murniramli

Pokoknya jangan sampai kalah !

In Serba-Serbi Jepang on April 6, 2007 at 1:21 pm

 p1160323.jpg  p1160310.jpg

Ada kejadian menarik di tempat kerja saya selama beberapa hari belakangan ini, yang darinya saya belajar suatu semangat bekerja.

Mister donut tempat saya bekerja part time pekan ini menggelar SALE, dengan harga donut yang dibuat sangat murah, hanya 100 yen atau 120 yen. Biasanya ada dua kali dalam sebulan jadwal SALE, dan seperti biasa jadwal kerja kami pun sangat padat. Saya yang semula hanya mencantumkan jadwal kerja dari jam 6 pagi hingga jam 12 siang (kampus masih libur), diubah oleh manajer menjadi jam 8 pagi hingga jam 5 sore. Bekerja 9 jam dengan waktu istirahat kurang lebih kalau ditotal hanya 1 jam, benar-benar membuat punggung sakit dan tangan pegel. Tapi ada untungnya juga, berat badan saya nyusut tanpa harus diet (^_~).

Karena harga sangat murah, pembeli biasanya antri panjang, dan kami yang di dapur bekerja non stop dengan kecepatan tinggi. Dulu ketika masa awal bekerja, manajer sering memasang stopwatch untuk mengukur seberapa cepat saya mengisi krim, yang biasanya membuat saya stress dan malah tidak karuan bekerja. Sampai akhirnya, manajer berhenti mengukur karena saya tidak mengalami peningkatan (>_<). Tapi mungkin karena terbiasa melihat orang bekerja dengan sangat cepat, saya akhirnya pun kena imbas. Sekarang saya sudah lumayan cekatan.

Dalam keadaan SALE, tidak hanya tangan yang harus bekerja , tetapi otak pun harus jalan. Donut macam apa yang harus dibuat selanjutnya, bagaimana bekerja efektif dan efisien, plus tetap rapih dan memenuhi standar, ini yang harus terus ada dalam kepala. Ketika awal, saya masih selalu bengong, menunggu perintah manajer, tapi kalau sekarang saya sudah tahu step apa yang harus saya lakukan. Biasanya hanya minta kepastian saja kepada manajer, siapa tahu dia punya rencana lain.

Ada satu prinsip yang selalu saya ingat yang diajarkan Pak Manajer : pembeli harus dinomorsatukan, jadi dalam etalase tempat memajang donut, tidak boleh ada yang kosong. Setidaknya pagi hari ketika toko buka jam 8.00, semua donut harus disetor ke depan walaupun dalam jumlah sedikit. Kebetulan toko kami memajang 60 tray donut, dengan jenis sekitar 50-an, sehingga agak repot di pagi hari, dan kadang-kadang tidak bisa memenuhi target sempurna ketika toko buka. Sekalipun demikian lemari pajangan donut tidak boleh kosong.

Yang paling berat adalah merencanakan donut apa yang harus dibuat selanjutnya dan berapa banyak, sehingga tidak ada produk yang habis, yang berakibat pembeli kecewa. Dan ini yang saya salut dengan orang Jepang. Selain kecekatan tangan bekerja, ketangkasan otak berfikir, ada satu lagi yang tampaknya saya tidak punya, yaitu semangat bekerja.

` Zettai makenai`-pokoknya jangan sampai kalah ! itu yang selalu saya dengar dari mulut Pak Manajer sembari bekerja. Apa maksudnya ? Kalah dalam kalimat tersebut adalah dikalahkan oleh permintaan pembeli. Ketika dari bagian front ada laporan donut A habis, maka bagian dapur harus paling tidak tinggal finishing. Tapi kalau bahan belum diadon, donut belum digoreng, maka berarti kita telah kalah ! Kalah cepat dengan permintaan pembeli !

Kemarin, karena hanya saya dan manajer yang bekerja di dapur dan tamu membludak sekali, maka kami kalah ! Saya biasanya hanya tertawa, menertawi Pak Manajer yang mau-maunya beradu sedemikian rupa. Tapi tanpa patah semangat dia akan berkata : yosh, ganbarimashou ! (yup, ayo bersemangat !) dan kembali mengadon dan menggoreng. Benar-benar orang Jepang !! Zettai makenai !

Saking tidak ingin pembeli kecewa dan lama-lama antri di kasir, manajer pun menegur seorang pegawai yang sedang beristirahat, sedangkan pembeli membludak. Menurut manajer seharusnya walaupun istirahat, kalau tamu ngantri, pegawai harus menunda jam istirahatnya dan melayani tamu. Weleh…weleh…ini yang melanggar hak asasi ! Si pegawai sampai stress ditegur begitu. Tapi herannya saya jadi terimbas dengan `perlombaan` kecepatan pelayanan ini. Biasanya saya punya target step mana yang harus selesai, sebelum saya minta istirahat. Manajer biasanya mempersilahkan tetapi saya bersikeras menuntaskannya. Biasanya sebelum beristirahat, saya ke depan mengecek donut apa yang kurang, dan melaporkannya kepada manajer. Tapi karena begini, total istirahat saya bukan 1 jam tapi kurang (>_<).

Setelah hampir satu tahun bekerja, hingga saat ini saya masih penasaran apa sebenarnya yang melatarbelakangi semangat bekerja orang Jepang sehingga dia mengabaikan istirahat ? Sepertinya tidak sekedar uang dan prestasi, tapi sebuah kepuasan menjadi pemenang. Ya, bekerja di manapun sebenarnya adalah arena pertandingan kegesitan dan keuletan ! Juga kesabaran !

Iklan
  1. Bekerja dibatasi waktu dan tantangan seperti ini butuh daya tahan yang tinggi. Tahan cape, laper, bosen, dll. Bila didasari rasa suka, seneng, biasanya akan tahan dan tak akan mengeluh bahkan tak terasa …

    murni : setuju ! Sewaktu masih di Bogor saya dan teman buka usaha handicraft. Krn suka, saya biasa bekerja hingga jam 2 malam. Atau krn saya insomnia ya (>_

  2. Numpang nimbrung nih Mbak…
    Setelah baca, kok jadi takut mau ke sana ya? Seperti tak ada semangat untuk bersaing…
    .
    Wah, ampun… 9 jam sehari? Ayah saya saja yang kerja “cuma” 8 jam sehari dan Ibu saya yang kerja 5 jam sehari, masih suka mengeluh dan “korupsi” waktu barang 10menitan kalo jam istirahat. Mungkin karena pengaruh usia.
    .
    Yang menyebabkan workaholic mungkin semangat nasionalis nan membela negara Mbak.. (nebak)

    murni : tebakanmu salah. Wong Jepang ga nasionalis blas !! Opo kuwi negoro, ra mikir (^_~)

    Jangan takut ke Jepang, dulu mereka sdh menaklukkan nenek moyang kita, sekrng kita harus taklukkan dia, booo (^_~)

  3. mau dong donatnya 😀

    murni : ntar saya bawain ke Jakarta, Pak (^_^)
    Kalo ga berhasil jadi peneliti, saya mo buka toko donut di Indonesia heheheh…

  4. Wuah…..saya juga sering kagum dengan semangat kerjanya Nihonjin. Koq bisa kerja sampai seperti itu.
    Kebetulan saya punya teman di Tokyo ( dia orang Jepang ). Saya sering bertanya tentang cepatnya jalan orang Jepang dan semangat kerja mereka.
    Jawabnya “kalau tidak cepat dan malas saya bisa mati karena miskin”.
    Benar-benar perjuangan hidup yang sangat berat 🙂

    murni : kadang mereka bisa makan sambil berlari (^_^)

  5. wuih kerja-kerja kerja hebat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: