murniramli

Link Penelitian SMA dan PT

In Manajemen Sekolah, Penelitian Pendidikan on April 15, 2007 at 11:23 am

Tulisan saya tentang `Hubungan antar jenjang pendidikan` dikomentari oleh Pak Anto Satriyo N, terutama pada bagian melibatkan siswa SMA dalam penelitian di PT.  Saya jadi bimbang, barangkali saya memang pemimpi ulung ketimbang pemikir yang realistis (>_<).

Seperti saya tulis dalam komentar kepada Pak Anto, sebenarnya saya jelas tidak kuat pijakan dalilnya melontarkan ide itu, sehingga pas jalan-jalan sehabis welcome party PPI Nagoya, sambil memandangi sakura yang sudah rontok, tiba-tiba saja saya teringat ide itu. Begini yang ada di kepala saya : Kalau melibatkan siswa SMA di penelitian level PT, sedangkan mereka belum punya kemampuan meneliti, maka hal itu muri (mustahil). Persis seperti yg dipikirkan Pak Anto.  Tapi seperti biasa, hati kecil suka perang argumentasi.  Yang satu sisi bilang : tapi penelitian itu bukan barang sakral dan milik siapa saja ! Yang lainnya membantah : bener, tapi itu hanya di teorinya, kenyataannya penelitian memang ritual di PT, SMA sih baru level praktikum ! Mmm…saya jadi bingung (>_<)

Saya coba urai dulu mengapa ide itu muncul di kepala saya.  Sebenarnya berawal dari kunjungan saya ke sekolah-sekolah  di Souya dan Nagano (tahun 2004-2007).  Guru-guru di Souya berhasil mengembangkan link penelitian antara SD dan SMP.  Sedangkan di Nagano, link malah dibuat antar SD-SMP-SMA.  Bahkan salah satu program yang dibuat adalah guru SMA mengajar di SMP, dengan tujuan memperkenalkan sistem belajar di SMA kepada siswa SMP (khususnya kelas 2 SMP).  Ada satu lagi pemicu kemunculan ide itu yaitu kunjungan promosi fakultas pendidikan Nagoya University ke 2 sekolah yaitu SMA Nishi Toyota dan SMA Tajimi, dua tahun yang lalu.  Pada saat kegiatan, dosen saya tidak hanya memperkenalkan kegiatan perkuliahan dan aktivitas mahasiswa di fakultas, tapi juga menyampaikan kuliah bertema makna pendidikan. Bahannya persis seperti bahan kuliah anak S1.  Tanggapan dan pertanyaan yang disampaikan siswa-siswa SMA itu mencengangkan saya, karena logika berfikir mereka setara dengan mahasiswa. Atau barangkali kalau mau dimentahkan : `ini kan bidang sosial boo…siapa saja bisa ngomong bagus !`

Berawal dari itu semua, saya mencoret-coret gagasan-gagasan iseng di kepala.  Salah satunya bahwa alangkah bagusnya mengembangkan link SMA dan PT.  Anak SMA dilibatkan dalam kehidupan kampus, dengan memperbanyak interaksinya dengan mahasiswa, salah satunya dengan penelitian bersama.  Memang belum tergambar jelas di kepala saya seperti apa model penelitian yang akan dikembangkan.  Tetapi ide dasarnya adalah : membuat smooth perjalanan belajar siswa SMA ke PT plus hikmah kalau-kalau ada siswa yang memang minat menjadi peneliti.

Saya selalu memaknakan kata `penelitian` dengan definisi yang sederhana. Pokoknya mengikuti prinsip metode ilmiah, itulah penelitian.  Barangkali terlalu menyederhanakan makna jika dihadapkan dengan rumitnya penelitian sains. Penelitian itu membutuhkan ilmu dan keterampilan.  Ilmu didapat melalui buku-buku, internet, kuliah, diskusi.  Keterampilan didapat melalui rutinitas pekerjaan yang sama.  Konsep sederhana ini yang menurut saya sangat bagus jika dikenalkan kepada siswa SMA.  Karena kurikulum pembelajaran sains atau sosial kemasyarakatan di sekolah-sekolah tidak mendorong siswa untuk memiliki dua kemampuan basic itu, dikarenakan potensi dan kualitas guru yang tidak memadai, maka PT sebagai lembaga yang punya tradisi meneliti sebaiknya turun tangan mempromosikan tradisi penelitian ke siswa SMA.

Kendala memang muncul atau bahkan kemustahilan jika siswa SMA diajak meneliti rekayasa genetik, biologi molekuler, fisika partikel, perancangan kapal, pergerakan gelombang, atau bidang yang mumet lainnya.  Tapi seperti saya tuliskan di `hubungan antar jenjang pendidikan`, bahwa makanan harus sesuai dengan tubuh yang akan memanfaatkannya.  Makanan di atas belum layak untuk siswa SMA.  Oleh karenanya menjadi mustahil mengajak siswa SMA meneliti persoalan-persoalan di atas karena tubuhnya belum bisa menyerap gizinya.

Penelitian yang bisa melibatkan SMA adalah penelitian sederhana, yang mungkin bukan dikerjakan untuk penulisan thesis, tapi menjadi pertanyaan lagi, apakah kegiatan penelitian memang berkembang di kampus (Indonesia) ? Apakah mahasiswa punya keisengan mengerjakan penelitian untuk menjawab keinginantahuannya terhadap sesuatu ? Karena seingat saya, saya meneliti untuk lulus dan mendapat gelar sarjana (^_^).  Banyak yang saya ingin tahu tapi tidak sempat menelitinya (>_<).

Bidang sosial barangkali yang lebih mudah bagi siswa SMA untuk terlibat.  Misalnya meneliti acara TV apa yang paling disukai anak-anak SMA, tradisi kelahiran anak di beberapa suku di Indonesia, sejarah les privat di Indonesia,  dampak sosial limbah industri, pengembangan masyarakat, penggunaan bahasa prokem, bahasa SMS, dll.  Kalau masuk ke sains sedikit, mungkin yang sederhana juga misalnya membuat tahu dari kacang tanah (>_<), mencari bahan alternatif tempe selain kedele, sterilisasi air menggunakan bahan tanaman, pemanfaatan eceng gondok, merancang alat recycle plastik sederhana, membuat pompa air sederhana, atau topik-topik lain yang intinya memudahkan kehidupan sehari-hari.  Atau kalau boleh diberi title : PENELITIAN YANG MEMPERNYAMAN HIDUP MANUSIA (^_^)

Penelitian-penelitian sederhana dan iseng seperti itu memang telah dan bisa dikembangkan di SMA tanpa perlu link ke PT, terbukti dengan LKIR yang selalu menelurkan peneliti-peneliti muda berbakat dari SMP atau SMA.  Tapi banyak sekolah yang tidak memenuhi opsi-opsi, misalnya : guru IPA kreatif, lab memadai, jam sekolah mencukupi, duit ada,  kepala sekolah mendukung.  Dalam kondisi terbatas begitulah link diperlukan dengan PT dengan tujuan beragam yang sekaligus bisa dicapai, yaitu kegiatan penelitian sekolah berjalan, siswa SMA lebih banyak bergaul dengan mahasiswa sehingga tahu kehidupan kampus, dan seperti kata Pak Ardijono, persiapan fisik dan psikisnya masuk ke dunia PT tertata secara memadai, plus dampak lain…promosi PT (^0~), terutama di masa BHMN sekarang, PTN lebih mirip perusahaan daripada institusi pendidikan!

Setelah lama ide penelitian bareng SMA & PT  menguap, suatu kali (tahun lalu sepertinya), di salah satu siaran NHK Pendidikan disiarkan mengenai sekelompok mahasiswa sains di Tokyo (lupa univesitasnya…jangan-jangan TODAI) berusaha mempromosikan sains ke anak-anak SMA dengan cara mengundang mereka ke lab, menjelaskan apa yang sedang mereka kerjakan dan mempersilahkan anak SMA untuk mencoba dan mengembangkan penelitian sendiri.

Jadi, memungkinkan rupanya mengembangkan link itu dengan asumsi jangan yang susah-susah dulu.

Hmmm….saya jadi melantur antara memperbaiki hubungan antar jenjang pendidikan, dengan memotivasi anak SMA untuk meneliti. Lama-lama mimpi saya kebablsan : memaksa anak TK menjadi peneliti (>_<). Sepertinya saya harus minum pil tidur supaya lebih nyenyak dan mimpi yang lain saja.
Atau bagaimana kalau ide ini saya jadikan topik penelitian ?

…..pil turune ra mempan….mimpi teruuuusss (._.)

 

Iklan
  1. Bermimpi juga sah-sah aja kok Mbak. Bukankah pola cincin benzen ditemukan melalui mimpi (kalo gak salah sih…). Tapi kali ini saya ingin sedikit bercerita tentang realita.

    Betul sekali, menumbuhkan jiwa peneliti sejak dini sangat penting. Karena dapat melatih siswa untuk mengenali masalah-masalah yang ada di lingkungannya dan berusaha secara kreatif memecahkan masalah-masalah tersebut. Tapi tentunya melatihkan keterampilan ini tidak bisa langsung secara utuh, sehingga siswa dapat melakukan penelitian sesuai metodologi yang baku. Tapi disesuaikan dengan struktur kognitif yang dimiliki oleh siswa. Karena seperti yang Mbak tulis di atas, penelitian melibatkan ilmu dan keterampilan, artinya melibatkan kegiatan hands-on dan minds-on secara bersamaan.

    Dalam kurikulum sains (tapi saya cuma baca yg 1994 &2004), penekanan bukan hanya kepada penguasaan materi saja, tetapi juga penguasaan keterampilan proses (1994) atau kerja ilmiah (2004). Keterampilan proses ini melatihkan kemampuan dasar meneliti kepada siswa seperti mengidentifikasi dan merumuskan masalah, observasi, mengukur, mengklasifikasi, menyusun hipotesis dll, dll. Tetapi seperti kita ketahui pada prakteknya pelaksanaan kurikulum ini tidak ideal sama sekali. Jauh dari apa yang dinyatakan oleh kurikulum tsb. Siswa tetap saja tiap hari datang ke sekolah, hanya duduk mendengarkan ceramah, atau yang lebih parah lagi hanya mencatat apa yang ditulis temannya di papan tulis (gurunya gak tahu dimana….). Menurut saya ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya hal ini:

    1. Keterbacaan kurikulum oleh guru sangat kurang, sehingga guru tidak memahami dengan jelas dan pasti kemana pembelajaran yang dilaksanakannya harus diarahkan.
    2.Tidak nyambungnya tujuan kurikulum dengan evaluasi yang dilaksanakan. Kita tahu Evaluasi dilakukan hanya untuk mengukur kemampuam kognitif siswa (ujian semester maupun Nasional), sedangkan aspek kerja ilmiah tidak mendapat perhatian sama sekali. Oleh karena itu pada prakteknya di kelas, aspek kerja ilmiah juga dilupakan.
    3. Guru sendiri tidak menguasai benar apa dan bagaimana keterampilan proses atau kerja ilmiah tsb, sehingga juga tidak tahu bagaimana melatihkannya kepada siswa.
    4. Adanya missmatch antara pelajaran dan guru yang mengajar. Tentu dengan demikian guru yang mengajar bukan bidangnya tidak memahami betul karakteristik dan strategi pembelajaran yang harus digunakan.
    5. Alasan-alasan lain yang sudah mbak uraikan di atas.

    Nah karena masalahnya rada berat, gimana kalo saya nawar Mbak. Penelitian barengnya antara PT dengan guru dulu deh, jangan langsung dengan siswa. Sehingga guru paham dan terlatih melakukan penelitian dan nanti bisa mengajarkan dan melatihkannya kepada siswa. Sehingga guru juga dapat melaksanakan kurikulum sesuai dengan yang diamanatkan.

  2. Mba Weti :
    terima kasih atas tanggapannya. Apa yg Mba Weti sampaikan begitu juga adanya. Jangankan di Indonesia, sewaktu saya menyampaikan ide ini ke teman2 diskusi/seminar di Jepang, termasuk Prof saya, mereka semuanya menafikan itu.
    Tp di jepang sdh ada bukti, yg disiarkan di NHK. Hanya krn cuma satu bukti, tdk bisa dikatakan bisa.

    Kondisi guru dan pengajaran di Indonesia ketika saya masih mengajar (95-2004) persis seperti yg Mba sampaikan, jika sekarang pun demikian maka tdk ada yg berubah dari pendidikan kita.

    Kalau boleh disimpulkan, masalah utama dalam pendidikan yang harus direform adalah kualitas guru plus kurikulum. Saya bukan pembuat UU/kurikulum dg bahasa yang muluk2, tapi andaikan bisa kurikulum dibuat sederhana agar mudah dipahami oleh yg akan melakoninya.

    Saya masih punya keyakinan penuh akan kebisaan perubahan kualitas pendidikan di Indonesia, dan sangat yakin banyak guru yang berjiwa guru.

    Penelitian guru dg universitas sedikit tersirat dalam tulisan `Guru adalah peneliti`dan Belajar menjadi guru adalah siklus yang tak berujung`
    Pengembangan in-service training di Universitas2 di luar negeri sebenarnya bertujuan untuk mendorong guru menjadi peneliti dg melibatkan mereka di proyek2 PT.

  3. Mbak Murni.

    Hubungan antar jenjang terutama yang mengkaitkan riset sebagai salah satu benang merah yang berkesinambungan, memang agak sulit ya. Kecuali seperti yang dituturkan Mbak Murni, ada semacam “kouryuu” (kegiatan bersama terbuka) bagi mahasiswa untuk adik2nya di SMA (open campus, tapi di Jepang open campusnya masih berorientasi untuk melihat dengan kepala sendiri bidang/univ. yang menarik bagi pendidikan lanjutan mereka) atau membuka pintu SMA (bahkan SD dan SMP) untuk dimasuki informasi/demo riset yang disederhanakan dari PT atau bahkan lembaga riset lain. Kalo ini mungkin bisa masuk ke kegiatan pemotivasian anak2 SMA untuk cinta sains atau dari sisi PT/Lembaga Riset sebagai bentuk kehumasan.

    Saya pikir, jika hanya mengungkapkan pendapat atau temuan dengan menggunakan metode2 ilmiah sederhana, tampaknya semenjak SD di Jepang pun telah ditanamkan. Misalnya dimulai dengan teori “bertetangga” (antar sekolah dan lingkungan sekitarnya misalnya), lalu mereka turun langsung mengobservasi, wawancara para tetangganya yang menarik hati mereka. Dari situ banyak hal menarik yang bisa mereka tuturkan dan presentasikan secara runtut. Ini yang difasilitasi dalam kurikulum, yang di luar itu juga ada “jiyuu kenkyuu” (riset bebas, kalo tak salah telah berjalan lk. 5 taunan terutama bagi anak2 SD, SMP) saat liburan musim panas. Jadi disamping libur panjang dan bermain, mereka ditugasi untuk menemukan sesuatu yang menarik dan dikumpulkan saat masuk ke sekolah lagi.

    Weh, kok dowo banget. Maaf Mbak. Wis pokoke intine mendukung yang sepantasnya didukung, he…

  4. mba…
    pembiasaan itu nampaknya perlu dilakukan…
    tetapi ya itu disemua lini mesti solid ibarat bermain sepak bola mesti solid depan belakang, gelandang dan lainnya.
    Kalo SDM nya gak mumpuni yang ada di tingkat sekolah nampaknya kurang bagus juga untuk kelangsungan, belum lagi sarana yang ada kurang memadai, walau bisa saja riset dengan sarana apa adanya tapi hasilnya kurang maksimal.
    Dari itu semua saya pikir diperlukan komitmen yang tinggi dari semua komponen/masyarakat sekolah untuk membangun sekolahnya. Jika tidak…ya mimpi teruuuuusssss….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: