murniramli

Kendaraan Rakyat

In Serba-serbi Indonesia on Mei 17, 2007 at 3:45 am

Pulang kemarin saya selain naik kendaraan pribadi teman-teman baik saya, pun saya sempatkan menikmati kendaraan murah meriahnya rakyat.  Dulu sering sekali saya menikmatinya, bergelantungan di bis-bis Jakarta Bogor, atau pun berdesak-desakan di  kereta Jabotabek, dan kepanasan di angkot kota Bogor yang terus saja bertambah jumlahnya.

Ada satu tip untuk naik kendaraan rakyat yaitu : tidak boleh mengeluh apalagi mengomel ! Yang harus dipelihara banyak-banyak adalah KESABARAN.

Hari pertama di Bogor, saya naik ojek ke terminal Bubulak kemudian naik angkot 03.  Seorang Ibu naik di tengah jalan, kemudian memaksa supir untuk tidak lewat stasiun Bogor (jalur macet). Pak supir yang masih muda OK saja.  Tapi sore itu, ada seorang polisi yang berdiri di depan Matahari Dept Store dan membelokkan semua angkot ke arah stasiun, maka si Ibu mengomel, memaki Pak Polisi dengan kosa kata kebun binatang.  Omelan pertama yang saya dengar setiba di Indonesia.

Bogor sebenarnya kota yang sangat asri, dengan kebun raya yang berada di pusat kota dan pepohonan rimbun di sepanjang jalan-jalannya, sangat sanggup menghirup semua CO2 yang dikeluarkan oleh angkot-angkotnya yang ratusan jumlahnya.  Pun seharusnya mampu menjadikan warganya, menjadi orang-orang yang berperilaku halus, alami.  Tapi dulu sering ada ungkapan bahwa di antara semua orang Sunda, orang Bogorlah yang bahasanya paling kasar (>_<).

Saking banyaknya angkot di Bogor, dulu ada lelucon orang Barat yang berkunjung ke Bogor: Angkot bisa berhenti di mana saja, bahkan di depan WC rumah kita sekalipun.

Beda lagi dengan Madiun, angkot kuningnya sangat sedikit, menunggu angkot yang akan saya tumpangi untuk mewawancarai kepala sekolah, benar-benar melatih kesabaran.  Karena tidak ada jadwal yang tertulis jelas, maka menunggu 1-2 jam adalah hal biasa di Madiun.  Jika sudah begini, maka becak adalah kendaraan alternatif yang paling bermanfaat.  Sayangnya saya suka kasihan dengan mamang becak, rasanya seperti memperkerjakan orang secara rodi.  Tapi, begitulah. Saya menikmati becak-becak di Madiun yang agak luas tempat duduknya.  Tukang becak pun bisa diminta berhenti sejenak jika ada objek menarik yang ingin saya bidik.

Madiun adalah wilayah perbatasan Jawa Tengah -yang terkenal dengan kehalusan bahasa Jawanya, dengan Jawa Timur yang sebaliknya terkenal dengan gaya bahasanya yang agak preman.  Orang-orang Madiun berbicara dengan bahasa Jawa halus, yang bagi telinga saya, sangat indah terdengar.  Tukang-tukang becak pun ramah mengajak penumpang berbicara dengan bahasa Jawa yang halus. Sayangnya saya tak pandai bahasa Jawa kromo.

Naik kendaraan umum di Makassar lain lagi rasanya.  Alamnya yang panas membuat orang-orangnya pun tak bisa berbicara pelan. Yang terdengar seperti orang marah-marah.  Angkot di Makassar pun banyak sekali dan memenuhi jalan-jalan menuju pasar sentral, pusat ekonomi rakyat.  Di beberapa ruas jalan kota, kendaraan roda dua dipisahkan dengan kendaraan roda empat.  Kebijakan ini kelihatannya membuat suasana jalan agak tertib.  Yang membuat kemacetan barangkali hanya angkot-angkot yang bisa berhenti di mana saja.

Kendaraan rakyat yang paling menyiksa bagi saya adalah KRL Jabotabek.  Sepulang mengunjungi SMA 8 Jakarta, teman baik saya mengantar ke stasiun Tebet, karena saya ingin sekali naik kereta.  Tiket kereta biasa sebesar 2500 rupiah memang murah, tapi rasanya tetap tak manusiawi ketika melihat orang-orang menunggu kereta selama berjam-jam. Dari jam 16.30 hingga jam 20.00 ada 3 kereta ekonomi yang lewat tetapi penuh hingga ke atap-atap.  Karena hujan, saya tak berani mendesak masuk, tunggu hingga ada kereta agak kosong. Kereta-kereta selanjutnya yang lewat adalah kereta-kereta kosong yang sedang uji coba atau pakuan ekspress yang hanya berhenti di stasiun tertentu. Penumpang mulai mengomel karena ketidakadilan tentunya.  Mengapa hanya kereta-kereta yang tak  bisa mereka tumpangi yang lewat ?   Sekitar jam 8 malam, saya memaksa naik ke sebuah kereta yang `agak kosong`, itupun dengan perjuangan mendesak dan mendorong orang-orang yang sudah berjejalan di dalam kereta.  Tas saya harus menjadi korban, putus karena tertarik oleh penumpang lain. Sepanjang jalan saya cuma beristighfar, memohon kekuatan karena O2 di dalam kereta sangat tipis dan badan saya juga semakin melemah.  Yang menyedihkan tentunya anak-anak kecil yang terpaksa harus berhimpit dan menahan untuk tak menangis di tengah pengapnya kereta.

Naik kendaraan rakyat barangkali tak pernah dinikmati oleh para pejabat.  Andaikan pernah, seharusnya mereka memperhatikan ini dengan baik.  Transportasi adalah kunci keberhasilan ekonomi suatu kota, dan rakyat menyumbang besar kemajuan serta ketahanan ekonomi kota.  Selayaknyalah mereka diperhatikan.  Bukan karena murah, maka kereta rakyat harus berkesan kumuh, tanpa perawatan, dan sekedar bisa jalan.

Kota yang berhasil adalah kota yag sukses menata jalan-jalannya, berhasil mengangkut pulang pergi rakyatnya dengan kenyamanan.  Tidak saja kendaraan yang layak pakai yang harus disiapkan tetapi jadwal yang harus ditepati.  Pengaturan ini yang belum ada. Waktu sepertinya belum berarti uang di Indonesia.

Selanjutnya pemahaman keberadaan dan penggunaan, adab mengendarai kendaraan rakyat atau fasilitas umum yang lainnya harus menjadi bahan ajar di sekolah-sekolah bahkan di lembaga belajar masyarakat.  Semua orang perlu belajar untuk menghargai barang milik bersama. Memang mustahil kelihatannya untuk mengajak masyarakat belajar, tapi 42 juta jiwa Indonesia tengah mengenyam pendidikan saat ini, dan penduduk lain sudah pernah mengenyam pendidikan tentunya, jika orang-orang terdidik ini menyadari dan mulai mengarah kepada kebaikan, maka bukan hal mustahil kondisinya akan berubah.  Tinggalah pemerintah selaku yang mengatur agar semuanya berjalan sesuai rambu, memfasilitasinya dengan jujur dan tekad.

Barangkali dengan Menteri Perhubungan yang baru, akan ada kenyamanan yang dinikmati rakyat ketika berkendara. Jangan cuma dibiarkan mereka bermimpi,  sudah lama mereka bermimpi.

Iklan
  1. Selain sarana dan prasarana dari pemerintah yang lebih baik, nyaman dan aman, kunci utama yang belum dimiliki negara kita adalah kesadaran masyarakat untuk menghargai dan memelihara seluruh aset bangsa apapun bentuknya. Rasanya sedih sekali jika kita membandingkan kesadaran masyarakat kita dengan negara lain.

  2. Numpang nimbrung nih Mbak…
    Ketika membaca judulnya, pikiran saya kok langsung membayangkan sebuah kendaraan transportasi yg murah namun bersahaja ya Mbak? 🙂

    Eeehhh.. tahunya… Di tempat saya juga begitu Mbak. Perjuangan di pagi hari dimulai dengan berdesak-desakan dengan tukang sayur, mahasiswa yg berkuliah di kota, dan beberapa pekerja yang kantornya di luar kota. Saya harus berdesak-desakan, kadang-kadang harus bergantung. Mungkin itu sebabnya urat-urat tangan pada keluar semua.

    Kalau menurut saya, di Jakarta, yang notabene menjadi kiblat pembangunan di daerah (walau tak selalu), sudah cukup baik soal sarana transportasi. Cuma, hal ini tidak diimbangi dengan kesadaran warganya. Masih banyak orang yang enggan naik sepeda, memilih mobil, walau kantornya tak seberapa jauhnya.

    Di Jepang bagaimana ya? Apakah anak mudanya juga suka pamer kuda besi?

  3. Iya yah. Negeri kita memang begini keadaannya. Beda banget dengan negeri-negeri mantan penjajahnya. Saya jadi pengen nulis tentang sarana transportasi juga.

  4. Hm….saya jadi ingat, naik kereta dari Rangkasbitung ke Jakarta. Kereta penuh sesak, hujan deras, dan jendela tak berkaca….pengap dan basah. Sudah begitu, di kolong tempat duduk saya yg busanya sudah bolong-bolong, ikut juga menumpang 3 ekor ayam. Tiba di Jakarta susah pula cari jalan keluar, karena pintu-pintu penuh terhalang tumpukan sirsak dan kelapa.

    Itu saya alami sebelum kejadian gerbong yang atapnya runtuh dan menelan korban jiwa itu. Terakhir naik kereta itu bulan September tahun lalu keadaannya masih sama, gak tahu deh kapan akan berubah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: