murniramli

Pintu Gerbang Negara

In Serba-serbi Indonesia, Serba-Serbi Jepang on April 29, 2007 at 6:21 pm

Perjalanan Nagoya-Seoul-Jakarta selama hampir 9 jam cukup melelahkan, apalagi saya masih nglembur hingga jam 12 malam di kampus sehari sebelum berangkat, dan baru bisa tidur jam 3 pagi.  Penerbangan Korean Air dari Nagoya ke Seoul, alhamdulillah lancar dengan pelayanan penuh keramahan pramugari-pramugari cantik.  Penerbangan dari Seoul ke Jakarta, agak tersendat karena cuaca buruk.  Seorang pramugari Indonesia yang bekerja untuk Korean Air, cantik, dan berwajah khas Indonesia,  kelihatannya punya jabatan agak tinggi dibanding pramugari yang lain, tapi sayang miskin senyum. Mba…mba..wong senyum iku sehat sekalian ibadah lo !

Berkeliling di bandara Chubu International Airport Nagoya yang sangat luas dan megah serasa menikmati kota-kota tua Jepang.  Bandara diset dengan kedai-kedai tradisional, pun dilengkapi dengan toko-toko modern.  Berbagai oleh-oleh (omiyage) yang dikemas sangat apik digelar dan dijual dengan harga yang layak.  Saya masih ingat ketika baru dibuka, bandara ini menjadi tempat wisata yang unik di Nagoya, dan sudah 3 kali saya mengunjunginya.  Di lantai teratas, pengunjung dapat menyaksikan pesawat yang tinggal landas atau melambai kepada sanak yang bepergian walaupun sebenarnya tak kelihatan sama sekali.

Bandara Ichieon, Seoul pun tak kalah cantik.  Karena hanya punya waktu sekitar setengah jam, kami tak sempat mengelilingi semuanya, tapi paling tidak jalan-jalan di ruang tunggu yang juga sangat luas, cukup memuaskan mata. 

Baik bandara Nagoya, maupun Seoul, pemandangan hampir sama, areal yang bersih, toilet yang modern dan bersih, di Seoul malah harum. Warna latar putih dn jendela yang besar menambah atmosfer angkasa raya, serasa berada di ruang planetarium.

Pelayanan di kedua bandara pun sangat cepat dan penuh keramahan, kecuali bagian Imigrasi yang sepertinya sudah diset di seluruh dunia dipasang orang-orang dengan wajah tanpa senyum (>_<).

Tiba di bandara Soekarno-Hatta di ruang arrival, suasana kusam dengan lampu penerangan yang redup, pun lantai coklat dan dinding yang tak bersih lagi menambah kepengapan para pendatang yang kelihatan tak sabar mengantri pengurusan visa pun saya yang mengurus keimigrasian. Seperti biasa wajah2 di meja imigrasi adalah wajah-wajah yang disetel angker dan kelihatan kuyu karena pasti mereka sudah duduk di situ dari pagi hingga malam, otsukaresama deshita Bapak-Ibu.

Keluar dari pemeriksaan imigrasi, kembali saya harus berputar-putar mencari tempat klaim bagasi.  Di tiket kami tertulis pengambilan barang di ban berjalan nomor 2, tapi ketika berusaha menuju ke tempat yang dimaksud, sungguh suatu perjuangan di tengah jubelan para TKI dan penumpang yang hendak keluar dari pintu pemeriksaan akhir. Baris antrian sudah tak menentu, yang ada gerombolan tak beraturan. Dari belakang terdengar umpatan bule-bule, “Bagaimana bisa kalian berbaris seperti ini ?”, wualah, padahal kami diajari baris berbaris sejak TK, mister (``)

Seorang petugas, entah petugas angkut barang atau staf bandara kami tanya, dimana harus mengambil bagasi Korean Air, jawaban sangat singkat di sana, 6.  Akhirnya setelah berjuang kembali untuk melawan arus antrian gerombolan TKI, saya menemukan salah satu koper penumpang berlogo Korean Air, di ban berjalan nomor 5.  Jadi kami putuskan menunggu di situ dan akhirnya koper tuaku yang sudah penuh goresan ketemu. Yang agak aneh, nota klaim barang sama sekali tak diperiksa petugas, ketika kami keluar.  Kalau koper saya terambil orang lain, barang kali tak akan bisa dilacak.

Begitulah, kira-kira 2 jam dari kedatangan baru kami dapat keluar dari bandara, itupun harus berjam-jam menunggu sampai mobil jemputan dapat melewati antrian mobil/taxi yang merayap lambat.

Bandara adalah gerbang pertama sebuah negara.  Selayaknya dia dipercantik, diperindah dengan fasilitas dan pelayanan yang memuaskan.  Bahkan para pegawainya diwajibkan TERSENYUM (^_^)

 

Iklan
  1. selamat datang di indonesia bu heheh
    kalo ke bogor bisa kontak bu

    murni : nomor kontaknya, Pak ?

  2. Numpang nimbrung nih Mbak…
    Wah, selamat datang di negeri absurd Mbak.. 🙂

    Tapi soal langit-langit yang tinggi, biasanya saya suka pusing juga ngeliatnya lama-lama… 😦

    murni : wah, kebalikan sama saya : langit-langit pendek suka bikin saya sesek (>_

  3. Selamat datang kembali mbak,banyak rencana pasti.
    Semoga lancar segala urusannya. Amin

    murni : makasih, Pak. Amin

  4. saya juga sering gunakan penerbangan lokal & tapi kebalikan dari bapak yang ketemu para pramugari kurang senyum, pramugari lokal senyum tapi sekedar memenuhi standar layanan penerbangan tak terasa senyum itu sebagai sebuah hadiah yang menyegarkan.

    murni : berarti senyumnya mringis yo,Pak (^_^)

  5. bapak-bapak di Bandara, baca gak postingan ini??? Bapak-bapak di Dewan, tau gak masalah ini??? Cepet selesaikan dong…. Gitu aja kok repot 🙂

    murni ; tenang…tenang, pak ! Juklak baru transportasi rakyat sedang direncanakan ulang (menteri baru !) (^_^)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: