murniramli

School moderator- partisipasi guru dalam pengembangan sekolah

In Manajemen Sekolah on Mei 25, 2007 at 7:00 am

Setiap hari Jumat, jam 10.30 hingga jam 12.00 ada kuliah menarik yang saya berusaha tidak absen, walaupun kadang-kadang suka telat karena harus lari-lari dari tempat kerja.  Kuliah ini bertitle `Kyouiku keiei gaku kenkyuu III`, membahas tentang beberapa sistem pengelolaan sekolah.  Sudah dua minggu ini kami membahas tentang pengembangan sekolah di Jerman, kebetulan dosen yang mengajar, Associate Prof. Nambu Hatsuyo memang mempunyai fokus penelitian pendidikan Jerman.

Minggu yang lalu saya menanyakan tentang istilah school moderator yang dalam bahasa Jermannya ditulis sebagai `schulentwicklungsmoderator` dalam bahasa Jepang diartikan `gakkou kaihatsu modere-ta-`(学校開発モデレーター)kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia barangkali menjadi Komisi Pengembangan Sekolah.  Dan hari ini Prof Nambu melengkapi penjelasannya minggu lalu.

Pembahasan school moderator diambilkan dari pendekatan yang dilakukan wilayah Bremen pada tahun 2000.  SM adalah lembaga yang dibentuk dalam rangka mengembangkan `school program` di Bremen.  SM beranggotakan guru-guru sejumlah 20 orang yang harus menjalani training terlebih dahulu selama satu setengah tahun.  Apa saja tugasnya ?

Tugas lembaga ini adalah memberikan nasehat, masukan kepada kepala sekolah mengenai organisasi sekolah (manajemen sekolah), team pengembangan sekolah di masing-msing sekolah, dan pelaksanaan evaluasi sekolah.

Melihat tugasnya, mirip dengan komite sekolah dan dewan pendidikan.  Perbedaannya hanya keanggotaannya yang terdiri dari guru saja.  Menarik untuk mempelajari keterlibatan guru dalam pengambilan keputusan di sekolah yang selama ini hanya didominasi oleh administratur sekolah yaitu kepala sekolah dan wakilnya.

Pandangan umum selama ini beranggapan bahwa guru mempunyai tugas utama mengajar.  Kemudian pemikiran dalam ilmu administrasi pendidikan berkembang untuk memberikan tugas organisatoris kepada sebagian guru, lalu di era penghujung tahun 90-an berkembang ide `distributed leadership` di Amerika, yang berpendapat bahwa kepala sekolah harus membagi kekuasaannya kepada para guru.  Maka dikembangkanlah Team Teacher di beberapa sekolah.  Selain menganalisa kondisi kelasnya masing-masing, guru-guru juga berkumpul per grup membahas masalah tertentu yang hasilnya dijadikan sebagai masukan kepada kepala sekolah.

School moderator pada prinsipnya sama dengan Team Teacher tersebut.  Sejalan juga dengan ide manajemen partisipatif yang dikembangkan di Indonesia setelah pemerintah mengadopsi sistem School Based Management pasca UU otonomi daerah no 22 th 1999 dirilis.  Sayangnya banyak sekolah yang belum berhasil menerapkan sistem ini yang disebabkan oleh banyak faktor diantaranya kemauan kepala sekolah yang masih kurang, potensi dan kualitas guru yang masih lemah, dan lagi-lagi kembali kepada kesejahteraan guru yang kurang, sehingga enggan dengan beban mengurusi organisasi sekolah.

Sekolah barangkali belum menjadi sesuatu yang berharga yang kita miliki, sehingga belum kita perjuangkan dengan optimal. 

Iklan
  1. ups….mmg betul bu, krn hampir di semua sekolah berkembanga pemikiran bhw guru hanya tugasnya mengajar sdgkan utk urusan manajemen ada pada kepsek. pola pikir spt ini yg mkg hrs di ubah tapi dr mn memulainya? … itu yg hrs kita sm2 pikirkan

  2. Pak Hary,
    memulainya memang susah, tp harus ada keberanian dari kedua belah pihak (guru dan pejabat sekolah) untuk saling terbuka dan bebas mengkritik dan dikritik

  3. wah ya ini yang namanya …..
    ewuh wal pekewuh, akhirnya gak ada yang rawuh
    keduanya saling aksi tunggu & menunggu ……saat
    dimulai dari …siapa ? atau memulai dari mana….?

    kemaren mengawasi dan diawasi
    sekarang sama-sama mengawasi
    pasti ada rasa..bagaimana begitu?

    ada jurus andal bisa digunakan, namanya ajian itu
    “aji mumpung”
    mumpung bisa mbales… samakan score 1:1
    atau mau partai libas balas dendam score 5 : 1 ?
    wah kelewatan nih… heh.. eheh… e

    itu ada wakutunya……., nanti kan berhenti sendiri
    tergantung hati & kesadaran juga kedewasaan diri

    jika sudah ….hayolah dimulai lagi membangun bersama jangan pisahkan antara tugas & peran &
    tanggung jawab tapi included, melainkan satukan
    kedalam niat nawaitu mendidik anak.

    amanah [dipercayakan] diberikan orang tua kandung kepada Anda [semata peran & fungsi guru, selain itu tidak akan rela mereka] seolah itu anakmu sendiri …… so pasti Anda kerahkan kemampuan & kemauan juga potensi terbaik yang dimiliki, takkan sia-sialah…. mereka pasti akan balas budi diantara 1000 murid ; 999 candala ing budi, pasti ada 1 orang yang berbakti. itu sudah lebih dari cukup. lha kalau perbandingannya sebaliknya, bagaimana? OK

    setiap perbuatan baik ada ganjarannya
    setiap perbuatan buruk ada balasannya
    sekarang tinggal pilih mana…? terserah

    jadi
    jangan sia-siakan &
    jangan berebut fungsi & jabatan
    karna gengsi & dhuwit, itu pekerjaan setan
    tetapi berbuatlah terbaik
    ikhlas mencari ibadah
    sadarlah
    karna setiap jabatan & fungsi
    akan dimintai pertanggung jawaban
    buat apa umurmu?
    kau berbuat apa dg. tugas & tanggung jawabmu?
    mengapa dilakukan ala kadar,bukan sepenuh hati?
    karna tanpa ada uangnya berarti tanpa rizki?

    bukankah rizki AKU yang atur, andai kau lakukan setjukupnya, niscaya AKU curahkan rizki kepadamu berlimpah asal engkau Ikhlas mencari RidhloKU

    rizki = tak identik dengan uang lho,tpi bermacam2
    kenikmatan…

    barangkali ….begitulah…. dialog di akherat nanti?

  4. Pak Ardi, terima kasih sekali dengan nasehatnya.

  5. Partisipasi guru dalam kemajuan sekolah memang penting, namun jauh lebih penting adalah kemampuan guru dalam membelajarkan siswa dan menjadi contoh yang baik bagi siswanya.
    Tapi melibatkan guru dalam pengembangan sekolah akan membuat guru menjadi seseorang dengan visi yang lebih luas daripada sekedar menjadi pengajar atau pendidik.
    Ada sebutan yang mungkin cocok mengenai keterlibatan guru dalam perencanaan kegiatan serta arah pengembangan sekolah yaitu ‘komite’.
    Sekolah yang baik akan memberikan kesempatan kepada guru untuk bergabung dalam komite, bisa komite suatu kegiatan atau komite yang bertugas memikirkan atau meninjau kurikulum mata pelajaran tertentu.
    Hasilnya nanti akan dinikmati oleh seluruh komponen sekolah. Tidak perlu diketuai oleh seseorang dan kepala sekolah pun hadir dalam komite tersebut dengan posisi yang sama dan sederajat dengan semua anggota komite.
    Idealnya memang guru yang profesional adalah guru yang tidak hanya ‘jago’ mengajar dan membelajarkan siswa tapi juga pintar dalam bekerja sama dalam kelompok dan memberikan ide-ide yang terbaik demi pengembangan sekolah

  6. Ass! Maaf saya ikutan!
    Pendidikan dinegara kita kadang membuat binggung. Lalu ….. sapa yang salah? Sistemkah yang kita kambing hitamkan??? mungkin Ibu dan juga temen-temen yang tahu. Tapi setidaknya mari kita berbuat lebih (dalam arti segalanya) untuk pendidikan kita. setidaknya itu dapat merubah mutu pendidikan dilingkungan tempat kita mendidik anak bangsa. amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: