murniramli

Bersenandung itu penting untuk hidup

In Renungan on Mei 24, 2007 at 7:13 am

Ini tulisan yang bener-bener asal nulis, bukan hasil penelitian pun survey 😀

Bangun pagi biasanya paling muales, apalagi saya yang harus lari-lari mengejar kereta paling pagi.  Sehabis shubuh paling enak tidur lagi, setidaknya 15 menitan.  Tapi biasanya lebih, dan kalau tidak ada kerja pagi, biasanya bablas sampai matahari pagi sudah mengejek di atas sana.

Dalam keadaan badan lunglai seperti di atas, wajah pun biasanya secara otomatis cemberut atau merengut, perasaan pun jadi tidak nyaman, antara mau bersegera atau berleha-leha.  Saya-barangkali termasuk orang yang aneh- selalu mendadak menyetel `wajah ceria` setiap bercermin, paling tidak tersenyum, lalu bertanya pada diri sendiri : `kenapa sih cemberut pas bangun tidur ?`, lalu kemudian mulai bersenandung ringan.

`Bangun tidur kuterus mandi…! Tidak lupa menggosok gigi ! Habis mandi kutolong ibu ! Membersihkan tempat tidurku !

Ketika capek berdiri bekerja berjam-jam, biasanya akan tambah capek kalau wajah disetel cemberut, maka di balik masker penutup mulut dan hidung, biasanya saya tersenyum-senyum, kemudian memandang pemandangan di luar yang cerah, dan mulai bersenandung, senandung yang mula-mula pelan, pendek dan lama-lama panjang dan barangkali agak keras, hingga kadang diikuti iramanya oleh manajer atau wakilnya, karena biasanya lagu kanak-kanak Jepang yang saya senandungkan, semua orang Jepang pasti akrab mendengarnya.  Kalau sudah demikian, dapur kami bisa menjadi seperti konser musik dadakan, saya yang tidak hafal liriknya dan hanya ber-hmmm-hmmm saja, sedangkan mereka menyanyi dengan lirik lengkap.

Dulu, sewaktu masih kost di Bogor, teman saya selalu bilang `lagi kumat`, kalau tiba-tiba secara spontan saya menyanyikan lagu anak-anak yang dulu saya pelajari di TK dan SD, sambil mencuci, menyetrika, memasak, bahkan mengetik di depan komputer, atau yang parah…sebelum tidur. Kadang-kadang sampai berjam-jam, dan baru berhenti kalau saya sudah kehabisan stok lagu.  Tapi alhamdulillah selama saya bernyanyi, tak ada yang protes karena mungkin suara saya lumayan bagus 😉

Sekarang, banyak sekali tugas menumpuk di kampus, dan saya harus melembur setiap malam atau datang pagi-pagi.  Tapi seperti biasa, kedatangan saya pagi-pagi selalu ditandai oleh teman-teman karena suara dengungan (hmm…hmmm…hmmm) yang saya juga tidak menyadarinya, spontan keluar dari kerongkongan. Yang lebih parah, kadang saya berusaha menyaingi suara penyanyi yang keluar dari iPod, sehingga tak sadar kalau suara saya sudah cukup kencang.

Tapi ada satu yang pantang saya lakukan sejak SMA : bersenandung di kamar mandi.  Ketika duduk di SMA, saya mengetahui kalau itu diharamkan.  Bahkan membaca buku/majalah Bobo yang dulu sering saya lakukan di WC pun stop total, setelah tahu itu juga tidak boleh.  Lagipula tidak mungkin ilmu masuk di kepala di tempat yang setan-nya banyak (tempat buang hajat).

Kebiasaan bersenandung mungkin tak disukai sebagian orang, karena akan mengganggu ketenangan. Apalagi kalau yang disenandungkan lagu anak2 😦  Ya, saya memang mencoba tuk jadi lebih baik, mengganti senandungan itu dnegan ayat-ayat Al-Quran, langkah pertama mengulang-ulang mendengarnya dulu melalu iPod.

Tapi, bagaimanapun juga, bersenandung itu penting untuk hidup ! Setiap orang punya gaya sendiri-sendiri untuk menyemangati hari-harinya.  Barangkali ada juga orang yang memasang wajah tersenyum terus agar hatinya merasa tenteram.  Kadang-kadang saya pun demikian, supaya tidak suntuk atau marah, saya biasanya tersenyum. Anak-anak kecil dalam kereta selalu memandang saya yang berkerudung dengan tatapan ingin tahu, dan saya biasanya tersenyum sambil memiringkan kepala, dan si anak akan langsung membalas dengan senyum malu sambil menelusupkan kepala ke pelukan ibunya.  Ibu-ibu yang saya temui sepanjang perjalanan pergi dan pulang ke rumah selalu memandang saya aneh, dan saya pun mengangguk dan tersenyum, mereka pun berlaku sama.

Setiap hari harus diawali dengan ucapan `Alhamdulillah, hari ini masih bisa bangun ! lalu selanjutnya pasang wajah tersenyum dan mulai mensyukuri nikmat hidup hari ini dengan bersemangat.

Iklan
  1. Mbak Murni. “Douyou no uta” adalah lagu2 wajib yang dinyanyikan di youchien dan hoikuen. Banyak yang diambil dari acaranya “Okaasan to Issho” NHK atau “Minna no Uta”. Beli saja CDnya yang “besuto 60” misalnya, lalu di iPodkan sendiri :-). Pasti menarik dan bisa mengimbangi hafalan lirik mereka. Gambatte Mbak XD-.

    murni : ide yang OK, Mas Sany. Ntar saya cari,tx. wah, nanti setelah hafal…saya bisa rekaman dunk di Indo 😀

  2. hm hm hm … (bintang kecil …) 😀
    murni : di langit yang biru (harusnya hitam, karena kalo malam, langitnya ga berwarna biru 😀

  3. kata orang jawa suaraku “cemplang” makanya nggak pernah senandung, wah kalo senandung nggak sengaja pasti orang-orang disekitar mual dan kabur

    murni : makanya kalo senandung pas lagi wangi, Pak…sehabis mandi 😀

  4. Ya, terkadang bersenandung itu perlu. Apalagi di saat kita (saya) sedih, kangen atau rindu. Tapi, yang saya senandungkan bukan lagu-lagu yang sudah pernah ada. Tapi, seperti keluar dari perasaan saya. Entah lagu apa? Namun, setidaknya meringankan beban perasaan.

    murni : itu berarti anda calon komposer…tinggal diasah saja bakatnya 😀

  5. Kan… lebih bagus menyenandungkan sholawat… coba deh… lebih bermanfaat

    murni : makasih Pak Deni. Benar juga sebaiknya senandung diganti dzikir.
    saya memang masih lemah sekali dlam iman, dzikirnya hanya ba`da sholat, itupun terburu-buru. Yg agak panjang cuma isya dan shubuh. Selebihnya terbentur waktu kerja dan kuliah (padahal seharusnya pas kerja dan kuliah juga bisa dzikir ).
    Btw, saya biasa baca kalimat sholawat tanpa disenandungkan, sebab kalau sambil disenandungkan suka ga masuk artinya (kurang menghayati), dmk pula dzikir sehari-hari. Kayaknya kalau melaksanakan rutinitas ini hrs konsentrasi penuh, takut salah baca/sebut 😦

  6. bersenandunglah asal jangan sampai kesandung … 🙂

  7. Numpang nimbrung nih Mbak…
    Saya juga baru tahu kalau bersenandung (bahkan hanya berbicara sendiri) dalam kamar mandi itu tak diperbolehkan ketika saya SMA dulu. Katanya sih, ga sopan banget pas telanjang sambil ngomong2… CMIIW

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: