murniramli

Mesin pintar

In Serba-Serbi Jepang on April 2, 2007 at 2:41 am

Dalam perjalanan pulang dari Nagano akhir Februari yang lalu, kami beristirahat sebentar di sebuah perhentian dekat Nagoya. Karena udara sangat dingin pada saat itu, tak ada yang paling nikmat kecuali minuman hangat. Jadi kami mencari toko yang biasanya menawarkan teh hijau hangat, ternyata hari itu libur.

Keluar sebentar dari areal pertokoan ada sebuah vending machine yang menawarkan minuman hangat. Mesin ini agak berbeda dengan mesin yang biasa saya lihat di Nagoya, karena pelayanannya lumayan komplit. Vending machine yang biasa saya pakai tidak menyediakan pilihan selain jenis minuman dan harganya tentunya, tetapi mesin ini benar-benar membuat minuman sesuai pilihan konsumen. Pilihan terdiri dari jenis minuman berikut harganya, kekentalan, panas atau dingin, plus kemanisan. Harga minuman berkisar antara 100 hingga 200 yen. Yang paling bahagia bagi orang asing karena mesin ini pun dilengkapi dengan bahasa Inggris.

p1170591.jpg p1170573.jpg p1170574.jpg p1170578.jpg

Jadilah kami seperti menemukan mainan baru, mencoba-coba beberapa jenis minuman.

Selain vending machine untuk minuman, beberapa mesin juga menjual makanan instant, seperti kentang goreng, hot dog, takoyaki (bakwan octopus), onigiri (lempernya orang jepang), dll. Konsumen benar-benar dimanjakan.

p1170587.jpg p1170589.jpg

Di negara seperti Jepang, penggunaan mesin sebagai alat untuk melayani manusia semakin berkembang pemakaiannya. Dengan menurunnya jumlah angka kelahiran setiap tahunnya, memang wajar jika Jepang me-mekanisasi-kan banyak fasilitas umumnya. Selain mesin-mesin ini bekerja dengan faktor kesalahan rendah, tidak mengenal sakit atau harus repot ke belakang untuk buang air (^_^), tentu saja biaya operasionalnya lebih rendah dibandingkan harus menggaji pegawai.

Hanya satu saja barangkali yang tidak dapat dipenuhi oleh mesin-mesin itu : keramah tamahan manusia. Sekalipun mesin pintar yang saya pakai untuk beli minuman di atas, di akhir servicenya menampakkan gambar anime Jepang yang membungkuk mengucapkan : arigatou gozaimashita (terima kasih banyak), tetap saja rasanya hambar. Mungkin karena senyumnya tak pernah berubah, atau dia tak bisa mengomentari ketika saya bilang : `oishii` (enak !).

Saya jadi teringat perjalanan naik bis di Jawa kalau saya pulang ke Madiun. Setiap acara istirahat, biasanya saya mampir ke warung memesan wedang jahe, sambil tak lupa sedikit mengobrol dengan penjual tak kala menyeruput minuman hangat itu.

Barangkali kalau kehidupan manusia dipenuhi dengan mesin-mesin, makin jarang saja manusia tersenyum. Makin enggan pula kita bicara, dan …budaya mengobrol jadi hilang ! hiks …! (>_<)

Iklan
  1. wah.. kalo di Indonesia dipenuhi mesin nggak ada lagi obrolan hangat di warung kopi, kalo di sana bisa jadi, karena orangnya pada sibuk membangun negeri lha disini orangnya pada sibuk membenarkan diri.

    murni : mungkin masih bisa ngobrol, Pak…beli kopi dari mesin trus bawa ke warung, ngobrol di warung, kmd kalo kopinya habis tinggal minta secangkir lagi ke mbok warung (^_~)

  2. Numpang nimbrung nih Mbak…
    Iya juga sih Mbak. Cuma (mungkin keuntungannya) kalo mesin kan juga nggak bisa marah-marah seperti penjual nasi yang sering saya hutangi, kekeke….

    murni : pramur…harus distop tuh kebiasaan….berhutang !
    kalo ngga ada uang, latihan jd orang sunda…makan daun (^_~)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: