murniramli

SMP Kawaragi : Belajar dari gempa Kobe

In Manajemen Sekolah, Pendidikan Jepang, Serba-Serbi Jepang on Juli 12, 2007 at 11:36 am

Selasa kemarin, kami kedatangan tamu di seminar PDP, seorang mantan guru senior SMP Kawaragi, Pak Ogawa. Beliau mengajar IPA dan sekarang sudah pensiun.  Sekarang beliau mengambil kuliah Master di Kansai University, yang ada di Osaka.

Sama seperti topik-topik sebelumnya, beberapa guru yang kami undang untuk presentasi di seminar adalah guru-guru yang berhasil menterjemahkan apa itu `kyouiku katei’ (kurikulum pembelajaran) dalam proses mengajar. Pak Ogawa termasuk salah satunya. Beliau mulai memperbaiki teknik mengajarnya setelah mendengar ceramah dari Prof Ueda Takeo (professor saya) yang menyampaikan bahwa guru bisa mengembangkan sendiri `kyouiku katei`nya dengan memperhatikan kondisi siswa yang diajarnya.

SMP Kawaragi termasuk sekolah yang hancur karena gempa Kobe tahun 1995. Pak Ogawa menceritakan sekilas kejadian gempa dengan mata berkaca-kaca dan pandangan menerawang.  Kegiatan sekolah selama beberapa hari berhenti tota, dan baru dua minggu sesudah kejadian, murid-murid dengan bersemangat datang ke sekolahnya yang sebagian sudah hancur : mereka ingin belajar. Pak Ogawa belum pernah mendengar keinginan sedemikian kuat dari anak didiknya untuk belajar seperti saat itu. Akhirnya dengan bantuan masyarakat setempat, membangun ruang kelas sederhana, mereka mulai belajar.

Pelajaran pertama yang ingin mereka dalami adalah tentang gempa. Gempa Kobe adalah gempa terbesar di Jepang. Anak-anak di Kobe pada saat itu tentu saja tidak tahu menahu tentang hal ini. Kenapa gempa bisa terjadi ? Kenapa mereka yang berdiri tiba-tiba bergoyang, kenapa barang-barang bergerak, lemari dan isinya berjatuhan ? Semuanya ditanyakan kepada Pak Ogawa. Sebagai guru sains Pak Ogawa mengajak murid-muridnya untuk mengadakan eksperimen tentang gempa. Dan dari situlah anak-anak SMP Kawaragi belajar tentang gempa.

Jika kita cek di home page sekolah, pelatihan persiapan menghadapi gempa atau bencana alam dilakukan setiap bulan September. Anak-anak SMP Kawaragi yang terletak di kota Nishinomiya, perbatasan Kobe dan Osaka telah belajar banyak dari kejadian gempa Kobe.

Selanjutnya bagaimana Pak Ogawa mengembangkan kyouiku kateinya ?

Selama hampir 30 tahun menjadi guru, Pak Ogawa baru merasakan perubahan yang sangat berarti dalam konsep mengajarnya dan menyaksikan sendiri bagaimana anak-anak begitu bersemangat belajar mandiri setelah dia mengubah penekanan belajar sains menjadi pembelajaran yang terkait dengan kehidupan sehari-hari siswa. Pembelajaran sains lebih ditekankan kepada eksperimen yang sepertinya memudahkan siswa untuk memahami rumus.

Selain Pak Ogawa, guru-guru yang lain pun bersemangat mengubah pendekatan mengajar mereka yang selama ini terlalu based on textbook, menjadi pembelajaran yang lebih aplikatif. Sehingga secara umum, semua guru di SMP Kawaragi telah berhasil mengembangkan kyouiku katei.

Guru-guru dan orang tua sepakat untuk mendidik anak-anak SMP Kawaragi untuk menjadi generasi yang akan menopang kehidupan di Nishinomiya pada tahun-tahun mendatang. Karenanya ada tiga tema pokok penekanan pengembangan integrated course (sougoutekina gakushuu jikan) siswa-siswa di SMP Kawaragi:

Kelas 1 : Belajar kepada masyarakat dan orang yang bekerja (地域と働く人に学ぶ)

Kelas 2 : Mempelajari cara bekerja dan Cara bertahan hidup(労働と生き方を探る)

Kelas 3 : Perdamaian dan Merumuskan masa depan (平和と未来を考える)

Anak-anak kelas 1 pada jam `integrated course mendatangi dan mewawancarai pembuat udon (mie khas Jepang), mendata dan memetakan fasilitas umum di kota mereka, dan mengusulkan ke pemerintah kota agar menambah jidouhanbaiki (mesin penjual minuman otomatis) karena berdasarkan penelusuran mereka jumlahnya sangat kecil.  Yang lebih mengesankan lagi, mereka mendatangi kantor kota dan menanyakan berapa gaji guru-guru SMP Kawaragi.  Kesimpulannya, guru-guru mereka digaji sangat rendah (waktu itu sekitar 150-250 ribu yen), tak sebanding dengan upaya kerasnya mendidik mereka.  Hasil penelitian anak-anak ini disampaikan di forum PTA (Parent Teacher Association).  Namun tak dijelaskan apakah kemudian orang tua menyumbang untuk menambah gaji guru.  Menurut saya mungkin tidak, karena ini tidak lazim di Jepang.

Penghormatan dan penghargaan kepada guru semakin bertambah.

Kelas 2 mempunyai program “torai yaru weeku”, yaitu program magang di tempat-tempat kerja, misalnya di toko penjual ikan, di kantor pos, restoran, dll.  Tujuannya agar siswa mengetahui bagaimana peraturan dalam bekerja, dan tentu saja agar mereka mendapatkan gambaran riil tentang kehidupan masyarakat yang akan mereka masuki.

Kelas 3 lebih cenderung dibimbing untuk mengenal dunia internasional, melalui program perdamaian, pengenalan negara-negara Asia, bahkan seorang siswa yang baru pulang dari Indonesia mengajarkan teman-temanya tentang wayang kulit.

Begitulah, anak-anak SMP Kawaragi telah dididik untuk menjadi putra daerah yang kelak akan membangun daerahnya.

Iklan
  1. waduuh.., terima kasih banyak (^_^)

    sesuai deh dg yg ingin saya ketahui

    salam,
    adi.n

  2. Salam Nusantara!
    Kami mencari Penerima Beasiswa Wirausaha!
    Mohon izin, numpang “kapling”
    Matur Nuwun…..!

  3. “Pembelajaran sains lebih ditekankan kepada eksperimen yang sepertinya memudahkan siswa untuk memahami rumus”

    Bila belajar sains sudah bisa seperti itu, maka rumus merupakan sesuatu yang diperlukan/dibutuhkan. Karena jadi kebutuhan, maka dengan sendirinya kita akan berusaha keras memahaminya karena kita merasa memerlukannya. Rumus tak lagi menjadi barang yang menakutkan….

  4. mbak Moerni..
    pengembangan integrated course (sougoutekina gakushuu jikan) itu kalo misalnya diterapkan dalam hal pembelajaran science yang efektif terutama level SD kira2 bagaimana bisa nggak mbak?
    arigatou ne..^-^

    Nining
    Master program
    Nagoya University

    murni : bisa sekali, pernah saya tulis dalam blog ini ttg SD Shima di Shiga ken. Pak Ueda Kasuo mengajarkan pelajaran sains integrated dg pelajaran lain.
    Sougotekina gakushuu malah lebih sukses di SD daripada di SMA or SMP

  5. […] pernah menulis tentang SMP Kawaragi, sebuah sekolah di Kobe yang menerapkan trial week sebagai bentuk pendidikan karier untuk para […]

  6. […] sebuah negeri yang juga akrab dengan gempa, dan luar biasanya, mereka bisa lebih mengakrabi dan mengenal gempa itu. Apakah kita harus menunggu seperi Kobe untuk mulai belajar mengenal bumi yang kita […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: