murniramli

Belajar arti kata internasional di SD Shima

In Manajemen Sekolah, Pendidikan Jepang, SD di Jepang, Serba-Serbi Jepang on Juni 29, 2007 at 6:01 am

Pekan ini di PDP seminar kami mendengarkan cerita unik pembelajaran di SD Shima (島小学校)yang terletak di Shiga Prefecture. Seorang gurunya yang kira-kira berumur 50 tahunan, Ueda Kasuo Sensei menyampaikan apa yang dikerjakannya di sekolah sehari-hari dengan gaya yang sangat menarik, sesekali menanyai kami seperti layaknya mengajar anak SD.

SD Shima adalah sekolah kecil, dengan jumlah murid sekitar 20-25 orang per kelas. Ada 6 kelas. Pak Ueda mengajar kelas 5, dan sebagaimana guru SD di Indonesia, dia pun harus menguasai semua mata pelajaran SD. Ada satu hal menarik yang disampaikan Pak Ueda malam Selasa kemarin, yaitu tentang pelajaran `kokusai kouryuukai` atau pertukaran budaya atau penegenalan negara-negara di dunia, yang termasuk dalam pelajaran `shakai kyouiku` atau IPS. Pak Ueda tidak sama dengan guru yang lain yang selalu berbekal buku teks mata pelajaran IPS. Apa yang ada di dalam buku menurutnya terlalu mengada-ada dan sulit diajarkan kepada anak. Maka begini cara dia mengajar.

Suatu hari beliau membawa potongan foto yang ada di koran Asahi, tanggal 29 Mei 2006 tentang peristiwa gempa yang melanda Jawa Tengah (Bantul dan sekitarnya). Dalam foto terlihat segerombolan anak yang sedang membaca buku di depan reruntuhan sekolah mereka. Pak Ueda memperlihatkan gambar itu kepada murid-muridnya dan menanyakan kepada mereka apa yang dilakukan anak2 dalam foto ? Kebanyakan menjawab bermain, tapi kemudian terfikir pula kenapa bangunan di belakang anak2 itu roboh ? Oya, anak kelas 5 SD di Jepang belum bisa membaca koran, karena huruf kanjinya agak rumit, mereka belum belajar. Pak Ueda kemudian menjelaskan bahwa anak2 itu sedang belajar. Murid2 nya berteriak : `arienai !!! (ga mungkin !!).

Ya, anak-anak SD Shima yang selama ini duduk manis di kelas yang nyaman, berAC, dengan lantai kayu mengkilap, belum pernah menyaksikan segerombolan anak belajar di reruntuhan sekolahnya sendiri. Dari sinilah, Pak Ueda kemudian mengembangkan pelajaran IPS hari itu.

Yang menarik Pak Ueda tidak hanya mengajarkan IPS melalui satu foto tadi tapi sekaligus memadukan semua mata pelajaran. Pertama Pak Ueda menanyakan jika SD Shima rubuh karena gempa apa yang akan anak-anak lakukan ? Sebagian berteriak : yasumi….banzai ! (libur…horee!), tidak ada anak yang mau belajar tentunya. Tapi kenapa anak-anak di foto itu masih mau belajar ? Pak Ueda tidak menjawab pertanyaan ini karena dia tidak tahu juga jawabannya tapi mengajak untuk mencari jawabannya bersama.

Selanjutnya Pak Ueda mengenalkan sedikit tentang Indonesia, dan peristiwa gempa, lalu secara spontan beberapa anak berteriak untuk menyumbang mereka. Apa yang bisa disumbangkan ? Mereka sendiri yang saling mengajukan ide : pensil, buku, kertas origami (supaya mereka bisa bermain lipat-lipatan kertas dan melupakan kesedihannya), makanan, baju atau uang. Pelajaran hari itu berakhir dengan kesepakatan untuk mengumpulkan uang. Mereka pun dibekali PR untuk mencari tahu lebih banyak tentang Indonesia.

Beberapa hari berikutnya setelah uang terkumpul, anak-anak kemudian kebingungan apakah harus dikirimkan begitu saja atau sebaiknya mengirimkan makanan ? Maka Pak Ueda kembali mengajak anak-anak untuk mencari informasi berapa banyak makanan yang bisa mereka beli di Jepang dengan uang yang terkumpul tadi. Didapatlah informasi bahwa dengan kurs satu yen sama dengan 92 rupiah (ini data tahun 2004), maka dengan 1000 yen, dapat dibeli sekitar 100 bungkus indomie), lalu diketahui pula bahwa uang 1000 yen bisa dipakai untuk biaya hidup satu orang dewasa selama satu minggu. Juga bisa dipakai untuk membeli 40 botol aqua 1 liter, di Indonesia. Sekalipun perhitungannya salah, karena kurs dan situasinya disetting pada tahun 2004, tapi dari sini Pak Ueda mengajar anak-anak untuk menggunakan angka dalam keseharian, atau mengajar matematika yang membumi.

Akhirnya anak-anak sepakat setelah menghitung untung ruginya untuk mengirim sumbangan dalam bentuk uang melalui Palang Merah Jepang. Kiriman itu dibarengkan dengan surat yang ditulis oleh anak2 SD Shima untuk anak-anak SD di Jawa Tengah (saya tidak tahu pasti daerahnya). Beberapa pertanyaan tentunya menanyakan kenapa mereka masih beajar di depan gedung sekolah yang roboh.

Beberapa pekan kemudian, anak-anak kelas 5 SD Shima dikejutkan dengan kedatangan balasan surat dari anak-anak di Indonesia. Mereka begitu gembira dan ingin segera membacanya. Surat ditulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Anak-anak tidak mengerti tentunya. Tapi mereka sudah belajar huruf alphabet sehingga bisa membaca surat itu. Beberapa kali kata `saya` ada dalam surat yang berbahasa Indonesia, seorang anak yang namanya saya bertanya : kenapa nama saya disebut berkali-kali ? 😀

Dari surat yang mereka terima, anak-anak kemudian terpacu untuk belajar sedikit saja kosa kata bahasa Indonesia, dan mereka begitu kagum dengan kepandaian teman-temannya di Indonesia berbahasa Inggris. Beberapa anak bahkan terus belajar bahasa Inggris secara mandiri karena ingin seperti teman-teman di Indonesia. Surat yang datang dari Indonesia tidak saja menghebohkan kelas 5, tetapi anak-anak di kelas lain juga ingin mengetahuinya. Begitulah Indonesia menjadi dikenal oleh warga SD Shima.

Saya sangat terharu mendengar cerita Pak Ueda, selain rasa kagum yang mendalam atas kepandaian dan ketulusan beliau mengajar murid-muridnya.

Begitulah, kami yang di bangku-bangku kuliah sibuk mendefinisikan apa sebenarnya `kyouiku katei` = kurikulum yang ideal itu, Pak Ueda sudah maju sangat jauh dalam menerjemahkan apa itu kurikulum, dan bagaimana mengajarkannya.

Bulan Oktober mendatang, kami diundang untuk datang ke SD Shima. Saya sudah mengagendakannya. Insya Allah saya akan datang.

Iklan
  1. Wah, menyentuh sekali ceritanya. Kalau banyak guru yang mengajar dengan ‘hati’ seperti yang dilakukan Pak Ueda, maka proses belajar akan berimbang sekali antara kepandaian akademis maupun kepandaian lain dalam hal ini EQ.
    Guru seperti Pak Ueda akan dikenang sepanjang masa oleh para muridnya, dan hal ini bisa menjadi teladan sekaligus bekal mereka untuk menghadapi masa depan. (Bu Murni pun, pasti akan terkenang dg kisah Pak Ueda ini sampai kapanpun, hehehe…)
    Sebenarnya banyak sekali Guru seperti Pak Ueda di Indonesia, yang meskipun bertugas di daerah terpencil atau di sekolah kecil, dengan gaji seadanya mereka dengan tulus mengajar dengan ‘hati’. Andil mereka terhadap pendidikan bangsa tidak bisa dipandang sebelah mata.
    Saya berkeyakinan, orang seperti ini amal ibadahnya luarrrr biasa banyaknya di mata Tuhan. Semoga para Guru yang seperti ini akan terus ada…

    murni : hmmmm, banyak sekali kenangan bagus yang tersimpan dengan baik di kepala saya sekarang 😀

  2. Implementasi kurikulum itu terletak di tangan guru.
    Walau para akademisi penyusun kurikulum itu berkoar-koar mengkonstruk kurikulum secanggih apapun, bila guru tak dapat mengimplementasikannya, itu akan sia-sia.
    Btw, saya baru mengerti arti mengajar matematika secara membumi bu….. setelah saya baca petikan ini “…. karena kurs dan situasinya disetting pada tahun 2004, tapi dari sini Pak Ueda mengajar anak-anak untuk menggunakan angka dalam keseharian, atau mengajar matematika yang membumi.”
    Padahal bu Murni pernah ngasih komen di blog saya, tentang tulisan matematika yang membumi (dengan baca artikel ini saya jadi lebih mengerti arti matematika yang membumi itu…:) )

    murni : bukannya tulisan-tulisannya sekarang sudah mencerminkan matematika yang membumi 😀 ? atau masih melangit karena susyeeeh… 😀

  3. Kenapa bangsa Jepang bisa berhasil, karena mereka masih mau belajar sama negara2 lain walaupun Jepang lebih unggul dibanding negara itu..

    murni : iye kali ye..

  4. Asik banget jadi murid pak Ueda, sejak SD sampai SMA belum ketemu guru seperti dia. Anak-anak jepang sama polosnya dengan anak Indonesia, berarti bukan hal yang sulit untuk seperti itu khan. Mari para guru for Just Do It, not Just Duit lho !

    murni : saya juga iri dengan mereka… 😦

  5. Pak Ueda adalah cerminan dari guru yang memahami pembelajaran kontekstual dan tematik yang selama ini digembar-gemborkan oleh pemerintah kita. Sayangnya di Indoesia masih sedikit guru-guru yang seperti pak Ueda, baru teman-teman di SD ALAM yang banyak menerapkan hal yang sama dengan pak Ueda. But….we try to train Indonesia teacher how to apply it.

  6. […] menemukan tulisan seputar “membumi”. Pertama, tentang matematika yang membumi di ‘Belajar arti kata internasional di SD Shima‘. Kedua, fisika yang membumi di ‘“Cinta Pertama, Susah […]

  7. Hikk…hikss..
    mau nangis baca nya,
    mau ah seperti pak Ueda..

  8. @arul
    Tepat sekali! Itu mungkin yang membuat orang Jepang maju, mau belajar dari negara yg dikatakan ‘kurang maju’. Ini sedikit berbeda dng fenomena di Indonesia di mana orang yg merasa ‘hebat’ sering meremehkan orang yg dikatakannya ‘kurang hebat’. Orang yg berpendidikan S3 sering ‘meremehkan’ mereka yg hanya berpendidikan S1, begitu pula yg berpendidikan S1 sering meremehkan mereka yg berpendidikan ‘SMA’ dst. Juga mereka yg bersekolah di luar negeri sering meremehkan mereka yg sekolah di dalam negeri ataupun mereka yang sekolah di kota sering meremehkan mereka yang sekolah di desa, dsb. Padahal masing-masing orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing dan ‘kehebatan’ seseorang tidak semata-mata tergantung dari tinggi rendahnya pendidikan yg ia capai ataupun lokasi tempat ia mengenyam pendidikan!

  9. sipppp!!!

Tinggalkan Balasan ke nining Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: