murniramli

Menginterview guru sejarah Jepang

In Pendidikan Jepang on Juli 27, 2007 at 7:55 am

Hari Selasa yang lalu, saya harus lari-lari mengejar janji menemani Pak Singgih, dosen UNDIP yang sekarang sedang melaksanakan tugas sebagai visiting professor di Nagoya University.  Kami akan mengadakan wawancara dengan guru sejarah SMP affiliasi Meidai jam 13.00, sedangkan saya belum menyiapkan diri dengan sedikit membaca tema wawancara pada hari itu.

Terus terang bahasa Jepang saya untuk bidang ini sangat minim, karenanya saya sangat khawatir jikalau tak mengerti penjelasan guru dan tak bisa melakukan wawancara dengan smooth.  Tugas saya menterjemahkan saja, tapi ternyata dalam wawancara gatal juga kalau tidak menanyakan beberapa pertanyaan.

Pak Singgih bermaksud mengetahui bagaimana pembelajaran sejarah Jepang terutama berkaitan dengan masalah yang kontroversial seperti Nankin massacre atau Nankin daigyakusyatsu (南京大虐殺),  PD I dan PD II, wanita pelacur /jugunianfu(従軍慰安婦), lalu penggunaan istilah `saudara tua` dalam perang Pacifik (大東亜戦争).  Semua topik adalah topik yang mencoreng nama baik Jepang.  Sebenarnya melalui wawancara ini Pak Singgih barangkali bermaksud juga membandingkan dengan pembelajaran sejarah di Indonesia, terutama mengenai masalah yang kontroversial semisal G30S atau Supersemar.

Wawancara kami dengan Pak Yamada berlangsung kurang lebih 2 jam lebih seperempat.  Saya yang semula tak begitu paham dengan masalah-masalah ini, akhirnya ikut bersemangat mendengarkan penjelasan Pak Yamada.  Beliau adalah lulusan S1 sebuah universitas dengan major pendidikan sejarah dunia.  Selain mengajar di SMP, beliau juga mengajar sejarah dunia di SMA afiliasi Meidai.

Pelajaran sejarah di SMP tidak dikhususkan, tapi dikelompokkan dalam pelajaran sosial science yang meliputi sejarah Jepang, geography dan sedikit sejarah dunia, dan pelajaran kewarganegaraan.  Di SMA pelajaran sejarah dibagi dua yaitu sejarah Jepang dan sejarah dunia.  Istilah-istilah di atas selain disebutkan dalam pelajaran sejarah Jepang, kadang-kadang muncul pula dalam sejarah dunia di SMA.

Buku pelajaran yang dipakai oleh Pak Yamada berbeda dengan buku sejarah sekolah negeri yang harus menggunakan buku panduan yang diakui oleh The Board of Education.  SMP dan SMA afiliasi Meidai tidak dalam pengawasan Board of Education tapi berada dalam pengelolaan Nagoya University, karenanya mereka bebas menggunakan buku pelajaran apapun sesuai keinginan guru setempat.   Buku-buku pelajaran hanya diperjualbelikan di satu toko di Nagoya yaitu di daerah Chikusa-ku, dan tidak sembarang toko buku memperjualbelikannya.

Menurut Pak Yamada, hampir semua istilah mereka ajarkan kepada siswa, terkecuali kata daitoa sensou, yang berarti perang saudara tua, dalam buku sejarah disebutkan bahwa ini tak benar. Maksudnya tak benar pada waktu itu Jepang datang sebagai saudara tua yang membawa kemajuan untuk bangsa-bangsa yang dijajahnya.  Ketika ditanya apa alasannya Jepang menjajah beberapa negara Asia ? Pak Yamada mengatakan bahwa dalam textbook dijelaskan tentang latar belakang ekonomi.  Pada waktu itu tidak ada pasar yang cocok untuk memasarkan produk Jepang, sehingga beberapa negara seperti China, Korea, Philipina dijajah untuk dijadikan pasar.  Ketika kami desak apakah itu juga berlaku bagi Indonesia ? Pak Yamada kelihatan sungkan menjawab, dan mengatakan bukankah Indonesia memperoleh kemajuan ketika Jepang `berkunjung` ke sana 😀  Saya hanya mesem-mesem saja.

Adapun istilah wanita penjaja sex atau jungun ianfu tidak diajarkan secara detil di SMP mengingat daya nalar dan usia mereka yang dianggap kurang layak mengetahui hal-hal yang buruk seperti ini.  Ya, menurut saya semestinya pelajaran yang berbau kekerasan atau tindakan amoral harus diajarkan secara hati-hati kepada anak-anak.  Barangkali harus melibatkan para psikolog.

Pelajaran sejarah menurut Pak Yamada yang buruk maupun yang baik harus tetap diajarkan, yang harus dipikirkan selanjutnya adalah bagaimana kehidupan selanjutnya harus dirancang oleh generasi muda Jepang, maksudnya berpijak dan belajar dari sejarah seharusnya mereka tak mengulang kembali perbuatan yang tak senonoh yang dilakukan oleh generasi tuanya dulu.

Iklan
  1. saya mempelajari hal itu waktu SMA dan masih tetap mengingatnya, beberapa sisi memang agak menyudutkan bangsa Jepang… tapikan itu bagian sejarah yang memang sempat menjadi buah bibir waktu itu..

    murni : sekarang juga masih buah bibir… 😀

  2. Wah ditanya tentang penjajahan di Indonesia rupanya orang Jepang tersinggung juga.

    Sama dong Bu di Belanda juga bila saya ngobrol2 dengan mahasiswa2 sana tentang sejarah Indonesia dan Belanda, sepertinya mereka begitu berhati-hati, ada rasa sungkan, seperti takut (karena klo ngomongin sejarah saya begitu bersemangat, berapi-api dan ngomong blak-blakkan. Sepertinya mereka jadi ga enak, …).

  3. sejarah itu kan kisah catatan perjalanan hidup manusia [mikro], dan bangsa/negara [makro], baik terucap/teringat/tertulis dalam ingatan/memori dialami oleh individual dan masyarakat pada umumnya. Peristiwa dialami secara pribadi, andai itu buruk menghantui dan akan dikubur & berusaha dilupa/hapus selamanya.

    Kisah dalam skala negara/bangsa, tentu lebih rumit, u/ menyembunyikan aib.., dirasakan banyak orang, upaya pengkaburan sistematis ya
    dengan tidak mencantumkannya dalam buku pelajaran/kisah sejarah bangsa tersebut.

    Dalam kurun waktu 25 tahun kedepan, diharapkan noda kelam tersebut telah lenyap dari panggung kehidupan generasi yang akan datang…. ; karena
    situasi & kondisi berubah & orang tlah lupa akan
    kelamnya kisah masa lalu [kan untuk dilupakan]
    atau secara jujur hendak dijadikan cermin kaca benggala [tolok/tolak ukur menghindari, gaya berfikir/rasio, situasi & kondisi gejala-gejala menuju ke arah sana]!

    esensi belajar/mempelajari sejarah terletak pada
    bagaimana & mengapa & kondisi & unsur-2 apa saja yang mampu membuat peristiwa saat itu bisa terjadi [latar belakang].
    sepertinya belum bijak andai ditekankan pada sisi bilamana terjadi, berbentuk hafalan lagi, bukan bentuk analisis …
    seperti lazimnya pengajaran sejarah diajarkan di sekolah seperti pada umumnya kita dapati [pelajaran/hal sebenarnya menarik, beralih jadi membosankan, sayank sekali…

    semoga pelajaran sejarah, mampu ditampilkan oleh guru sejarah dalam warna berbeda … [lebih tepat diajarkan dalam bentuk skrip drama, dimana
    & bagaimana faktor penghayatan/pemahaman “situasi saat itu” terjadi diungkap … dalam dialog
    di depan kelas… , tentu akan lebih menarik & terekam kuat dalam benak anak didiknya [sebab diajak berfikir/beranalisa/ & mengembara di masa lampau].

    mungkinkah pelajaran sejarah dikemas spt. skrip setting masa lampu spt. dilakoni dalam “drama/sinetron-2” lagi marak saat ini?
    barangkali pelu dikombinasikan mencetak guru sejarah pluss pemain/aktor drama..???
    betul begitukah….?

  4. Pak Ardi,

    wah lama ga ngasih comment 😀

    Pak, kalo dikemas jadi kayak drama,murid2 akan nyemil pop-corn pas pelajaran sejarah 😀

    Usul lain : buku sejarahnya dikemas kayak komik `doraemon` hehehe….

  5. wah, bu murni ketinggalan jaman 🙂 Coba sekali-kali ke perpustakaan umum, nanti di sana ada buku doraeman yang cerita tentang sejarah. Dan tentu saja bukan hanya sejarah, si doraemon dkk jadi tokoh dalam komik matematika, bahasa, IPA, IPS dan lainnya.
    * Tapi sayang, karena si doraemon memuat ‘pesan sponsor’, anak saya jadi males bacanya. Maunya buku komik yang komik 🙂

  6. hehehe….sdh pernah liat yg di Jepun, Pak.
    Maksudna nu di Indonesia, jd misalnya pas menokohkan Raden Rangga, Agung Sedayu, doraemonnya pake beskap hehehe…
    btw, nama2 itu ada ga ya di buku sejarah nasional atau di buku `Api di bukit Menoreh` ? 😦

  7. waw…kak…kak…kak
    doraemon jadi tokoh sentral ya…

    memang repot sama namanya tim pemasaran itu pak gunawan… maunya (potong kompas0) nebeng tokoh beken hehehe… [bikin sendiri kan mahal & susah keluar idenya]

    ini apalagi doraemon rasa lokal jawa ya… bu murni, Anda pengagum SH Mintardja ya..rupanya [ada lowo idjo, kadal bangkak… kyai …??? luapa hehe]

    pendapatkoe itoe ….. guyonan bae.. khoq ….hihihi
    setting-an naskah & skenario nya itoe di”sesuai” kan omoer & daya tangkap/khayali/imaginer peserta ajarannya.

    pumpung ada festival panggung gratis dkampung2
    pitulas agustusan tho…? [episode… kemerdekaan,
    lha mestinya poro guru-2 sejarah panen tanggapan
    diminta cerita… tentang kisah waktoe itoe [ lha para pelakunya, sampun kathah murud kasidan jati je, tanpa kita berusaha menanyainya & lebih suka baca lewat karangan toelisan orang-2 lahir
    { 20 tahun usai 1945…?!? } & berani menulis naskah sejarah kemerdekaan indonesia ; lewat buku-2, naskah-2 ditulis lawan & ilusionis [ramu masa laloe+depan]

    sejarah, itoe jenisnya macem-macem-2, jadi tokohnya & kisahnya ya beragam to, …. hehehe…
    ada sejarah….
    nusantara, indonesia pra & paska kemerdekaan, ilmu pengetahuan, penemuan, PD I & II, perang teluk [apa & mengapa terjadi, motivasi pendorong
    apa saja…] itoe kan bisa dijadikan analisis kritis
    bagi murid-2 kelak 10 tahun yang akan datang ;
    terus tergantung dari sudut pandang mana & siapa pengisahnya & motivasinya {syusah lepas dari obyektifitas/subjektivitas}

    keliru wal salah ya….?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: