murniramli

Sekereta dengan rombongan anak SD

In Pendidikan Indonesia, Pendidikan Jepang, SD di Jepang on Juni 7, 2007 at 11:14 pm

Kemarin pagi saya berangkat kerja sekitar jam 7.30 pagi dan kebetulan berbarengan dengan rombongan anak SD yang sekolahnya sekitar Sunada bachi station, sekitar 5 stasiun dari Motoyama, tempat mereka naik. Kelihatannya ada perubahan dalam lokalisasi pendidikan di Jepang, sehingga anak SD harus pergi jauh-jauh dari tempat tinggalnya untuk bersekolah.

Rombongan anak-anak SD dengan baju sailor, plus tas khas yang padat berbentuk seperempat lingkaran, dan segala jenis gantungan kunci. Tubuh-tubuh kecil mereka yang separuh tigginya dari badan saya (150 cm), timbul tenggelam di antara rombongan orang dewasa yang juga sedang mengantri kereta. Saya suka sekali memperhatikan mereka. Paper yang sedang saya baca, saya masukkan ke tas kemudian mulai tersenyum-senyum memandangi anak-anak itu.

Anak-anak di mana-mana sama saja, suka memamerkan pernak-pernik barunya kepada temannya, bagi anak perempuan, dan anak laki-laki pukul memukul atau kejar mengejar, saling menyapa dengan teriakan-teriakan, tidak peduli dengan orang dewasa yang membisu, asyik membaca atau terkantuk-kantuk menunggu kereta. Seorang ayah dengan gembira menggandeng tangan anaknya, mengantarnya ke rombongan teman-temannya yang bergerombol tak jauh dari tempat saya berdiri. Si anak kelihatan bangga sekali diantar ayah, sesekali menggelayut manja di tangan ayahnya. Si ayah membungkuk sedikit menyapa anak-anak yang lain dan mungkin sedikit memberi nasehat barangkali. Wajahnya sangat ramah, ah pantas saja si anak sangat bangga.

Ketika kereta datang, mereka masuk berebut, bahkan tidak mengantri sebagaimana yang ditulis di buku-buku tentang kedisiplinan anak-anak Jepang. Barangkali gurunya sudah lupa mengajari hal ini atau kurikulum pendidikan moralnya sudah berganti dengan `perlunya kompetisi untuk survive` 😀

Seorang anak kecil yang pakaiannya masih baru kelihatan masih takut-takut naik kereta, ayahnya berdiri memandanginya dari luar kereta menunggunya hingga aman berangkat. Tapi kelihatannya dia mulai merasa aman ketika teman di sampingnya mengajaknya berbincang, hingga dia lupa melambai kepada ayahnya.

Di dalam kereta, anak-anak itu mengobrol, bercanda, saling sikut, dengan energi pagi yang begitu sumringah. Tidak ada yang membahas pelajaran, tidak ada yang memegang buku di tangan. Tata tertib naik kereta yang diajarkan dalam salah satu materi pendidikan moralnya tidak berbekas sama sekali. Penumpang yang akan naik atau akan turun di setiap stasiun terpaksa mengalah, berjalan pelan-pelan, menggeser bahu-bahu kecil anak-anak itu yang bergerombol di pintu masuk.

Anak-anak tetap anak-anak. Sekalipun dia diajari untuk diam, tenang di dalam kereta, tapi naluri dan energinya untuk bergerak ketika bertemu teman-temannya sangat besar. Mereka tidak bisa diset untuk menjadi patung atau robot.

Saya tidak ingat kapan saya naik kendaraan pertama kali sendirian waktu kecil. Karena saya selalu berlari ke TK, atau ke SD. Letaknya tidak terlalu jauh dari rumah. Beruntung sekali anak-anak Jepang karena tak perlu berjalan berkilo-kilo menuju sekolah seperti yang dilakukan seorang anak berseragam putih dan bercelana merah panjang yang saya temui ketika pulang ke Bogor. Menggedong tas ransel yang kelihatannya berat, dia tersenyum mengangguk ketika saya tersenyum kepadanya. Sekolahnya yang ada di daerah Semplak cukup jauh dari tempat tinggalnya di kampung Cilubang Mekar. Ketika saya tanya jam berapa dia masuk? Seharusnya masuk jam 12, tapi karena ada pelajaran mengaji jam 11 maka dia berangkat jam 10. Satu jam diperlukan oleh kakinya yang kecil untuk melangkah menuju sekolahnya. Saya jadi terharu mendengarnya. Memang ada angkot yang berseliweran, tapi saya tidak perlu menanyakan kenapa dia tidak naik angkot. Orangtuanya kelihatannya bukan orang yang sanggup mengongkosinya setiap hari ke sekolah. Ketika berpisah, sambil menyentuh bahunya, saya pesan seperti biasanya orang dewasa berpesan kepada anak kecil : Rajin belajar ya, hati-hati di jalan !

Saya jadi teringat pula kepada adik saya yang kuliah di UNHAS yang bersepeda separuh jalan menuju kampusnya di Tamalanrea yang kalau ditempuh dengan angkot makan waktu 1 jam lebih dari rumah kami di Kaluku Bodoa. Karena kiriman dari keluarga kami tidak cukup untuk biaya hidup dan kuliah maka dia harus `berolahraga` setiap hari. Kebiasaan itu berhenti ketika sepedanya dicuri orang dan tentu saja karena dia sudah lulus tahun yang lalu 😀

Akses ke sekolah di Indonesia masih sangat rendah menurut laporan World Bank (2007), bahkan dalam Renstra Diknas 2005-2009, salah satu yang dicanangkan pemerintah adalah meningkatkan akses ke sekolah-sekolah. Rendahnya akses itu tak lepas dari faktor kemiskinan rakyat. Sudah saatnya pemerintah memberikan kemudahan transportasi untuk anak-anak bersekolah.

Iklan
  1. Bisa dibayangkan perubahan yang bakal terjadi jika kebebasan dalam pemilihan sekolah (oleh anak/orang tua) di Jepang dilakukan mulai tahun depan. Tentu akan tambah banyak kejadian (untuk diobservasi) yang membuat Mbak Murni menyimpan paper/buku dan lebih memperhatikan perubahan2 itu V(*w*)V

    wah, sepertinya saya harus semakin sering `jalan-jalan` nih drpd mikirin thesis 😀

  2. Mba Murni…
    Mungkin anak-anak SD yang sama-sama naik kereta dengan mba Murni bukan sekolah di SD Negeri. Kalau ortunya memilih menyekolahkan anaknya di SD swasta memang tidak tergantung lokasi tempat tinggalnya. Jadi bebas memilih SD swasta untuk anaknya (cmiiw).

    murni : mungkin juga ya, karena mereka berseragam bagus 😀

  3. Mereka anak-anak dunia … 😀

    murni : yup !

  4. Walah mbak murni hobi naik kereta juga toh.. Di sana ada Metromini dan Mikrolet tidak ya….

    murni : ngga ada 😀

  5. Dulu sewaktu SD saya jalan kaki 20 menitan. Terus sewaktu SMP dan SMA saya juga perlu jalan kaki dulu Bu Murni (30-40 menitan), setelah berkeringat karena jalan dan sampai di pertigaan jalan besar, barulah saya naik angkot (15 menitan), nunggu angkotnya yang lama.
    Btw, saya kangen dengan jalan yang dulu hampir tiap hari saya lewati itu. Kangen juga dengan orang-orang yang sering saya lihat sewaktu saya jalan, mungkin orang-orang yang sering lihat saya jalan kaki juga pada kangen ke saya (Ge er).

    murni : ternyata semasa sekolah dulu kita memang sangat sehat ya 😀

  6. iya.. saya juga kangen masa2 kecil dulu yang ceria. tapi saya bener2 pengen naek kereta di jepang :d

    murni : hehehe….sama dg naik kereta Argo (kelas executive)

  7. Numpang nimbrung nih Bu…
    Saya jadi ingat ketika dulu juga keadaannya setali tiga uang dengan adik Ibu. Pagi-pagi mesti berebut kendaraan dengan bibi tukang sayur, pekerja kantoran luar kota. Serba (kalau boleh dibilang) beringas.
    Mudah2an transportasi Indonesia jadi lebih baik, terutama untuk anak sekolah. Btw, saya baru tahu kalau anak2 jepang juga kebanyakan masih suka tak disiplin seperti itu. Hehe..

    murni : wajah kedisiplinan di Jepang sudah mulai banyak tercoreng 😀

  8. seingat saya dulu waktu TK sampe SD mah deket dengan rumah jado jalan aja. repotnya pas SMP, karena harus jalan jauh mau naik angkot penuh terus dan makan ongkos, kalo mau bersepeda, harus berebut dengan 2 kakak syaa. akhirnya saya selalu jalan dipas-pas in dengan jam nya sobat saya lewat, supaya di bonceng hehe..
    lalu SMA mulai ke kota yg rada jauh, naik angkot tapi kebanyakan kendaraannnya Bemo, jadi aja masuk kelas pagi2 orang laen wangi saya mah bau bensin heheh

    murni : nuhun ka tukang bemo, teh. Salah satu penumpangnya sekrg sedang kuliah Master di Jepun 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: