murniramli

Terima Kasih dan Maaf

In Renungan on Juli 10, 2007 at 2:37 am

Mas Sany pernah menulis komentar di blog saya, saya lupa yang mana tapi saya ingat betul beliau suka menggunakan kata penutup TKDM (terima kasih dan maaf).

Kemarin, hari membuang sampah unburnable, yaitu sampah plastik, kertas recycle, kaleng, botol di kelurahan saya. Pagi-pagi ketika saya datang ke tempat pembuangan, sudah ada seorang nenek yang dengan rajinnya menggabungkan sampah-sampah dan memeriksa kalau-kalau ada yang tidak sesuai aturan. Saya termasuk paling malu kalau dapat teguran, jadi hasil pemilahan sampah saya selalu perfect πŸ˜€ Botol-botol minuman plastik, labelnya sudah saya kupas, tutup botolnya sudah saya gabungkan dengan sampah plastik lainnya, botolnya pun sudah saya cuci bersih. Kertas kemasan susu, sudah saya potong sesuai aturan dan cuci bersih.

Kebetulan sampah saya setiap minggunya tidak banyak, karena lebih banyak menghabiskan hari di kampus, jadi buang sampahnya lebih banyak di kampus πŸ˜€ Nenek tadi membantu menggabungkan sampah-sampah saya yang cuma sedikit ke plastik2 besar. Dan karenanya saya segera mengucapkan : arigatou gozaimashita, dan beliau menimpali dengan `gokurou sama deshita` (sama-sama. Sudah sama-sama capek). Ini ucapan paling sopan, dan saya merasa gembira sekali mendengar ucapan ini. Dengan langkah lebar2 sambil bersenandung saya melangkah ke kampus.

Ucapan terima kasih simple sekali, bahkan amat sangat sepele bagi sebagian orang. Apalagi maaf. Saking sepelenya banyak yang lupa mengucapkannya.

Di TV beberapa hari yang lalu ada kompetisi yang melibatkan ayah-anak dalam pertandingan oleh raga yang bersifat fun. Saya lupa acaranya. Tapi sangat terharu dengan ucapan seorang anak kepada ayahnya yang sudah berpayah-payah berlomba, walaupun mereka kalah : `arigatou ne tousan !’ (makasih ya yah !) Dan si ayah membalas : `gomen ne` (maaf ya).

Orang yang sudah berpayah-payah bekerja sangatlah menunggu ucapan terima kasih itu, yang barangkali hanya dengan mendengarnya hatinya menjadi ayem, bahwa dia sudah dihargai. Tapi tentu saja adapula orang yang tidak membutuhkan ucapan terima kasih itu, karena merasa itu sudah tugasnya. Seperti orang yang bekerja di kantor, di sebuah organisasi, atau dalam keluarga.

Ibu memang tugasnya memasak, mencuci, belanja, sedangkan ayah mencari uang. Amat jarang terdengar ucapan terima kasih antar kedua belah pihak. Apalagi anak. Pun bos di kantor segan mengucapkan terima kasih kepada bawahannya, karena takut bawahan melunjak.

Namun seketat apapun pembagian kerja, manusia tetap manusia yang punya kedinamisan. Sekalipun dia bekerja seperti robot, tapi dia tetap manusia yang punya hati. Maka ucapan terima kasih dan maaf sangatlah perlu untuk tetap melanggengkan ‘perikemanusiaan’.

Dulu saya pun jarang mengucapkan terima kasih atau maaf kepada ayah ibu, atau mungkin sahabat. Tapi belakangan saya merasa nikmat mengucapkan dan mendengarkannya.Β  Jadi barangkali saya harus memperbanyak mengucapkannya agar hidup saya makin cerah πŸ˜€

Saya tak ingat jelas, kapan pertama kali mengucapkan kata `terima kasih` dan kata `maaf` kepada bapak dan mamak.Β  Tapi rasanya kata `maaf` hanya saya ucapkan ketika lebaran atau menjelang ramadhan. Ah, saya terlalu pelit rupanya mengeluarkan energi untuk satu kata ini saja.Β  Kata `terima kasih` apalagi. Rasanya mamak hanya mengajarkannya untuk diucapkan kepada orang lain, bukan kepada mamak atau bapak sendiri.Β  Sepertinya saya baru mengucapkan kata `terima kasih` kepada keduanya sejak tinggal terpisah ketika kuliah, itupun melalui telepon.Β  Saya selalu tak kuat mengucapkan kedua kata ini di depan keduanya secara langsung. Mamak dan bapak selalu menangis jika saya ucapkan : Maaf, ya, mak, pak ! Mereka akan spontan menjawab : Iya, maafkan mamak/bapak juga ya, Nak!Β  Dan jika saya mengucapkan : `makasih ya,mak,pak! Mereka akan menjawab : sama-sama ya, Nak !Β  Kata `sama-sama` yang mereka ucapkan semestinya sangat tak sebanding dengan pengorbanan yang telah mereka limpahkan kepada saya.Β 

(Paraghrap terakhir ditambahkan hari ini, 24 Juli 2007, ketika tiba-tiba saja saya ingat bapak dan mamak.Β  Semoga Allah melindungi keduanya. Amin)

Iklan
  1. Biasanya sih yang saya gunakan “mdtk” Mbak. Minta maaf dulu baru berterima kasih :-). Kalo dibiasakan, meski kadang oleh orang yang berkomunikasi ditanggapi sambil lalu, tapi perasaan memang jadi lebih plong.

    Mdtk, MSR

    murni : waduh…salah yo, Mas πŸ™‚

  2. Maaf Bu Murni kalau saya ga berkomentar. Maaf ya.. ini cuma sekedar nulis-nulis saja, bukan komentar kok

    Maaf… (kayak Bu Minah saja, itu tuh yang drama komedi Bajaj-Bajuri) πŸ˜€

    Oh iya, ini maaf beneran deh… (Aduuh kok jadi becanda yah…?) πŸ˜€

    murni : terima kasih sudah mengisi komentar `maaf` dan maaf kalo jadi salah tingkah πŸ˜€

  3. tdkm…?!

    murni : terima dan kasih maaf πŸ˜€

  4. ya sudah saya maafkan
    ga usah bersedih lagi

    hahahaaa
    salam kenal dari bogor

    murni : Gus, bukannya dulu sudah pernah kenalan πŸ˜€

  5. ini…nyang harus dibudayakan

    maaf n makasih ya

    murni : sama-sama MNM πŸ˜€

  6. “Ibu memang tugasnya memasak, mencuci, belanja, sedangkan ayah mencari uang. Amat jarang terdengar ucapan terima kasih antar kedua belah pihak.”

    Maaf, maaf, maaf….sekali lagi maaf, menurut saya logika ini sudah usang…….maaf…maaf…. πŸ™‚
    Terima kasih lho kalau di maafkan dan diperhatikan…. πŸ˜‰

    murni : Ini bukan logika usang, tapi fakta di hampir sebagian besar (90% kali) keluarga Jepang.
    Mungkin Indonesia sudah berubah terbalik keadaanya ya, Pak seperti di Denmark πŸ™‚

    Maaf juga, Pak kalo salah logika πŸ˜€ dan terima kasih sudah memperhatikan tulisan saya πŸ˜€

  7. wah…seperti kejadian yang sering saya lihat di kehidupan sehari-hari. kadang orang bilang maaf dan terima kasih itu sulit sekali.

    murni : wah, ternyata sudah nulis duluan.
    Maaf, belum sempat mengunjungi πŸ™‚

  8. kata2 yang bagus untuk di aplikasikan dalam kehidupan, lebih bagus lagi di ucapkan sambil membungkukkan badan ala jepang en korea itu loh…

    murni : ya, dibiasakan sudah sangat bagus mba, ga perlu niru2 Jepun lan korea, ntar mereka keGR-an. Org Jepang paling heboh kalo budayanya ditiru2 org sejagat πŸ˜€

  9. hehehe.., aneh

    beberapa hari belakangan ini saya jg kepikiran ttg “terima kasih” dan “maaf”

    hal ini muncul setelah nonton acara anak di teve.
    setelah saya perhatikan, ternyata anak2 jarang mengucap terima kasih meski ia/mereka sudah menerima suatu pemberian dari orang lain
    hiks…

    btw, nama acaranya gak usah saya sebutkan ya..

    terima kasih,
    adi.n

    murni : ya,ngga usah. Nanti perlu minta maaf lagi… πŸ˜€

  10. well said. indeed.

    ayo budayakan mdtk πŸ™‚

  11. MDTK budaya orang timur yg sudah dilupakan orang timur tp justru masih dipakai oleh saudara jauh kita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: