murniramli

Pisang, mamak dan bapak

In Serba-serbi Indonesia on Agustus 3, 2007 at 9:06 am

Pisang adalah makanan pengganjal perut yang paling enak di pagi hari bagi saya yang harus berangkat kerja pagi-pagi.  Pisang bisa menggantikan sebuah `onigiri` (lemper) dan juga segelas susu.  Saking gemarnya makan pisang, kalau harganya lagi murah, saya bisa bekal beberapa pisang ke kampus dan menyantapnya di waktu tea break (sekitar jam 4-an).  Selain mengenyangkan, pisang juga mengandung antioksidan yang katanya bagus untuk kesehatan.

Baru saja saya telepon mamak yang baru sampai dari kampung kami, Makassar, setelah selama dua hari saya was-was, karena kapal yang beliau tumpangi mengalami keterlambatan.  Khawatir juga karena semalam, taufan melanda Jepang selatan yang kekuatan anginnya hingga mengambrukkan sepeda-sepeda di Nagoya yang berada di Jepang tengah.  Ah, padahal anginnya mungkin tidak sampai ke laut Sulawesi 🙂

Seperti biasa pulang kampung selalu berarti bawaan banyak, apalagi kalau bukan oleh-oleh khas yang kata mamak susah didapat di Jawa.  Salah satunya gula merah dan ragi tape.  Gula merah dari kampung kami asli dari enau/aren, tidak dicampur kelapa atau bahan lain, seperti yang sering saya dapati di Bogor.  Saya pernah diajak paman ke hutan untuk mencicipi gula merah setengah jadi yang dioleskan ke pelepah batang pisang. Walaupun itu kenangan ketika masih SD, saya masih ingat rasanya yang manis segar.  Saking doyannya dengan gula merah, biasanya kalau lapar, saya gemar sekali menyerut gula merah dan memakannya langsung 😀

Makanan yang dicampur dengan gula merah menurut saya semuanya enak 😀  Dan mamak tahu betul ini.  Setiap menelepon jika hendak pulang kampung, mamak selalu menanyakan mau makan apa ?  Dan saya pasti menjawab, makanan khas daerah kami : `baje utti` (kolak pisang kental) atau `bolu peca/bolu sumbawa`.  Keduanya menggunakan gula merah.

`Utti` atau pisang bagi keluarga kami termasuk makanan sekaligus tanaman yang cukup kami akrabi.  Pisang di daerah kami sangat beragam jenisnya, mulai dari yang pendek-pendek (utti pance) yang bisa sekali telan sebijinya, hingga pisang yang panjang-panjang, yang warnanya kuning, hijau, hingga merah hati, bahkan hitam.

Ketika bekerja di lab.kultur jaringan Darul Fallah yang memproduksi bibit-bibit pisang secara kultur, saya agak paham dengan seluk beluk pertumbuhan pisang, tapi kalau pulang kampung, saya pasti kalah dengan bapak yang tahu betul liku-liku menanam pisang.  Kami punya kebiasaan yang agak unik : mengoleksi bibit pisang.  Karena bapak gemar menanam pisang, maka setiap saya ada kesempatan ke luar mencari bibit pisang, saya pasti menyempatkan membawa satu atau dua bonggol bibit pisang untuk bapak.  Saya pernah sampai pingsan di dekat danau Sarangan (Tawangmangu, Magetan) ketika harus menuruni dan mendaki gunung demi mendapatkan bibit pisang sarangan yang katanya ueenak.  Setelah ditanam bapak di halaman rumah kami, ternyata rasanya hampir sama dengan pisang emas.  Juga pernah tersesat di Yogya, ketika harus mencari pusat pembibitan pisang.

Di antara semua pisang-pisang yang ditanam bapak, kami sekeluarga paling doyan dengan `utti dadi` yang asli Sulawesi.  Pisangnya tidak terlalu besar, agak bergetah, dan muaanniis sekali.  Adik saya bisa menghabiskan sesisir dalam sekejap 😀

Daerah kami pun sangat terkenal dengan penganan pisang, mulai dari pisang bakar, pisang ijo, pallubutung, pisang epe, doko-doko utti (nagasari), hingga barongko.  Yang terakhir ini yang paling nikmat dimakan ketika berbuka atau lebaran 😀

Saya beruntung pernah mencicipi banyak jenis pisang, rupa-rupa penganan pisang, bahkan belajar seluk beluk tanaman pisang.  Pisang di Jepang yang biasa saya makan mulus-mulus kulitnya, manis rasanya, tapi rasanya tetap beda dengan pisang burik yang selalu kami makan di Indonesia.  Pisang berkulit burik sebenarnya bekas gigitan serangga, makhluk yang diciptakan dengan indera penciuman tajam untuk mengecek mana pisang enak mana yang tidak enak 😀  Jadi sebenarnya pisang burik adalah pisang yang sangat alami dan enak.  Sedangkan pisang mulus adalah pisang yang dibungkus rapat agar tak didatangi serangga, bahkan mungkin dipelihara di rumah-rumah kaca.

Begitulah kalau lagi kelaperan dan kangen masakan rumah…..  😉

  1. Hahaha… sama dong Bu, saya juga doyan pisang. Sekarang pun sering beli pisang, buat ganjel perut. Tapi sayang, muahal-muahal… hehe… 😀

    Btw, banyak jenisnya banget ya pisang itu. Setahu saya cuma (di daerah saya, cuma beberapa. Ah ga usah disebut).

    murni : di Belanda pisang harganya berapa ?
    Di Jepang, 2-3 biji harganya 198 yen-270 yen. Muahaal, tapi kalo dah ngiler ya…beli juga 😀

  2. Harga Pisang malah makin menjadi – jadi. jangan – jangan sebentar lagi malah menyamai harga buah duren (Ngawur). Saya juga suka pisang. 😀

    murni : Pas pulang kemarin saya ngga sempet cek harga, krn kami panen pisang kebun. Berp harga pisang sekarang ya di Indonesia ?

  3. Jualan pisang aaah.

    murni : beli aah 😀

  4. kira-2 sepadan seperti …dikisahkan Bu Murni….
    Pisang berkulit burik sebenarnya bekas gigitan serangga, makhluk yang diciptakan dengan indera penciuman tajam untuk mengecek mana pisang enak mana yang tidak enak 😀 Jadi sebenarnya pisang burik adalah pisang yang sangat alami dan enak. Sedangkan pisang mulus adalah pisang yang dibungkus rapat agar tak didatangi serangga, bahkan mungkin dipelihara di rumah-rumah kaca.

    Apa yang sulum =mulus, [bahasa dipakei arema= arek malang] … ternyata ta’ seni’mat yang burik / blirik , itu berkonotasi cacat lho bu murni….
    [buat ibu-2/penggemar belanja atau buat team purchase order dept. supermarket buah, ini pengetahuan baru lho…., sebaiknya masuk dalam daftar kriteria baru cara pilih kelas/ grade mutu pisang ya] …..

    pisang burik masuk grade teratas, diatas cavendis.
    kisah Pisang Burik setara dengan, Kopi Luwak ….
    dimana daging buah kopi matang pohon, & lolos dari jemari-2 lumer gadis pemetik biji kopi di kebun, disantap makhluk bernama Luwak…..
    lha…karena bijih kopi itoe teramat keras… & tak tercerna dg baik dalam usus luwak ini… akhirnya keluarlah bersama … hasil fermentasi. {maaf.. sst}
    tahinya… hehehehe….
    mau tahu rasanya…kopi luwak…. ehm…ehm sangaaat uuenakk harum dan… tak terlupakan

    komoditi ini sulit dijumpai & terbatas, otomatis mahal sekali [hanya mereka yang beruntung bae mendapatinya]

    atau pemilik kebun [rekayasa non alami nih]
    membiarkan kopinya gak dipetik sampai bener-2 tua & piara luwak liar, di sekitar kebon sambil ; asal sang luwak kagak makan ayam piaraan pekerja kebun saja hahahaaa…. [bisa-2 mati di endrin itoe loewak]

    Luwak [javanese] = musang [melayoe]
    ada pepatah jawa mengatakan,
    “luwak mangan tales, awak yen lagi apes” alias
    musang makan daun talas, badan kalau lagi sial

    kiranya berbeda sama kriteria orang ya….???
    sulum prioritas teratas baru yang burik kali hehehe …..
    analogi hati orang & buah-buahan… hehehe….
    buah kedondong mulus luarnya berduri dalamnya
    buah rambutan berambut luarnya,mulus dalamnya

  5. di Ternate Maluku Utara, psang goreng dimakan berteman sambel … des pedes rek! ha ha

    murni : wah ini lebih enak lagi. Di kampung saya pisang setengah mateng rebus juga dimakan dengan sambel terasi. ueeenaaak

  6. Pak Ardi :
    saking penasarannya dg kopi luwak, teman2 Jepang saya minta dibeliin di Indonesia. Tapi saya sendiri belum pernah liat di supermarket. Di mana belinya ya ?

  7. walah… itu sama juga harus berburu mencari jejak swara Mister Luwak yang lagi “meringis” sambil pamer giginya yang putih bersih [tanpa pasta gigi] karena “mules”, dibuang tuh kan biji kopi yang keras-2 begitu ; jadi buang hajatnya itoe ya gak jauh-2 sih ….

    lha nanti kan bakalan ketemoe apa dicari biji-2 kopi berceceran di tanah .. = kopi luwak .. hehehe
    [hasil oahan fermentasi enzim-2 dalam reaktor alami, organ internistnya mr.&miss or misses luwak]

    lha sekarang bagaimana dimana musti dicari…?? ; ya di perkebunan dan pesan sama Mandor kebon atau siapa saja buruh petik yang menemukannya, mau dibeli mahal sama kolektor…. hehehe…
    [karna, lebih suka dini’mati sendiri, kalau belum rizki ya nggak ketemoe begitu, komoditi langka, bukannya gak ada lho] bu

    bagaimana…. masih mau mengikuti luwak sakit perut hahaha….. tantangannya itoe lho mengasyikkan…

  8. Wah jadi pengen juga nyicipin ‘baje utti` mamaknya mbak murni…he..he..kalo go home ke Madiun bilang2 ya mbak.. biar saya bisa ikutan maem makanan favoritnya (^-^) …siapa yang ngundang yach???..tapi sayangnya neh nggak tahu rumahe mbak Murni Madiun sebelah mana yach ???
    Best regards from Madiun.

    murni : wah, tak menyangka ada komentar dari Madiun 😀
    Rumah saya di jalan salak, Mba.
    Mba Heni tinggal di mana ya ?

  9. Heni di jalan merapi mbak…ternyata nggak hanya satu kota nich…setelah baca semua (hampir semua deng…) isi blognya mbak Murni kayaknya kita satu angkatan lho di smp 1 dan sma 2 itu kalo mbak murni lulusan smp tahon 87, so lulus sma tahon 90 an ya?. Saya bener-bener salut ama mbak rasanya udah maju banget…jadi mikir kemana aja yach saya selama ini he…he… Saya juga berkecimpung di dunia pendidikan mbak tapi di kantornya…dan alhamdulillah ini sekolah lagi di malang karena dapat beasiswa. Boleh ya mbak blognya saya link ( sambil narik2 baju maksa…) biar saya bisa discuss and nanya2 ke mbak soal pendidikan soalnya bentar lagi mo nulis thesis, syukur2 ngasih masukan he..he..

    murni : ya, mestinya seangkatan 😀
    Kapan2 kalo saya ke madiun, saya kontak.
    Wah, saya malah yg bisa belajar banyak nih dr orang yang sdh berpengalaman di lapang.

  10. Eh bener ya mbak..kalo mudik lagi saya dikabari ya? Pasti seru bisa ngobrol langsung and asyiknya lagi biasa nimba ilmu and ‘berguru’ ma mbak murni yang luas banget wawasan and ilmunya utamanya di bidang pendidikan. Berpengalaman di lapangan?? nggak juga mbak..sepanjang berkaitan dengan sdm guru di Kota Madiun, saya ngerti dikit-dikit.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: