murniramli

Apa arti kemampuan akademik bagi siswa SD di Jepang ?

In Pendidikan Jepang, SD di Jepang on Juli 20, 2007 at 5:01 am

Pagi tadi, di TV channel 5 disiarkan tentang kecurangan yang dilakukan oleh seorang kepala sekolah di Tokyo ketika berlangsung `gakuryoku tesuto` (ujian untuk anak SD). Beritanya begitu mengagetkan para komentator, pun saya yang selama ini selalu mendapatkan image positif tentang kejujuran guru-guru di Jepang.

Sebuah SD di kelurahan Adachi yang terletak di metropolitan Tokyo dilaporkan berhasil meraih prestasi yang gemilang tahun ini dari rangking 44 di antara 72 sekolah tahun lalu, menjadi rangking ke-1 tahun ini. Perangkingan berdasarkan hasil total ujian siswa yang diadakan khusus untuk wilayah Tokyo.

Prestasi yang gemilang itu cukup mencengangkan dan muncul kecurigaan apa penyebabnya. Lalu terbongkarlah bahwa kepala sekolah dan 5 orang guru membuat kecurangan dengan cara menunjukkan soal2 yang dijawab salah oleh murid2 ketika ujian berlangsung. Kebocoran ini terungkap oleh laporan murid2 yang merasa canggung dan aneh dengan kelakuan kepala sekolah dan guru2.

Saya tanyakan kepada teman, apakah ini lazim di Jepang ? Jawabannya : tidak lazim tapi ada. Terakhir kali dilaksanakan kira-kira 40 tahun yg lalu (th 1967) , kejadian serupa sudah ada. Setalah cukup lama ujian nasional dihapuskan, pelakasanaan ujian nasional yang kemungkinan akan dilakukan tahun depan, membuat guru-guru dan kepala sekolah was-was, dapatkah siswa2nya melewatinya dengan mulus.

Pertanyaan yang masih ada di kepala saya, kenapa setelah waktu yang cukup lama, 40 tahun, ujian nasional diadakan kembali ? Jawabannya, barangkali ada sangkut pautnya dengan pemberitaan di media yang selalu melaporkan bahwa kemampuan akademik siswa2 di Jepang sangat rendah dibandingkan negara-negara lain. Pemerintah kemudaian melakukan survey dan tes percobaan untuk membuktikannya dan hasilnya memang rendah. Contoh gampangnya saja, anak kelas 6 SD yang saya tanya tentang letak negara Jepang dalam peta dunia, tak mampu menjawab.

Beragam polemik muncul di kalangan ahli pendidikan Jepang, umumnya mereka menyangsikan pelaksanaan ujian nasional, bahkan pun meragukan bahwa sistem ini adalah alat untuk meningkatkan kemampuan akademik siswa. Sorotan juga diarahkan kepada program `tanoshii jugyou` (kelas yang menyenangkan) yang memang menekan tingkat stress anak, dan membuat mereka senang belajar, tapi sejauh mana meningkatkan kemampuan akademik pelajar, masih dipertanyakan.

Pengertian gakuryoku (kemampuan akademik) di kalangan pemikir di Jepang agak berbeda dengan pemikiran yang berkembang di negara2 lain, seperti Indonesia. Di Jepang, gakuryoku lebih merupakan kemampuan untuk menguasai sesuatu secara mendalam, mampu memahaminya, mencernanya, dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Tapi di beberapa negara, kemampuan akademik diterjemahkan sebagai nilai/skor ulangan/tes, tanpa ada pengujian lanjut apakah anak benar-benar memahami persoalan atau sekedar sanggup menjawab benar soal ujian, yang terjadi karena faktor latihan soal atau pengulangan soal dari tahun ke tahun.

Guru-guru di Jepang selama ini telah terbiasa dengan mengajarkan pemahaman. Dengan konsep `wakaru` (mengerti) dan `dekiru` (bisa), mereka mengajar siswa agar memahami konsep dan dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sekalipun tak semua guru di Jepang mampu melakukan tugas ini dengan baik, tapi banyak juga yang sanggup.

Kesan saya tentang kemampuan dan motivasi belajar anak-anak Jepang, berdasarkan kunjungan ke banyak sekolah memang sangat beragam. Ada anak yang begitu semangat dan kritis, tapi ada pula sekolah yang siswa-siswanya tak lebih baik jika dibandingkan dengan siswa-siswa di Indonesia. Tapi barangkali fasilitas sekolah, buku, ensiklopedi yang lengkap, juga IT yang tersedia di semua sekolah membuat anak-anak Jepang lebih mudah mengakses ilmu. Juga tentu saja, hampir sebagian besar guru2nya yang mempunyai militansi mengajar dan kecintaan kepada pekerjaannya, mampu menelorkan anak-anak didik yang bermotivasi tinggi.

Kalau dilihat dari tujuan pendidikan anak-anak di UU Pendidikan Jepang, juga hasil berbincang dengan guru-guru di sekolah, sebenarnya tujuan mendidik anak sederhana sekali, agar mereka menjadi anak-anak yang sehat badan, jiwa dan pikiran. Bukan anak yang pintar, bukan anak yang brilian, karena kepintaran dan kebrilianan sebenarnya bawaan lahir yang hanya perlu diasah agar dapat bernilai positif.

Yang harus ditekankan dalam pendidikan anak adalah mengasah atau melatih atau mempertajam kemampuan otak, jiwa/hati/sikap dan tubuh.

Iklan
  1. Saya sepakat tuh, dengan tujuan pendidikan yang seperti itu. Lebih pas dan nggak maksa orang untuk jadi “monster”. Tapi kenapa banyak berita soal anak bunuh diri yaa

    murni : masalahnya anak/orang Jepang sangat lemah mental, dan bunuh diri bisa dikatakan sebagai pelarian jika mereka dipermalukan, dihina, atau gagal

  2. Ternyata baik di Jepang atau di Indonesia kecemasan guru, kewas-wasan guru kalau-kalau siswa-siswanya tidak lulus sama saja.

    Bahkan mungkin di Jepang lebih parah kewas-wasan guru-gurunya itu, sebabnya sangat takut dengan kebiasaan bunuh diri (bagi yang gagal, apalagi ga lulus ujian). Sedang di negeri kita Indonesia, patut bersyukur, walau banyak yang ga lulus, tapi hampir tidak ada yang bunuh diri (paling-paling demo).

    Indonesia memang lebih baik… 😀

    murni : ya…guru juga manusia 😀

  3. Pada saat wacana perlu tidaknya ujian nasional menjadi heboh di Indonesia, ternyata ujian nasional di Jepang malah akan diberlakukan kembali, seperti yg anda katakan dengan alasan kemampuan akademik siswa di Jepang sangat rendah, dan itu sudah anda buktikan dengan menanyakan letak Jepang di peta kepada anak kelas 6 SD.
    Nah, sayapun punya pengalaman di Indonesia ini ‘lebih ajaib’ lagi, cukup banyak orang dewasa yg tidak bisa menunjukkan letak negara2 ASEAN secara baik di peta buta Asia Tenggara! Jadi menurut anda perlu tidak ujian nasional dihapus sama sekali??

    murni : wajar saja, kalo banyak org Indon yg tak paham di mana ASEAN, la saudara2 kita yg mengenyam pendidikan hanya 40%.
    Ttg UAN sudah saya tulis di sini

  4. Hmmm… maksud saya tentu bukan yg tidak berpendidikan, kalau saudara2 kita yg tdk berpendidikan ya tentu saja tidak bisa menunjukkan negara2 ASEAN di peta buta, jangankan ASEAN, mungkin pulau Jawa saja tidak tahu! Tetapi yg saya maksudkan di sini adalah mereka2 yg minimal berpendidikan SMA. Orang2 kantoran saja banyak yg tidak bisa (biasa) membaca peta buta. Kecuali kalau bukan peta buta mereka tahu di mana letak negara2 tersebut dengan membacanya!

  5. wah beda kejadian yang baru ama yang lama 40 tahun? hebat!!!

  6. sepakat banget….:)
    tapi susah dterapkan di Indonesia yg masih menerapkan metode Ujian Nasional

  7. Kebetulan minggu lalu saya juga habis diskusi masalah ini dengan sensei. Katanya kecurangan memang banyak terjadi walaupun ujian tidak berfungsi untuk menentukan kelulusan siswa seperti halnya ujian nasional di Indonesia. Karena hasil ujian akan menunjukkan kualitas dan kredibilitas sekolah juga. Selain kecurangan di atas, ada juga sekolah yang melakukannya dengan tidak menyertakan siswa yang dianggap kurang pandai atau siswa asing yang belum lancar bahasa jepang untuk mengikuti ujian.
    Tahun 1845 Horrace Mann, anggota dewan Pendidikan Massachuset menyelenggarakan ujian umum dan hasilnya memang diprotes banyak pihak, sehingga kemudian ujian dihapuskan. Demikian juga di Irlandia tahun 1943 menetapkan ujian nasional, dan diprotes keras oleh organisasi guru disana, sehingga juga kemudian dihapuskan.
    Tapi kenapa ya pemerintah Indonesia tidak mau mendengar protes banyak pihak tentang ujian yang sudah tertinggal lebih dari 100 tahun itu?

    murni : hmmm…krn pemerintah Indonesia ga percaya omongan Pak Horrace sebelum mencoba dan membuktikannya sendiri 😀
    Wet, sukses ngemsi-nya ya, otsukaresama 😀

  8. Ujian nasional sudah menjadi kebutuhan di Indonesia, maksudnya kebutuhan para pejabat Indonesia untuk membanggakan angka kelulusan yang jelas bukan sebuah gambaran kualitas pendidikan. Kenapa harus dihapus ? kan banyak pihak yang dapat income tambahan karena UN. Nanti kalau dihapus banyak dapur yang nggak ngebul, mulai dari menteri sampai guru mapel UN bahkan para penyelenggara lembaga bimbingan. Toh banyak guru kita yang belum mampu membuat soal yang baik untuk anak didiknya. Memang suatu saat harus dihapus, soal waktunya itu urusan PGRI dan Mendiknas.

  9. Bagus, salam kenal dari Kediri Jawa Timur

    murni : salam kenal juga, Pak

  10. cerita yang menarik………. semoga bisa sampai ke orang-orang yang mempunyai wewenang dalam memajukan pendidikan di Indonesia.
    saya setuju dengan pendapat bahwa anak di didik bukan untuk jadi pintar , tetapi lebih dari itu kita harus menyadari bahwa manusia adalah suatu individu yang masing-masing memiliki keunikan, kelebihan atau kekurangan sendiri.

Tinggalkan Balasan ke Umar Faridz Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: