murniramli

Saya dan Orang Perancis

In Pendidikan Indonesia, Renungan on Juli 15, 2007 at 12:36 pm

Kemarin, tanggal 14 Juli, orang Perancis bergembira merayakan pembebasan penjara Bastille pada tahun 1789 yang lalu, yang sekaligus menjadi simbol revolusi Perancis, simbol kemerdekaan. Dan kemarin pun saya diundang untuk menjadi presenter di Chubu Regional Conference of the Japan Association for Current English Studies (JACES). Kisahnya saya diminta berbicara tentang kebijakan bahasa dan pembelajaran bahasa Inggris di negara multi ras dan multi kultur seperti Indonesia.

Apa yang saya paparkan dalam makalah tersebut, adalah sejarah tentang pembentukan, pengakuan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Banyak literatur yang saya baca, yang kesemuanya menyadarkan saya betapa panjang dan peliknya sejarah bangsa dalam merumuskan bahasa nasional yang menjadi alat komunikasi seluruh orang di negeri Indonesia. Membacanya menyadarkan saya akan perlunya menghargai upaya-upaya mereka dengan bangga berbahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia menurut saya merupakan simbol pembebasan dari penjajahan. Seandainya Bapak2 bangsa waktu itu memutuskan untuk menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa nasional, maka kita akan selamanya terjajah. Apalagi jika memakai bahasa Jepang yang sempat coba dipaksakan sebagai bahasa pengantar untuk menggantikan bahasa Belanda, tapi sayangnya bahasa Jepang sangat susah, baik tulisan maupun tatabahasanya.

Akhirnya para tokoh bangsa memutuskan memilih bahasa Melayu sebagai akar pengembangan bahasa Indonesia. Mengapa tidak bahasa Jawa yang notabene di saat penjajahan lebih banyak dipakai ? Tokoh2 bangsa dulu pun sangat kritis. Bahasa Jawa adalah bahasa yang mempunya hirarki penggunaan: bahasa ngoko-madya- dan kromo inggil. Ini menyulitkan bagi orang-orang Indonesia yang mempunyai bahasa Ibu selain bahasa Jawa.

Pemilihan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional menjadi sangat menarik bagi perkembangan sebuah negara yang baru merdeka. Ketika membaca sejarahnya, saya pun ikut merasakan kelegaan yang dirasakan para tokoh dulu ketika membacakan sumpah pemuda atau ketika memutuskan bahwa kita sudah memiliki bahasa kemerdekaan, bahasa Indonesia.

Karenanya, saya sangat salut dan angkat topi kepada orang-orang yang selalu bangga berbahasa Indonesia, dan sangat iri membaca tulisan yang ditulis dengan apik dalam bahasa Indonesia yang indah.

Selain bahasa Indonesia, kebijakan lain yang menurut saya perlu dilestarikan adalah mengajarkan bahasa ibu kepada anak-anak. Saya mengenyam pelajaran bahasa Bugis ketika SD yang sangat unik dengan huruf lontara-nya, lalu belajar honocoroko-bahasa Jawa ketika SMP. Karakter huruf lontara sangat kaku dan tegas, tidak ada huruf yang ditulis melengkung, semuanya garis lurus, pendek dan patah-patah. Ini barangkali menunjukkan karakter orang Bugis yang kalau berbicara selalu to the point. Beda dengan huruf-huruf Jawa yang cantik meliuk-liuk. Bahkan menulis pepet-nya saja susah. Dan saya pikir inipun menggambarkan karakter orang Jawa 😀

Menurut UNESCO tahun 2oo1 ada sekitar 6000 bahasa yang hampir punah. Lalu tahun 2003, kalau tidak salah, tinggal 3000 bahasa ibu yang tersisa, makanya karena prihatin dengan punahnya bahasa-bahasa daerah, UNESCO menetapkan tanggal 21 February sebagai Mother Language Day.

Bagi Indonesia, mempertahankan bahasa daerah adalah mutlak. Bukan bermaksud mengabaikan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu, tetapi untuk menyampaikan ide pembangunan kepada orang-orang di pedalaman, atau orang2 tua yang tidak sempat mengenyam pendidikan, dan hanya dapat berkomunikasi dalam bahasa ibunya, maka tidak dapat kita menggunakan bahasa Indonesia kepada mereka. Alasan lain, adalah untuk mempertahankan bahasa, sebuah peninggalan yang sangat berharga. Ini termasuk penghargaan kepada orang-orang yang telah dengan jeniusnya menciptakan kosa kata, merangkainya menjadi kalimat, dan memberinya intonasi.

Sekalipun saya tidak menguasai 100% bahasa ibu saya, bahasa Bugis, ataupun tak pandai berbahasa Jawa yang kromo inggil, ataupun bahasa Sunda yang lemes, atau bahasa Betawi yang rame ketika didengar, tapi saya berkeinginan mendalaminya.

Sekarang, anak-anak di SD akan mulai belajar bahasa Inggris. Agar mereka lebih cepat menginternasional. Agar mereka lebih cepat menjadi orang dunia ! Saya sangat prihatin dengan ambisi orang-orang dewasa terhadap anak-anak. Umur SD belum begitu paham dan pandai menggunakan bahasa Indonesia, apatah lagi bahasa ibunya. Lalu jika diajarkan bahasa yang sebenarnya tak dijumpai dan didengarnya sehari-hari, maka saya prediksikan pembelajaran bahasa Inggris di SD akan hanya menjadi penambah beban bagi anak-anak, tanpa hasil yang berarti.

Saya, hari ini 14 Juli, seperti halnya orang Perancis, bergembira dan sangat bangga menyampaikan kepada dunia bahwa saya adalah manusia yang dilahirkan di bumi yang sangat multi budaya dan bahasa. Saya pun bangga mengatakan kepada mereka bahwa kami punya bahasa nasional yang sangat mudah dipahami.

Tapi saya lebih berbahagia lagi, karena kemarin umur saya bertambah satu, yang mestinya akan membuat saya lebih berhati-hati dan bijak sebagai manusia.

Iklan
  1. Iya, saya bangga berbahasa Indonesia.

    Saya setuju, bahasa ibu atau daerah perlu dilestarikan.

    Sewaktu masuk SD, saya belum bisa berbahasa Indonesia, cuma bisa bahasa ibu, bahasa daerah. (bisanya juga bisa ukuran anak-anak). Seiring berjalannya waktu, saya akhirnya ngerti juga bahasa Indonesia….

    Iya nih bahasa Inggris sudah mulai diajarkan di SD (adik saya yang kecil, masih SD kelas 5 sekarang (denger kabar) baru naik kelas 6, saya pernah lihat tugas-tugasnya disuruh menterjemahkan….)

    Btw, bedanya usia dan umur apa yah? Umur kita bertambah dan usia berkurang atau usia bertambah dan umur berkurang? Ah ternyata saya belum bener-bener mengerti bahasa Indonesia…

    murni : waduh saya malah tdk tahu bedanya umur dan usia. Ini ada kaitannya dg hari kematian ya ?

  2. tanjoubi omedetou (^_^)

    murni : makasih…:D

  3. Slaman-slumun-slamet Mbak. Sehat-seneng-sukses. S3 lah pokoknya. Banzai Mbak Murni! XD

    murni : matur nuwun… 😀

  4. happy birthday! may this brings you lotsa joy with plenty of good health.

    meski ucapannya pake bahasa enggres… hehehe… tapi saya tetep bangga berbahasa indonesia kok 🙂

    saya rasa pemikiran seperti ini lah yang patut disebarluaskan kepada masayarakat. minta izin sekalian, boleh mengutip posting ini utk tulisan2 saya di masa mendatang? *berharap sambil pasang muka manis* 😀

    makasih buanget. Silahkan dikutip 😀

  5. Met ulang tahun … 😀 semoga Allah senantiasa mudahkan urusan Ibu … ga kena gempa kan? kapan ke Jakarta lagi?

    murni : matur nuwun, Pak. Insya Allah kalo tidak tahun ini, tahun depan.
    Alhamdulillah hanya goyang dikit pas gempa di kota saya.

  6. Ehmmm… mencerahkan dan membuat bangga menjadi bagian negeri ini

  7. Salam dari Chicago, mbak Murni. Tulisan yang bagus sekali.

    Sama kayak mbak, saya bangga sekali menjadi orang Indonesia. Suami saya orang Prancis, dan kami berbicara bahasa masing2 ke anak2 kami … tujuannya supaya bahasa dan budaya tetap lestari … amin semoga tujuan ini tercapai :D. Blog saya isinya tentang perjalanan multibahasa dan multibudaya saya, anak2 dan keluarga. Ditulis dalam bahasa Inggris supaya bisa menjamah juga orang2 non Indonesia yang berminat dgn multibahasa dan multibudaya.

    murni : salam kenal, Mba Santi.
    Wah, jadi pengen tahu anak-anak, Mba. Saya intip blognya dan mohon ijin ngelink 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: