murniramli

Neraka bagi siswa SMA di Jepang : UMPTN

In Pendidikan Jepang on April 14, 2007 at 10:16 am

Simbolisasi `neraka` untuk UMPTN di Jepang bukan ide saya, tapi beberapa tulisan yang saya baca terutama dari penulis asing selalu menyebutnya demikian, contohnya Aspinall, R dalam sebuah tulisannya di buku The Big Bang in Japanese Higher Education.

Tidak hanya di Indonesia, orang tua di Jepang pun tentu saja bercita-cita agar anaknya kuliah di universitas negeri.  Berdasarkan survey rangking universitas sedunia tahun 2005 edisi TIMES Higher Education, maka top ten universitas di Jepang adalah :

1-(16)Tokyo University 東京大学
2-(31)Kyoto University 京都大学
3-(99)Tokyo Institute of Technology 東京工業大学
4-(105)Osaka University 大阪大学
5-(129)Nagoya University 名古屋大学
6-(136)Tohoku University 東北大学
7-(147)Hiroshima University 広島大学
8-(157)Hokkaido University 北海道大学
9-(172)Kobe University 神戸大学
10-(198)Showa University 昭和大学

Keterangan : Angka di dalam kurung menunjukkan peringkat di dunia.

Kampus saya masuk peringkat ke-5.  Pantas saja kalau saya ditanya orang Jepang kuliah di mana ? Umumnya mereka berkomentar sama ketika mendengar nama Nagoya Daigaku. Hah ?? Sugoi ! (Hebat !).  Padahal baru peringkat ke-5.  Bagaimana kalau yg kuliah di Tokyo Daigaku ya (^_~).

Supaya bisa masuk the top ten, setiap lulusan SMA harus belajar mati-matian, ikut bimbingan belajar, les privat (juku-cram school), dan orang tua akan berusaha sekuat tenaga menabung supaya anaknya bisa ikut persiapan ujian atau bimbingan belajar demi masuk universitas ternama.

Mengapa harus ? Alasannya hampir sama dengan di Indonesia : perusahaan banyak yang mendahulukan nama universitas dalam seleksi pegawai.

Hasil ujian masuk PTN tahun 2007 di Jepang bisa dilihat di sini, tp karena bahasa Jepang saya coba terjemahkan.  Peserta (受験者)tahun 2006 adalah 511,272 orang dari 553,352 orang yang mendaftar. Ada 10 mata pelajaran yang diujikan, yaitu 1. bahasa Jepang (200),

2. sosial science (100)(yg terdiri dari Sejarah Dunia A, Sejarah Dunia B, Sejarah Jepang A, Sejarah Jepang B dan Geografi A dan Geografi B),

3. Kewarganegaraan (100)(terdiri dari Masyarakat modern, Logika, Pemerintahan dan Ekonomi),

4. Math 1 (100) (terdiri dari math I , math I dan math A),

5. Math 2 (100) (terdiri dari math II, math II dan math B, math industry/teknik, akuntansi, teknologi& informatika),

6. Science I (100) : Integrated Sains, ilmu tumbuhan

7. Science II (100) : Integrated Sains, Kimia
8. Science III (100) : Ilmu Hewan dan Ilmu Bumi

9. Bahasa Asing writing (200) : Inggris, Jerman, Perancis, China, Korea
10. Bhs Inggris listening (50).

Angka di dalam kurung adalah skor tertinggi.  Bahasa Inggris listening baru diadakan 2 tahun belakangan ini.

Setiap peserta boleh memilih semua mata pelajaran yang diujikan atau memilih kurang dari 10.   Peserta yang memilih semua mata ujian tahun 2007 sebanyak 42,080 orang.  Rata-rata peserta memilih 5 mata pelajaran, tetapi peserta yang memilih 7 mata pelajaran adalah terbanyak (32% dari total peserta ujian), peserta yang memilih satu mata pelajaran sebanyak 0.6% dari total peserta ujian.  Pilihan mata ujian ini sangat tergantung dengan jurusan yang akan diambil kelak.

Penerimaan di universitas berdasarkan nilai total skor yang dikumpulkan dari Ujian Masuk PTN secara nasional yang digelar oleh 入学試験センター(Pusat Ujian Masuk PTN) plus skor yang dikumpulkan dari ujian yang diselenggarakan oleh masing-masing universitas. Sama halnya dengan di Indonesia, jurusan-jurusan yang bermasa depan cerah (kedokteran, teknik, informatika) adalah jurusan yang banyak diminati tapi daya tampungnya kecil, sehingga butuh persaingan ketat.

Jepang termasuk negara yang berusaha memacu jumlah generasi mudanya untuk lanjut ke PT, meraih gelar sarjana, atau lanjut ke tingkat pasca.  Barangkali dengan alasan ini, kelulusan SMA tidak selalu ditentukan dari hasil ujian akhir, tapi jika siswa sudah mengumpulkan persyaratan kredit kelulusan.

Iklan
  1. Bu Murni, cerita lebih banyak lagi dong tentang sistem ujian masuk universitas di Jepang. Terutama tentang tingkat persaingan baik skala universitas (saya dengar rumor kalau yang masuk Todai itu persiapannya sudah sejak SD :-o) maupun pilihan jurusan. Dan juga perbedaan ujian untuk masuk ke tingkat bachelor dan tingkat master.

    Yang saya tahu sampai sekarang tentang nyuugaku-shiken adalah itu saatnya tidak perlu datang ke sekolah karena kampus diliburkan :D.

    Oh iya, satu lagi yang mungkin orang Jepang banyak yang tidak tahu… sepanjang saya tahu ujian untuk orang asing umumnya dipisahkan dengan ujian untuk orang Jepang, artinya tingkat persaingannya mungkin sedikit lebih mudah daripada yang mereka bayangkan. Terutama seleksi masuk untuk yang mendapat beasiswa dari Monbusho atau untuk tingkat doktoral yang lebih banyak ditentukan oleh profesor masing-masing. CMIIW.

    – Zalfany – Tokodai
    * yang mengalami sistem “resmi” ujian masuk sekolah adalah ‘cuma’ dengan presentasi di depan Profesor selama 10 menit *

  2. wahh,, makanya kalo di manga ada orang yang biasa biasa aja bilang mau masuk universitas tuh dianggep ga mungkin banget,, malah mereka udah nyiapin buat masuk sekolah kejuruan atau apa gitu,, (ilmu dari komik,, hehehe,,)

    penggemar komik Jepang juga (^_^)

  3. Pak Zalfany :

    Saya pernah dengar slentingan persiapan masuk Todai sejak SD, tp kebenarannya ngga tahu. Kalo bener, belajar apa ya anak2 SD yg mau masuk Todai ? (^_~)

    Wah, beruntung banget bisa ujian masuk hanya dg presentasi 10 min. Saya hrs ujian tulis dg pertanyaan dalam huruf2 kanji yg spt cacing itu…(>_

  4. Salam kenal, Ibu Murni,

    Baru-baru saja saya ngobrol dengan seorang teman Jepang yang bercerita tentang persiapannya ketika akan masuk universitas. Menurutnya, murid-murid SMA mulai berkonsentrasi untuk ujian masuk universitas sejak awal kelas 2 SMA. Jika targetnya adalah Toudai, biasanya dimulai sejak kelas 1 SMA (atau ada yang dari SMP sudah bercita-cita ingin masuk Toudai). Tapi kalau sejak SD? Sepertinya itu hanya dibesar-besarkan, deh.

    Sangat disayangkan, katanya, setelah mereka ini lolos ujian masuk dan diterima di universitas idamannya itu, banyak yang menjadi hilang semangat ketika sudah di universitasnya sendiri. Hal ini dikarenakan mereka merasa bahwa usaha mati-matiannya sudah terbayar ketika diterima di universitas tersebut. Apakah fenomena ini juga yang terjadi dengan UMPTN di Indonesia?

  5. Baca komik Dragon Zakura nggak Mbak? Banyak memotivasi masuk Todai, he..he.. Tahun lalu di-dramakan di TBS dengan lakonnya Mas Abe Hiroshi dan Mbak Hasegawa Kyoko.

    murni : Mas Sani iki ning Jepang ngopo toh ? Sekolah opo pengamat dorama ? (^_^)

  6. Assalamualaikum Bu Murni

    Jd tertarik ikut mengomentari setelah sekian lama baca blog ini. Ternyata data rangking universitas di Jepang beda2 tergantung dari mana dpt sumbernya. Sebenernya yg valid itu dr sumber yg mana? Terutama untuk science/chemistry? Ada yg peringkat thn 2006 atau 2007 (kayanya yg ini mah blm ^^).

    Ikt ngomentarin komen di atas, “Sangat disayangkan, katanya, setelah mereka ini lolos ujian masuk dan diterima di universitas idamannya itu, banyak yang menjadi hilang semangat ketika sudah di universitasnya sendiri……Apakah fenomena ini juga yang terjadi dengan UMPTN di Indonesia?”

    Dari hasil pengamatan orang2 yg sy kenal di kampus ini (rahasia ah hehe) rata2 jg mengalami penurunan semangat ketika sdh tembus ke jurusan yg mereka mau. Contoh: yg pas sma terutama pas kls 3 rajin bgt belajar sampe begadang2 pas udh lolos malah jd males2an & byk ngulang kuliah2 tk bwh, ato mengalami culture shock di tk 1 shg nilai2 awal semesternya menurun, dll dsb dst. Byk faktor jg sih seperti tiba2 jauh dr ortu, organisasi br yg menarik perhatian, jenuh dlm berjuang (???), dll dsb dst jg ^^’

  7. kyknya susah masuk todai,di dorama dragon zakura murid2 smu belajar mati2an biar bisa masuk todai,tapi kayaknya seru tuh

    murni : todai memang yang paling top di Jepang

  8. kira2 tahun minimal nilai bwt masuk ke todai berapa?bu murni tau gak? trus SMU yg ngetop banget di jepang SMU apa?

    nilai minimalnya ngga tahu.
    SMU yg paling ngetop se-Jepang ga ada, karena biasanya rangking SMU dinilai di tiap prefektur, bukan di tingkat nasional.
    Di Prefektur Aichi, domisili saya, SMA Asahi Gaoka yang menduduki rangking ke-1. Itu SMA negeri.

  9. bu murni,di jepang klo kita masuk kuliah bakalan di ospek ga?di indonesia kan klo mau masuk kuliah musti ikutan ospek dulu

    murni : tidak ada ospek-ospekan di Jepang 😀

  10. apa bener klo sekolah di SMA swasta lebih mahal dari pada di negeri?katanya biaya sekolah di SMA swasta bisa sampai 10x lipat dari sekolah negeri?

    murni : ya, swasta lebih mahal. Tapi kalo sampai 10 kali lipat, saya ngga yakin, karena ada peraturannya yg membatasi biaya maksimum

  11. Maaf, saya mau bertanya, apakah masih banyak orang tua di Jepang yg berfikir konservatif seperti di Indonesia dalam masalah pendidikan? Maksud saya begini, jikalau seorang anak misalnya ingin menjadi penyanyi pro atau pemain band pro atau mungkin juga ‘berkarir’ di bidang olahraga seperti menjadi petenis profesional, nah di Indonesia ini biasanya orang tua masih banyak yg menentang dan tetap ‘memaksa’ anaknya untuk masuk universitas dengan dalih ‘untuk masa depan!’, bagaimana dengan di Jepang? Apakah anda pernah mengamati?

    murni : tidak banyak. Malah kebanyakan pengen anaknya jadi pemain baseball terkenal kayak Ichiro Suzuki. Ada tulisan saya di sini tentang cita-cita anak Jepang.

  12. Tapi ada hal yang menarik banget ketika kuliah di Jepang. Pas masuk kyouiku gakubu se perguruan dengan mba Murni..^-^, saya heran dengan sistem perkuliahan nya.

    Dulu di ITB kebanyakan, kuliah jenis lecture, dengerin dosen jelasin, ngerjain kuis, ujian tertulis mid dan akhir yg pertanyaannya di kaitkan dg isi kuliah.

    Kalo ujian Fisika Matematika ya udah ngerumus abis, soal cuma 5 tapi jawabnya berlembar-lembar.

    Nurunin rumus dsb.

    Kalaupun matkul sosial kayak etika Islam, tetep aja pertanyaan dan jawaban bener2 kudu hapal tuh isi kuliah. baru dari situ keluar nilai maks 100, ujung2nya dapet A,B dst..

    Kalo di Jepang, rata2 jenis kuliah seminar. 1 matkul selama 1 semester dengerin presentasi temen gantian termasuk kita. rata2 1 matkul 1x presentasi per orang nya. udah gitu ya udah ntar keluar nilai nya, kebanyakan A or B.

    kayak yg mudah, tp ternyata, hal uniknya, kita emang dilatih utk mencari bahan/ materi kuliah or belajar sendiri/ mandiri.

    Seorang dosen pembimbing nggak akan ngejar2 kita nagih tulisan menjelang tesis tp kita yg kudu aktif laporin perkembangan kita

    bukan begitu mba Murni?..

  13. mbak saat ini saya sangat tertarik dengan masalah neraka ujian ini, apakah mbak murni bisa memberikan informasi lebih lanjut mengenai masalah ini? dan kalo dragon zakura apakah juga mencerminkan hal ini? trims

    murni : mba Diana info apa yang dibutuhkan ?
    ttg soal2 yang ditanyakan dalam ujian SMA di Jepang ? atau sistem ujiannya ?

    mengenai dragon zakura, ini hanya gambaran drama saja. Silahkan simak penjelasannya di wikipedia.

  14. oiya mbak saya sekalian mau tanya tentang web yang menyangkut 受験地獄 dan apakah banyak majalah, atau koran dan buku yang menjelaskan tentang hal ini? kalo ada tolong beritahu saya ya, trims

    murni : istilah `neraka` digunakan untuk menggambarkan betapa sengsara dan menderitanya anak2 SMA Jepang memperebutkan kursi PTN melalui jalur ujian masuk. Istilah 受験地獄  saya pribadi tidak tahu apakah ada dalam bahasa Jepang.

  15. sebenarnya saat ini saya sedang menulis laporan jadi saya ingin tahu kenapa sampai disebut demikian, darimana asalnya dan kapan istilah itu dipakai begitu mbak hehe dan apakah emang benar yang disebut sebagai juken jigoku tu seperti yang ada dalam drama dragon sakura? dan sebenarny yang disebut juken jigoku itu apakah saat ujian masuk sma atau ujian masuk universitas? makasih ya mbak atas tanggapanny hehe

    murni : ternyata ada buku yang menjelaskan ini :
    http://www.e-hon.ne.jp/bec/SA/Detail?refShinCode=0100000000000031872834&Action_id=121&Sza_id=B0&Rec_id=1008&Rec_lg=100813

    atau bisa lihat penjelasannya di situs ini :
    http://www.misuzu-gakuen.jp/colum/02.html

    yg dimaksud adalah ujian masuk univ.

  16. mbak makasih ya buat info bukuny hehe, sekarang fenomena apa ya yg sedang in di jepang?
    bagaimana juga kelanjutan masalah shinzo abe? apakah masih tetap kekeh untuk tidak turun jabatan hehe dan bagaimana tanggapan masyarakat jepang kebanyakan?

  17. mbak saya mau memperjelas lagi, katany juken jigoku tu sebutan untnk ujian masuk universitas tapi koq saya baca artikel yg mengatakan bahwa juken jigoku itu untuk unjian msk sma dan univ. saya jadi agak binggung, bisa ga mbak murni njelasin yang lebih terperinci lagi hehe
    thank

  18. sugoi!!!!!!
    keren!!!!!!!!!
    wah susah banget ya masuk PTN di jepang!!
    haha….

  19. eh tiap tahun berapa orang ya yang diterima di TODAI dari 500an ribu orang yang daftar tadi?

    makasih 🙂

    murni : data pastinya belum pernah saya cek. Tp mungkin bisa ditengok di situs TODAI, ttg brp total penerimaan mahasiswa baru per tahunnya

  20. u/ Teh Nining :
    Ada perbedaan antara sistem kuliah saat S1 dan S2 di Jepang. Di S1, kuliahnya sama seperti di Indonesia, sebagaimana yang teteh sebutkan. Tetapi untuk S2, kalau di Jepang, banyak yang dilakukan dg sistem presentasi dsb. S2 tekanannya pada riset, bukan pada lecture. Hal tsb. pernah saya tuliskan di sini:
    http://asnugroho.wordpress.com/2007/02/12/pendidikan-s1-s2-dan-s3-di-jepang/

  21. hallo mbak!
    mo tanya ne koq yang hasil ujian dalam bahasa jepangnya ga bisa dibuka ya?
    oya saya mau tanya jg, berarti kalo ujian masuk univ. negeri diadakan dua kali ya?
    kalo ujian masuk univ. swasta hanya sekali?
    arigatou gozaimasu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: