murniramli

Kepala-kepala sekolah yang mengagumkan

In Manajemen Sekolah, Pendidikan Indonesia on Juni 12, 2007 at 12:42 am

Siapa bilang kepala sekolah di Indonesia tidak bergerak ? Kunjungan ke beberapa sekolah di Bogor, Semarang, dan Madiun membuka mata saya tentang keunikan pendidikan di Indonesia.  Saya patut mengangkat topi dan membungkuk dalam-dalam kepada kepala sekolah yang saya wawancarai. Tidak ada rencana sebelumnya bahwa sekolah-sekolah yang saya pilih adalah yang baik-baik saja.  Unsur keragaman sudah coba dibuat, tapi secara jujur bisa saya katakan, bapak kepala sekolah yang saya temui tak kalah dengan kepala sekolah yang saya jumpai di Jepang.

Berdasarkan OTDA, semestinya daerah memiliki otonomi untuk mengelola pendidikannya, demikian pula sekolah, seharusnya lebih terbuka dan bebas (tentu saja bertanggungjawab) dalam mengembangkan keunikannya.  Tampaknya ini belum begitu kelihatan di beberapa sekolah yang saya kunjungi, pusat masih dominan.  Tapi ini tak menutup para bapak kepala sekolah untuk berkreasi.

Seorang Kepala Sekolah yang bersahaja di sebuah SMAN di Madiun membangun sekolahnya dengan mulai membangun individu2 di dalam sekolah.  Kepada para siswa, dibuka kesempatan luas untuk mengkritik kepala sekolah, baik melalui kotak saran maupun mendatangi langsung.  Siswa-siswa pun diberi kesempatan untuk mengembangkan diri melalui kreasi kelas2, taman-taman di depan kelas atau membuat semboyan-semboyan di sekeliling sekolah.  Yang menarik ruang kelas dihias sesuai keinginan para siswa, dengan tujuan menciptakan atmosfer yang cocok dan nyaman untuk belajar.  Sekalipun sekolahnya tergolong baru, tetapi beliau sangat mantap dengan penerapan manajemen partisipative-nya.

Kedatangan saya di bulan April sebenarnya kurang pas karena sekolah-sekolah sedang melakukan UAN/UAS, sehingga semua sibuk.  SMA di atas sedang melakukan ujian praktek seni, lukisan-lukisan siswa dipamerkan di sebuah ruang pamer kecil di sekolah supaya orang lain dapat mengapresiasinya.  Dan saya menikmati ukiran tangan-tangan mereka.  Seandainya pemerintah kota tertarik dan menyelenggarakan sebuah pameran untuk anak2 ini, alangkah bagusnya. Di sekolah yang lain, lukisan-lukisan siswa dipajang di dinding-dinding sekolah.  Sebuah penghargaan yang akan terus terkenang oleh siswa bersangkutan !

Seorang kepala sekolah lain di Madiun membuat saya berdecak kagum karena dalamnya pemahaman beliau tentang konsep mendidik anak.  Sekolahnya terpilih sebagai SNBI. Saya yakin sekalipun SNBI seperti proyek yang dipaksakan, beliau akan bisa melewati proses ini dan bahkan punya segudang konsep pemecahan yang lebih baik.

Kepala sekolah sebuah SMA swasta di Semarang bahkan mengundang orang tua untuk membicarakan pengembangan kurikulum yang baru (KTSP), bahkan seorang orang tua siswa menceritakan bagaimana orang tua yang diundang rapat saling berdebat keras di hadapan pejabat sekolah untuk menentukan tambahan pelajaran agama bagi anak-anak mereka.Tampaknya keberanian bicara semakin terlihat. Ini semuanya tentunya karena keterbukaan kepala sekolah. Pak Kepala sekolah yang membangun karirnya sebagai kepala sekolah SD di lembaga yang sama tersebut ternyata sangat responsif terhadap beberapa ide-ide baru pendidikan di Jepang.

Di Jakarta, saya terkagum-kagum dengan Pak Dedi, kepala sekolah SMK 3 yang seperti tidak kehabisan energi untuk bergerak, berkreasi.  Dan dari beliau saya belajar suatu konsep baru seorang kepala sekolah : Kepala sekolah yang baik adalah yang bisa mengantarkan staf gurunya menjadi kepala sekolah.  Pak Dedi tidak punya kekhawatiran ditinggalkan oleh guru-guru terbaiknya tapi beliau justru mendorong mereka berprestasi. Barangkali ini salah satu kelebihan jika seorang kepala sekolah merangkap menjadi trainer 😀

Iklan
  1. Kepala sekolah saya juga mengagumkan, tapi tidak seperti yang ditulis di atas…

    murni : ayuh atuh bagi ceritanya 😀

  2. Kebetulan saya kerjaannya ngurusi guru termasuk kepala sekolah, kalau semua kasek nya seperti yang ditemui mbak murni pasti akan asyik banget dunia pendidikan kita yach but…. sayangngnya nggak semua begitu…ada yang baek banget dan care ama pendidikan …tapi ada juga yang jabatan kepala sekolah dijadikan buat cari prestige aja….

    murni : Mba Heni, kalau semua kepala sekolah sama seperti yang saya tulis, baek2 semuanya, maka dunia pendidikan kita ga akan maju juga. kemajuan itu biasanya muncul karena ada kekurangan. Dan jika semuanya baek, maka Mba heni ga ada kerjaannya dunk 😀

  3. Menurut saya sosok Pak Dedi sama dengan Ustadz YH yang ada di lembaga tempat anak saya dididik, beliau begitu care terhadap perkembangan anak-anak didiknya bahkan terhadap masalah sepele sekalipun seperti makan sayur. Saya trenyuh ketika teman tadi bercerita bahwa Ustadz YH selalu menyempatkan diri untuk mengontrol menu makan siang setiap siswa, bahkan tidak jarang siswa yang lupa dibekali menu yang padat gizi diberi catering beliau, ketika ditanya mengapa beliau melakukan itu, dengan mata berkaca-kaca, Ustadz YH menjawab : mereka adalah pewaris negeri ini, kita harus siapkan pewaris-pewaris yang kuat dan tangguh.

  4. kalau kepsek, seperti yg dibahas diatas, pasti seklah akan baik, soft skill dan hard skilnya kena, tapi yg spt diatas hanya sedikit. Kepsek skrg rata2 buat proposal dan mengejar bantuan, mumpung masih dijatah 20%, akhirnya yaaaaa tahu sendiri, berbagai macam cara digunakan ,pemerintah harus tanggap, mestinya yg diikasih reward yg berprestasi dan lolos monef.

  5. Saya kagum dengan cerita2 Anda, saya juga seorang guru (swasta) yang kadang kebijakan tergantung dengan yang “diatas” bijak buat kita belum tentu bijak untuk atasan. Tapi semua itu resiko bekerja sebgaia seorang guru. Yang jelas, teruslah berjuang guru – guru Indonesiaku, mengantarkan anak-anak Indonesia untuk masa depan yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: