murniramli

Hubungan antar jenjang pendidikan

In Manajemen Sekolah, Pendidikan Indonesia, Penelitian Pendidikan on April 12, 2007 at 12:04 pm

Pukul 18.15 kuliah 比較教育研究 (hikaku kyouiku kenkyuu-comparative education research) mulai, dan saya sekedar hadir tanpa tujuan yang jelas. Saya juga belum mengecek apa sebenarnya materi kuliahnya. Pekan ini adalah pekan visiting segala course, sebelum memutuskan kuliah apa yang akan diambil. Karena saya tidak perlu kredit lagi, saya sebenarnya tak terlalu urgen mengambil kuliah. Tapi di sela-sela kesibukan saya bekerja dan mengerjakan penelitian, hanya satu yang saya rasa kuat sekali dorongannya, yaitu keinginan untuk belajar.

Kuliah hari ini tema pokoknya tentang reformasi pendidikan tinggi di beberapa negara Asia dan Oceania. Sebenarnya tidak ada sama sekali kaitannya dengan penelitian saya, yang lebih mengarah ke pengembangan sekolah menengah atas. Tapi mempelajari perkembangan perguruan tinggi di beberapa negara begitu menarik. Yang semula saya tidak tahu bagaimana mengaitkannya dengan penelitian saya, tiba-tiba saja terlintas bahwa saya bisa mengambil manfaat dari kuliah ini. Seperti yang saya katakan ketika memperkenalkan kepada member yang lain, bahwa `hubungan antara pendidikan menengah dan pendidikan tinggi harus dipikirkan`. Jadi saya pikir insya Allah saya akan belajar banyak dari kuliah ini.

Hubungan antar jenjang pendidikan tampaknya tidak banyak diperhatikan. Ketika kita membahas dan mengaitkan antara SMA dan PT, yang terlintas hanya ujian masuk. PT seperti lembaga yang berdiri sendiri yang mempunyai jurang pemisah yang lebar dengan sekolah menengah. Apa yang dipelajari siswa-siswa SMA seperti dimentahkan di PT, karena tidak adanya keterkaitan kontent pembelajaran antara SMA dan PT. Kehidupan belajar, kebiasaan belajar siswa SMA harus diubah total ketika dia memasuki jenjang pendidikan tinggi. Tidak hanya itu, saya juga merasakan perbedaan antara hubungan siswa-guru dengan mahasiswa-dosen. Guru lebih seperti orang tua, sedangkan dosen lebih menyerupai boss.

Di Jepang, siswa-siswa SMA belajar sekeras mungkin untuk lolos neraka ujian masuk PTN. Tetapi setelah menjadi mahasiswa, mereka mulai jenuh belajar dan cenderung bergaya santai. Yang penting sudah bergelar mahasiswa. Di Indonesia, mahasiswa barangkali masih rajin belajar (^_~).

Naik ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi adalah proses yang harus dibuat smooth, sehingga anak yang mempunyai motivasi belajar tinggi sejak TK pun tetap memiliki semangat itu hingga dia masuk ke jenjang yang lebih tinggi. Anak TK jangan sampai shock masuk SD, demikian pula SD ke SMP, SMP ke SMA dan SMA ke PT.

Meramu kurikulum pembelajaran untuk siswa-siswa itu seperti meramu makanan bayi-remaja-dewasa-manula. Jika bayi makanannya sudah dibuat yang serba halus mudah dicerna, maka ketika naik ke SD, makanan yang disodorkan jangan sampai makanan bercabe yang membuat anak SD kejang karena kepedasan.

Pendidikan dasar yang dibuat 9 tahun saat ini (SD dan SMP digabung), menurut saya langkah baik, karena dapat mengurangi `kekagetan` perpindahan level. Sekaligus menekan pembiayaan yang harus dikeluarkan orang tua untuk uang masuk, dan uang yang lain. Pendidikan dasar dan pendidikan menengah di Indonesia digarap oleh satu bagian di DepDiknas, yaitu Dikdasmen, sedangkan pendidikan tinggi diramu oleh DIKTI. Apakah karena terpisah koordinasinya sehingga hubungan tak bisa dibina dan pengambilan kebijakan pun berlangsung sepihak ?

Saya lupa apakah sudah saya tulis di blog ini atau belum, tapi salah satu bentuk hubungan antara SMA dan PT adalah mengembangkan kerjasama penelitian. Sudah saatnya anak-anak SMA yang memang baik di bidang akademik dan berminat menjadi ilmuwan diajak dalam proyek penelitian yang dikembangkan oleh mahasiswa PT. Selama ini PT hanya mengontak SMA pada saat gencar-gencarnya mencari mahasiswa baru.

Ah, andaikan bisa dikembangkan sebuah kegiatan yang melibatkan pelajar di SD, SMP, SMA dan mahasiswa PT. Kegiatan apa ya ? Kerja bakti mugkin (^_~)

Tapi apapun itu, hubungan antar jenjang pendidikan itu mutlak dipikirkan !

Iklan
  1. Anda benar, ayas sefakat. Ada masalah yang terabai -kan dan langka dipikirkan. Karena ini telah menja- di bagian dari siklus ritual normal kehidupan proses belajar seorang anak manusia di sekolah. Barangkali u/ semester 1 s/d 3 adalah masa-masa transisi kritis harus dilalui, tanggalkan gaya belajar SMA masuk ke proses belajar di PT., ternyata amat berbeda sekali. Tak ubahnya tanggalkan usia remaja injak phase dewasa, ada banyak perubahan fisik+psikis.

    Mencari bibit sedari awal, satu langkah bagus tak berhenti di langkah jaring calon maba, dilanjutkan perkenalan feature/jurusan/fak. yang ada dengan sejelas2nya,untuk mengurangi [rusa tersesat masuk kampung] kuliah di PT., karena minat & bakat kurang cocog, menurunkan daya serap materi kuliah selain siksa batin & daya fikir maba, dosen, investor [orang tua]
    Langkah berani, keluar & pindah kuliah, selain rugi umur juga biaya [baik ortu & subsidi pemerintah]
    kalaupun toch lulus, potensinya kurang optimal.

    Ini sungguh-2 terjadi, tak hanya orang tua, guru & anak SMA ini benar-2 buta tentang apa itu jurusan../fakultas.. berbeda/sama, lantas apa saja bakal dipelajari disana, jika lulus kelak apa yang bakal dilakukan dengan ilmu diperoleh? Terkecuali untuk jurusan/fak. favorit di masyarakat tidak jadi masalah, sudah jelas hubungan kuliah dengan pekerjaan profesinya.

    Rekondisi atmosfer pola belajar begitu dibutuhkan dan harus dikenalkan oleh senior buat yunior calon adiknya, biar tak terkaget-2/gampang gumunan.
    Jadi reorientasi/inagurasi/ pengkaderan, d/h. mapram tetap diperlukan. (-) orientasi fisik, selayaknya Institut Pemukulan Dalam Negeri [IPDN] kemaren, tapi orientasi emosi, cara belajar
    di PT. dengan elegan, seyogyanya dilaksanakan oleh HIMA, bukan Sensei/Dosen . Karena kisah tragis ini banyak PT. memberangus kegiatan pengkaderan positif oleh HIMA [karena nila setitik rusak susu sebelanga=digebyah uyah podho asine].

    Jadi kesimpulannya..
    – perlu dilakukan promosi jurusan/fak/apa
    dipelajari & prospek kedepan
    – rekondisi pola belajar antara SMA dan PT
    berbeda.
    – mencegah banyak korban tersesat

  2. Anda benar, ayas sefakat. Ada masalah yang terabai -kan dan langka dipikirkan. Karena ini telah menja- di bagian dari siklus ritual normal kehidupan proses belajar seorang anak manusia di sekolah. Barangkali u/ semester 1 s/d 3 adalah masa-masa transisi kritis harus dilalui, tanggalkan gaya belajar SMA masuk ke proses belajar di PT., ternyata amat berbeda sekali. Tak ubahnya tanggalkan usia remaja injak phase dewasa, ada banyak perubahan fisik+psikis.

    Mencari bibit sedari awal, satu langkah bagus tak berhenti di langkah jaring calon maba, dilanjutkan perkenalan feature/jurusan/fak. yang ada dengan sejelas2nya,untuk mengurangi [rusa tersesat masuk kampung] kuliah di PT., karena minat & bakat kurang cocog, menurunkan daya serap materi kuliah selain siksa batin & daya fikir maba, dosen, investor [orang tua]
    Langkah berani, keluar & pindah kuliah, selain rugi umur juga biaya [baik ortu & subsidi pemerintah]
    kalaupun toch lulus, potensinya kurang optimal.

    Ini sungguh-2 terjadi, tak hanya orang tua, guru & anak SMA ini benar-2 buta tentang apa itu jurusan../fakultas.. berbeda/sama, lantas apa saja bakal dipelajari disana, jika lulus kelak apa yang bakal dilakukan dengan ilmu diperoleh? Terkecuali untuk jurusan/fak. favorit di masyarakat tidak jadi masalah, sudah jelas hubungan kuliah dengan pekerjaan profesinya.

    Rekondisi atmosfer pola belajar begitu dibutuhkan dan harus dikenalkan oleh senior buat yunior calon adiknya, biar tak terkaget-2/gampang gumunan.
    Jadi reorientasi/inagurasi/ pengkaderan, d/h. mapram tetap diperlukan. (-) orientasi fisik, selayaknya Institut Pemukulan Dalam Negeri [IPDN] kemaren, tapi orientasi emosi, cara belajar
    di PT. dengan elegan, seyogyanya dilaksanakan oleh HIMA, bukan Sensei/Dosen . Karena kisah tragis ini banyak PT. memberangus kegiatan pengkaderan positif oleh HIMA [karena nila setitik rusak susu sebelanga=digebyah uyah podho asine].

    Jadi kesimpulannya..
    – perlu dilakukan promosi jurusan/fak/apa
    dipelajari & prospek kedepan
    – rekondisi pola belajar antara SMA dan PT
    berbeda.
    – mencegah banyak korban tersesat sia-sia, karena
    proses belajar membutuhkan kondisi kejiwaan
    “senang & nyaman juga aman”

    murni : saya pernah ikut Prof. saya mempromosikan fakultas kami ke SMA-SMA.Dan ini saya pikir langkah cukup bagus, selain mengadakan OPEN HOUSE di kampus.

    Kegiatan OSPEK dulu memang kebangeten kejamnya, makanya diberangus. Tp sekrg bukannya sdh berubah mjd kegiatan pengenalan yg sebenernya, Pak ? Btw, Bapak ngasih kuliah di mana ? Sebentar lagi saya ada rencana pulang, boleh ikut kuliahnya ?

  3. Waduh, kalo begitu saya ini korban dari ketiadaannya hubungan antar jenjang pendidikan. SMP-SMA saya sangat berminat di bid biologi dengan kekhususan botanic. Ketika UMPTN lolos ke fak yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya, hukum. Selama kuliah, asli, saya tergeret2, karena saya sama sekali tidak ada minat. Saya merasa sangat bodoh dan tidak berhenti2nya merasa salah jalur alias tersesat. Saat itu kuliah hanya karena kebetulan diterima di PTN, utk meringankan beban ortu juga krn biaya di PTN jauh lebih ringan. Beruntungnya, di tempat kerja saya mengerjakan tugas yang sedikit berhubungan dg latar belakang kuliah saya. Tapi ini berarti saya harus memupus sesuatu yang pernah menjadi cita-cita. Saya kira sangat banyak yang mengalami hal seperti ini. Sok atuh para pendidik, silakan membuat terobosan untuk mereformasi hubungan antar jenjang pendidikan ini

    murni : tempat bekerja memang ga ada hubungannya dengan latar belakang kuliah, Mba. 67% lulusan IPB di tahun 84 pada jadi wartawan (^_^).

  4. Numpang nimbrung nih Mbak…
    “Tetapi setelah menjadi mahasiswa, mereka mulai jenuh belajar dan cenderung bergaya santai. Yang penting sudah bergelar mahasiswa. Di Indonesia, mahasiswa barangkali masih rajin belajar (^_~).”
    Saya masih rajin kok Mbak.. Rajin ngenet, rajin coding, rajin baca ebook dan ikut forum, tapi jarang kuliah 🙂

    murni : pramur memang mahasiswa teladan di dunia maya (^_~)
    .
    Menurut pengalaman teman2 dan saya sendiri Mbak, transisi dari SMA ke PT itu gampang2 susah. Mungkin tingkat kedewasaan berpengaruh ya? Tapi, banyak juga temen yang masih muncul dan kentara sifat2 kekanakannya. Misal main-main, teknik menghafal, cara bicara, dll.
    .
    Dulu, waktu saya masuk SMA, saya berpikiran begini, “dulu waktu saya mau masuk SMP, takutnya setengah mati. Tapi begitu dijalani, ternyata lulus juga!”. Sehingga, pas saya masuk SMA, saya ga takut dan proses transisi biasa-biasa sahaja.
    .
    Saya sering menerima pertanyaan dari anak-anak (bukan anak saya loo, saya belum kawin :-)). “Mas, kalo masuk SMA itu susah ga sih? Aku takut…”. Apa mungkin mereka terpengaruh kakak2nya yang banyak PR, banyak tugas, pulang sering sore2?

    murni : kok ya ngga terpengaruh sama kamu, ya, Mur ? yg nyantai, ga banyak PR, trus ngga pulang2 (^_~)

  5. hasil begandring {ngobrol ngalor-ngidul} 2 orang
    di [WarKop-STMJ] : seri pedagogi – Hubungan antar jenjang pendidikan (mohon ijin Bu Murni)

    murni : Pak, STMJ tuh Susu Telur Madu Jahe/Jamu ? (^_~)

    Andik Nanggapi :
    Secara agama, orang kalau sudah dewasa adalah yang sudah aqil baligh, sehingga sebenarnya tidak ada hubungan dengan jenjang pendidikan.

    murni : ini kalo agama terpisah dg pendidikan (^_~)

    Saya jadi sadar, pembinaan watak tidak hanya milik perguruan tinggi, tapi sejak anak mulai beranjak dewasa. Mentalitas belajar, bertanggung
    jawab dan bagaimana bersikap harus dipupuk sejak dini, tidak bim salabim waktu mau masuk kuliah.

    Atau jangan2 kita memang belum aqil baligh?
    hehehe…

    +++
    ardi ngomong :
    arep muni aqil baligh wae kangelan…men, coba nulise cik dowone ….
    [Tak ubahnya tanggalkan usia remaja injak phase dewasa,ada banyak perubahan fisik+psikhis.]

    murni : jangan lupa, kalimat panjang itu memperindah tulisan, memperhalus kepekaan (^_~)

    pancen, dewasa menuju tua so pasti, karena usia
    sunnatullah/hukum alam/nature wet, nanging/ tetapi/but/ menjadi dewasa itu sebuah pilihan?, karena bijaksana/wisdom ternyata butuh pembelajaran dan pembacaan juga kalangan pergaulan amat sangat menentukan corak warna watak seseorang [bisa diubah karena 3 hal diatas] tergantung usaha kita manusia menuju su’ul khotimah atau menjadi khusnul khotimah dan hidayah itu (mutlak) dari-NYA.

    mengapa manusia menjadi bodoh ya, padahal dari sono-NYA sudah teken kontrak sebelum lahir? mengapa ya? lha ndelik kemana itu dia, si
    Nur Illahi ini…

    Jenjang pendidikan, satu diantara…media tak terhingga ..untuk belajar, juga telah disindir-NYA, “… wahai kenapa kamu tidak berfikir…?”
    sebab manusia telah dilengkapi modal dasar apa yang namanya akal pikir, mengapa tak dilakukan- nya dan padasuka menumpulkan/membodohi diri sendiri mengapa…. mengapa dan ada apa ini?

    aku tak mengerti, kenapa mesti terjadi, pada saat aku mengalami …

    +++++
    andik neruske omongan :
    Ono tulisane Cak Nurcholis Madjid (masiho beberapa hal macam pluralisme dari dia aku gak setuju) yang bagus mengenai pendidikan. kutipan bebas:
    “Jadi yang namanya fitrah dapat disebut sebagai suatu potensi. Tetapi potensi ini tidak akan dapat menjadi sesuatu yang aktual/yang berguna/ bermanfaat, kalau tidak ada tarbiyah atau pendidikan.”

    murni : potensi itu seperti api yang baru kelihatan fungsinya jika dipakai/dinyalakan.

    Jangan mentang-mentang punya fitrah, trus gak ada tarbiyah. Potensi baik tanpa diasah hanya akan jadi kesia-siaan. Dan yang namanya potensi, kata Thomas Alva Edison, 1% saja cukup…..

    ardi takon :
    catetan begandring begini ini… apa gelombangnya sampai ke pemegang kebijakan & mau berobah menjadi lebih baik lagi…?

    barangkali ada yang cocog buat Bu Teni {selamat, atas prestasi luar biasa mampu beradaptasi/ akulturasi/ tapi kan gak sampai mutasi to bu} hehehe…

    buat yang terhormat sang dosen,
    bersahabat sptnya lebih bermartabat
    drpd

    atau Bu Murni punya jalur keluar dari mbuletisasi ini ? semoga ada

    murni : caranya : pejabat di DIKNAS hrs akses internet setiap hari, baca blog/tulisan rakyat, jangan rapat mulu (^_~)

    Ada receipt buat Mas Pramur , u/meleng kapi jawaban ke anak-anaknya tolong ditebus di apotik ya :
    Tahukah Anda apa perbedaan antara mahasiswa dan purna mahasiswa (ST=sarjana tukang)

    Betapa nikmatnya menyandang gelar mahasiswa = penganggur terhormat,
    &&&&&&&&
    Betapa nelangsanya menyandang gelar
    SarjanaTukang = penganggur beneran,

    Ketika mahasiswa pulang pagi,
    Ortu berkata…oh lagi mengerjakan tugas
    Ketika ST pulang pagi,
    Orto berkata… oh lagi hilangin stress

    Ketika mahasiswa salah merancang alat,
    Dosen berkata… dia dalam taraf belajar
    Ketika ST salah merancang alat,
    Direktur berkata..dia perlu dikasih pelajaran

    Ketika mahasiswa ngumpul,
    Ortu berkata … oh dia lagi belajar kelompok
    Ketika ST ngumpul,
    Ortu berkata …oh cari lowongan kerja

    Ketika mahasiswa mau nonton film,
    Bioskop akan mengenakan tarif ½ harga
    Ketika ST mau nonton film
    Bioskop akan mengenakan tarif 100% harga

    Ketika mahasiswa berkunjung ke rumah pacar
    Seorang Camer… akan bertanya, Anda jurusan apa & semester berapa?
    Ketika ST bertandang ke rumah si pacar
    Seorang Camer… akan bertanya, Anda bekerja
    dimana & digaji berapa?

    Ketika mahasiswa pulang pagi
    Akan ditanya, …kamu mengerjakan tugas apa nak?
    Ketika ST pulang pagi,
    Dia pasti ditanya ….. kamu belain lemburan ….
    digaji berapa?!?

    Ketika tanggalnya tua
    Mahasiswa tinggal angkat telepon dan berkata,.” Ma uangku habis, transfer ..dong!!!”.
    Ketika tanggalnya tua
    Seorang ST tinggal angkat telpon dan bertanya,”
    Bos boleh kas bon???”.

    Ente jadi heran…..
    mengapa sang mahasiswa khoq pada keburu pingin lulus!!!!
    Padahal …. Betapa indah & nikmatnya menyandang status Seorang Mahasiswa
    & …betapa malangnya nasib seorang Sarjana
    Tukang….?!?!?

    Betapa bahagia dan nikmatnya menjadi seorang mahasiswa, andai Dia tahu
    oleh karena itu kembalikanlah gelarku ke Ir., begitu {memang ada bedanya… ya? paling tidak gak diolok-2 begini ; Engineer… kan keren euy}
    hihihihi…

    murni : setujuuu…makanya skrng saya kembali menjadi mahasiswa (^_~)

    Teka
    Kucinge perpus awu-awu

  6. Mbak Murni. Kesempatan untuk observasi mata kuliah ini bagi saya sangat menarik. Modalnya hanya kemauan datang saja. Kalo isinya kira2 sudah diketahui ya sudah, puas. Kalo belum, ya diambil. Dari beberapa yang diambil itu nanti yang dimasukkan kredit yang bernilai baik, artinya memang kita benar2 menguasai ;-).

    Juga mengapa anak2 Jepang masuk PT jadi santai? Kan memang sistem pendidikan Jepang, masuk sulit keluar gampang, ha..ha.. Wong oleh kolega2 di Indonesia saja, katanya sebelum naik pesawat (tor-mebur), ijazah saya sudah jadi je. Tentu ini sekedar olok2 saja. Jangan diambil hati :-).

    murni : wualah, Mas…kolega ne salah kuwi. Di fakultas saya (pendidikan) malah mlebu-ne susah, metu-ne yo susah. Nihon jin ato ryuugakusei podho wae, doktor-e sampe D3 ijou…Tp kalo S1, mungkin ya…masuk susah, keluar gampang.

  7. Mbak Murni, saya tidak tahu apakah pendapat mbak Murni di atas dikembangkan dari kacamata bidang sosial. Tetapi kalau dari sudut pandang bid. teknik, ide kerjasama PT dan SMA dalam penelitian saya rasa tidak mungkin untuk dilaksanakan.

    Untuk mulai melakukan penelitian di PT, diperlukan dasar-dasar yang mantap dan kokoh, dan itu diberikan selama tahun-tahun pertama di PT. Tanpa adanya dasar yg kuat, tidak ada artinya melakukan sebuah penelitian. Tetapi mengajarkan dasar-dasar itu kepada anak SMA, saya kira tidak realistis. Bahkan saat mengerjakan sotsugyokenkyu sekalipun, biasanya mhs. dituntut belajar hal-hal yg baru yang tidak sempat diberikan secara detail di tahun2 sebelumnya. Andaikan anak-anak SMA dilibatkan pada fase ini, justru memberikan beban yang berlebihan kepada dosen pembimbing, karena anak-anak tsb. belum memiliki dasar untuk membantu riset.

    Pendapat saya, pendidikan SMA lebih baik ditekankan kepada pengenalan & penguasaan konsep-konsep dasar, yang detailnya akan diberikan di perguruan tinggi. Terutama membangun motivasi anak, bagaimana caranya agar mereka menyukai sains dan iptek.

  8. Pak Anto :
    Wah, sdh hadir lagi di dunia blog, setlh sekian lama absen. Bgm di Jakarta, Pak ? Tika dan mba Ine, bgm di Solo ?

    Td pas jalan2 sehabis welcome party, entah krn apa, ujug2 saya memikirkan kembali pendapat saya sendiri ttg keterlibatan anak SMA di dunia penelitian PT. Mungkin ngga ya ? Ternyata Pak Anto berfikiran sama : meragukan atau bahkan menolak ide itu.
    Kalo disuruh mengerjakan bidangnya Pak Anto, tidak hanya anak SMA, mahasiswa S1 tk I pun belum tentu bisa.
    Tp saya akan coba paparkan alasan saya, mengapa link penelitian itu perlu dibangun, dalam tulisan selanjutnya.

    Motivasi mencintai sains dan iptek kayaknya sudah telat kalau baru dibangun di level SMA, semestinya dari SD.

  9. […] Penelitian SMA dan PT Jump to Comments Tulisan saya tentang `Hubungan antar jenjang pendidikan` dikomentari oleh Pak Anto Satriyo N, terutama pada bagian melibatkan siswa SMA dalam penelitian di […]

  10. anta wacana / dialogue :

    Bu Murni berkata,”saya pernah ikut Prof. saya mempromosikan fakultas kami ke SMA-SMA.Dan ini saya pikir langkah cukup bagus, selain mengadakan OPEN HOUSE di kampus”.

    ardi menjawab,”Bener bu, satu langkah jitu juga maju. Kini PT. [terutama swasta keren, u/ negeri masih malu-malu kucing] harus rajin-rajin mencari bibit unggul sendiri, selain menunggu ikan kesasar masuk jaring [klebu wuwu], bila tak ingin peroleh kucing dalam karung hehehe… “.

    Bu Murni berkata,”Kegiatan OSPEK dulu memang kebangeten kejamnya, makanya diberangus. Tp sekrg bukannya sdh berubah mjd kegiatan pengenalan yg sebenernya, Pak ?

    ardi menjawab,”memang antara pengkaderan dengan pengkederan, kan cuma beda huruf hidup ..saja. Apa iya ada to korelasinya sama dengan pemberangusan?

    Bu Murni bertany,”Btw, Bapak ngasih kuliah di mana ? Sebentar lagi saya ada rencana pulang, boleh ikut kuliahnya ?

    ardi menjawab,”ayas kasih kuliah sepanjang jalan, bu. Wah kalau begitu, ayas musti menyampaikan Sugeng rawuh di negeri tercinta, hati-hati lho Bu
    dengan nasib ‘Orang-orang brilian pulang’ :
    “Saya tidak termasuk orang-orang brilian itu, tetapi saya tidak ingin pulang dan bengong (>_

  11. sambungan…

    Bu Murni bertanya,”Btw, Bapak ngasih kuliah di mana ? Sebentar lagi saya ada rencana pulang, boleh ikut kuliahnya ?
    ardi menjawab,”ayas kasih kuliah sepanjang jalan, bu. Wah kalau begitu, ayas musti menyampaikan Sugeng rawuh di negeri tercinta, hati-hati lho Bu
    dengan nasib ‘Orang-orang brilian pulang’ :
    “Saya tidak termasuk orang-orang brilian itu, tetapi saya tidak ingin pulang dan bengong (>_

  12. “Saya tidak termasuk orang-orang brilian itu, tetapi saya tidak ingin pulang dan bengong (>_

  13. wah khoq jadi keputus-putus ya..?

  14. Pak Ardi :

    Rencana pulang memang bener bikin saya dag dig dug nih…jangan2 saya bener2 bengong di Indonesia.
    Pulangnya sih cuma 3 minggu, dan jadwal sangat padat, jadi mungkin ga sempet bengong (^_~)

  15. Bu Murni bertanya: Pak, STMJ tuh Susu Telur Madu Jahe/Jamu ? (^_~)
    ardi menjawab : itu arti sudah lazim dikenal bu, ini
    sedikit berbeda & tugas ayas coba jelaskan ya…
    STMJ itoe… Semester Tujuh Mencari Jodoh… hehehe..

    Bu Murni berkata: ini kalo agama terpisah dg pendidikan (^_~)
    ardi bertanya? memang bisa to dipisah-pisah kaya bahan mentah? kaya bubuk kopi, gula, air panas begitu? wah ndak jadi minum kopi toraja neh….
    ada to Bu ilmu menceraikan agama & pendidikan, dinamakannya apa ? apa ndak mencetak bibit-bibit munafiqun? ayas khoq ndak mudheng to… padahal sifat munafiq kan dibenci oleh pemilik alam semesta?

    Bu Murni sepakat: setujuuu…makanya skrng saya kembali menjadi mahasiswa (^_~)
    ardi ? : wah menurut ayas juga sepakat, tpi dimarahi abis sama kolega… jangan membikin sponsor MA [bukan Mahkamah AGung, tpi Mahasiswa Abadi], drpd. cetak sarjana tanggung,
    masa mhs bingung.. lumrah, lulus mantap mulus
    masa mhs mulus…. , lulus sanksi & mbingungi?
    wah lebih parah…. hhaha…

  16. Bu Murni bertanya,”Pak, STMJ tuh Susu Telur Madu Jahe/Jamu ? (^_~)
    ardi menjawab,”hehehe… itu arti yang biasa-2 saja,
    warkop-STMJ = warung kopi- susu telor madu jahe ; ini yang luar biasa dan menjadi tugas ayas buat mempopulerkannya….. warkop-stmj = warung (tpt.) kumpul-semester tujuh mencari jodoh….hahaha….

    Bu Murni berkata,”ini kalo agama terpisah dg pendidikan (^_~)”.
    ardi bertanya,”wow… memang bisa dibikin begitu ya, kayak ibu bikin kueh-kueh pisahkan kuning dari putih telor ya…? kuning u/ bikin empuk – sedang putih u/ bikin keras = gak jadi ayam lho…
    Lantas itu, disebut ilmu baru apa ya…Bu Murni?

    Bu Murni memberitahu,”jangan lupa, kalimat panjang itu memperindah tulisan, memperhalus kepekaan (^_~)”.
    ardi baru mengerti,”elho.., ayas kira.. itu termasuk kelemahan dan alur berfikir yang ruwet, mesti dikuruskan tata cara mengarang & menulis indah. Jadi, pemikiran ayas klentu kalau begitu, terima kasih sekali Ibu”.

    Bu Murni berkata,”potensi itu seperti api yang baru kelihatan fungsinya jika dipakai/dinyalakan.
    ardi membenarkan,”wah betul sekali itu, seperti menyalakan sebatang rokok menyulut lilin. karena
    malu bertanya, tersesat dijalan”.

    Bu Murni kasih resep,” : caranya : pejabat di DIKNAS hrs akses internet setiap hari, baca blog/tulisan rakyat, jangan rapat mulu (^_~)”.
    ardi menunggu,”lantas bagaimana cara mengajak beliau-beliau mengakses & membaca blog/tulisan rakyat… jangan-2 kaya’ kelakuan anggota DPR kegirangan dibelikan Laptop itu dicari …. bukan edukasi, tpi education…. seyem-2 ; kalo rapat itoe
    kan mereka pada ajang adu menghargai pure idea masing-masing bu?

    Bu Murni sepakat,”setujuuu…makanya skrng saya kembali menjadi mahasiswa (^_~)”.
    ardi mengiyakan,”memang benar bu, berstatus mahasiswa… itu sungguh istimewa lagi nikmat dan dihargai,makanya jadi mulia dimata siapa saja, kecuali buat Sensei [dosen, bahasa jepunnya apa?]

    demikian dialo-g-ue
    salam
    ardi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: