murniramli

Pulang Berguru di Bogor : Sekolah Berubah

In Manajemen Sekolah, Pendidikan Indonesia on Mei 14, 2007 at 5:22 am

Alhamdulillah kemarin saya tiba di Nagoya dengan tubuh yang sangat lemas, karena dalam perjalanan pulang mendadak sakit jam 2 pagi di atas pesawat Korean Air dan berlanjut saat transit di Seoul dan di atas pesawat menuju Nagoya. Barangkali karena makan malam yang terlambat atau tubuh saya sudah kelelahan selama 22 hari berputar-putar di beberapa kota. Kemarin pun cuaca mendung di Nagoya membuat pesawat sulit mendarat dan terjadi turblensi selama 20 menit, mulut saya tak henti mengucapkan dzikir : la haula wala quwatta illa billah, astaghfirullah dan melantunkan ayat kursiy.

Kepulangan saya kali ini benar-benar termanfaatkan sesuai rencana. Kedatangan saya di Bogor tanggal 23 April langsung dimulai dengan wawancara kepada pimpinan pondok pesantren Pengamalan Al-Quran wal Hadits, setelah itu sore harinya saya sempatkan menengok ibu pengajian yang berjasa besar mengumpulkan uang santunan anak-anak dhuafa yang bersekolah di sekolah kami. Esoknya pun wawancara dilanjutkan kepada pimpinan pondok, pengurus OSIS dan guru. Kepala sekolah agak sibuk, sehingga wawancara direncanakan tgl 8 Mei, saat saya kembali dari Makassar.

Acara di Bogor pun agak padat karena saya pun mendatangi Pesantren Pertanian Darul Fallah, tempat saya mengajar ilmu-ilmu pertanian. Darul Fallah sudah berubah rupanya, dan saya mendengarkan cerita panjang lebar mantan pimpinan pondok tentang perubahan ini selama kurang lebih 3 jam yang diseling dengan makan siang. Lalu dilanjutkan dengan menginap di rumah seorang Ibu yang membantu saya ketika sakit sebelum berangkat ke Jepang. Esoknya saya mengurus perpanjangan KTP dan dipaksa menginap di rumah seorang teman baik. Alhasil rencana wawancara dengan Komite Sekolah batal dan hanya mewawancarai kembali pimpinan pondok sambil pamitan karena saya harus berangkat ke Semarang, tgl 26 April.

Dua lembaga pendidikan yang saya kunjungi di Bogor adalah lembaga swasta yang harus berkutat antara memperjuangkan idealisme `pendidikan` dengan tekanan financial yang memaksanya berubah dari sekolah rakyat dhuafa menjadi sekolah menengah ke atas.

Jika sekolah dikelola oleh sebuah yayasan, maka tendensi untuk mengejar keuntungan sepertinya kental terasa, walaupun pada awalnya sekolah didirikan dengan misi membantu kalangan dhuafa agar dapat mengenyam pendidikan. Selain keuntungan, masalah lain adalah kontinuitas support yang terkadang berhenti di tengah jalan, dengan alasan yang sama : yayasan mengalami kerugian karena menanamkan modal di tempat lain.

Dua lembaga yang saya amati menunjukkan pola yang unik. Sekolah yang berlokasi di dekat Ciampea mempunyai yayasan yang sangat kuat autoritasnya, dan berniat mengubah kesan `pendidikan `kuno`di pesantren ` menjadi `pesantren/pendidikan elit`. Sebenarnya tidak hanya institusi ini yang bergerak ke sana, tetapi di Jakarta dan Bogor sudah berjamuran sekolah-sekolah berlabel Islam yang dikembangkan menjadi sekolah unggul dan pasti dengan biaya yang menguras kantong para orang tua. Tetapi alangkah sayangnya jika apa yang sudah dirintis sejak tahun 1960, dilupakan begitu saja, hanya karena alasan uang.

Sekolah akan baik berkembang jika disesuaikan dengan keberadaannya. Perubahan bisa saja terjadi, tetapi dalam term pendidikan rasanya sulit membayangkan perubahan yang revolusioner. Mengubah status sekolah dari lembaga yang disediakan untuk kaum dhuafa menjadi sekolah untuk orang menengah ke atas, berakibat fatal. Pertama tak tertampungnya orang-orang kecil yang notabene sangat butuh pendidikan dengan biaya murah, munculnya kebohongan untuk mengelabui konsumer demi sebuah prestige : sekolah unggul. Berikutnya akan merembet pada ketimpangan antara guru yang berkesejahteraan rendah dengan murid yang berkesejahteraan `wah`. Lagi-lagi guru akan sangat rentan dengan penyogokan untuk membeli kelulusan.

Pengembangan sekolah yang saya pikir baik adalah benar-benar didasarkan pada `data potensi sekolah`.  Potensi yang ada di sekolah yang harus digali untuk dioptimalkan pemanfaatannya, bukan dengan membuang/mementahkan yang sudah ada dan mulai dengan yang serba baru tetapi hanya tambalan.  Sekolah di Ciampea adalah sekolah yang memadukan kurikulum diknas, depag, pesantren dan pertanian.  Barangkali terlalu muluk, tetapi begitulah, sejak berdiri sekolah yang bertujuan menghasilkan manusia muslim yang mandiri dan dapat menjadi agen dakwah dan pembangunan di daerah ini, telah melahirkan banyak wiraswasta, kepala desa, petani, dan pendidik yang menjadi `agen perubahan` di daerahnya masing-masing.  Sekolah yang semula mendidik anak-anak muda dari sabang sampai merauke ini, kini hanya bisa diakses golongan kaya dari Bogor dan Jakarta. Akses anak-anak petani daerah yang dulu mendapat beasiswa untuk belajar, kini hilang.  Permasalahan baru pun muncul karena sekolah belum berhasil meraih kepercayaan masyarakat setelah menjadi sekolah unggul, yang berakibatnya melorotnya jumlah siswa baru.  Perusahaaan-perusahaan yang dahulunya bersedia menjadi donatur siswa-siswa daerah pun mogok karena tingginya biaya pendidikan.

Potensi yang semestinya digali mendalam adalah fasilitas pembelajaran yang ada , perbaikan kurikulum dan kualitas guru.  Jika keduanya dimaksimalkan, niscaya predikat sekolah unggul akan diraih dengan sendirinya tanpa harus memberikan embel-embel `sekolah unggul berasrama`.

Sekolah kedua yang saya teliti adalah sekolah yang dilepas oleh yayasan sebelum institusinya mampu tegak berdiri.  Baru menghasilkan 3 angkatan, yayasan sudah mengalami ketersendatan pembiayaan, dan operasional sekolah yang juga ditujukan untuk kalangan dhuafa ini hanya digantungkan kepada para donatur dan uang yang masuk sebagai SPP bagi siswa yang sanggup membayar.  Sekolah semacam ini jika dipikir secara rasional akan sulit berkembang, tetapi ada suatu fakta yang barangkali sulit dicerna oleh orang awam, terutama berkaitan dengan pendidikan berbasis pesantren.  Bahwa banyak pesantren yang bisa survive sebagai lembaga pendidikan rakyat walaupun tak didukung pendanaan yang kuat dan organisasi yang solid.  Semuanya didasarkan kepada kerelaan mengabdi kepadaNya, dan inilah yang saya kagumi di sekolah yang kedua ini.  Kesanggupannya bertahan hingga tahun yang ke-10 membuat saya geleng kepala dan tak henti mengucap  subhanallah, ketika pimpinan pondok mengutarakan masa-masa krisis pendanaan. Ketawakkalan dan kesabaran barangkali tidak akan diterima sebagai parameter yang terpercaya untuk menganalisa survive-nya pesantren-pesantren.  Tapi itulah faktanya.  Tentunya sulit untuk berbicara `mutu` di sekolah yang berpola demikian ini, tetapi barangkali lembaga ini sudah berupaya menjadi lembaga pendidikan bagi masyarakat kecil.  Perbaikan mutu tampaknya harus ditangani secara serius oleh DEPAG dan DIKNAS.  Daripada membuang uang untuk meluluskan sebanyak-banyaknya siswa dalam UAN, melalui proyek pemaksaan dari pusat kepada guru-guru untuk memperbaiki jawaban siswa, mengapa dana tidak dialihkan kepada pengembangan kualitas pengajaran dan pembelajaran ?

Di sekolah ini, kepala sekolah sebenarnya memiliki autoritas lebih,  sebab yayasan telah berlepas tangan, sayangnya karena faktor kesejahteraan, autoritas tak mampu dimanfaatkan secara maksimal. Sekolah yang mengaku sebagai sekolah plus ini saya akui memang memiliki nilai plus di balik kesederhanaan bangunannya yang hanya berisi 3 kelas, dengan masing-masing menampung 30-40 siswa.  Nilai plus itu terbaca dari lulusannya yang diwajibkan mempunyai kecakapan penguasaan Al-Quran, Hadits dan bekal untuk menjadi dai.  Untuk ini saya angkat jempol kepada siswa-siswa yang sangat tawadhu, hitam jidatnya karena sujud dan lidahnya sangat fasih menghafal ayat-ayatNya.  Sayangnya bekal ilmu-ilmu umum barangkali masih kurang karena adanya guru yang belum sanggup masuk dalam kategori `penuh pengabdian`, banyak guru yang asal mengajar saja, ataupun hadir hanya 2-3 kali per semester.  Ya, sekolah kecil ini memang tak sanggup membayar guru-guru yang meminta bayaran layak, sekalipun pihak pengelola selalu berusaha memenuhi hak guru, tidak pernah terlambat membayarkan gaji guru yang dihitung Rp 15.000 per jam plus transport. Sekolah ini membutuhkan `para pengabdi yang yakin rizki itu sudah diatur olehNYA`.

Saya sempat berbincang pula dengan rekan-rekan guru dan sangat sedih mendengar penuturan seorang guru mengenai `pemaksaan yang harus dikerjakannya : membetulkan jawaban siswa agar bisa lulus UAN, beberapa menit setelah ujian selesai.  Pemaksaan ini terkoordinir dengan rapih dari tingkat paling tinggi.  Saya yakin praktek ini masih berjalan di beberapa tempat di Indonesia.  Dan banyak sekali guru-guru jujur yang dipaksa mementahkan idealismenya sebagai pendidik dan bermalam-malam stress karena perbuatan paksaan yang diiming-imingi pemecatan jika tak dikerjakan ini.  Alangkah rendahnya nilai kita.  UAN kelihatannya tak berhasil memetakan sekolah, sebagaimana diprogramkan, tetapi dia telah berhasil menciptakan dosa-dosa baru atau memaksa orang kecil berbuat dosa yang tak dikehendakinya.

Iklan
  1. Semoga para guru jujur tersebut dalam lindungan Allah SWT selalu. Amiin.

    Oh ya pak, sekedar berbagi. Dalam perjalanan pulang kampung, di sebelah saya ada gadis itali nan cantik. Ngobrol punya ngobrol, ternyata beliau ini bukan hanya atheis… melainkan juga pembenci Tuhan sejati.

    Tiba-tiba, pesawat kena turbulensi. Lama. Lampu-lampu kabin pesawat tiba-tiba dinyalakan semuanya. Artinya, di luar udara sedemikian buruk. Lampu dinyalakan sebagai pengalih kondisi luar pesawat, dimana kilat menyambar kesana kemari.

    Si nona cantik itali, tiba-tiba mulutnya komat-kamit. Gerak tangan berkali-kali membentuk silang di dada.

    Saya kaget… Ternyata Tuhan sang nona ada di dalam turbulensi.
    Atau…, ketika mau mati, manusia baru sadar kali yaaa… bahwa Tuhan itu ada?
    Hehehe… wallahu’alam deh.

    murni : tidak hanya gadis itu, tetapi begitulah kebanyakan kita, beragama atau tidak, hanya ingat Tuhan ketika ditimpa cobaan, dan lupa padaNya di kala gembira

  2. Welcome home Bu Murni. Okaerinasai. Mudah2an cepat adaptasi lagi, termasuk ngeblognya, he..he..

    murni : matur nuwun, Mas Sany, blog-e memang radha macet nih (>_

  3. UAN? Sepertinya dihapuskan saja deh klo kenyataannya seperti begitu mah….Kasihan guru-guru.

  4. Well come again to Japan … keep fight … Bu Zhilmiyati kirim salam buat anda

    murni : makasih, Pak. Salam kembali untuk Bu Zhil (^_^)

  5. http://www.wahidinstitute.org/indonesia/images/stories/SuplemenTempo/TempoEdisi-VII.pdf
    Mbak, sengaja saya sisipkan link diatas mungkin bisa berguna.

    murni : Pak Agus terima kasih atas informasinya. beberapa kali saya klik link-nya tapi selalu gagal.
    Baru kali ini berhasil 😀
    Sekolahnya sangat menarik, insya Allah jika ada waktu saya ingin berguru ke sana.

  6. sayangnya waktu kunjungan Murni ke Indonesia singkat sekali….
    Info aja:
    silahkan klip lpi-dd.net
    Dompet Dhuafa melalui pengumpulan zakat 9% masyarakat jakarta, mampu membangun sekolah menengah (SMP-SMA dalam waktu 5 tahun penyelesaiannya) gratis dan berasrama bagi siswa laki-laki yang berprestasi tapi dhuafa. (Dana 9% itu pun dibagi di jejaring kesehatan gratis, beasiswa mahasiswa PT, program usaha mandiri)
    Siswa diberikan pendidikan terbaik oleh guru-guru yang berdedikasi dan mempunyai pola pengajaran konstruktivisme. Kesejahteraan guru pun kondisinya cukup lumayan, gajinya di atas 1,5 jt per bulan.
    See…dana yang sedikit sebetulnya bisa bermanfaat jika berada di tangan lembaga yang amanah.
    Kapan-kapan boleh kunjungi sekolahnya!

    murni :mba Yanti terima kasih atas infonya.
    Pengelola sekolah kami sangat kenal baik dg orang-orang di Dompet dhuafa, tapi barangkali tdk semudah yg kita bayangkan mendapatkan sumbangan u `mengembangkan sebuah sekolah` bukan `membuat sebuah sekolah baru`
    Saya pikir banyak sekali faktor yg membuat `org tdk bisa membantu`, sekalipun bisa.

  7. […] Arief, seorang staf City bank yang hobi memotret.  Beliau mengatakan tertarik dengan tulisan saya di sini, dan berniat berkunjung untuk memotret pesantren Darul Fallah.  Karena memahami niat baik beliau, […]

  8. CINTA SEJATI AKAN KAU TEMUKAN KETIKA KAU BISA BERBICARA DENGAN TUHAN MU

  9. http://www.facebook.com/group.php?gid=69742559687
    http://www.facebook.com/group.php?gid=61460874103

    wow darfal skrng makin lama makin sukses
    tolong yah alumni darfal masuk ke facebook yang telah saya daftar kan ^^ thx

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: