9. bagi anak lulusan kejuruan, cemerlang & berniat lanjutkan ke PT, tersedia College/Polytechnic/ Diploma. Jadi tak ada faktor/kata pembatas/ pembeda, dijadikan [tak ada pemerataan kesempatan peroleh pendidikan layak, ini issu/ jargon konsumsi partai politik] selama mereka mampu memenuhinya, OK.
    10.kesalahan=kegagalan, mesti diperbaiki. belajarlah dari akar sejarah [=pengalaman hidup],

    Jangan biarkan parpol ikut-ikutan bisa semakin kacau atau tambah beres ya?

  9. Pak Ardi :
    Sejarah pendidikan menengah di Indonesia mirip sekali dg pendd. menengah di Jepang. Saat Jepang mengalami transisi dr negara agraris ke industri, kebanyakan sekolah menengah adalh sekolah kejuruan. Bahkan dlm sejarahnya sekolah kejuruanlah yg duluan ada seblm sekolah menengah umum. Saat ini sekolah kejuruan makin pudar dan Monbukagakusho justru memacu pengembangan sekolah umum dg asumsi sama, akan banyak yg lanjut ke PT demi mengejar produksi sarjana dan tdk tertinggal negara maju lainnya. Pendidikan kejuruan skrg dimasukkan ke pelajaran SMA sebagai mata ajar `integrated course`.
    Sewkt jaman Pak Wardiman jadi Mendikbud, arah pendidikan mengikuti pola Jerman yg membagi jenjang pendidikan ke arah karir akademikus dan karir profesional. Skrg pola ini diterapkan kembali di IPB. Dan politeknik menjadi pasar cukup ampuh untuk mendongkrak keuangan kampus2 BHMN.

  10. Mbak Murni, masih ingat saya ga? Seneng deh bisa nemu websitenya Mbak… ^^…
    Iya nih… harusnya ada perombakan kurikulum di qta… terutama buat anak-anak SD… belajar dng gembira kan beda dng belajar krn terpaksa.

  11. Supaya bisa menikmati dunia barunya, memang anak-anak di sekolah Jepang memang butuh suatu adaptasi tertentu.
    “Bagaimana sekolahnya? Senang?”

    “Iya, Okasan. Tadi di sekolah kita mengunjungi sawah, memotong padi, dan lain-lain.

    Bangunan fisik, perlu dipertimbangkan
    Ketika anak masuk sekolah di jepang, artinya ia keluar dari rumah dan masuk ke dunia baru. Agar si anak bisa memasuki dunia barunya dengan enjoy , ia butuh persiapan psikologis.

    “Sama seperti orang dewasa yang baru pertama masuk kerja, anak prasekolah pun mengalami berbagai perasaan. Misalnya, senang tapi juga cemas dan merasa tak nyaman.”

    Sukes bergaul, sukses belajar?
    Tidak sedikit orang tua beranggapan bahwa kemampuan anak beradaptasi di sekolah merupakan penanda sukses tidaknya si kecil menjalani hari-hari belajarnya di sekolah. Padahal, reaksi awal si kecil saat masuk sekolah bukanlah ramalan keberhasilannya dalam belajar.

    Ketika memasuki sekolah, si anak memasuki dunia baru yang di dalamnya terdapat berbagai hal: teman baru, orang dewasa lain selain orang tua dan pengasuh anak, yaitu guru, serta sejumlah kegiatan yang mungkin belum pernah dilakukan anak. Untuk menghadapi ini semua, anak butuh kesiapan fisik, kognitif dan sosial-emosional.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: