murniramli

Orang-orang di desa memang ramah

In Sains, Serba-Serbi Jepang on April 9, 2007 at 7:03 am

p1170655.jpg p1170680.jpg

(sakura di dekat MD) (bunga tsubaki)

Kemarin hari minggu saya menghabiskan akhir pekan yang sangat mengesankan. Sehabis bekerja selama berhari-hari di mister donut, dan hari minggu pagi pun masih diminta masuk, pufff….akhirnya saya menarik nafas lega, ketika diijinkan pulang jam 10 pagi. Sudah saya rencanakan hari ini setelah bekerja, saya harus pergi memotret sakura di meijo koen dekat tempat saya bekerja. Karena sudah tidak ada waktu lagi, helaian bunga sakura sebentar lagi akan rontok. Karena jam 2 saya harus mengajar, jadi acara memotret hanya berlangsung 2 jam. Lumayan banyak bunga yang berhasil saya jepret, tidak hanya sakura, tapi bunga musim semi lainnya yang mulai bermekaran.

Setelah mengajar, jam 4 saya diundang teman yang tinggal di desa untuk makan malam. Suami teman membudidayakan lebah Aphis cerana japonica yang terkenal sangat mahal produk madunya. Sebagai pengajar di Aichi ken nougyou daigaku kou (愛知県立農業大学交), yaitu college pertanian milik provinsi Aichi, teman mendapatkan fasilitas rumah mungil di dekat kampus.

Berkunjung ke desa Miai(美合)yang terletak di Okazaki membawa suasana yang sangat berbeda bagi saya yang terbiasa tinggal di Nagoya yang penuh pencakar langit. Warna hijau persawahan sudah mulai tampak ketika memasuki daerah Miai, kebun-kebun sayur memanjang indah dan rapih. Benar-benar mengingatkan saya pada kampung. Teman menjemput di stasiun dan mengajak menyusuri areal kampus yang begitu luas. Karena hari Minggu, tak ada seorang mahasiswa pun yang tampak. Walaupun agak capek, saya menikmati jalan-jalan sore itu. Melihat beragam sakura yang katanya ada 350 species di dunia, mendengarkan cicit burung `kiri` (nama latinnya tidak tahu, tapi dia mengeluarkan bunyi kiri..kiri..kiri), dan orang Jepang menamainya `kiri tori`, pun mencium bau khas sapi yang lagi tidur-tiduran. Sepanjang jalan, tentu saja saya tak henti-hentinya bertanya nama-nama tanaman, dan teman saya yang kebetulan orang pertanian menjelaskan dengan sangat detil.

p1170839.jpg         p1050310.jpg         p1170718.jpg

(jenis sakura)      (shidare sakura-waterfall)        (jenis sakura)

Sekitar jam 6 kami pulang ke rumahnya dan melihat 2 kandang lebah yang unik, tidak seperti di Indonesia. Rumah lebah di Indonesia berupa screen-screen, sedangkan rumah lebah di Jepang tidak menggunakan screen, tapi semacam balok/batang kayu. Saya hanya melihat dari jauh kandang-kandang itu karena belum pernah tersengat lebah dan tentu saja tidak mau merasakannya.

Teman mempersiapkan makan malam yang wah, dengan menu sushi, sashimi, tempura dan ikan pepes ala Jepang. Sambil menunggu istrinya memasak, Pak Koide, sang suami menjelaskan dan menunjukkan buku lebah yang sangat komplit dan full color. Saya baru tahu kalau lebah yang dibudidayakan di Indonesia adalah lebah western, dari Eropa. Dulu saya diberi madu dari hutan Kalimantan yang rasanya pahit bukan main, tapi karena obat, saya tenggak juga. Lebah yang ada di Kalimantan adalah lebah asli Kalimantan.

Sambil menerangkan, tentu saja saya dipersilahkan mencicipi madu beragam rasa. Ada 3 madu yang disajikan, madu dari lebah Jepang, madu yang dihasilkan dari bunga akasia, dan madu yang diproduksi dari bunga sakura. Yang terakhir belum sempat saya cicipi karena sengaja disiapkan sebagai oleh-oleh buat saya bawa pulang. Saya bukan ahli madu, tapi saya sering minum madu. Mengikuti sunnah Nabi SAW yang membiasakan minum madu plus air hangat setiap pagi. Atau kalau tidak sempat masak air, biasanya madunya langsung saya jilat. Dari madu-madu yang pernah saya minum, madu Sulawesi paling enak. Ketika diminum tenggorokan tidak terlalu sakit, tapi minum madu Jepang benar-benar lain. Karena musim dingin, madu yang diberikan agak beku, tapi ini tidak mengurangi rasa enaknya. Barangkali ini madu yang paling enak yang pernah saya minum, tidak terlalu manis dan tidak menimbulkan rasa sakit di tenggorokan, tapi justru membuat ketagihan. Madu dari bunga akasia punya bau agak lain, seperti bau minyak goreng. Madu sakura belum saya cicipi hingga hari ini.

Dari penjelasan Pak Koide saya agak mengerti kenapa budidaya lebah Jepang tidak menggunakan screen. Ternyata lebah Jepang rada elit, tidak mau membuat sarangnya di screen, tapi lebih suka berkumpul di batang-batang. Di hutan-hutan, lebah-lebah Jepang nongkrong pada anggrek Cymbidium, kadang hingga memenuhi tanaman. Saya tidak tahu bagaimana lebah-lebah di Kalimantan atau Sulawesi, tapi sepertinya mereka bersarang di pohon-pohon tinggi. Anggrek Cymbidium sekarang banyak dikulturkan di laboratorium karena nilai jualnya yang tinggi. Kalau tidak salah di Indonesia yang terkenal adalah anggrek Cymbidium floribundum.

Sepanjang tahun lebah-lebah mendatangi tanaman yang berbeda. Dan karenanya rasa madu yang diproduksi per musim pun berbeda. Saya tidak mencatat siklusnya dengan jelas, tapi di antara tanaman yang sering didatangi lebah adalah jeruk, teratai, anggrek dan sakura.

Selain belajar banyak tentang lebah dan madunya, teman juga menunjukkan buku yang menjelaskan tanaman-tanaman Jepang yang kami makan hari itu. Ada tempura `tara`、yang diambil dari tunas-tunas yang baru muncul, atau `mochi berwarna hijau yang dibuat dari perdu `yomogi`. Saya iri sekali melihat buku ensiklopedi tanaman yang sangat lux itu, di Indonesia saya punya beberapa tapi hanya melulu tanaman di luar Indonesia. Kapan ya ada buku lux bergambar khusus tentang tanaman asli Indonesia ?

Ketika hendak pulang, suami teman masih sempat berlari keluar menembus gelap malam untuk memotongkan beberapa dahan sakura, karena saya bilang ingin memajangnya di kamar. Padahal saya cuma guyon, tapi kaget juga ketika beliau datang dengan tiga ranting panjang penuh dengan bunga sakura. Akhirnya saya pulang membawa oleh-oleh madu dan sakura yang sekarang meghiasi kamar saya. Dalam perjalanan pulang, masih sempat kami mampir di kebun kecil mereka karena teman sangat ingin menunjukkan tanaman tara dan yomogi, padahal hari sudah sangat gelap, tapi berbekal spot light dari HP, dengan semangat dia mencari-cari perdu yomogi. Kami seperti mencari kunci hilang di malam gelap. Alhamdulillah akhirnya ketemu juga.

Berkunjung ke desa sama saja nuansanya, orang-orang di desa selalu ramah, menyediakan semua makanan terbaiknya, menshare semua ilmu yang mereka punya, menyediakan oleh-oleh terbaik, bahkan menawarkan supaya makanan dibungkus pulang. Ah, orang-orang di desa memang sangat manusiawi. Saya teringat kalau berkunjung ke kampung nenek. Dari rumah-rumah yang kami lewati selalu terdengar ajakan ramah, “mampir dulu, minum teh!” Biasanya tidak hanya teh, tapi pisang goreng, ubi rebus bahkan kadang sampai menu makan komplit pun ditawarkan. Mengapa tradisi yang demikian baik hilang begitu saja di kota-kota ? Sama saja di Indonesia ataupun Jepang.

Iklan
  1. mana potret sakuranya bu …

    murni : sudah saya upload, Pak foto2nya (^_^)

  2. Jadi pengen ke Jepang nih….

    Kapan ya..?

  3. Kebetulan sy lg tugas ke jepang(yokohama) dan dititipi temen madu jepang. Tp sy nggak ngerti spt apa bentuk madu jepang itu. Bisa bantu sy dimana bisa mendapatkan madu tsb.

    murni : di supermarket banyak, Pak.
    tinggal tanya penjaga tokonya madu asli Jepang yang mana kalau belum bisa baca kanjinya.
    Madu yg saya dapatkan tak bermerk karena lgsg dari sarang lebahnya 🙂
    Oya, hati-hati dg madu berbotol plastik agak bulat, seharga sekitar 500-600 yen. Ini bukan madu asli
    Madu Jepang asli harganya saya tak tahu, mungkin agak mahal.

  4. wah, berarti saya salah beli dong. saya kemaren sdh beli disupermarket harganya 900 yen. botolnya plastik bulat dan tutupnya runcing (spt botol cuka). Masalahnya tulisannya kanji. Jadi sy tidak mengerti mana yg madu jepang asli. Dan warnanya agak coklat muda kekuningan. Kalau yg ibu dpt-kan tsb warnanya bagaimana?

    murni : ya, itu madu yang dicampur gula. Yg saya dapatkan warnanya kuning dan agak kental. Kalau dimakan seperti ada rasa butiran2. Wah, susah juga ya, Pak. Saya pernah beli juga seperti yg bapak beli itu, rasanya sangat lain ddg madu yg benar2 asli. Madu yg saya dapat adalah madu bunga sakura, dan katanya ini sangat jarang dijual. Kalau ingin beli lagi coba tanya ada tidak yg diproduksi di Nagano Prefecture ? Nagano terkenal sebagai penghasil madu asli Jepang.

  5. Kemaren sy coba ke supermarket dan menemukan madu dlm btl kaca. Ukurannya sich kecil (180 gr), ada gambar org dipegunungan dan bunga sakuranya. Dan harganya mahal banget. Warnanya kuning muda. kemudian ada websitenya http://www.832.co.jp. Ketika sy coba rasakan memang jauh berbeda dg yg sy beli sebelumnya. Mudah-mudahan ini madu asli jepang. Soalnya waktu sy tanyakan ke petugas kasir, cuma di jawab hai..hai.. doang (krn nggak ngerti bhs ingggris kali). Sy akan cari infromasi lagi dech mengenai madu dari Nagona, spt yg ibu katakan. Insya alloh bisa mendapatkannya.

  6. Salam kenal bu, kebetulan saya pernah ke jepang tapi sayang cuma 4 bulanan jadi ga sempet liat sakura tapi kalo bunga tsubaki kayaknya pernah liat dech,dulu di tempat saya training ,di Nagano Golf Awano itu ditanam dipagar betul ga ya bunga itu ? bunganya cantik sama dengan gambar ibu.oh ya..dulu aku di Tochigi Ken -Tochigi Chi ,senang ya..tinggal di sana hampir semua fasilitas memadai dan negaranya bersih.boleh donk sekali-kali ibu cerita mengenai kerjaan ibu disana, masih banyak burung gagak kan disana? aku rindu tochigi jadinya..makasih ya ..

    murni : salam kenal juga Mba Syarah,
    kerjaan saya sudah saya tuliskan semua di blog ini 😀
    burung gagak masih banyak di beberapa kota

  7. saya mau dong mbak madu sakuranya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: