murniramli

Mereka juga ingin menikmati naik kereta….

In Renungan, Serba-Serbi Jepang on Mei 26, 2007 at 8:22 am

Pemandangan orang berteriak atau bergumam tak menentu, berjalan sepanjang gerbong kereta bolak balik, adalah hal yang biasa di Jepang.  Orang-orang yang syndrom tidak dikurung di rumah, orang-orang yang sering tertawa sendiri tidak dikumpulkan di rumah khusus untuk orang gila (rumah sakit), tapi mereka bebas berkeliaran.

Siang ini, sekitar jam 12, saya asyik membaca di dalam kereta, tiba-tiba masuk seorang ibu mendorong seorang pria yang tingkahnya seperti anak-anak, menggigit-gigit mainan plastik dan kakinya tidak berhenti bergerak, sekalipun dia duduk di atas kursi roda.  Saya hanya meliriknya, dan melanjutkan bacaan.  Ibunya mendorongnya berdekatan dengan tempat duduk saya, kebetulan saya duduk paling pinggir dekat pintu masuk.  Tiba-tiba tangannya terjulur memegang lengan saya, yang membuat saya agak kaget, ibunya berteriak pelan melarangnya.  Walaupun kaget, saya tertawa juga sambil mengatakan `daijoubu` (ah, tidak apa-apa). Ibunya dengan ramah meminta maaf.  Si anak memandang saya, dan saya balas tatapannya dengan senyum, kemudian dia kembali asyik menggigit-gigit mainannya, dan saya pun melanjutkan bacaan.

Hal seperti di atas sudah sering saya jumpai di kereta.  Bahkan jika sebagian orang Jepang menghindari duduk dekat-dekat dengan orang yang tengah bicara atau teriak-teriak sendiri, saya malah merasa nyaman-nyaman saja.  Barangkali karena saya belum pernah dapat pengalaman buruk diganggu oleh mereka 😀

Yang saya tidak habis pikir, sekalipun mereka kurang waras, tapi mereka tidak pernah tersesat, mengerti harus turun di mana, dan sekalipun berteriak-teriak atau menggerutu sepanjang jalan, tapi sebatas itu saja, tidak mengganggu atau memukul orang lain.  Pernah memang sekali saya melihat anak yang kelihatannya masih sulit dijinakkan, sehingga dia memukul penumpang lain.  Biasanya yang seperti ini, selalu diantar oleh ibu/ayah/ atau famili yang lain. Tapi yang bepergian seorang diri, pada umumnya tidak `galak`.

Banyak orang-orang yang berubah menjadi gila atau sejak lahir mengalami syndrom, tapi semuanya bukan kehendak mereka.  Cacat mental ataupun fisik seringkali membuat orang minder, dan orang di sekitarnya yang menghindar atau bahkan berlari ketakutan, membuat mereka bertambah tak bisa menegakkan wajah, hilang kepercayaan diri. Perlakuan kepada mereka seharusnya perlakuan yang wajar.  Keluarga yang memiliki anggota keluarga yang demikian pun seharusnya memperlakukan mereka sebagai manusia yang normal, mengajak mereka keluar jalan-jalan, berbelanja, atau bahkan sekedar merasakan bagaimana nikmatnya naik kereta (di Jepang).

Tentu saja kadar penyakit mesti ditanyakan kepada yang berilmu, para dokter, tetapi alangkah baiknya juga jika pemerintah kota memfasilitasi warganya yang cacat untuk ikut merasakan kemajuan pembangunan, menikmati indahnya jalan-jalan di tengah kota/taman, atau sekedar merasakan kenikmatan berkereta.

Iklan
  1. Perlakuan kepada mereka seharusnya perlakuan yang wajar. Keluarga yang memiliki anggota keluarga yang demikian pun seharusnya memperlakukan mereka sebagai manusia yang normal, mengajak mereka keluar jalan-jalan, berbelanja, atau bahkan sekedar merasakan bagaimana nikmatnya naik kereta (di Jepang).
    Saya sepakat mbak. Tapi pernah ada kejadian di daerah kita-ku (kalau tidak salah, ini cerita dari seorang teman yang tinggal di daerah itu). Seorang anak yang sedang bermain di taman tiba-tiba dibanting dengan posisi kepala di bawah. Karena tidak menduga sama sekali orangtuanya yang mendampinginya tidak sempat menyelamatkannya dan anak itupun tidak tertolong. Dan orang itu tidak bisa dituntut. Bahkan tetap bebas tidak mendapat pengawasan lebih. Bagaimana menurut mbak Murni?

    murni : serba salah juga ngebebasin mereka. Krn org Jepang bisa stress tiba2, dan bisa berbuat apa saja. Belum sempat diperiksain ke dokter jiwa, dia sudah berbuat kriminal dulu

    Saya sendiri pernah mengalami kejadian di bis. Mungkin orang tsb sensitif terhadap suara yg menurutnya mengganggu. Waktu itu Aufa masih bayi, bis penuh sesak dengan penumpang, jadi membuat Aufa tidak nyaman dan sering menangis. Setiap Aufa merengek, orang itu juga menjerit-jerit sambil memukul-mukul wajah dan jendela sambil menjejak-jejakan kakinya. Untungnya posisi kami agak berjauhan. Tapi saya kasihan juga dengan penumpang yang lain yang menjadi tidak nyaman terutama yang posisinya dekat sekali dg orang itu. Serba salah, mau turun, bis berikutnya baru ada satu jam lagi. Ngga turun mengganggu penumpang lain. Sedangkan untuk menenangkan Aufa waktu itu juga sulit. Akhirnya untuk mengurangi frekuensi rengekan Aufa saya berdiri terus sambil berharap orang itu turun lebih dulu. Alhamdulillah akhirnya sampai juga di tempat tujuan kami bersama-sama dengan orang itu….

    duh, kasihan si Aufa, ada yg nyaingi nangis

  2. Katanya sih, angka bunuh diri tertinggi di dunia adalah negara Jepang. Mungkin jumlah orang-orang yang stress juga paling banyak. Na’udzubillahi min dzalik…

    murni : ya, begitulah

  3. Saya setuju mbak. Harusnya kita memperlakukan orang-orang yang stress itu dengan kasih sayang. Juga dengan memahamkan Tauhid kepada orang-orang di sekitar kita, mudah-mudahan mereka tercerahkan dan mendapat hidayah.

  4. Numpang nimbrung nih Mbak…
    Dilema Mbak… Di tempat saya, selama tak ada yang memasukkan ke Rumah Sakit Jiwa (yang juga perlu biaya besar), korban dunia yg kejam itu biasanya hanya duduk2 di tepi jalan. Selama tak mengganggu sih tak masalah. Tapi, kita dihadapkan pada pilihan nurani, atau realistis…
    murni : ya…dua-duanya aja dipilih : mba `nur` atau mba `tis` 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: