murniramli

UAN serius, UAS nyantai

In Manajemen Sekolah, Pendidikan Indonesia on Mei 14, 2007 at 7:05 am

Selain pelaksanaan UAN yang menuai banyak penyelewengan, beberapa guru yang saya temui pun mengeluhkan pelaksanaan UAN yang berlangsung sebelum UAS.  Di sebuah media saya membaca alasan yang agak sulit saya mengerti, bahwa pelaksanaan UAN diusahakan sebelum HARDIKNAS karena ditakutkan banyak protes yang masuk pada tanggal 2 Mei, untuk menggagalkannya.  Apakah ini bukan sebuah paranoid yang berlebihan ?

Tapi komentar, keluhan guru di lapang barangkali layak didengar untuk memperbaiki kondisi pendidikan kita.  Seorang guru bercerita bahwa untuk mempersiapkan siswa menghadapi UAN yang berisikan tidak semua mata pelajaran itu, guru harus mendrill siswa berbulan-bulan bahkan jam pelajaran tambahan pun diperlukan dan alhasil dimintakan pula kerelaan kepada guru-guru non UAN untuk melepas jamnya.  Setelah UAN berhasil dilaksanakan, muncul masalah baru, yaitu semangat siswa yang kendor untuk mempersiapkan UAS.

Fenomena ini dipicu pula oleh `jaminan lulus` yang diyakini siswa sebab bocornya berita bahwa guru-guru akan membantu siswa dengan mengoreksi jawaban siswa yang salah untuk memenuhi skor kelulusan minimal UAN.  Ini semakin membuat siswa malas dan tidak peduli dengan UAS.  Kalau pun nilai UAS gagal tak ada masalah sebab mereka pasti bisa lulus dan mengenggam ijazah SMA.

Jika demikian adanya, sekalian saja UAS tidak usah dilaksanakan.  Dan kalau perlu mata pelajaran UAS dihapus saja !

Saya berargumen bahwa sekalipun lulus, siswa-siswa tersebut akan kesulitan mengikuti pendidikan di PT.  Teman guru berkelit bahwa para siswa tak punya keinginan untuk lanjut PT, yang mereka butuhkan hanya ijazah SMA untuk bekerja yang agak layak.  Sekalipun mereka lanjut ke PT, banyak pula PT/akademi/Sekolah Tinggi yang menawarkan program `yang penting kuliah`, dan bisa mendapat gelar sarjana atau ahli madya.

Tampaknya pendidikan di negara kita cenderung hanya mengejar ijazah dan gelar.  Lalu di mana seharusnya motivasi menjadi orang terdidik itu diasah ? Di mana seharusnya tekad untuk menjadi orang yang lebih beradab itu harus ditumbuhkembangkan ?

Dalam perjalanan saya pulang dari Makassar dan dilanjutkan dalam bis yang saya tumpangi ke Jakarta, sempat saya baca beberapa essay yang ditulis J. Drost, pakar pendidikan Indonesia yang sudah meninggal.  Beliau katakan pendidikan di Indonesia seharusnya menyediakan sekolah bagi siswa yang mampu di bidang akademik (30%) dan mampu di bidang keprofesian (70%). Oleh karenanya yang 30% seharusnya masuk sekolah umum dengan kurikulum khusus, dan yang 70% masuk sekolah keterampilan atau kejuruan dengan kurikulum khusus pula.

Tapi lagi-lagi UAN mementahkan ide ini.  Adanya UAN yang diberikan di semua tingkatan/ragam sekolah (umum atau kejuruan), bersifat nasional pula (mementahkan ide desentralisasi dan otonomi daerah), lalu menjadi persyaratan lulus pendidikan menengah, adalah suatu kebijakan yang hanya menghabiskan dana tetapi tidak berhasil memetakan sekolah-sekolah sebagaimana ide dasarnya, atau pun tidak menggambarkan prestasi murni siswa-siswa Indonesia, dan kita kembali gagal untuk memahami, mengarahkan, membina anak berdasarkan talentanya.  Semuanya dipukul rata, harus bisa lulus UAN !Dan guru-guru pun terkungkung kesempatannya untuk mengeskplorasi kemampuan mengajarnya dikarenakan target harus 100% lolos UAN yang ditekankan secara implisit maupun eksplisit dari pihak penguasa di daerah.  UAN sudah menjadi makanan politik pula !

Usul : Mungkin sudah basi karena sudah sering diomongin : ujian kelulusan SMA berdasarkan ujian sekolah.  Pemetaan dan pengembangan sekolah-sekolah serahkan pelaksanaanya kepada daerah. Berhenti menjalankan otonomi yang setengah-setengah : disuruh jalan tapi ekor tetap dipegang ! Keluarkan kebijakan yang sesuai data di lapangan. Ikutkan guru membicarakan kebijakan yang ditujukan atau ada sangkut pautnya dengan mereka, jangan hanya menjadi obrolan lalu disetujui dengan ketokan palu di dewan.

Silahkan usul bagi yang punya ide/unek-unek tapi ngga ada jaminan dibaca oleh pemegang kebijakan, karena mereka belum terjun ke dunia blog dan belum sadar pentingnya ngeblog (^_^)

Iklan
  1. Setuju dengan pendapat J. Drost tadi.

    Tapi, kebanyakan orang Indonesia itu kan rasa iri-nya gede. Jadinya, semuanya harus disamakan, biar ga iri.

    murni : Iri…boleh, tapi harus pada tempatnya (^_^)

  2. Mari kita mulai gerakan untuk mengedepankan proses bukan hasil.

    Agusampurno
    http://www.gurukreatif.wordpress.com

  3. yah memang ..pendidikan itu bukan punya anak usia sekolah akan tetapi pendidikan juga perlu buat pemegang-pemegang kebijakan agar tujuan murni pendidikan TERCAPAI

    murni : akur, pak

  4. Maju terus pendidikan Indonesia!! 🙂

  5. Numpang nimbrung nih Mbak…
    Mak jleb… Waduh, saya jadi malu baca tulisan ini. Maaf nih Bu, mungkin agak OOT. Mau cerita soal UAN dan UAS.

    Dulu, waktu saya di SMA, di waktu2 genting menjelang UAN, yang saya pikirkan hanya bagaimana caranya agar lulus, serta masuk ke PTN favorit. Seakan-akan, hidup dan mati ini hanya untuk mengejar kelulusan. Astaghfirullah…

    Nah, waktu itu kami semua diberi suguhan macam-macam oleh sekolah. Mulai dari sering diberi pelajaran tambahan hingga menjelang sore, sampai motivasi oleh orang2 penting semisal KaDikNas Prop. Belum lagi wejangan dari para ehm.. maaf, sponsor yang datang ke sekolah.

    Waktu itu, sudah tidak ada lagi fokus ke olahraga, kesenian, sejarah, dan lain sebagainya mata pelajaran. Bukan bermaksud untuk menganaktirikan, tapi guru-guru pun semuanya telah mahfum soal keganasan UAN.

    Kalo UAS, terus terang, saya juga ga terlalu peduli. Karena semua siswa berprinsip, yang penting lulus. Entah itu mau melanjutkan ke PTN atau langsung bekerja, toh nilai UAS tidak pernah ditanyakan.

    Pernah suatu kali, mungkin karena sikap saya yang terlalu kelewatan, saya dipanggil menghadap seorang guru sejarah. FYI, saya sering tiap Sabtu bolos sekolah, karena di hari tersebut tidak ada pelajaran tambahan dan ada mata pelajaran yg saya takuti: Sejarah!

    Nah, mungkin guru tersebut tidak terima kalau saya meremehkan begitu. Dan itu berdampak pula bagi teman2 saya yang lain.

    Kira-kira menurut Ibu solusi cerdas dan win-win nya bagaimana ya?

  6. Wah….saya semakin yakin kalau kelompok air mata guru dari Medan itu…cuman sekedar nyari sensasi….

  7. Terima kasih, akan tulisan ini.
    UAS adalah hal yang paling menggelitik dalam diri saya. Banyak yang pro dan tak kalah banyaknya yang kontra, seperti yang anda kemukakan dengan pesimistisnya anda.

    Ada hal penting dan sangat besar yang perlu kita cermati. Masalah masa depan bangsa dan negara ini. Kita cermati mutu pendidikan kita di Asean termasuk dalam kelas rendah apa lagi didunia, tentu lebih memprrihatinkan lagi. Dan kita sadar baik buruknya negara tergantung pada kualitas bangsanya, dan kualiras bangsa ditentukan oleh pendidikan, salah satunnya tentu.

    Untuk itu marilah kita berfikir arif dan bijak, jangan lihat UAN-nya yang salah. UAN sudah benar karena itu adalah standar bagi penetu kualitas kelulusan anak didik. Dibalik standar itu dituntut tanggung jawab pemerintah dan pelaksana pendidikan, terutama guru untuk berperan aktif meningkatkan kualitas pengajaran. Memang dalam hal ini permasalahannya sangat pelik, ibarat lingkaran setan. Semua mau lepas tanggung jawab dan saling menyalahkan. Oleh karena itu moralitas bangsa kita semakin terpuruk.

    Himbauan saya, mari kita berkomitmen untuk memperbaiki sistem pendidikan nasional kita. Undang-Undang Pendidikan Nasional dan UU Guru dan Dosen sudah ada, jadikanlah hal itu sebagai landasan berpijak, jika masih ada bocornya perbaiki undang-undang itu. Jangan justru dimanfaatkan untuk menggagalkan kepentingan bangsa dan negara.

    Komitmen pemerintah dengan 20% APBN untuk pendidikan laksanakanlah dan lewat dana itu perbaikilah sistem pendidikan dan tandard pengajaran diseluruh wilayah di Tanah Air ini sehingga standar pendidikan sama disemua daerah.

    Saya pikir para pakar pendidikan akan dapat mewujudkan komitmen ini dengan berbagai pendekatan strategi.

    Mari kita pelihara optimisme yang tinggi dan tetap berfikir positif untuk memperbaiki sistem pendidikan nasional kita.

  8. Pak Effed yth,

    Terima kasih telah membaca dan memberikan komentar terhadap tulisan di atas.

    Saya coba tanggapi secara garis besar :

    1. Kebenaran UAN sbg salah satu penentu standar kelulusan adalah sebuah pernyataan yang masih bebas untuk ditinjau ulang. Sebagaimana yg umum dipahami tdk ada policy yang benar-benar 100% benar untuk sebuah negara, maka saya pun mencoba berfikir di luar kotak, bahwa UAN `barangkali` tdk tepat sebagai alat menentukan kelulusan SMA di Indonesia. Tetapi sbg alat mengukur standar achievement siswa SMA, saya setuju, yang hasilnya akan dipakai sbg pemetaan sekolah. yang selanjutnya pemerintah mengambil kebijakan lanjutan u memperbaiki mutu sekolah bersangkutan.
    Krn dipakai sbg standar kelulusan, mk ada seklah yang tdk meluluskan semua siswanya di NTT, dan siswa mengamuk, menghancurkan sekolahnya. Apkh fenomena ini tdk ditangkap oleh pemerintah sbg suatu ekses negatif pelaksanaan UAN ? Lalu apa gunanya siswa belajar giat selama 3 tahun, apa hasilnya guru2 yg mengajar berpeluh-peluh selama 3 tahun jk memang hanya akan diukur dg 3 mata pelajaran saja di tahap akhir kelulusan mereka. Jika dmk, kenapa tdk belajar 3 mata pelajaran itu saja, spy semua siswa bisa lolos.

    2. Kebijakan memang sangat bagus di UU-nya tetapi sulit diterapkan di lapang, dan seharusnya seperti pernyataan Bapak, UAN bisa diperbaiki jika memang ada kekurangbagusan di dalamnya. Saya setuju ini, dan seharusnya tahun depan ada perbaikan jk memang nekat terus menjadikan UAN sbg standar kelulusan.

    3. Kualitas pengajaran yang Bapak maksud dengan penerapan UAN itu adalah kualitas yang mengacu kpd tujuan agar lulus UAN. Saya pikir inipun hanya akan menghasilkan generasi yang tidak bisa berkembang dg pikiran logis dan motivasi berkarya tinggi, tetapi hanya akan menghasilkan lulusan yg bisa menjawab soal-soal UAN. Pola yg dipakai guru-guru kita sekarang adalah pola cepat menjawab soal UAN, menghafal jawaban, bukan pola analisa yang mengasah otak anak didik. Ini pun akan bermakna sangat luas jika dikembangkan lagi kepada fakta bahwa siswa2 kita tidak semuanya ber IQ tinggi.

    4. Budget pendidikan 20% pun saya kritisi krn tidak masuk akal. Realitasnya APBN kita tidak punya dana cukup, kecuali jika yg dimaksud 20% dari APBD, beberp daerah saya pikir sanggup memenuhinya. Dan ini tdk bisa dipakai sbg dasar u menyamakan mutu pendidikan di semua daerah. Otonomi daerah akan membawa dampak bukan penyemarataan tetapi kompetisi antar daerah, yg imbasnya terasa pula dalam penerapan UAN.

    5. Pak, saya merasa tulisan-tulisan saya semuanya saya buat dg penuh optimisme thd masa depan yang lebih baik thd pendidikan di Indonesia. Tetapi optimisme itu akan mental jk hanya `rasanya` yang kita miliki, tp tdk kepada `autokritik` yg tajam thd kebijakan yg berlaku. Optimisme itu akan sia-sia jika tdk ada upaya berfikir mengkritisi yang sudah ada. Kata mengkritisi bukan berarti menyalahkan, tetapi menyodorkan alternatif pemecahan.

    6. Berfikir positif terhadap segala permasalahan adalah langkah aman untuk menenangkan jiwa bahwa segala sesuatunya ada gunanya dan ada maksudnya. Tetapi bagi saya pribadi, ini tdk cukup mengasah ketajaman berfikir saya. Maka saya cenderung berfikir adil, artinya sisi positif dan negatifnya harus balance diangkat.

    7.Sekalipun berada di luar negeri, banyak org Indonesia yang tdk pernah bisa memisahkan diri dg fakta di tanah air. Demikian pula ktk mengkritisi kebijakan pemerintah, maka kami selalu merasa berada pd posisi orang yg sedang melakukan autokritik. Kami mengkritik diri sendiri, kami menyemangati diri sendiri bahwa ini perlu diperbaiki dan ini perlu lebih ditajamkan. Karena bagaimanapun kami tetap orang Indonesia.

  9. […] dan optimisme Jump to Comments Seorang pengunjung di blog saya, Pak Effed menulis komentar di sini, dan karenanya saya mendapatkan sebuah ide tulisan tentang bagaimana saya memaknai berfikir positif […]

  10. askom, sebenarnya berpikir positif itu luas maknaya, jika kita selalu berpikir positif, kita akan menjadi bangsa yang kreatif dan produktif, selebihnya berikan kasih sayang terhadap siapapun, agar dunia yang akan ditinggalai anak cucu tentram, aman dan damai .wassalam

  11. Seorang Visioner yang berfikir positif mampu menahan tekanan masalah rumit dan sekaligus membalik kerumitan dengan menerobos celah kecil menjadi peluang baik.

    Berfikir positif masalah sulit tak menjadi rumit. Ayo Indonesia Bangkit!

    Iwan Darmawansyah. http://taya.wordpress.com/

  12. Menurut saya UAN sebenarnya tidak selamanya buruk, dan UAN juga sebagai salah satu alat untuk mengukur achievement yg dicapai oleh siswa2 kita di seluruh pelosok negeri ini, dan juga dapat digunakan untuk memonitor jangan sampai terjadi jurang yang begitu besar antara Jakarta dan tempat terpencil misalnya. Namun tentu juga UAN ini harus ditempatkan pada proporsinya, maksudnya memang tidak bijaksana untuk menetapkan UAN sebagai indikator multak kelulusan seorang siswa. Untuk itu yg perlu dilakukan adalah menurunkan bobot UAN dalam menentukan kelulusan suatu siswa, dan juga yang perlu diperhatikan adalah bentuk dari UAN itu sendiri, apakah dari sudut bentuk soalnya atau apa memang hanya 3 mata pelajaran saja yg di-UAN-kan, dsb!
    Memang masalah UAN ini sangat pelik, dan saya percaya walaupun UAN ini dihapuskan belum tentu sistem baru akan lebih menjamin menghasilkan kualitas lulusan yg lebih bermutu dilihat dari berbagai faset. Karena memang saya percaya bahwa setiap sistem pasti ada kelemahannya, dan terkadang kita lupa bahwa sistem yang sudah ada dapat diperbaiki sehingga bisa menghasilkan output yg lebih baik, tanpa harus merubah keseluruhan sistem yang telah ada demi mempertaruhkan sesuatu yang belum pasti pula!

  13. […] This post was mentioned on Twitter by Godvin Triastama S and Chriscelda Marpaung, Chriscelda Marpaung. Chriscelda Marpaung said: https://murniramli.wordpress.com/2007/05/14/uan-serius-uas-nyantai/ […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: