murniramli

Menciptakan Atmosfer Penelitian

In Pendidikan Jepang, Penelitian Pendidikan on Juni 22, 2007 at 9:30 am

Ketika masuk semester pertama di program EDD Course-nya Nagoya University, di mail box saya sudah terselip lembaran formulir pendaftaran untuk menampilkan paper ilmiah di Journal Pendidikan-nya Nagoya University. Lalu Professor saya pun sudah mewanti-wanti ikut `gakkai` (pertemuan ilmiah/symposium) ini dan itu. Paling tidak 2 kali dalam setahun.

Selama program Teacher Training saya memang belum diminta presentasi, tetapi saya kerap menghadiri gakkai dan senang sekali dengan atmosfer ini. Peneliti memang harus menyampaikan apa yang ditelitinya supaya mendapatkan ide baru dari komunitas peneliti atau orang awam. Dengan cara ini penelitian bisa terus berkembang dan menjadi sesuatu yang menggairahkan.

Dalam situs library nagoya university terdapat daftar seminar nasional maupun internasional yang secara tahunan diadakan. Peneliti-peneliti tinggal mengagendakannya dan mulai mendaftar. Jika rutin mengikuti seminar berskala nasional maka kita akan jelas melihat ke mana sebenarnya pola penelitian para ahli di Jepang.

Tahun ini saya mengikuti 2 seminar nasional, yaitu Chubu kyouiku gakkai (中部教育学会), sebuah seminar pendidikan di tingkat Chubu area (jepang tengah)-ini gakkai yang bersifat lokal, dan sebuah lagi Hikaku kyouiku gakkai (比較教育学会)yang berlevel nasional atau bahkan internasional karena dihadiri para peneliti comparative education di seluruh dunia, sejak gakkai ini membuka english session.

Besok saya akan presentasi di chubu gakkai dan mungkin akan `diserang` pertanyaan sebagaimana ketika materi yang sama saya presentasikan di depan forum seminar PDP. Ya, karena banyak istilah pendidikan di Indonesia yang saya kesulitan mendapatkan terjemahan yang baik, dan terpaksa merefer kepada beberapa istilah di Jepang, tetapi ternyata salah (>_<). Akhirnya dengan sedikit memaksa saya meminta Mina Hattori sensei, untuk memeriksa bagian yang saya ragu, padahal besok beliau juga harus pergi ke Hawai untuk presentasi di forum yang lebih mendunia. Maaf sekali, Sensei ! Tapi seperti yang sudah diketahui awam, Hattori sensei memang dosen termurah hati se-fakultas. Sesibuk apapun, beliau bersedia diganggu. Saya ingin mencontoh sifat baik ini !

Ada sebuah konferensi internasional yang diadakan di ITB bulan November dan saya ingin sekali ikut serta untuk menyumbangkan sedikit saran tentang pengembangan sektor pendidikan di Indonesia, tapi jika Allah mengijinkan dan memudahkan semuanya, saya akan daftar.

Bulan Agustus, PPI Jepang pun akan mengadakan Scientific Meeting di Kyoto University, dan saya pun ingin menampilkan satu penelitian yang dulu pernah saya lakukan tentang penelitian guru-guru yang tergabung dalam teacher union di Jepang. Deadline paper-nya bertepatan dengan presentasi saya di hikaku kyouiku gakkai, hari minggu, 1 Juli. Mudah-mudahan masih sempat mendaftar sebelum berangkat ke Tsukuba University.

Setiap gakkai mewajibkan iuran anggota bagi peserta yang mau mendaftar menjadi anggota. Dan kewajiban ini mau tidak mau harus dipenuhi supaya kita bisa presentasi. Karena tahunan,iuran itu mungkin tidak terlalu besar, tapi jika tempat pelaksanaanya kebetulan jauh, maka uang akan habis di ongkos dan untuk menginap di hotel. Tapi di lain pihak, saya mendapat keringanan fotocopy makalah yang akan saya presentasikan dari fakultas. Ya, lumayan untuk mengurangi beban copy card saya.

Atmosfer penelitian inilah yang saya rasakan sangat kental di Jepang. Komunikasi antara peneliti dengan topik yang sama terus berlangsung se-Jepang, sehingga hanya dengan menyebutkan nama peneliti dan universitasnya, biasanya mahasiswa graduate langsung bisa menebak siapa mereka dan apa bidang kajiannya (kecuali saya, karena ga bisa baca kanji nama-nama orang Jepang).

Di Indonesia, peneliti bidang sains mungkin sudah lumayan maju dengan seminar-seminar rutinnya, tapi saya belum pernah mendengar di bidang sosial atau pendidikan. Apa yang selayaknya dikembangkan di Indonesia terutama di universitas-universitas adalah membangun atmosfer peneliti melalui forum simposium yang bersifat tahunan, memproduksi jurnal-jurnal ilmiah, dan merangsang dosen dan mahasiswa untuk berpresentasi dan menulis apa yang sudah ditekuninya.

Beberapa hari yang lalu ketika sedang makan malam di bento man, saya bertemu dengan seorang teman Indonesia, yang ahli ekonomi dan dia bercerita ttg kelemahan ilmuwan di negara-negara muslim (penduduknya dominan muslim), yaitu sedikitnya karya-karya mereka di jurnal internasional. Iran barangkali termasuk perkecualian. Lalu secara iseng saya mengusulkan agar topik ini diangkat di konggres PPI Jepang di Kyoto mendatang. Maksudnya jika memang kita ingin memacu ilmuwan2 muslim untuk unjuk gigi, maka buat saja movement yang serius supaya bisa menjadi `macan paper`, dukung dengan pendanaan dan support yang mantap, penghargaan atas karya orisinal mereka, kalau perlu minta KBRI Jepang agar turun tangan memudahkan mahasiswa Indonesia di Jepang untuk berpresentasi di level internasional.

Demikian pula di Indonesia, sudah selayaknya pemerintah memberi keringanan dan support kepada peneliti dan mahasiswa yang akan berseminar di luar negeri. Universitas-universitas pun sudah saatnya menggalakkan ajang `perdebatan ilmiah`.

Iklan
  1. <blockquote>Demikian pula di Indonesia, sudah selayaknya pemerintah memberi keringanan dan support kepada peneliti dan mahasiswa yang akan berseminar di luar negeri</blockquote>
    mudah-mudahan nggak cuman mimpi dan angan-angan!

    murni : bikin sekolah international saja bisa, kenapa cuma nyupport peneliti/mhsw ngga bisa ? 😀

  2. Universitas-universitas pun sudah saatnya menggalakkan ajang `perdebatan ilmiah`.
    yup!
    lebih baik adu pintar + kreatif,
    bukan gebuk-gebukan spt yg (kerap) terjadi saat ini…,
    *hiks*
    (T_T)
    salam,
    adi.n

    murni : yup. waktu pulang kemarin, miris sekali melihat tawuran mahasiswa di Medan dan Kendari (kalo ga salah) ttg pemilihan ketua senat. Kenapa ngga sekalian aja dibuat ajang `smack down` antar mereka ya 😀

  3. He he, td siang belum baca tulisan ini, jadi gak sempat ngobrol ini waktu ketemu.
    Sekilas info:
    Beberapa program pemerintah yang diselenggarakan tiap tahun untuk merangsang guru meneliti:
    1. Simposium Nasional hasil-hasil penelitian, semua pelajaran, setiap provinsi wajib mengirimkan wakilnya. Biasanya diselenggarakan bulan Oktober/Nopember.
    2. Lomba keberhasilan guru dalam mengajar, (dikirim dalam bentuk makalah), saya lupa tiap bulan apa.
    3. Ini program Depag, Lomba Karya tulis pendidikan terintegrasi nilai-nilai agama, kalo gak salah Oktober.
    Sayangnya, program-program ini agak kurang publikasi, jadi tidak banyak yang tahu. Biasanya sih info ditayangkan di TVRI, tapi tahu sendiri dong sangat sedikit yang nonton TVRI. Atau info bisa juga didapat di LPMP (Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan) tiap provinsi, biasanya sudah ada bulan Juni-Juli.
    Untuk jurnal, ada kok beberapa yang terbit, tapi berkala (kala terbit, kala tidak, he he). Baru-baru ini P3G (Proyek Pengembangan Pendidikan Guru)gencar mengundang peneliti pendidikan untuk mengirimkan tulisan ke jurnal yang diterbitkannya.
    Demikian sekilas info
    (tapi kalo suport dana penelitian seperti untuk para dosen gak pernah dengar, ada gak ya…)
    </em>

    murni : yg disebutkan di atas masih bertendensi lomba, tp mungkin ini satu langkah untuk membangkitkan awareness guru/mahasiswa/dosen untuk menciptakan atmosfer penelitian di lingkungan masing-masing. Info2 itu dikirim rutin ke sekolah2, tidak hanya TVRI. Publikasi via DIKNAS/DEPAG sepertinya sudah jalan baik. Sekolah saya yang kecil, swasta pula selalu mendapat info2 beginian, apa mungkin karena dekat dengan Jakarta ya 😀
    Yang menjadi pertanyaannya, kenapa guru tidak bergairah mengikutinya sekalipun ada hadiahnya ?
    Saya pikir bukan `tradisi` lomba/kompetisi yang harus digalakkan tetapi tradisi `penyadaran` akan pentingnya meneliti. akan nikmatnya berkembang menjadi lebih baik. Tulisan di atas tidak hanya diserukan kepada guru, tetapi yang lebih utama adalah PT sebagai mercu suar pendidikan Indonesia.
    Karena program pre service dan in service training guru nantinya akan menjadi otonomi PT, maka sudah selayaknya LPTK yang ditunjuk menggalakkan ide meneliti atau konsep ` guru berubah` (kayak satria baja hitam….berubah! 😀 )

  4. Di kita, di tingkat universitas pun, penelitian baru hanya sebatas untuk mengejar proyek (uang), belum ke arah yang namanya pengembangan ilmu pengetahuan (apalagi di bidang sains sosial). Makanya tak heran, karya-karya peneliti kita (baik di tingkat universitas atau lembaga penelitian atau LSM), baru berupa laporan, yang hanya baru bisa memenuhi rak-rak perpustakaan.
    Bahkan, ada orang yang katanya menggembor-gemborkan tentang peningkatan mutu pendidikan itu, ternyata hanya omong kosong belaka. OMONG KOSONG!!! (Semuanya itu karena uang, uang, uang, dan uang).
    Saya sangat prihatin…kecewa…. Kok bisa begitu ya?

    murni : ini pasti…. korban proyek penelitian ya ? 😀

  5. Kok sulit kali ya menciptakan atmosper penelitian? Memang semua itu perlu kajian lebih jauh ada apa dengan Pendidikan Kita? Tapi hampir semua kegiatan yang nota bene PENELITIAN semuanya oreantasi pada bagaimana hal tersebut menghasilkan uang. Ataukah memang Hal yang terpentig dalam hidup adalah kesejahteraan dalam arti materi? Trus bagaimana kita bisa maju kalau trus begini. Ayo bangkit…..!!!

    murni : sudah, Kang. Sudah bangkit dari tadi 😀

    Penelitian = menghasilkan uang….ini perlu juga, Pak 😀

  6. Bisa dikatakan bahwa faktor lingkungan akan sangat menentukan bagaimana personal yang berada dalam lingkungan tersebut, bisa belajar untuk menjadi mendekati atau lebih baik dari personal (keadaan) sekitarnya.

    Jika mungkin di Jepang akan terasa sekali nuansa penelitian yang begitu kental, otomatis seseorang yang mungkin baru berada di tempat tersebut akan termotivasi untuk melakukan hal yang sama, dalam hal ini komitmen yang serius terhadap penelitian.

    Kekurangan kita yang ada di Indonesia, mungkin disebabkan masih tidak begitu banyaknya orang tua di Indonesia yang dapat memberikan nuansa yang bisa mensupport anaknya untuk bersikap seperti diatas.

    Saya tertarik dengan gagasan bu Murni, dan semoga saja kedepan para peneliti Indonesia bisa eksis di dunia paper/jurnal ilmiah terkenal dunia.

    Amin.

  7. Mbak Murni,
    Menarik tulisannya. Saya menulis hal yg mirip di
    http://asnugroho.wordpress.com/2007/07/11/membangun-komunikasi-sinergi-antar-peneliti-di-indonesia/
    Kata kunci untuk merintis atmosfer tsb. pendapat saya adalah terselenggaranya “komunikasi” , baik formal maupun informal antara peneliti, akademisi dan dunia industri.

    murni : Pak Anto, tulisannya lebih detil memaparkan ttg ide atmosfer penelitian. Terima kasih sdh memberikan tautan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: