murniramli

Mari menjadi matahari

In Pendidikan Jepang on Juli 4, 2007 at 2:15 pm

 p1150148.jpg

Saya beruntung selama program teacher training diperkenalkan dengan sekolah yang sungguh unggul dalam mendidik siswa-siswa, pun dengan guru-guru yang benar-benar punya panggilan jiwa mendidik, juga masyarakat yang terpanggil untuk bergerak membangun sekolah, mengenalkan anak kepada desa,alam dan lingkungannya.  Di antara sekian banyak sekolah yang saya kenali melalui kunjungan langsung ataupun informasi yang saya dapat di ruang-ruang kuliah dan symposium, ada 3 daerah/sekolah yang saya tak henti-hentinya mengatakan `sugoi!!` (=hebat), yaitu SD dan SMP di Souya, Hokkaido, SMA Tatsuno di Nagano, dan SD Shima di Shiga prefecture.

Hari ini sepanjang perjalanan di kereta pergi pulang bekerja, bolak balik ke kampus, saya membaca sebuah buku karangan Pak Sakamoto Mitsuo yang lahir tahun 1929 di Saitama.  Guru senior yang terkenal pada masanya dan mengabdikan sebagian perhatiannya kepada pendidikan di Souya.  Bukunya berjudul 子育て・教育を宗谷に学ぶ(kosodate・kyouiku o  souya ni manabu), yang kalau diterjemahkan ` Belajar tentang pendidikan dan pengembangan anak di Souya`.

Tulisan Pak Sakamoto sangat menyentuh karena ditulis dengan gaya tuturan bercerita dari hal yang paling sederhana tentang apa yang dialami dan dilihatnya di Souya.  Membacanya seakan membaca rekaman sejarah yang tidak hanya mengungkap tahun dan tempat, tetapi menggambarkan dengan jelas jiwa-jiwa, manusia, dewasa maupun kanak, alam, kesibukan dan kedamaian kehidupan di Souya.  Pun menggambarkan semangat yang dimiliki guru-guru dan orang tua di Souya berkenaan dengan mendidik anak-anaknya yang hanya segelintir.

Saya terharu ketika membaca bagian yang menuliskan lirik lagu mars guru-guru di Souya, judulnya`Taiyou to narou` (Mari menjadi matahari)

太陽となろう(taiyou ni narou= Mari menjadi matahari)

I.  山間の小さな学校、(yamaai no chiisana gakkou= sekolah ini adalah sekolah kecil di antara pegunungan)

青空と花とみどりがある、(aoisora to hana to midori ga aru= yang dipayungi oleh langit yang biru, dilingkupi oleh bunga-bunga dan hehijauan)

つぶらなひとみの子らが、(tsuburana hitomi no  kora ga=  dengan anak-anak yang lucu)

力いっぱい伸びている、(chikara ippai nobiteiru= dengan semangat yang menyala)

教師よ、教師よ、太陽となって (kyoushi yo,kyoushi yo, taiyou to natte=Mari para guru, kita menjadi matahari)

あすひらく智恵を育てよう (asu hiraku chie o sodateyo= Mari kita didik anak-anak untuk masa depan yang  terbentang luas)

bagian II-nya tidak ditulis

III. 北風の小さな学校 (kitafuu no  chiisana gakkou = Sebuah sekolah kecil di sebelah utara)

粉雪と歌と氷がある (funsetsu to uta to koori ga aru = yang dikelilingi butiran salju, senandung merdu, dan bongkahan es)

元気な笑顔の子らが (genki na egao no kora ga= dengan anak-anak yang semangat dan selalu tertawa gembira)

力いっぱい伸びている (chikara ippai nobete iru= Mari nyalakan semangat)

教師よ、教師よ、太陽となって (kyoushi yo, kyoushi yo, taiyou to natte= Ayo para guru, mari menjadi matahari !)

あすつくる夢を育てよう  ( asu tsukuru yume o sodateyou= Mari membangun masa depan dan mewujudkan mimpi-mimpi anak)

Irama lagunya saya tidak tahu, tapi pasti disenandungkan dengan semangat di tengah lautan salju yang melingkupi Souya ketika musim dingin tiba atau di antara bentangan padang rumputnya yang luas bagaikan negeri Denmark.

Ya, Souya adalah wilayah paling utara Jepang yang merupakan penghasil susu, seperti halnya daerah Hokkaido lainnya.  Padang rumputnya menghijau luas, dan lautnya membiru dengan ikan yang lezat-lezat.  Pergi ke Souya, saya selalu terkesan dengan es krim susunya yang 100% susu, sea foodnya yang nikmat sekali, kepitingnya yang besar, dan ruang bersuhu minus 25 derajatnya yang mengembunkan kacamata saya.

Sekolah yang diceritakan Pak Sakamoto ketika itu adalah SD yang siswanya hanya 5 orang dan SMP yang hanya punya murid 10 orang.  Murid yang sedikit itu tak menghambat guru-guru Souya untuk tetap bersemangat mengajari anak-anak Souya untuk menjadi `breadwinner` di lingkungannya, untuk menjaga keberlangsungan daerahnya di masa depan.

Menjadi matahari bagi anak-anak Souya yang tinggal di daerah bersuhu minus 15 derajat di musim dingin, memang sangat perlu.  Matahari yang menjadikan anak-anak itu tidak malas, matahari yang membuat hari-hari mereka selalu bersemangat, sekalipun hanya salju putih di sekelilingnya, pun matahari yang senantiasa menyinarkan semangat hidup bagi makhluk-makhluk kecil Souya.

Ya, anak-anak di Souya yang saya lihat memang sangat aktif, kreatif dan senantiasa gembira.  Ibu-ibu, bapak-bapak, pun kakek nenek menjaga mereka dengan baik agar tumbuh menjadi manusia yang sehat.  Orang-orang tua yang tak punya anak di Souya meluangkan waktunya untuk turut melindungi anak-anak Souya, pun menyediakan ladang-ladang, kandang-kandang sapi mereka sebagai tempat belajar anak-anak.

Iklan
  1. Pun saya senang baca artikel ini, enak dibaca, menaglir rasanya…

    murni : baru nyadar, saya ternyata gemar sekali menggunakan kata `pun` daripada `juga` 😀

  2. Pun saya salut dengan blog yang menggagas hal-hal guru-menggurui. Singkat kata, keguruan. Maklum, saya pun pernah menjadi guru, meskipun tak lama.

    Pun saya juga ingin mengucapkan salam kenal dan keep blogging.

    Pun saya jadi teringat tentang Toto-chan kala baca blog ini, itu pun sudah lama membacanya.

    murni : salam kenal juga, Pak

  3. Fotonya baguuuuuuuuus, Sy suka bgt

    murni : makasih, Pak. ini hasil memotret ketika ke Hokkaido.
    Masih banyak foto sunset saya di fotothing, bisa diintip di gallery

  4. menjadi matahari berarti bisa menyinari sesama, dan mampu memberikan pencerahan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: