murniramli

Perusahaan Seharusnya menjadi pusat belajar masyarakat

In Serba-serbi Indonesia on Mei 22, 2007 at 8:30 am

Bahwa perusahaan harus dikembangkan oleh dan untuk masyarakat adalah ide yang ramai dibicarakan sejak merebaknya kasus perusakan lingkungan atau konflik antar pekerja bermotif SARA di beberapa daerah.  Banyak pihak mencurigai adanya praktik uang di balik perijinan pendirian sebuah perusahaan antara pemodal dengan pemerintah lokal dengan mengesampingkan suara masyarakat setempat.

Sebagian perusahaan besar mempunyai divisi khusus yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan yang merupakan salah satu bentuk kontribusi perusahaan kepada masyarakat, tetapi terkadang divisi ini sekedar dibentuk untuk memenuhi persyaratan perundangan yang ditetapkan pemerintah.  Meleburnya perusahaan dengan masyarakat sekitarnya adalah perkara wajib.  Jika ingin mempertahankan kestabilan usaha maka pengusaha harus berbagi keuntungan dan kerugiannya kepada masyarakat.  Ide ini didasarkan pada pemikiran logis bahwa perusahaan sama saja dengan makhluk yang tidak bisa hidup sendiri tanpa interaksi dengan lingkungannya.  Karena berbagi adalah masalah yang sangat alami, maka tidak selayaknya perkara ini dianggap sebagai keterpaksaan.

Berbagi dengan masyarakat sebenarnya sudah dijalankan oleh beberapa perusahaan secara tidak langsung.  Keberadaan perusahaan di suatu daerah secara otomatis meningkatkan kesejahteraan warga, baik dia sebagai pekerja di perusahaan tersebut ataupun tidak.  Kesejahteraan itu ditingkatkan melalui dana pajak perusahaan yang dikelola oleh pemerintah daerah.

Banyak aspek kehidupan yang menjadi inti kegiatan sosial sebuah perusahaan, misalnya kesehatan, olah raga, pendidikan, transportasi, penyelamatan lingkungan, dan kesejahteraan warga.  Aspek pendidikan merupakan  investasi jangka panjang bagi sebuah bangsa, karenanya kontribusi perusahaan di bidang ini sangat penting.

Kegiatan sosial yang sudah banyak contohnya di bidang ini adalah pemberian beasiswa kepada siswa yang berprestasi tetapi tidak mampu.  Program ini menjadi sebuah pengharapan bagi para orang tua dan pendidik.  Sedikit kritik terhadap program ini yaitu  target penerimanya yang berskala sempit, hanya `siswa berprestasi`. 

Menurut Departemen Pendidikan Nasional, hingga saat ini 88% anak Indonesia mengikuti program wajib belajar yang akan dituntaskan di tahun 2008.  Ada peluang besar bagi perusahaan untuk menyalurkan beasiswa kepada kelompok anak putus sekolah dengan alasan ekonomi.  Bukankah semakin banyak orang Indonesia yang terdidik lebih baik untuk pembangunan saat ini daripada membuat pendidikan sebagai barang elit yang hanya dapat dinikmati oleh kelompok tertentu ?  Program beasiswa sebaiknya ditujukan untuk membuka akses seluas mungkin kepada seluruh anak untuk megenyam pendidikan.

Peran pendidikan yang lain yang dapat dimainkan oleh perusahaan adalah menjadi museum ilmu.  Kurikulum pendidikan di Indonesia saat ini dikembangkan dengan pemberian otonomi yang luas kepada sekolah untuk meramunya.  Oleh karena itu, guru sangat membutuhkan materi ajar, bukan hanya tulisan atau gambar yang ada di buku pelajaran, tetapi proses kerja yang nyata yang akan membantu tercapainya pemahaman optimal peserta didik. 

Perusahaan yang bergerak di bidang otomotif dapat membuka ruang pamer khusus untuk mengenalkan sejarah permobilan atau menunjukkan proses pembuatan mobil.  Pabrik gula yang mempunyai sejarah panjang di negeri ini, selain mendirikan museum gula seperti yang dilakukan Pabrik Gula Gondang Baru di Klaten, pabrik gula  juga dapat membuka akses bagi siswa untuk belajar budidaya tebu atau proses pembuatan gula.  Perusahaan perbankan dapat membuat museum uang, menyediakan ruang khusus untuk mengenalkan pekerjaan perbankan.  Perusahaan kereta api membuka museum kereta yang memamerkan produk kereta api sekaligus mengenalkan adab penumpang kereta, langkah penyelematan jika terjadi musibah, atau kerja dan tanggung jawab seorang masinis.  Pemahaman terhadap proses ini yang akan menumbuhkan penghargaan atas profesi orang lain, sehingga kecelakaan transportasi  tidak lagi dituduhkan sebagai kelalaian perusahaan pelayanan transportasi, tetapi masyarakat dididik untuk dewasa dalam berfikir.

Pegawai perusahaan pun dapat menjadi guru melalui program pengenalan karir bagi para siswa.  Meskipun pendidikan karir belum diajarkan khusus di Indonesia,  pegawai dapat memeloporinya dengan  hadir di kelas untuk mengenalkan karirnya sekaligus menggambarkan bidang pekerjaan yang luas, sehingga anak Indonesia tidak lagi menjawab ingin menjadi dokter atau pilot saja ketika ditanya tentang cita-citanya.

Perusahaan dapat mendorong pembentukan masyarakat terdidik dengan berperan sebagai pusat belajar bagi siapa saja.

Iklan
  1. tak menyangka, tak menduga bu Murni Ramli ini selain guru, anda juga penutur sejarah yg baik pula. seandainya ada 10 orang guru… berpengetahuan umum luas dan dalam… bersyukur & berbahagialah mereka berkesempatan jadi murid-anak didiknya.

    sebaiknya guru itu juga berpengetahuan luas di luar tugas disiplin ilmu ajarnya, dan menularkan/inokulasi ke memori rekam murid-2nya :
    – berpengaruh besar atas daya rangsang imajinasi
    & perilaku anak didik meniru sang guru idola.
    – kemampuan meramu materi ajar dengan
    pengetahuan umum … dalam penyampaian
    bahan ajar / pelajaran sungguh mengasyikkan. . .
    mengembangkan fantasi & ilustrasi juga
    imajinasi [setting blog masa itoe] plus dibumbui
    pesan moral atau nilai-nilai diterima & dipegang
    “kala itoe” benar-benar mengajak anak didik
    selami apa dan bagaimana hal itu terjadi?
    – mentransformasi [empati] diri ditanamkan ke
    anak didik, sangat membekas/berkesan sekali
    dalam qolbu & mengendap dalam benak pikir
    mereka… memberikan nilai lebih, karena apa
    pesan yang ditangkap mewarnai perilaku & pola
    sikap hidup mereka kelak di kemudian hari.
    [ sebaiknya dilakukan seolah melakonkan drama
    atau diorama? ]

    dan beberapa trick diatas langkah mudah + murah
    dibutuhkan guru, agar alur komunikasi pesan/ pelajaran disampaikan mudah dimengerti/dipahami di kelas. tanpa keluar biaya extra, hanya bermodalkan kemampuan narasi “hidup” & mampu mengikat perhatian murid terpusat kepada gerak langkah sang penutur [guru, blog titik sentral]

    ini CSIR [corporate social intelectual responbility]
    versi guru, bukan CSR lagi semata pemenuhan hajat hidup sebatas urusan perut, melainkan pemenuhan rasa lapar & dahaga pikiran & jiwa lagi gelisah.

    ulasan tajam juga bagus, bagi dunia pendidikan, tapi tidak bagi kalangan dunia hrd. [human resource development], buat mereka bak pisau bermata dua :

    -semakin pandai buruh/pekerja,
    semakin sulit diatur & disuruh, mereka semaunya
    sendiri mempergunakan ilmunya untuk hal-hal
    yang kontra produktif … (jadi mewabah) mencari
    celah kekurangan bukan u/diperbaiki [amar
    ma’ruf nahi munkar], malah dijadikan peluang
    mencari makan…

    -hanya sebagian ketjil dari mereka buruh/pekerja
    mampu memetik hikmah & memanfaatkan ilmu
    diperoleh sebagai pembelajaran positif, seperti
    sikap & budaya nilai hidup, taraf kehidupan &
    karier lebih baik dari sebelumnya. [orang makan
    pendidikan]

    -seharusnya ada prinsip “transfer of learning by
    technology and culture”, dalam nuansa lisensi
    ataupun penanaman modal asing/lokal [PMA/
    PMDN] aneka rupa pembelajaran, jangan semata
    kejar dhuit investor setoran nutup defisit APBN/
    APBD, investor agar kerasan tanamkan investasi-
    nya disini dng. berbagai kemudahan sepenuhnya
    diberikan spt. tax home holiday dst, tentu ada
    imbalan … non materiil/budged seyogyanya
    diberikan.. spt. kultur edukasi, alih teknologi atau
    kontrak produksi 1/2 dibikin negara asal, 1/2
    dibikin di negeri tempat investasi dibenamkan plus
    diberikan hak opsi untuk menjual hasil produk
    kemanapun plus jaminan sertifikasi lisensi dari
    negera asal pembuat produk, bahwa produk
    dibikin dan dijual di luar negeri asal dijamin sama
    bentuk serta kualitasnya…
    knapa demikian… ya biar kita ini nggak dibodoh-2i
    amat oleh wong luar negeri begitu ya… kali?

    pepatah lama masih saja berlaku hingga kini :

    ada gula ada semut.
    dimana ada (industri pertanian) pabrik gula [pg],
    disitu kemakmuran [relatif] tersedia, penduduk sekitar
    & pasar juga wilayah suatu daerah akan makmur
    berkembang pesat, dibandingkan daerah lainnya, itu
    terjadi di zaman belanda.

    ada pabrik ada limbah.
    dimana berdiri (aneka industri non pertanian) pabrik
    macam-2, disitu kemakmuran sekaligus kemunduran
    lingkungan alam terjadi merata akhir-2 ini, ini
    terjadi mulai zaman orba [Depperindag, c/q. BKPM
    =badan khusus penanaman modal] s/d kini.

    mengapa bisa terjadi, dan di era kolonial relatif tak
    terjadi kerusakan lingkungan? karena pola pikir
    interaksi antar mereka tanpa lintas sektoral alias
    bisa hidup sendiri tanpa berinteraksi dengan
    lingkungannya.

    [konsep pola pikir/paham/filosophi pendidikan ajarkan infokus tanpa intrafokus, turut andil dalam malpraktek pendidikan memperkosa lingkungan alam, dimana alam disediakan u/dimanfaatkan & ditaklukkan [aliran barat] ; bukannya hidup selaras bersama alam? [aliran timur]

    lantas kemanakah arah arus pendidikan ini?
    ke barat atau ke timur atau tidak menghadap
    ke utara juga tak ke selatan?
    kiblatain…pendidikan indonesia pinginnya kemana
    to bu murni ramli?

  2. Pak Ardi, saya pun tak tahu ke mana pendidikan Indonesia akan mengarah. Tapi tentunya pendidikan kita akan membuat stream sendiri yang khas, semoga.
    Jk sdh punya stream yg khas maka negara lain akan mjdkan kita kiblat baru dlm pendidikan.

    *Tulisan di atas sebenarnya pernah saya kirim ke mass media, tp kelihatannya kurang layak tampil (>_

  3. Di tempat saya ada yang namanya CSR, tapi entah kenapa, itu hanya topeng. Seharusnya ada cara yang lebih mendidik dan kompetitif dalam menghubungkan perusahaan-masyarakat, bukan hanya sekedar gelontoran uang yang bisa dimanipulasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: