murniramli

Daripada berkeluh kesah, lebih baik menikmatinya

In Renungan on Mei 27, 2007 at 9:16 am

p1050517.jpg

Suhu udara di Nagoya sekarang ini sekitar 25 derajat. Hawa panas sudah mulai menyergap dari mana-mana, orang Jepang pun mulai beralih dengan fashionnya yang serba tipis, ringan, dan menyerap keringat. Yang ingin mencoklatkan kulit, mulai dengan baju-baju tanpa lengan atau celana pendek hawai. Yang takut kulitnya mencoklat, tetap anggun dengan sarung tangan dan topi lebar. Kami yang berjilbab masih tetap sama, hanya tidak lagi menggunakan jaket, dan baju lapis dua.

Kebiasaan baru pun merebak, yaitu makan siang di rerumputan terbuka, di taman-taman kampus yang dulu tak pernah dilakukan selama musim dingin 😀

Komentar yang paling sering terdengar di mana pun adalah : atsui nee ! (panas ya !), entah memang benar-benar panas atau hanya sekedar basa basi mengucapkannya. Saya pun tak luput berkomentar hal yang sama untuk mengawali percakapan dengan teman-teman Jepang, tapi sebenarnya yang saya rasakan tidak benar-benar panas, karena Indonesia lebih panas lagi.

Banyak yang tidak suka dengan terik matahari yang menyengat ini, bahkan pernah dilaporkan beberapa bulan yang lalu, NHK mengulas tentang ratusan warga Perancis meninggal karena suhu mencapai 38 derajat. Mereka mengalami dehidrasi yang mengerikan. Dalam acara tersebut pun diprediksikan Jepang akan mengalami pemanasan tinggi di tahun ini.

Jika manusia mengeluh dengan panasnya terik matahari, maka sebagian makhluk di bumi justru bergembira dengan keadaan ini. Dari jendela ruang belajar saya di kampus, saya menikmati sekali pohon-pohon yang menghijau, yang semula hanya ranting-ranting saja. Cahaya matahari, panas matahari tentu saja berefek pada munculnya tunas-tunas pohon itu, menciptakan warna hijau dedaunan. Sebentar lagi serangga semi (cicadas) akan berbunyi bising setelah masa dormannya yang panjang, selama setahun penuh. Cicadas pun bangun dari tidurnya yang panjang karena adanya cahaya dan panas sang surya. Biji-biji beberapa tanaman yang `tertidur` selama musim dingin akan mulai bangun dan tumbuh karena cahaya matahari yang melimpah.

Banyak yang berpesta dengan cahaya matahari yang meruah, dengan panas yang menyengat, tetapi banyak pula yang menderita karena panas yang menyengat. Maha suci Allah yang sudah menciptakan manusia dengan struktur kulit dan tubuh yang sempurna untuk segera beradaptasi dengan perubahan cuaca.

Sekarang tinggallah saja kepada kita : hendak mengeluh sepanjang hari karena panas yang menyengat atau menikmatinya dengan gembira bersama makhluk lain yang menikmatinya. Yang pasti mengeluh dan menikmati sama-sama membutuhkan energi, tetapi energi untuk `mengeluh` akan terbuang percuma, sedangkan energi untuk `menikmati` akan menyehatkan jiwa 😀

Iklan
  1. atsui nee ! … di serang banten juga panas.. PANAH POLITIK … ..

    murni : kenapa ya…ketika nama banten disebut, ` kesan panas` selalu muncul ? 😀 (yang belum pernah ke banten)

  2. Jakarta sudah mulai panas juga,begitu pun bandung,tahun yang lalu di bandung mengalami kemarau yang panjang dimana sekitar 1 masa tanam padi dilewatkan dan sawah2 dibiarkan mengering akibat kemarau yang panjang.Baru tahun yang lalu sumur- air tanah mengalami kekeringan apakah tahun ini juga….Walllahu bi Shawab

    murni : sepertinya belum ada warning dari pemerintah u mengingatkan rakyatnya agar bersiap menghadapi prediksi cuaca mendatang 😦

  3. Terkait “fashion”, ada hal yg sdh lama ingin saya ketahui.
    Kenapa ya seragam siswi jepun modelnya spt pelaut? Apakah hal itu agar mereka (termasuk pelajar pd umumnya) punya “semangat berlayar” dlm mencari ilmu spt halnya nelayan jepun yg tak ragu utk bertualang hingga ke kutub?
    Kalo sekiranya jwb-nya panjang, dibuat satu tulisan jg nggak pa pa
    Terima kasih
    (^_^)
    adi.nugroho

    murni : ngga hanya seragam siswi yg kayak pelaut, tp seragam anak SD tertentu juga kayak pelaut. Kenapa seragamnya seperti itu ? Kayaknya ngikuti gaya pakaian tentara Jepang dulu 😀 (ga nyambung), jawabannya ini dulu. Yang panjang, ntar saya tanya guru2 dulu 😀

  4. jepang panas juga yah? tapi gak sepanas surabaya tentunya… heheehe 🙂

    murni : beberapa waktu yg lalu suhu di Nagoya pernah hingga 37 derajat. Pas suhu segitu, kali lebih panas drpd Sby 😀

  5. wah, senang sekali akhirnya bisa baca tulisan bu murni ramli lagi… menyejukkan dahaga dari sekian banyak tulisan rekan-rekan yang ada di blog…
    orang jepang meskipun kena panas sampai-sampai melepuh kulitnya tapi kok tetap kuning langsat ya… hehehe…
    tapi suka banget sepertinya mereka dg warna kulit mereka yang coklat…

    murni : ini fenomena anti kemapanan 😀 Org Jepang pengen kulitnya coklat, org Indonesia pengen kulitnya putih.
    Warna kulit ditentukan gen juga, jd gen-nya org Jepang ekspresinya ke warna putih ato kuning langsat 😀

  6. sy ga pengen kulitnya putih atau coklat … natural aja 😀
    murni : setuju. kalo jadi putih bakal ditawari jadi artis nanti , Pak

  7. Numpang nimbrung nih Mbak…
    Wah, orang Jepang pengen coklat? Benar-benar dunia sudah kebolak-balik ya Mbak? 😀
    Setuju Mbak, kita harus bersyukur. Sekecil apapun rejeki. Dan rejeki, mengutip Aa Gym, tak harus berbentuk uang.
    Mudah2an kita semua tetap istiwomah Mbak. Ada banyak orang yang hanya karena panas, rela melepas jilbabnya. Naujubileeh…

    murni : ya, berjilbab memang hrs dengan iman

  8. Di Holland juga sudah mulai panas Bu (saya jadi sering keringatan, sebelumnya saya sering kedinginan). Tapi, entah kenapa, dalam seminggu ini sering mendung lagi……

  9. Oh iya, klo di sini, pada saat panas banyak yang ga pake baju. Banyak yang jemur diri di rumput-rumput. Duh pemandangan yang aneh tapi nyata,…., saya saksikan sendiri…

    murni : hehehe…cuci mata dunk (^_~)

  10. Sekarang Sby lagi panas dingin, kadang panas, kadang hujan, cuacanya gak teratur, kayak penduduknya…

    murni : ayo mau yang mana : hujan teruuuuus, atau panas teruuuus, atau hujan panas hujan panas ?

  11. aku baru kali ini main di sini
    klw boleh tanya kenapa jepang
    sangat inovativ dalam setiap
    hal contohnya saja dalam membuat komik
    mungin gaji komikus di jepang lebih besar dari
    gubernur di indonesia ?

    murni : sekalipun gaji komikus lebih besar dr gaji gubernur, tidak semua org Jepang mau jadi komikus 😀
    sy ga tahu mana yg duluan : org Jepang rajin baca shg tukang komik juga bejibun,
    atau tukang komik banyak, shg org Jepang gemar baca ? 😀

  12. mengapa sewaktu zaman toku gawa,ada yg di sebut harakiri mengapa orang jepang ada yg melakukanya, untuk apa mereka melakukannya

    murni : sila baca di sini : https://murniramli.wordpress.com/2006/07/29/harakiri/

  13. Alhamdulillah, Jogja juga mulai panas. Tak seperti dulu! Apa mungkin pengaruh pemanasan global kali yee! ato gunung merapi yang masih suka batuk-batuk.He he tapi apapun kondisinya kalo kita bisa bersyukur, saya pikir gak masalah. Yang penting lagi kita gak sampe menanggalkan jilbab kita gara-gara panas, kita mesti inget bahwa panas di dunia ini gak da apa-apanya dengan panasnya neraka. Tetep istiqomah yuk pake jilbabnya.

    murni : insya Allah

  14. Kalau indonesia sih panas melulu…..!!!
    tau kenapa …..!!!
    hehehehehehehehe
    moga kita tetap bisa berpikiran sejuk nggak ikutan panas kayaknya pemilihan kepala desa yang saat ini lagi marak di daerah saya (Lamongan Daerahnya amrozi).
    bu … kalau di jepang Amrozi dikenal tidak bu!!
    terima kasih

    murni : Amrozi ? mungkin namanya tidak, tp kasus terorisme yg diangkat barangkali terkenal. Saya belum datang ke Jepang ketika kasus Amrozi sedang hangat-hangatnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: