murniramli

Pelajaran Mengarang di SD Jepang

In Pendidikan Jepang, SD di Jepang, Serba-Serbi Jepang on Juni 19, 2007 at 12:57 pm

Penelitian menunjukkan bahwa kemampuan mengarang anak-anak Jepang tergolong tinggi di dunia. Kenapa ini bisa tercapai ?

Saya biasa lembur di kampus dan pulang dengan kereta terakhir. Tadi malam saya tiba di rumah sekitar jam 12 malam, dan langsung menyalakan TV seperti biasanya. Kadang-kadang TV sebagai alat supaya tak terlalu sepi di kamar. Channel NHK menyiarkan pelajaran bahasa Jepang di sebuah SD dengan topik : mengarang bertema pengalaman menarik dengan obaachan dan ojiichan (kakek nenek).

Saya sudah terlalu mengantuk sebenarnya karena pagi dan siangnya saya bekerja, dan malamnya lembur menuntaskan paper. Sambil terkantuk-kantuk saya memaksakan diri menyimak acara menarik ini. Seorang guru berkaca mata besar tapi sangat keibuan tampaknya, menanyai satu per satu anak apa yang ingin ditulisnya. Tema kali ini tentang pengalaman berharga dengan `obaachan`(nenek) dan ojiichan (kakek)`. Karangan tidak harus jadi hari itu tapi dibawa pulang ke rumah, dan sekali-sekali anak yang kesulitan bisa berkonsultasi dengan guru di jam-jam istirahat. Di salah satu scene, ada seorang anak yang kelihatannya mengalami kesulitan untuk bicara dan kebingungan mau menulis apa tentang neneknya. Tapi dia teringat sesuatu hal yang paling berkesan dengan neneknya, cuma tak bisa menyusun kata-kata. Maka menghadaplah dia kepada sensei, dan sensei menuntunnya mengingat kembali kenangan itu sambil menanyainya kronologis cerita dengan berperan sebagai nenek. Misalnya ketika bersalaman dengan nenek, guru menghadapkan ke atas telapak tangannya seakan dia adalah nenek, sedangkan si anak terus bercerita sambil memperagakan setiap proses yang diingatnya. Tangannya dia letakkan di atas telapak tangan ibu guru. Benar-benar suatu proses yang walaupun kelihatannya lambat, tapi sangat penting bagi anak untuk mengingatkan `peristiwa/kenangan` yang dialaminya dan membantunya menuliskannya dalam kata-kata.

Banyak sekali hal-hal menarik yang dialami anak-anak dengan nenek dan kakeknya. Seorang anak bercerita tentang neneknya yang selalu mengajaknya ke kebun, ofuro (mandi ala Jepang) bersama sambil bersenandung lagu-lagu Jepang. Anak lain bercerita tentang pengalamannya bertani. Pada hari H, setiap anak harus membacakan karangannya di depan kelas dengan intonasi dan pengucapan kata yang harus jelas. Jadi jangan heran pada saat itu setiap anak membaca keras-keras dengan mulut yang betul-betul menganga ketika mengucapkan `a` atau merucut ketika mengucapkan `u`. Mereka juga membaca seperti para dubber suara, menirukan suara serak nenek atau suara menggema kakek.

Tentang membaca dengan suara keras adalah pembiasaan yang dilakukan di TK dan SD Jepang, di pelajaran apapun. Ini karena anak-anak Jepang kadang-kadang pemalu dan tidak berani mengungkapkan keinginannya akibat dilecehkan atau selalu dibentak orang tuanya. Jika pergi ke SD-SD Jepang di desa-desa, kadang-kadang kita akan dikagetkan dengan teriakan keras serombongan anak-anak : Ohayou gozaimasu ! (Selamat pagi). Ya, karena pelajaran mengucapkan salam diberikan di kelas. Aisatsu (salam) harus dengan suara keras di manapun mereka berada. Ucapan `osakini shitsurei shimasu` harus diucapkan ke semua guru ketika meninggalkan sekolah.

Sekalipun kelihatan tak punya makna, bahkan teman-teman mahasiswa saya mengatkan `okashii` (aneh) pelajaran seperti itu, tapi saya melihatnya dari sisi bagusnya. Salam adalah ucapan pertama yang mengantarkan kita kepada komunikasi selanjutnya dengan orang. Anak-anak di Indonesia jarang yang mengucapkan `selamat pagi` atau `assalamu alaikum` ketika bertemu tetangga di jalan. Ucapan itu hanya mereka pakai ketika di sekolah atau masuk dan keluar rumah. Ini pun sudah jarang. Saya sering bertemu anak-anak di kereta yang memandangi saya dengan aneh, tapi ketika saya mengucapkan `konnichiwa` maka mereka langsung menjawab `konnichiwa` sambil tersenyum malu.

Kembali ke pelajaran mengarang. Betapa yang saya saksikan di TV tentang kemampuan anak Jepang menulis kanji, membacanya, bahkan menyusun kalimat yang sangat natural, apik dan enak dibaca mendatangkan kekaguman tersendiri. Anak-anak Jepang boleh jadi tidak pandai bercas cis cus bahasa Inggris, tapi mereka sangat pandai menggunakan bahasa ibunya, yang dengan itulah dia berkomunikasi dengan sebayanya atau orang dewasa.

Hari ini saya menuntaskan 2 paper berbahasa Jepang sebanyak lebih dari 20ribu karakter/huruf per papernya. Setelah diperiksa habis-habisan oleh teman Indonesia dan teman/sensei Jepang, paper itu akhirnya siap disubmit dan dipresentasikan besok Sabtu di Chubu kyouiku gakkai (Educational Research Meeting Chubu Area). Saya mengeluh kepada teman Jepang, bahwa banyak kanji yang saya tak bisa baca,yang akan memperlama presentasi. Tapi teman Jepang menghibur, kalimat yang saya buat sudah menyamai kebanyakan mahasiswa Jepang, bahkan ada beberapa bagian yang indah. Kanji yang saya bisa baca pun menurut mereka sudah sangat berlebih mengingat kapasitas saya sebagai orang asing. Tapi presentasi hari ini tetap saja banyak istilah yang membuat mereka mengernyit karena banyak istilah yang tak pas digunakan.

Ya, saya kemudian berkomentar : bisakah saya ikut kelas kokugo (bahasa Jepang) di SD, agar kemampuan mengarang berbahasa Jepang saya meningkat dan kemampuan kanji saya melejit ? Mereka cuma melongo dan tertawa dengan komentar iseng itu. Tapi saya benar-benar tertarik. Saya harus bisa membuat tulisan dalam bahasa Jepang yang mudah dimengerti orang dan tentu saja indah.

Kemarin di saat-saat terakhir persiapan presentasi, saya menulis email kepada seorang teman Jepang sambil berkeluh kesah bahwa bahasa Jepang sangat sulit, tapi saya tidak mau menyerah sampai saya bisa menuntaskan thesis saya dalam bahasa Jepang. Saya pernah protes ke sensei, karena saya merasa dituntut menulis paper sebagus mahasiswa Jepang, sedangkan saya tidak pernah mendapat pelajaran menulis paper dalam bahasa Jepang. Ini yang baru namanya`okashii! ` (aneh)

Pelajaran mengarang memang sangat pas untuk saya ikuti sekarang 😀

Iklan
  1. mrt saya sih, belajar kpd anak kecil gak pa pa (^_^)
    atau, belajar bareng mereka..hihihi.. rame!
    salam,
    adi.n

    murni : seneng juga kali ya, tapi mereka banyak maernnya 😀

  2. Numpang nimbrung nih Bu…
    Channel NHK keren juga ya? *catet..* yang saya tahu cuma TVTokyo… 🙂
    Enak juga sepertinya kalo nenek dan kakek bisa akur sama kita ya? Saya punya nenek tiri jahat banget, Bu… *malah curhat*
    Wah, saya kok jadi ngeri ya? Tesis mesti pake bahasa Jepang ya? Saya ada rencana buat ambil beasiswa dari monbukagakusho itu Bu. Satu tahun belajar bahasa Jepang kira2 bisa ga ya?
    Saya juga suka pelajarang mengarang Bu. Bisa panjang2, apalagi pas ujian misalnya sosiologi waktu SMA. Hehehe….

    murni : mur, kamu kok kayak di sinetron2 sih ? 😀 (punya nenek tiri jahat)

  3. yang jadi pertanyaan “kenapa ya kita nggak bisa seperti mereka”

    murni : ini yang harus saya pelajari, Pak

  4. Duh saya iri dengan siswa-siswa Jepang yang sudah diajari belajar menulis, mengarang dengan baik.
    Saya jadi ingat dulu sewaktu SD, SMP, dan SMA, klo disuruh mengarang, bikin karangannya itu-itu juga, monoton. Bahkan seringkali klo ulangan, mengarang itu hanya untuk memenuhi halaman kertas folio yang disediakan saja. Ga tahu bagus engga ya?

    murni : karangannya judulnya : berlibur ke rumah nenek bukan ? 😀

  5. Di negara tercinta ini anak sekolah memang jarang ada yang Pintar MENGARANG apalagi Anak TK (blas) Tapi jangan ditanya…. Setelah DeWaSa di jamin Mahir MenGaRanG. Apalagi Kalau sudah duduk di Tampuk Kepemimpinan.. Dijamin Jago Mengarang – Mengarang Cerita.. Mengarang Anggaran, dan Juga MengGarAnG LapOraN..

    ketika ngajar di MA dulu, sekolah kami sering dapat kiriman dari majalah horizon, dan di dalamnya ditampilkan apresiasi budayawan indonesia terhadp tulisan anak-anak SMA. Saya lihat banyak anak yang bisa mengarang dengan sangat baik.
    Kemampuan mengarang setelah menjabat adalah juga kemampuan yang diajarkan di sekolah-sekolah kita bukan ? 😀

  6. saya bisa minta artikel lain ga tentang metode or kurikulum di japan…
    thanks ya
    btw tulisannya bagus
    <>
    <em>

    murni : terima kasih.
    tulisan lain bisa ditelusuri di bagian artikel di blog saya
    monggo.
    btw, Pak Henri, kenapa sekolah mutiara bunda menjadikan bahasa Jepang sebagai eskul ? Apakah mereka akan pergi ke Jepang ?
    Usul kalo boleh …barangkali lebih bermakna jika dibuat eskul `mengarang bahasa Indonesia/bahasa Sunda` 😀
    </em>

  7. mba saya sangat suka mengarang sehingga kalau lagi ujian kimia/matematika/fisika dan menemukan soal yang sulit saya mampu mengarang dengan baik jawabannya…lumayan beberapa rumus karangan saya selalu laku diserbu teman2, walau mereka tahu jawaban saya jelas salah. Mungkin karena kelihatan so il (sok ilmiah).

    murni : bakat mengarang ini harus dilampiaskan u membuat buku fisika/kimia/matematika yang menyenangkan u dibaca ,asal jangan booong isinya 😀

  8. saya gak mampu berkata-kata
    mba Murni hebat deh!

    murni : Teteh juga. Salut dg bagi waktunya (kuliah dan keluarga) 😀

  9. mba curhat boleh?..
    saya satu semester kemarin udah presentasi 4 x. Tentang methode penelitian dalam comparative education (比較教育方法論), regular reading class(読解コース), High education in Indonesia(インドネシアの高等教育)、dan juga presentasi penelitian buat thesis nanti (研究計画)。
    Tapi saya membuat semua karena tertolong oleh materi presentasi yg berbahan bahasa inggris dan jepang.
    Kesulitan saya adalah jika kelak materi presentasi semua dalam bahasa jepang or bahasa inggris saja, saya sering khawatir apakah nanti saya bisa?..
    selain itu ada obaachan yang selalu membantu saya.
    Saya merasa sedih sekalipun beliau selalu mengatakan kepada saya bahwa dia hanya membantu saja dan saya dia anggap sudah berusaha menjelaskan kpd dia ttg apa yg ingin saya tulis, tetep aja saya merasa bahwa itu belum 100% murni hasil pekerjaan saya
    duhhh piye mbak?..

    murni : tenang saja, Hattori sensei orang nya baek 😀
    Kekhawatiran itu dirasakan oleh semua ryuugakusei (foreign student) di Jepang. Tenang aja, banyak temennya 😀

  10. Kalau saya bandingkan dulu dengan sekarang , dulu anak SD tidak banyak yang pandai mengarang, tetapi yang bisa mengarang , bisa menggunakan tata bahasa yang baik (walau belum tentu benar). Namun sekarang di kota besar, banyak siswa yang bisa mengarang, tetapi kalimatnya seringkali tidak tepat dengan maksudnya. Apalagi dengan fenomena SMS, maka mereka lebih pandai menyingkat kata, daripada menyusun kalimat agar sesuai dengan tata bahasa yang baik. Para gurupun sudah jarang yang memberi tugas mengarang, segan memeriksanya. Guru disini lebih sering pakai lembar kerja siswa. Maka jangan heran kalau pulang ke tanah air, maka yang akan ditawarkan pada mba murni adalah lowongan menulis LKS.

    murni : kalau guru sudah segan membaca karya siswa, apalagi siswa akan semakin tak terdorong menulis.

  11. Benar sekali. Siapa yang akan mau mengerjakan pekerjaan yang tidak dihargai oleh gurunya? Kenyataannya UN yang pilihan ganda menggiring guru & siswa berkutat pada memilih jawaban, bukan mencari jalan untuk menyelesaikan soal.
    Apakah di Jepang pun soal ujian selalu pilihan ganda?

    murni : ya, pilihan ganda juga

  12. mba murni bagus banget artikelnya…setuju deh…q bete banget karena kurikulum indonesia uh udah ngikut-ngikut amerika, katanya benci amerika, tapi kurikulumnya diikutin, dan yang bikin aku lebih bete lagi banyak banget sekolah bilingual yang menekankan anak-anaknya buat ngomong bahasa inggris, padahal bahasa indonesianya aja belum tentu bener, dan yang nyebelinnya mereka terutama diknas tuh berlomba-lomba untuk jadi sekolah bertaraf internasional, wueks.maunya apa sih Indonesia….kok gak bisa niru yang bagus-bagus ggitu, kaya jepang misalnya….yang aku takutkan neh mba murni banyak sekolah bilingual yang gak ada ppknnya trus mau dibawa kemana generasi penerus bangsa. kenal budaya dan peraturan di negaranya aja gak, udah gitu dipaksa buat belajar bahasa orang, please deh..ayo dunx guru-guru pada melek, dengan begini berarti kan ada penjaajahan terselubung lewat bahasa……………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: