murniramli

Kalau tidak bisa jadi dokter, jadilah pemain baseball

In Pendidikan Jepang, Serba-Serbi Jepang, SMA di Jepang on Agustus 2, 2007 at 5:09 am

Judulnya bukan bertujuan mengunggulkan profesi dokter dan bukan juga merendahkan pemain baseball, tapi bisa saja dibalik, karena kedua-duanya adalah profesi yang prestigius di Jepang.

Termakan oleh kata `Biar tidak bete`nya Mas Sany, yang pekerjaan utamanya sebagai pengamat dorama, komentator sport, politik, pokoknya apa saja yg menarik untuk diamati dan dikomentari di Jepang. Pekerjaan sambilannya : menghabiskan `cuti` dari UGM sambil ngutak-ngatik arsitektur bangunan (bidang yg susyeeh !!) di Sendai 😀 , maka tulisan ini dibuat.

Ada dua profesi yang dianggap bergengsi oleh masyarakat Jepang, yaitu dokter dan pengacara. Keduanya pekerjaan yang bisa mendulang uang tentunya. Hanya saja untuk mencapai gelar itu otak harus encer dan mesti tembus universitas bergengsi pula. Anak-anak SMA seperti kata ahli hanya 30% saja yang berotak encer, sedangkan sisanya kebanyakan di kelas rata-rata.

Bagaimana mendidik dan membantu anak-anak yang 70% ini menemukan impiannya (yume o kanaeru) menjadi tanggung jawab para pendidik di sekolah. Tentu saja ortunya harus ikut terlibat.

Ada 3 unsur utama yang membentuk kepribadian seseorang yang harus diasah sejak kecil yaitu tubuh, jiwa dan akal. Yang terbaik tentu saja jika ketiganya balance, tapi kelihatannya susah. Kebanyakan pendidikan kita mengacu kepada pengasahan akal saja, sehingga yang diharapkan lahir dari sekolah adalah anak-anak yang pintar. Tapi banyak anak yang kemampuan gerak tubuhnya lebih bagus daripada akalnya. Maka kemampuan olah tubuh inilah yang harus diasah.  Maka di Jepang muncullah impian baru bagi anak-anak yang terkategorikan 70% tadi, yaitu menjadi pemain baseball.

Di Jepang, baseball menjadi olahraga yang barangkali sangat diminati, selain sumo dan sepak bola. Saking ngetopnya, ada museum baseball, di area Tokyo Dome. Klub-klub baseball dari anak-anak hingga kakek-kakek pun ada. Setiap berangkat kerja pagi hari, Sabtu, saya biasanya berpapasan dengan rombongan anak-anak SD yang berseragam baseball lengkap membawa tas-tas besar yang kelihatan tak seimbang dengan tinggi tubuhnya. Anak-anak dan juga orang tuanya punya mimpi yang sama suatu saat bisa menjadi superstar layaknya Ichiro Suzuki, Matsui, atau Shinjo yang walaupun sudah mengakhiri karirnya di klub Nippon Ham-Fighters (Hokkaido), tetap saja laku nampang di entertaiment (kebetulan saja wajahnya memang layak pampang).

Kompetisi baseball yang paling mengeruk penonton dan mendatangkan keuntungan besar bagi perusahaan-perusahaan yang mensponsori klub2 baseball tentu saja liga baseball profesional yang sudah dimulai sebelum perang meletus (1936), dan berlanjut hingga kini. Selanjutnya kompetisi baseball tingkat SMA yang dimulai sejak tahun 1915, dan biasanya diselenggarakan 3 kali, spring, summer, dan fall. Biasanya pencari pemain berbakat mulai berkeliaran di musim-musim kompetisi SMA. Kompetisi tingkat universitas sebenarnya ada juga, tapi tak setenar kompetisi SMA. Kompetisi universitas belakangan ini menjadi agak heboh karena kehadiran si hankachi Saito Yuki yang bermain untuk Waseda University, yang sebelumnya sudah menjadi icon ketika dia bermain di liga SMA.

Bagaimana anak-anak SMA dipersiapkan untuk menjadi pemain baseball pro ? Bisa kita tengok salah satu contohnya, SMA Chukyo di Nagoya. SMA ini tergolong SMA swasta yang cukup mahal SPP-nya dan termasuk sekolah mewah yang banyak diminati calon artis atau olahragawan. Tercatat Miki Ando dan Asada Mao, dua ice skater dunia yang belajar di sini. Miki Ando sekarang melanjutkan ke Chukyo University, satu yayasan dengan SMA Chukyo. Tim baseball SMA Chukyo tercatat sebagai tim yang paling banyak mencatat kemenangan di turnamen musim panas Koshien, tapi tahun ini kurang sukses.

Penggemblengan siswa SMA Chukyo dalam klub baseball sekolah tidak main-main, bahkan ritme berlatihnya mirip dengan klub-klub pro. Bedanya barangkali mereka masih perlu masuk kelas untuk belajar matematik, sejarah, bahasa Jepang, bahasa Inggris, dll. Dalam situsnya disebutkan mereka latihan 4 jam sehari dari Senin hingga Jumat dan 7 jam di hari Sabtu, Minggu atau hari libur. Disiplin yang ditanamkan juga bukan ala kadarnya terlihat dari penampilan pemain yang berambut plontos bak anggota militer dengan sikap tegap dan badan kekar-kekar. Senioritas, kewajiban menghormati kakak kelas/senior juga harus ditegakkan. Biasanya jika mereka naik kereta bersama, jika hendak turun para junior harus membungkuk dengan sigap, dan dengan lantang berteriak `otsukaresama deshita`, yang kadang membuat penumpang lain terkesima.

Begitulah, pemain-pemain baseball Jepang yang mendunia saat ini digembeleng di sekolah-sekolah yang jelas mengetahui talenta mereka. Sekolah-sekolah seperti ini berhasil membantu siswanya menemukan impiannya di masa mendatang, sekalipun otak mereka tak bekerja dengan cepat di bangku-bangku kelas, tapi otak mereka berputar dengan sangat cepat di lapangan-lapangan baseball.

Mereka adalah orang-orang pintar di bidangnya, juga orang-orang muda Jepang yang penuh semangat sebagaimana dinyanyikan di sini.

Iklan
  1. Matur nuwun Mbak. “Rikuesto” saya dikabulkan :-D. Mdtk, MSR

    murni : matur nuwun juga idenya

  2. Jarang ya Bu yang ingin jadi guru?

    murni : negara mana ya, yg orang mudanya kebanyakan pengen jadi guru ? 😦

  3. Mungkin anda tertarik untuk bergabung – berpartisipasi dan berkontribusi ❗
    Ditunggu – Merdeka 😆

  4. kalau nggak bisa jadi dr, jadi lawyer aja, atau jadi blogger aja sekalian bu… 🙂

    hehehe…blogger kelihatannya akan menjadi profesi menarik

  5. ibu, mohon maaf mau tanya. apakah di jepang ataupun negara “maju” lainnya ada seleksi untuk mengetahui bakat sejak dini, sehingga bisa mencetak banyak orang yang ahli di bidang masing-masing yg sesuai bakatnya tersebut? bagaimana mereka melakukannya? terima kasih banyak, saya menilai ini sangat penting

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: