murniramli

Berfikir positif dan optimisme

In Renungan on Juli 5, 2007 at 8:00 am

Seorang pengunjung di blog saya, Pak Effed menulis komentar di sini, dan karenanya saya mendapatkan sebuah ide tulisan tentang bagaimana saya memaknai berfikir positif dan optimisme itu.

Pak Effed menulis kalimat ini :

Mari kita pelihara optimisme yang tinggi dan tetap berfikir positif untuk memperbaiki sistem pendidikan nasional kita.

Kalimat di atas sangat saya setujui, tetapi ketika saya membacanya, saya seperti berada pada posisi dilarang mengkritik dan kalau kata orang Jepang : `kaiwa ga nakunatta` (=tidak bisa ngomong apa-apa lagi), sekalipun sebenarnya Pak Effed tidak bermaksud mengatakan ini. Ya, ini hanya perasaan saya saja. Maaf, Pak.

Optimisme dalam kamus elektrik saya didefinisikan seperti ini : the feeling that good things will happen and that something will be successful; the tendency to have this feeling.

Sedangkan berfikir positif diartikan begini : in a way that shows you are thinking of the good things about a situation, not the bad.

Barangkali saya salah, tapi saya berpendapat bahwa berfikir balance, artinya berfikir negatif dan pesimis perlu dilakukan supaya harmonisasi terjadi, dan ada peningkatan dan kemajuan yang berarti dalam kehidupan seseorang.

Ketika sebuah kebijakan dikeluarkan maka seharusnya ada proses berfikir positif negatif, dan mengikutkan optimisme dan pesimisme agar kebijakannya bisa realistis dan berkelanjutan. Bagi yang berkecimpung di keorganisasian, analisa SWOT sering dipakai, atau PDCA (Plan-Do-Check-Action)-nya Shewhart dan Deming di tahun 1930 sudah menjadi tools yang lazim.

Contohnya kebijakan tentang UAN. Optimisme bahwa ini akan berhasil memang perlu, berfikir positif bahwa ini adalah baik dan tepat, juga sangat perlu, tetapi kita tidak bisa memaksa diri (kalbu) untuk selalu optimis bahwa UAN akan berhasil dan membujuk hati untuk selalu berfikir bahwa UAN adalah baik, sementara kenyataannya kita dihadapkan kepada realita pelaksanaannya yang tak sesuai di lapang.

Optimisme penting karena dengannya kita akan bersemangat terhadap masa depan yang lebih cerah, tetapi pesimisme juga perlu supaya kita tergerak memikirkan kemungkinan gagal dan bersiap diri dengan startegis selanjutnya.

Berfikir positif pun membawa kepada ketenangan. Misalnya: seorang teman tidak menepati janji, tapi tak ada kabar darinya. Maka yang kita kembangkan adalah mematikan emosi dan mulai mencari alasan-alasan masuk akal untuk menjawab kenapa dia tidak datang. Dengan demikian kita menjadi tenang, atau terpaksa terhibur karena di kepala sudah ada jawaban atas pertanyaan kita. Tetapi proses berfikir seperti ini pun akan berdampak kepada diri kita sendiri, yang selalu menganggap orang lain akan memaklumi keadaan kita, seandainya terjadi pelanggaran atau kesalahan, sebagaimana kita pun senantiasa berfirkir positif. Akibatnya : ya, telat juga ngga apa-apa, dia pasti maklum !

Berfikir negatif perlu dikembangkan dalam keadaan demikian untuk menimbulkan perasaan was-was dan selanjutnya kita bersiap-siap menghadapi hal yang buruk. Tapi berfikir negatif yang berlebihan juga akan menimbulkan penyakit hati dan ketidaktenangan : Ah, dia pasti lulus karena orang kaya ! Ah, dia pasti diterima karena ayahnya bos! Berfikir model begini terus-terusan akan membawa penyakit hati yang susah disembuhkan 🙂

Jadi, keseimbangan perlu dalam proses berfikir, agar manusia bisa lebih menikmati hidupnya 😀

Kemapanan itu membahayakan. Anti kemapanan itu akan membuat dunia bergerak dan manusianya lebih hidup (Hehehe…ini pendapat saya detik ini, tapi dengan proses berfikir balance, barangkali suatu saat akan berubah).

Terima kasih banyak, Pak Effed 😀

Iklan
  1. Saya justru tertarik dengan kalimat (almost) terakhir yang ditulis Bu Murni:
    “Kemapanan itu membahayakan. Anti kemapanan itu akan membuat dunia bergerak dan manusianya lebih hidup”
    😀

    murni : hehehe….kalimat terakhir itu menarik juga kalau dibuat tulisan baru lagi 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: