murniramli

Jawa tengah dan PGRI-nya

In Pendidikan Indonesia, Penelitian Pendidikan on Mei 21, 2007 at 1:29 am

Saya hanya berkunjung 2 hari 3 malam di kota Semarang.  Kedatangan saya pagi dini hari sekitar jam 3 waktu setempat disambut dengan penuh kehangatan keluarga oleh Ibu Yeti, dosen UNDIP Semarang dan Ketua Pusat Studi Asia UNDIP.  Beliaulah yang kemudian menelepon ke sana kemari, menghubungi pihak-pihak yang ingin saya wawancarai, plus mengantar saya selama 2 hari menemui tokoh-tokoh tersebut.  Saya sangat berterima kasih kepada beliau dan keluarganya yang rela diganggu dengan kedatangan saya.  Saya kenal dengan Bu Yeti melalui sebuah seminar di Nagoya University, ketika itu beliau menyampaikan tentang sejarah perkembangan sekolah pekojan, pecinan, dan juga sekolah berkurikulum Turki yang ada di kota Semarang.  Ketiga sekolah itu menarik sekali untuk dipelajari, bahkan kami sempat bincang-bincang untuk menindaklanjutinya ke arah penelitian yang lebih serius.  Insya Allah.

Ada dua sekolah swasta yang saya kunjungi di Semarang.  Yang pertama adalah SMA Semesta yang berkurikulum Turki bahkan diajar oleh sebagian besar guru-guru berkebangsaan Turki dengan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar.  Sekolah kedua yang saya datangi adalah SMA Al-Hidayah yang berkembang dari TK, SD, dan SMP hingga akhirnya membuat SMA.  Ciri khasnya sebagai tempat belajar anak-anak dari keluarga tak mampu, tetap terlihat sekalipun sekarang sekolah ini telah menjadi sekolah favorit di Semarang.  Percakapan saya dengan kepala sekolahnya yang ramah dan bersahaja, semakin meyakinkan saya bahwa kepala sekolah adalah kunci penggerak utama keberhasilan sebuah sekolah.

Yang menarik di kota Semarang adalah pergerakan gurunya.  Secara kebetulan saya mengutarakan kepada Bu Yeti keinginan saya untuk meneliti PGRI dan aktivitasnya, untuk menyeimbangi penelitian Teacher Union yang saya lakukan di Jepang.  Beliau kemudian kasak kusuk menelepon si A dan si B, dan saya mengangkat topi atas kebagusan network yang beliau bangun.  Alhasil, Sekretaris PGRI Jawa Tengah, yang juga Rektor IKIP PGRI Semarang bersedia menerima kami jam 7 pagi.  Dan terjadilah bincang-bincang yang menarik, sebab saya-yang memang tidak berhasil mendapatkan info mendalam tentang PGRI- secara to the point menyatakan PGRI seakan tidak punya peran dalam peta reformasi pendidikan.  Pak Listyono dengan sigap dan panjang membantahnya, dan alhamdulillah karenanya saya mempunyai tambahan ilmu tentang PGRI.

Hari itu kebetulan ada kegiatan Sosialisasi PGRI di aula IKIP, dan kami diundang untuk hadir acara yang dihadiri ratusan guru-guru sekota Semarang.  Di forum ini pula saya bertemu dengan pejabat teras dan tokoh-tokoh pendidikan di Jawa Tengah, termasuk `paksaan` untuk mewawancarai Ketua PGRI Jawa Tengah, Pak Sudharta, yang karenanya saya harus menunggu 2 jam, demikian pula Bu Yeti dan putrinya terpaksa harus menunggu.  Untunglah pelayanan di kantor PGRI sangat memuaskan, selain teh manis kami pun dijamu dengan makan siang yang sangat nikmat, sebelum Pak Sudharta datang.

Dari Pak Sudharta dan Pak Lis saya mendapat penjelasan tentang sepak terjang PGRI memperjuangkan UU Sisdiknas pun kemenangan tuntutan 20% budget pendidikan di mahkamah konstitusi.  Sebagai lembaga yang membawahi guru-guru negeri dan swasta di seluruh Indonesia, PGRI pun yang berperan menggolkan UU Guru/Dosen, no 14/2005.  Saya ingin sekali mengetahui lebih jauh tentang proses bersejarah ini, insya Allah saya akan teruskan penelitiannya di masa mendatang.

PGRI Jawa Tengah juga mempunyai LBH untuk membantu guru-guru yang bermasalah hingga meja pengadilan, bahkan perakara keluarga (perceraian) pun menjadi tanganan PGRI.  Yang sangat menarik adalah upayanya untuk membuat Dana Pensiun bagi guru-guru Jawa Tengah.  Dengan iuran 1000 rupiah per bulan, PGRI Jawa Tengah berhasil mengelola keuangan anggota sehingga para guru senior dapat menerima imbalan kasih sayang yang cukup besar (sekitar 800 rb rupiah-1 juta), pun dapat menikmati fasilitas transportasi karena PGRI juga bekerjasama dengan DAMRI.

Keanggotaannya yang berkisar 300 rb guru membuat PGRI menjadi organisasi yang sangat potensial untuk menentukan dan mengarahkan reformasi pendidikan di Indonesia.  Hal yang sama di Jepang, Teacher Union sebelum pecah di tahun 1989 adalah organisasi yang disegani oleh pemerintah karena keberanian ide-ide liberalnya tentang bagaimana seharusnya pendidikan dilaksanakan untuk generasi muda Jepang.

Kalau bukan guru yang memperjuangkan sendiri nasibnya, siapa lagi yang akan memikirkan mereka ? Itulah yang disampaikan para tokoh PGRI di Jawa Tengah.

Dalam perjalanan pulang, saya membaca-baca literatur yang diberikan oleh Pak Sudharta, dan secara kuat tertanam di dalam diri saya untuk melanjutkan penelitian ini, sekalipun lepas dari tema pokok penelitian untuk disertasi saya.  Saya pikir keinginantahuan akan sesuatu harus tuntas terjawab melalui penelitian, sekalipun saya perlu energi dan dana extra untuk ini semua.  Ya, seperti kata Pak Dedi, kalau ini untuk kebaikan, pasti DIA memudahkannya. Amin.

Iklan
  1. mba saya guru di jawa tengah, sayangnya hal yang mba tulis belum saya rasakan. saya dan rekan-rekan di sekolah tidak pernah diajak berpartisipasi aktif dalam PGRI. organisasi tersebut seakan-akan hanya organisasi para guru PNS serta didominasi para guru SD saja.

    murni : mungkin sebaiknya Pak Okah yang mendatangi kantor PGRI dan menawarkan diri untuk bergabung 😀

  2. PGRI memang patut diacungi jempol untuk memperjuangkan kesejahteraan guru. Fenomena yang menarik dari PGRI, ketuanya yaitu Prof. surya (dari Universitas Pendidikan Indonesia=satu-satunya IkIP di Indonesia yang masih mempertahankan identitas pendidikannya), adalah ketika menghantarkan guru-guru demo, sampai akhirnya pemerintah bersedia meningkatkan kesejahteraan guru…tetapi dengan syarat guru harus profesional…maka kini dilakukan sertifikasi guru…guru yang profesional saja yang diberi tambahan gaji 2,5 jt per bulan….implikasi dari UU Sikdiknas dan UU 2004…sebetulnya sangat banyak termasuk pada LPTK….kayaknya perjuangan PGRI masih panjang….harapan besar pun dibebankan…fenomena yang menarik lagi … ketua PGRI yaitu Pak surya…terpilih menjadi DPP pada pemilu 2004, ini artinya semua guru memilih beliau…dan harapannya lewat DPR guru terus diperjuangkan…organisasi PGRI pasca reformasi berubah sangat drastis….MAJU TERUS PGRI!

  3. mbak seperti yang mbak tulis kayaknya belum sepenuhnya terjadi apalagi di jawa tengah,masih ada gaji guru dibawah 100000 dan tentang melamar menjadi guru,masih ada hukum siapa kau siapa aku,dan fenomena why indonesia not care with teacher?masih banyak cerita yang jauh di dasar sana yang belum tergali,bahkan di luar jawa pun ada seorang guru yang mengabdi puluhan tahun tidak di angkat pns yang malangya lagi tidak bisa menyekolahkan anaknya,semoga allah memberi kesabaran dan ke ikhlasan kepada guru2 di indoesia,dan semoga guru di indonesia tidak mengikuti jejak korup

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: