murniramli

Pesantrenku sayang

In Islamologi, Renungan, Serba-serbi Indonesia on Mei 1, 2007 at 4:50 pm

Sekolah pertama yang saya datangi setibanya di Indonesia adalah Madrasah Aliyah Al-Haitsam, yang selokasi dengan Pesantren Pengamalan Al-Quran wal Hadits. Terletak agak menjauh dari terminal bubulak, di kampung cilubang mekar desa situgede, kota Bogor. Pesantren yang baru berumur 10-tahun-an ini berdiri di tengah-tengah sawah, wajahnya semakin menua sejak saya tinggalkan. Ustadz Muhammad Abbas Aula yang memimpinnya pun semakin tua, tetapi beliau tak pernah lepas dari senyum penuh kehangatan yang menghias wajahnya yang teduh.  Saya tidak akan tahu betapa berat beban yang harus beliau tanggung untuk mengelola pesantren jika beliau tak menceritakannya.  Itupun diceritakan dengan wajah yang tak menampakkan beban, wajah Ustadz selalu penuh senyum dan tawakkal.

Ah, orang-orang seperti beliau sulit ditemukan sekarang ini.

Santri-santri yang bersekolah di sekolah kami sebagian besar (70%) adalah anak-anak tak mampu dari Flores, dan beberapa daerah di Indonesia, juga tentu saja dari kampung sekitar.  Anak-anak polos itu sambil belajar di kelas pun mengisi hari-harinya di masjid, menghafal berjuz-juz Al-Quran, memahami tafsirnya dan belajar menjadi dai sekaligus orang yang berilmu.  Yang karenanya mereka rela hidup dengan kesederhanaan.

Saya disambut seperti anak oleh keluarga Ustadz.  Walaupun dulu tinggal di Bogor, sebenarnya saya sudah tidak bertempat tinggal lagi di sana sejak pindah ke Jepang, karena kost2an yang lama sudah berganti penghuni, satu-satunya tempat kembali adalah pesantren.

Banyak yang dicapai sekolahku hampir tiga tahun, akreditasi B yang berhasil diraih, prestasi sebagai pesantren terbersih menurut Depkes Kota, anak-anak yang lolos PMDK-nya IAIN, kuliah di LIPIA, ataupun bekerja. Anak-anak yang sangat mengerti membalas budi itu pun, masih sering datang ke Pesantren setiap Sabtu Minggu untuk menuntun adik kelasnya membaca ayat-ayat Al-Quran atau belajar bahasa Arab, ataupun membimbing santri-santri cilik TPA, dengan kerelaan penuh. Semoga Allah memudahkan jalan kalian.

Sekolah kami adalah sekolah yang berdiri di tengah perkampungan yang masyarakatnya masih kental kepercayaannya kepada takhayul dan sangat sedikit ibadahnya, karenanya pertama kali pesantren berdiri tak banyak yang mau memasukkan anaknya sebagai santri, atau bahkan datang bersilaturahmi.  Saya merasakan betul perjuangan awal itu, ketika kami berusaha mendekati masyarakat dengan pendekatan sosial, melalui kegiatan bazar murah di bulan Ramadhan, kuthbah keliling Ustadz ke kampung-kampung, dan sanlat bagi anak-anak yatim.  Lama-lama masyarakat mempercayai kami, dan seperti halnya pesantren di manapun dia berada, selalu dijadikan sebagai tempat berkumpul, tempat mengeluh, tempat meminta bantuan.  Kyai yang memimpin pesantren selalu dianggap sebagai sumber ilmu, sumber harta sekaligus dokter. Yang sakit tidak pergi ke rumah sakit, tapi yakin dengan kesembuhan yang didoakan Ustadz, walaupun sudah ditolak dengan halus, tetap saja orang-orang kecil itu merasa tentram dengan hanya meminum air putih yang dibacakan.

Kemajuan yang dicapai sekolah kami, menunjukkan banyaknya perubahan DEPAG sebagai institusi yang mengayominya.  Sejak dilepaskan pengasuhan dan support dananya oleh Yayasan, sekolah yang masih kanak ini sebenarnya tak mampu berdiri ataupun berlari, tapi atas bantuan DEPAG, pemerintah kota, dan institusi pemerintah lainnya, pun para dermawan yang secara diam menyalurkan zakat dan shodaqohnyalah yang membuat dapur pesantren tetap menyala, dan guru-guru tetap berdiri di depan kelas.

Nuansa perubahan kebijakan pemerintah sejak OTDA berlaku, sedikit terasa di pesantren kami, dan saya bergembira menyambut gerakan kebaikan ini. Seperti kata Ustadz, “pesantren ini adalah tempat belajarnya masyarakat”, sehingga kami pun tak segan mengundang pihak Kepolisian untuk menjelaskan bahaya Narkoba, mengundang aparat DEPKES untuk memaparkan bahaya AIDS dan perlunya hidup bersih.

Pesantrenku sayang, walaupun dinding-dindingnya tak putih lagi, tapi dia sudah belajar menjadi tempat belajar bagi orang-orang kecil yang merasa perlu dan harus belajar.

Semoga Allah senantiasa menguatkan orang-orang yang berjuang di jalanNya. Amin

Iklan
  1. Sayang dulu saya tak merasakan jadi siswa pesantren.

    Sepertinya enak ya?

    murni : yoo….uenak tenan

  2. Maaf, lho kok koment saya aneh ya? Baca tulisan ini, tiba-tiba saya pengen jadi siswa pesantren. Maaf klo ga nyambung…….

    murni : ya udah…kalo pulang, nyantri

  3. wakaakka… mathematic … asik tuh.. sapa mo gabung denganmatematic…

    murni : monggo…

  4. Numpang nimbrung nih Mbak…
    Hm.. Mungkin enak kalau pendidikan Islam sudah kental sejak lahir. Tapi, menurut yang saya tahu, pendidikan di pesantren itu kok “kebebasan”nya kurang terasa ya Mbak?

    Mungkin ini penilaian saya subjektif. Dulu saya ingin sekali sekolah di pesantren, dalam rangka mempercepat belajar ilmu agama. Lambat laun saya tahu, tidak semua pesantren berkualitas.

    Ditambah lagi, kok lulusan pesantren di tempat saya itu pelariannya ke kehidupan yang ga jelas ya? Mungkin ini cuma kasus kecil. Tapi terus terang, karena itu saya jadi trauma deket2 mereka. 😦

    Betul sekali kata Mbak. Mereka yang berjuang untuk mencerdaskan kampung, sudah barang tentu mendapat tekanan dari warga sekitar yang masih kental dengan takhayul dan semacamnya.

    murni : namanya juga lembaga pendidikan, ada yg salah mendidik ada juga yang bener dididik, tp ngga bener belajarnya

    Semoga mereka mendapat kekuatan untuk tetap terus berkarya. Amin

  5. “Anak-anak yang sangat mengerti membalas budi itu pun, masih sering datang ke Pesantren setiap Sabtu Minggu untuk menuntun adik kelasnya membaca ayat-ayat Al-Quran atau belajar bahasa Arab, ataupun membimbing santri-santri cilik TPA, dengan kerelaan penuh”

    Saya jadi tersindir sendiri…. Banyak budi yang telah diberikan oleh guru-guru saya, tapi sudah lama tak menengoknya….

    murni : saya….apalagi …

  6. assalaamu a’laikum wr wb.

    Nyantri atau school biasa sama aja hanya perbedaanya mereka lebih banyak ilmu agamanya..dan mereka mondok alias ga pulang kerumah..Mereka membiasakan diri mandiri tidak tergantung kepada bantuan orang lain…..Lulusan nyantri yooo tergantung si individu ada yang berhasil ada juga yang jadi sampah masyarakat…selepas dari nyantri eh bablas kebablasan … maaf yah mba murni…he3x salam kenal

  7. klo madrasah sih pernah ngikut *lupa brp lama*, tapi klo pesantren.. mmm.. paling ya pesantren ramadhan tuh paling lama..
    pernah mo ikut pesantren yg lebih serius dalam artian ampe nginep di pondok gitu.. tapi belum 1minggu udah kabur…
    hehehe…

  8. Gmn kesannya di Jakarta beberapa hari? tergencet di kereta rakyat, muter-muter naik angkot rakyat … he he he apa lagi? … semoga selamat dan sehat tiba di Jepang

    murni : alhamdulillah sudah tiba di Nagoya kemarin, Pak. Walaupun agak sakit di pesawat, krn turbulensi yg cukup keras. Cuaca agak buruk kemarin.
    Anyway, terima kasih atas keramahan dan pertolongannya

  9. Assalaamualaikum,
    mbak, saya seorang pengajar pengajar sebuah TPA (taman pendidikan Alquran; umur 6-15 thn) di Solo. sampai saat ini masih coba menyusun formula kurikulum yang tepat dan efektif buat TPA saya. mohon kiranya mbak bisa memberikan contoh/referensi mengenai hal tersebut ke alamat e-mail saya. terima kaasih sebelumnya..wassalam…

  10. Saya adalah salah satu santri Ustadz M. Abbas Aula ketika beliau masih di Ma’had al-Adhhar Bogor. Saat Pesantren Pengamalan Al-Quran dan Hadits berdiri saya sudah tidak di Bogor lagi. Tapi membaca tulisan Mbak Murni ini serasa saya kembali berada di teduhnya naungan Ustadz Abbas, hingga tetesan air mata pun tidak tertahan.
    Semoga Ustadz selalu dalam ridha Allah dalam segala perjuangannya. Semoga kesulitan dalam perjuangannya diganti oleh Allah dengan kemudahan hisab di akhirat. Amin

  11. Saya adalah salah satu santri Ustadz M. Abbas Aula ketika beliau masih di Ma’had al-Azhhar Bogor. Saat Pesantren Pengamalan Al-Quran dan Hadits berdiri saya sudah tidak di Bogor lagi. Tapi membaca tulisan Mbak Murni ini serasa saya kembali berada di teduhnya naungan Ustadz Abbas, hingga tetesan air mata pun tidak tertahan.
    Semoga Ustadz selalu dalam ridha Allah dalam segala perjuangannya. Semoga kesulitan dalam perjuangannya diganti oleh Allah dengan kemudahan hisab di akhirat. Amin

    murni : amin ya Rabbal a’lamiin
    Jika berkesempatan, Ustadz akan sangat senang u dikunjungi.

  12. Assalamualaikum…
    Afwan nieh, saya pernah punya teman. Ia juga lulusan dari yayasan Al-Haitsam. Katanya, di sana banyak para santri yang hafal al-Qur’an. Kamu kenal nggak sama Hanif (Jhoni Pahamsyah), Aziz, Amrita Aisyah, Yuli, Salam, dan Patrick?

  13. bu murni….sekarang di jepang ya,
    kayaknya saya pernah liat ibu…
    pernah ke Darul Fallah kan Bu…

    murni : ya, saya dulu di DF

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: