murniramli

Minta maaf ala Jepang

In Islamologi, Renungan, Serba-Serbi Jepang on April 14, 2007 at 11:00 am

Kalau berbuat kesalahan atau berjanji tapi tak ditepati, apa kira-kira yang akan anda lakukan kepada teman anda ?

Biasanya kita langsung meminta maaf, dan menyebutkan alasannya. Ini cara yang barangkali dipakai oleh hampir semua penduduk bumi. Tapi saya yakin lain negara, lain pula budayanya. Demikian pula budaya minta maaf yang unik di Jepang.

Gaya meminta maaf di Jepang berbeda tergantung besarnya kesalahan. Jika cuma menyenggol, biasanya hanya dengan mengucapkan `sumimasen(=maaf)` atau `gomen nasai` (maaf) sambil mengangguk. Antar teman jika lalai dalam berjanji, cukup mengucapkan : `gomen ne, osoku natta` (maaf ye, telat). Salah dalam membaca nama orang, biasanya dengan mengucapkan : `shitsurei itashimashita`(=maaf, saya lancang). Jika kesalahannya dalam bentuk pelayanan yang tidak memuaskan, biasanya orang Jepang akan mengucapkan : `moushiwake gozaimasen`(=maaf, yang sedalam-dalamnya) sambil membungkuk. Lalu jika kesalahannya sampai menimbulkan korban jiwa, sakit, cacat, atau yang parah lainnya, apalagi kalau penyebabnya adalah perusahaan, maka seluruh jejeran manajer mengadakan siaran pers, lalu menjelaskan penyesalan yang biasanya disertai linangan air mata, yang kemudian diakhiri dengan ucapan : `moushiwake gozaimasen` sambil membungkuk 90 derajat dan lama (5 menit kali).

Beberapa hari yang lalu saya dipanggil ke kantor fakultas karena ada sepucuk surat di mail box saya dari sebuah lembaga wanita pengusaha bergengsi, Soroptimist wilayah Chubu area. Isi surat itu adalah `toshokan ka-do`, yaitu voucher pembelian buku di seluruh Jepang, sebesar 5000 yen. Mengapa mereka memberikan ini ? Ternyata sebagai `owabi` atau bentuk permintaan maaf.

Beberapa saat yang lalu saya menerima pemberitahuan dari Internationl Student Advisor-nya Nagoya University yang menjelaskan saya diminta hadir dalam seminar tentang wanita di Shizuoka Prefecture yang diselenggarakan oleh Soroptimist Chubu. Kegiatannya akan berlangsung bulan Juli mendatang, dan saya menyanggupinya. Entah apa alasan penunjukkan ini, tapi dalam emailnya disebutkan bahwa saya pernah melamar beasiswa kepada lembaga ini tapi gagal (>_<). Atau barangkali mereka membaca curriculum vitae yang saya submit yang di dalamnya menjelaskan kegiatan sosial dengan Ibu-Ibu pengajian yang saya tekuni sejak tahun 1997 dan beberapa kegiatan kemasyarakatan lainnya barangkali. Entahlah.

Yang pasti saya mengetahui lagi salah satu cara meminta maaf yang unik di Jepang (^_^).

Meminta maaf terkadang merupakan pekerjaan yang berat-berat susah, terutama jika harus dilakukan oleh pihak yang lebih berkuasa, lebih tua, lebih dalam segala hal. Jarang sekali pemerintah meminta maaf kepada rakyat. Ayah susah sekali mengatakan maaf kepada anak. Guru ogah banget mengucapkan maaf kepada siswanya, apalagi dosen ! (^_~)

Yang lebih susah lagi tentu saja memafkan. Jika sudah makan korban, maka kalimat `saya terima maafmu` atau `ah, tidak apa-apa`, sangat susah terucap. Biasanya malah berkumpul di kepala rencana balas dendam. Islam melaui Rasulnya yang mulia telah mengajarkan perlunya meminta maaf dan menerima maaf. Banyak ayat dan hadits yang menguraikan ini. Mungkin tidak hanya Islam, tapi semua ajaran tentunya mengajarkan nilai2 ini.

Meminta maaf dan menerima maaf adalah sikap yang memerlukan proses. Ketika berbuat salah kepada orang lain, tidak semua orang secara spontan mengucapkan `maaf`, karena mungkin dia masih berfikir bahwa itu bukan salahnya. Padahal meminta maaf sekalipun memang bukan salah kita, bisa memadamkan api pertikaian. Menerima maaf, mendadak setelah kejadian yang menyakitkan, biasanya sangat susah, karena masih perih akibatnya. Tapi waktu yang akan membuat semuanya menjadi lumer. Sayangnya banyak yang tidak mau berfikir panjang dan dalam, betapa nikmatnya memaafkan, padahal Allah sudah memberi waktu yang lama untuk hidup dan merenungi.

Saya tidak gondok dengan pembatalan seminar itu, juga tidak mengharapkan apapun sebagai ucapan permintaan maaf, tapi saya bisa memahami betapa malu dan merasa bersalahnya pihak penyelenggara atas undangan yang dibatalkan tersebut.

“Kesalahan itu harus ditutupi dengan kebaikan. Dosa harus ditembus dengan amal sholih”. Saya memahami makna pesan mulia ini dengan baik sekarang. Alhamdulillah.

Iklan
  1. Belajar minta maaf ke Mpo Minah saja (tokoh dalam drama komedi Bajaj Bajuri).

    Maaf Bu becanda, maafin saya ya…?

    murni : jadi ingat komedi itu, masih disiarin ga ya sekarang ?

  2. iya,, belajarnya susah,, tapi kalo udah dilatih jadi lebih nyaman kok,, Ma mulai bisa memaafkan,, (kalo minta maap sih sering,, sering bikin salah masalahnya,, hehehe,,)

    murni : latihannya kaya` gimana, Ma ? (^_~)

  3. Mbak. Saya belum menemukan hubungan mereka minta maaf dan memberi toshoken pada crita di atas. Mereka minta maaf karena apa? Membatalkan acara atau bagaimana?

    Kata penutup yang paling saya suka adalah: Maaf dan terima kasih (mdtk), MSR

    murni : mereka minta maaf krn semula mengundang saya sbg pembicara di seminarnya, lalu membatalkan. Acaranya tetep jalan, cuma saya dicoret sbg pembicara.

    M critanya ngga begitu jelas dan TK sudah membaca dan berkomentar (^_^)

  4. etis & beradab 😀 5000 yen di jepang kira2 dapat buku berapa ya ^ ^

    murni : tergantung buku apa dulu. Kalo komik yg 500-an yen, bisa dapat 10, kalo belinya di book off bisa dapet 20-30 exp, barangkali.
    Buku bacaan ringan sekitar 1000-2000 yen, kecuali yg best seller, agak mahal. Buku diktat pelajaran di kampus, rata-rata di atas 2000 yen.

  5. Numpang nimbrung nih Mbak…
    Alamak… Komik 500 yen? Berarti sama dengan 40000 perak Indonesia ya? Mahal amir…

    Kalo sensei saya mengajarkan “osoku natte sumimasen” ketika kami terlambat. Tapi, biasanya yang paling sering terlambat yaa senseinya sendiri. 😛

    OOT:
    Maaf, Mbak.. Untuk tulisan saya, sepertinya “ga arimasu” yang dimaksudkan adlaah “mempunyai” bukan “ada”. Itu kata sensei saya. Soal “for 5 days” sebagai “itsuka kan”, sensei saya ga tahu, masih jadi PR buat beliau. Terima kasih.

    murni : ngejawab yang bagian OOT.
    Kalo maksudnya `mempunyai`, seharusnya tomodachi o motte imasu.
    ….ga arimasu atau ga imasu, setahu saya artinya selalu `ada`.
    Mungkin saya keliru, ntar saya tanya org Jepun deh…btw, senseinya orang Jepang ya ?

  6. Numpang nimbrung lagi nih Mbak…
    Hehehe.. beliau orang Indonesia aseli, cuma sensei saya yang level 1 pernah ke Jepang. Jadi, sudah cukup mahfum.

    Soal “itsuka kan”, kata sensei saya, itu tidak masalah. Asal jangan “itsuka ni” karena maknanya akan berubah menjadi “saya di Jepang tanggal 5” bukan “saya di Jepang selama lima hari”. Terima kasih infonya.

  7. Kalau di Islam, kalau janji tidak mau datang, maka dimulai dengan “insya Allah”. Sudah mentradisi 😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: