murniramli

Rainbow Plan, reformasi pendidikan di Jepang

In Pendidikan Jepang on April 6, 2007 at 12:15 pm

Seperti apakah reformasi pendidikan yang dicanangkan di Jepang ? Tahun 2001 Kementrian Pendidikan Jepang mengeluarkan rencana reformasi pendidikan di Jepang yang disebut sebagai `Rainbow Plan`.  Apa saja isinya ?

  1.  Mengembangkan kemampuan dasar scholastic siswa dalam model pembelajaran yang menyenangkan. Ada 3 pokok arahan yaitu, pengembangan kelas kecil terdiri dari 20 anak per kelas, pemanfaatan IT dalam proses belajar mengajar, dan pelaksanaan evaluasi belajar secara nasional
  2. Mendorong pengembangan kepribadian siswa menjadi pribadi yang hangat dan terbuka melalui aktifnya siswa dalam kegiatan kemasyarakatan, juga perbaikan mutu pembelajaran moral di sekolah
  3. Mengembangkan lingkungan belajar yang menyenangkan dan jauh dari tekanan, diantaranya dengan kegiatan ekstra kurikuler olah raga, seni, dan sosial lainnya.
  4. Menjadikan sekolah sebagai lembaga yang dapat dipercaya oleh orang tua dan masyarakat.  Tujuan ini dicapai dengan menerapkan sistem evaluasi sekolah secara mandiri, dan evaluasi sekolah oleh pihak luar, pembentukan school councillor, komite sekolah yang beranggotakan orang tua, dan pengembangan sekolah berdasarkan keadaan dan permintaan masyarakat setempat.
  5. Melatih guru untuk menjadi tenaga professional, salah satunya dengan pemberlakuan evaluasi guru, pemberian penghargaan dan bonus kepada guru yang berprestasi, juga pembentukan suasana kerja yang kondusif untuk meningkatkan etos kerja guru, dan pelatihan bagi guru yang kurang cakap di bidangnya.
  6. Pengembangan universitas bertaraf internasional
  7. Pembentukan filosofi pendidikan yang sesuai untuk menyongsong abad baru, melalui reformasi konstitusi pendidikan (kyouiku kihon hou) (MEXT, 2006).

Hingga tahun 2007, ketujuh poin telah dilaksanakan secara simultan, walaupun di beberapa bagian ada protes dari kalangan guru, masyarakat pemerhati pendidikan. Untuk mewujudkan ketujuh poin tersebut bukan hal mudah, tapi saya melihat reformasi pendidikan di Jepang sekalipun mencontoh praktik dari Inggris atau Amerika, poin-poin yang diajukan benar-benar sesuai dengan problematika yang ada di Jepang.

Jumlah siswa per kelas di kota-kota besar masih cukup besar 35 orang per kelas, tetapi di beberapa propinsi jumlah siswa hanya sepuluh atau belasan orang dikarenakan angka kelahiran yang merosot.  Jepang tidak membangun kelas-kelas baru di sekolah tetapi justru memerger sekolah-sekolahnya.

Pendidikan moral yang diperdebatkan saat ini adalah yang berkaitan dengan nasionalisme, perlu tidaknya menceritakan sejarah perang kepada anak didik, perlu tidaknya menyanyikan lagu Kimigayo atau mengibarkan bendera hi no maru.  Pendidikan kedisiplinan tentu saja sudah terbentuk dengan baik di sini.

Poin nomor 4 merupakan hal yang terlihat nyata dengan banyaknya upaya sekolah membuka diri kepada masyarakat/orang tua, misalnya dengan program jugyou sanka (orang tua yang menghadiri kelas anak2nya), sougou teki jikan (integrated course) yang melibatkan masyarakat setempat, dan forum sekolah.

Poin ke-5 pun sedang marak dibicarakan saat ini dengan adanya `kyouin hyouka`, sistem evaluasi guru yang dibebankan kepada The Board of Education, dan renew sertifikasi mengajar melalui training atau pendidikan guru.

Reformasi higher education-nya tampaknya sangat gencar dilakukan dengan berbondong2nya mahasiswa asing datang ke Jepang.  Hanya ada satu kelemahan barangkali, yaitu bahasa.  Mahasiswa asing yang datang ke Jepang perlu mendalami bahasa selama 1 tahun, atau statusnya sebagai research student sebelum memulai program yang sebenarnya, dan ini yang membuat sebagian besar mahasiswa China lebih memilih Amerika yang notabene berbahasa Inggris, dan tak perlu membuang waktu 1 tahun sebagai research student.

UU Pendidikan juga menjadi bahan diskusi yang hangat di seantero Jepang.  Tidak saja ahlinya yang turun tangan berbicara tetapi juga Teacher Union, forum siswa, senat mahasiswa, bahkan ibu rumah tangga biasa yang terlibat dalam kegiatan  volunteer.

Seberapa jauh pencapaian Rainbow Plan ? Hasilnya maih harus ditunggu.

Iklan
  1. Selama 7 bulan, sudah 2 kali suami menghadiri Jugyou Sanka. Ini memang mempunyai daya yang luar biasa dalam menimbulkan kepercayaan orang tua terhadap sekolah (pengalaman kami sih…). Di saat orang tua datang itu guru mengajar seperti biasa tanpa dibuat2 atau merasa grogi (ini kami konfront dengan anak kami) dan memang terlihat dari rekaman yang dibuat suami. Sementara di Ina kami dipanggil ke sekolah biasanya hanya untuk mendengarkan program baru sekolah bla bla bla yang ujung2nya adalah kenaikan bayaran/SPP atau pungutan untuk membiayai program tersebut. Di Ina orang berduit saja yang bisa mendapatkan pendidikan yang baik (terutama tingkat SD dan SLTP), terkadang guru yang baik pun harus menyerah kepada putusan sekolah atau yayasan. Sementara sekolah2 negeri, di Jakarta pun kualitasnya…. tidak tau harus bilang apa, malah banyak yang memakai istilah untuk SD negeri di Jakarta dengan sebutan SD kampung untuk membedakannya dengan SD-SD swasta yang marak bermunculan dengan tawaran sistem pengajaran yang mengacu pada sistem luar negeri , dengan uang bayarannya pun satu semester melebihi gaji saya setahun sbg PNS.
    Gimana nih Mbak Mur?

  2. mba Teni :
    sekolah di SD-SD kampung itu lebih OK (^_^). Anak lebih `memanusia`. Sekolah sebenernya t4 yg hrs dibuat sbg arena yg paling menggembirakan anak. Sekolah tidak saja bertujuan membuat anak pintar, lulus ujian, dapet A terus. Tp lebih kpd lembaga yg mendidik anak u bersiap mjd manusia dewasa yg berakal dan bermental kuat.
    Smk banyak org yg memilih SD-SD kampung,mk smk besar kemungkinan ortu berpartisipasi dlm pendidikan anaknya, tp kalau makin banyak org yg memilih seklh mahal dg alasan mengejar mutu luar negeri, mk biaya pendidikan akan semakin melambung. Harga ditentukan o permintaan (^_~)

  3. lha iya biasa itu kejadian , mental wong indonesia
    [ayas sebenernya orang mana ya… khoq jadi lupa hehe..} kebesaran pasak daripada tiang [gantung?]
    kalau gak kebeneran..lho, bilamana tidak, gaji tak
    cukup, tuntutan anak & orang tua setinggi gunung [engsi,malu, kolot]… cukupin duit darimana?
    jalannya lurus alhamdulillah, lha kalau berkelok-2
    akhirnya kan bisa ke ..tiang […?] petaka buat semua
    Bukan sistem+guru & sekolahnya, terus keluaran produknya [anak didik] otomatis bagus, ..eit… nanti dulu!
    Pola pikir banyak diidap/mendera wali murid/ortu,
    tetapi MENTAL si anak kudhu dibangun lebih dulu, di rumah oleh ortu/walinya
    di sekolah oleh gurunya
    di lingkungan oleh masyarakatnya

    berkehendak adopsi sistem LN, jangan se1/2, ambil ksemuanya [jangan-2 cuma raga tanpa jiwa = mayat hidup] hehehe.. lagi ngetrend nih, Itu= wabah endemi atau pandemi.. ya? kalau panekuck itu kue ayas suka… hahaha… becanda

    Ada pertanyaan, bagaimana membangun mental
    & sikap mandiri, bukan mbebek & kuli buat anak didik indonesia? [nanti kleru lagi, bukan mandiri & siap belajar belum tentu, tpi yg. muncul mental SOMBONG , wah malah bikin repot]. Semoga Indonesia tidak semakin repot, tpi. bangkit dari tidur panjangnya… amin

  4. lha iya biasa itu kejadian , mental wong indonesia
    [ayas sebenernya orang mana ya… khoq jadi lupa hehe..} kebesaran pasak daripada tiang [gantung?]
    kalau gak kebeneran..lho, bilamana tidak, gaji tak
    cukup, tuntutan anak & orang tua setinggi gunung [gengsi,malu, kolot]… cukupin duit darimana?
    jalannya lurus alhamdulillah, lha kalau berkelok-2
    akhirnya kan bisa ke ..tiang […?] petaka buat semua
    Bukan sistem+guru & sekolahnya, terus keluaran produknya [anak didik] otomatis bagus, ..eit… nanti dulu!
    Pola pikir banyak diidap/mendera wali murid/ortu,
    tetapi MENTAL si anak kudhu dibangun lebih dulu, di rumah oleh ortu/walinya
    di sekolah oleh gurunya
    di lingkungan oleh masyarakatnya

    berkehendak adopsi sistem LN, jangan se1/2, ambil ksemuanya [jangan-2 cuma raga tanpa jiwa = mayat hidup] hehehe.. lagi ngetrend nih, Itu= wabah endemi atau pandemi.. ya? kalau panekuck itu kue ayas suka… hahaha… becanda

    Ada pertanyaan, bagaimana membangun mental
    & sikap mandiri, bukan mbebek & kuli buat anak didik indonesia? [nanti kleru lagi, bukan mandiri & siap belajar belum tentu, tpi yg. muncul mental SOMBONG , wah malah bikin repot]. Semoga Indonesia tidak semakin repot, tpi. bangkit dari tidur panjangnya… amin

  5. Di Indonesia masih berpikiran soal gengsi. Gengsi dong kalo anaknya ga masuk sekolah “Mahal” padahal belum tentu cocok dengan anaknya.
    Memaksakan anak untuk sekolah yang berbahasa Inggris padahal dirumah yang dipakai bahasa Indonesia belum lagi si mba-nya pakai bahasa daerah. Wuah bahasa si anak makin kacau deh.

    murni : mungkin ortu2 di Indonesia terjebak pd pendapat yg mengatakan usia dini adalah usia paling cepat dan mudah dlm belajar bahasa (^_^)

  6. g jg seneng ko sklh di jpng anaknya asik2.byeee

    murni : asyiknya gimana, Bud ? 😀

  7. Paling tidak, Jepang sudah memulai untuk mempetakan masalah yang mereka hadapi dan membuat program-program yang real dan implementatif untuk itu. Indonesia apa kabar?

    Makanya mbak, cepat-cepat pulang bwt ngebantu dunia pendidikan kita…hehehe.

    Semoga lancar thesis doctor-nya ya!

    murni : amin

  8. memang harus terus kita belajar

  9. Ternyata di jepang, rainbow plan tidak hanya ada pada rural development saja, namun ada juga di sektor pendidikan. Jadi penasaran apa sebenarnya filosofi dari rainbow plan ini? Apa ya rainbow plan diterjemahkan dalam bahasa jepang? Siapa tahu ada rainbow plan di sektor lainnya.

  10. […] Artikel asli dan artikel tentang pendidikan di Jepang dalapt juga diakses di: Rainbow Plan, reformasi pendidikan di Jepang […]

  11. di indonesia pelajaran budi pekerti dan sopan santun sepertinya sekarang sdh langka ,yang penting nilai UNAS bagus ya sudah cukup .Mau jadi apa negara kita ini? apalagi yang bisa kuliah hanya orang berduit saja krn untuk bisa kuliah biayanya mencekik .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: