murniramli

Bekerja sama atau bekerja bersama-sama ?

In Renungan on Juli 22, 2007 at 2:04 pm

Waktu masih kuliah di IPB dulu saya gandrung sekali dengan beberapa buku-buku pemikiran Yusuf Qardhawi, salah satunya kalau tidak salah berjudul Fikh Dakwah. Saya tidak ingat sebagian besar isinya kecuali hanya kata-kata ini :

Jika tak bisa bekerja sama maka marilah bekerja bersama-sama.

Ucapan itu sangat mengena bagi saya yang waktu itu sedang semangat-semangatnya belajar Islam, dan pada saat bersamaan di Indonesia sedang ramai-ramainya pengajian pergerakan di kalangan mahasiswa.  Waktu itu saya hanya merasa tidak nyaman dengan kondisi teman-teman yang tidak sekelompok dengan saya, yang mengambil jarak setelah saya mulai menekuni pengajian A. Padahal dulunya kami teman baik, waktu masih sama-sama culun 😀

Saya penasaran sekali kenapa harus memusuhi ? Kenapa harus menjauh ? Kenapa tak bisa duduk bersama berdiskusi sambil menikmati pisang goreng dan teh manis hangat 😀  Kalaupun ada diskusi, maka yang muncul adalah pertikaian  bahwa kelompok kami paling benar.

Saya pun pernah menangis karena dianggap tidak berakhlak, tidak tahu sopan santun, ketika suatu ketika menjadi PJ sebuah seminar seJabotabek di IPB yang melibatkan presenter seorang wanita tokoh Kelompok B yang tentu saja suaminya pun, orang papan atas di kelompoknya.  Bapak yang saya anggap dan kagumi sebagai orang yang lebih paham agama daripada saya, yang jauh lebih faqih daripada saya, ternyata dengan mudahnya melontarkan kata-kata itu, sementara saya tidak tahu di mana letak ketidakberakhlakan saya ketika menyampaikan kepada beliau bahwa istrinya sudah pergi ke sebuah tempat dengan rekannya.

Saya yang benar2 shock karena baru kali itu dituduh serupa itu minta maaf kepada Ibu presenter, dan mohon disampaikan kepada suaminya permohonan maaf saya, sebab saya cuma melongo ketika diomeli oleh beliau 😀

Ketika dituduh tak berakhlak, yang saya ingat langsung bapak dan mamak.  Seandainya mereka mendengarnya, alangkah malunya saya karena artinya sama saja menuduh keduanya tak becus mengajari saya menjadi anak yang berakhlak mulia.  Mungkin agak kuno pemikiran ini, tapi saya seperti merasa mewakili orang tua saya kemana pun dan di mana pun saya berada.  Anak adalah cerminan orang tua.

Bapak tadi telah menumbuhkan bibit kebencian dalam dada saya, yang akhirnya menancapkan sebuah statemen tajam di otak saya : Aalim belum tentu Aamil. Yang kira-kira artinya orang yang berilmu/ paham belum tentu berkelakuan mulia. Sekarang si Bapak saya dengar sudah menjadi penasehat menteri, tapi ucapannya yang tajam terngiang-ngiang terus di telinga saya. Tapi sekarang rasa benci itu sudah lumer berubah wujud menjadi rasa syukur sebab masih ada orang yang mau menasehati. Barangkali memang saya tak berakhlak, pun khawatir tergolong sebagai orang yang aalim tapi tak aamil.

Sekarang bagaimana dengan konsep Yusuf Qardhawi di atas ?

Saya dan Bapak tadi atau kelompoknya kelihatannya sulit melakukan kerjasama.  Karenanya semestinya kami bekerja bersama-sama.  Sayangnya dalam perjalanan itu, persaingan dan saling curiga/tuduh tak bisa dijinakkan.  Akhirnya kami barangkali bekerja bersama-sama, tapi dengan penuh kewaspadaan dan persaingan.  Saya pada akhirnya merasa capek dan tak bisa melanjutkan permainan.  Jadi sekarang saya menjadi penonton 😀

Sebenarnya saya lebih suka dengan istilah bekerja sama.  Karena lebih menunjukkan bahwa kita saudara, bahwa kita seaqidah, bahwa kita menyukai amal sholih dan membenci kemungkaran.  Tapi sayang kata ini pun ternyata susah diterapkan, sebab hati saya dan anda mungkin masih abu-abu.

Banyak orang yang mengatakan bahwa dalam kerjasama, faktor agama harus di-ignore.  Orang lebih mudah bekerja sama jika tak membawa agama.  Tapi barangkali perlu dipahami pula bahwa agama sudah menjadi jiwa bagi sebagian orang, termasuk saya.  Yang kita perlukan hanya apresiasi, saling menghargai bahwa kita berbeda dalam beberapa hal, tapi kita toh sama dalam beberapa hal pula .

Kesamaan itulah yang perlu dipertajam sedangkan perbedaan itu bukan ditumpulkan untuk menemukan titik temu yang sama, sebab ini mustahil. Tapi biarkan perbedaan itu secara alami mengikuti sunatullah berkembang terus.

Iklan
  1. Sama-sama bekerja saja Bu… (mereka mengerjakan pekerjannya, ibu juga mengerjakan pekerjaan ibu).

    Beres kan? Eh beres engga ya?

    murni : hmmm ….beres sih!

  2. Makasih telah berbagi cerita. Saya jadi ingat pandangan Yusuf Qardhawi mengenai Islam Ekstrim. Lihat http://muhshodiq.wordpress.com/2007/04/27/ciri-ciri-islam-ekstrim-1-fanatik/

  3. Bagus sekali renungannya… Perbedaan memang sebaiknya tidak dipertajam karena toh masih ada juga persamaan yang kita punya. Sebenarnya masyarakat memang harus dididik untuk menerima perbedaan dan hal tersebut mungkin harus dimulai dari para pemimpin pemerintahan atau pun pemuka agamanya terlebih dahulu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: