murniramli

Siapa yang ingin jadi bos ? Alternatif liburan musim panas untuk SD

In Pendidikan Jepang, SD di Jepang, Serba-Serbi Jepang on Agustus 7, 2007 at 11:06 am

Menjadi sachou (bos) atau mendambakan ayah atau ibu seorang sachou nampaknya merupakan impian sebagian anak di Jepang. Itu terlihat dari acara sebuah channel TV di Jepang kemarin pagi.

Seorang sachou sebuah toko gyousa menawarkan sebuah kegiatan menarik bagi anak-anak. Sayang saya lupa tempatnya di mana. Kegiatan itu berupa menantang anak untuk menjadi sachou atau mencoba peran sachou. Sekitar 20 anak bergabung dengan kegiatan ini. Daripada bosen di rumah main play station mulu lebih baik ikut yang beginian 😀

20050725.jpgAcaranya dikemas sebagai berikut : Pertama, anak-anak diminta membuat `gyousa` (makanan khas China, semacam `jalangkotek` kalau di Makassar). Akan dipilih 2 pemenang, yaitu pemenang berdasarkan bentuk gyousa, dan pemenang berdasarkan rasanya. Selanjutnya kedua pemenang akan menjadi sachou. Anak-anak selanjutnya dibagi menjadi 2 team berdasarkan dua orang `sachou` pemenang tadi. Selanjutnya mereka diberi kesempatan memasarkan gyousanya dan dilombakan lagi berdasarkan jumlah gyousa yang terjual.

Anak-anak kemudian pulang ke rumah, mencari informasi tentang cara membuat gyousa di internet, lalu menggambar dan merancang gyousa yang menurut mereka layak jual. Seorang anak bernama Karina, membuat gyousa dengan bentuk yang tidak lazim, agak bulat lalu tepinya dilipat seperti gyousa pada umumnya. Isi gyousa yang biasa dijual adalah daging, sayur atau udang. Karina menggunakan ampas tahu sebagai isi. Seorang anak yang lain bernama Maria, yang ayah dan ibunya adalah seorang sachou juga, merancang gyousa berisi `chaahan` (nasi goreng ala Jepang) plus permen 😀

Anak-anak memang kreatif sekali kalau disuruh mencipta. Saya teringat adik laki-laki saya yang membuat sambel terasi yang dicampur syrup atau mengaduk telur dadar dengan kecap di penggorengan, ketika dia masih SD kelas 1, dan sekarang kegilaannya masih dipelihara, misalnya membuat sambel dari tulang ikan kering 😀

Hari berikutnya, anak-anak berkumpul untuk membuat gyousa yang selanjutnya akan dinilai oleh team juri. Saat penilaian, peserta duduk berhadapan dengan Pak Sacho gyousa yang bertindak sebagai juri, sambil ikut mencicipi gyousa buatannya dan menjawab pertanyaan juri. Pemenang berdasarkan kriteria bentuk, adalah gyousa-nya Karina, sedangkan berdasarkan rasa, seorang anak laki-laki yang membuat gyousa dengan bahan dari laut, saya tak begitu jelas.

Selanjutnya anak-anak bekerja secara team dibawah komandan 2 sachou cilik. Terlihat sekali kemampuan kerjasama team anak-anak Jepang yang sangat bagus, dengan mudah sekali mereka merasa satu dan segera menyesuaikan diri dengan bosnya dan mulai merancang bagaimana membuat iklan untuk penjualan besok.

Keesokan harinya, anak-anak diajak ke pasar tradisional dan dipersilahkan menjajakan gyousa-nya di sebuah warung kecil. Waktu penjualan dibatasi. Tahap 20 menit pertama, tak ada penjual yang datang. Mungkin karena anak-anak menjual secara bergerombol, sehingga pembeli tak mengira kalau itu benar-benar jualan 😀 Akhirnya dewan juri meminta agar anak-anak berpencar membawa kertas iklan yang mereka buat dan menggiring pembeli ke tokonya. Seru sekali melihat anak-anak kecil menjajakan dan membujuk pembeli dewasa untuk datang ke tokonya. Karina yang menjadi sachou pun terlihat sebagai orang yang paling bersemangat memasarkan jualannya, paling kuat berteriak dan berjalan kesana kemari. Skor akhir penjualan, 35 untuk team Karina, dan lawannya menjadi pemenang dengan keberhasilan menjual 42 gyousa.

Dari acara mengisi liburan musim panas ini, anak-anak tadi sudah belajar bahwa menjadi bos ternyata tak gampang. Tidak sekedar profesi yang diterima sebagai warisan dari ayah atau ibu, kakek nenek, seperti yang sering digambarkan di drama TV. Menjadi sachou pun bukan berarti orang yang mengenakan baju jas rapih, berdasi dan duduk di ruang berAC, di kursi yang empuk dan nyaman, tetapi bos harus turun ke lapang, bos harus tahu bagaimana membuat dan memasarkan jualan. Supaya dia tahu bagaimana harus menghargai karyawannya kelak.

Iklan
  1. Saya juga ingin jadi bos! hehe… 😀

    murni : iya deh. Ikut summer school dulu atuh 😀

  2. Aduh maaf bu, lupa.. (salah deh.) 😀

  3. Mbak, di Edoku-Tokyo, tepatnya tempatnya bernama Kidzania http://www.kidzania.jp/ anak2 juga bisa merasakan langsung nikmat maupun usahnya kerja. Nyata, mulai dari jadi tukang pizza, pegawai bank, dokter gigi, perias wajah, pembawa acara dll. Komplit! “Naritai oshigoto ni charenji wo!” Mungkin bisa dimodifikasi untuk dikembangkan model bisnisnya di Indonesia :-P.

    Maaf dan nuwun, MSR

    murni : hmmm yg di Edoku-Tokyo memang pernah ditampilkan juga, Mas di salah satu channel. Itu juga menarik banget. Tp yg disiarkan 2 hari yg lalu itu di luar Tokyo, dikelola oleh seorang boss gyousa.

    Btw, u pengembangan bisnisnya di Indonesia OK juga, tuh hehehe….

    matur nuwun infonya, Mas

  4. hehe..
    asyik juga.
    waktu SD saya juga pernah jadi sacho loh mbak..^-^
    smua kaka saya juga pernah.
    kaka tertua dan ke dua pernah bawa nampan berisi macam2 gorengan ke sekolah, menggoreng, menyusun sebelum berangkat sekolah, membawa ke kantin sekolah lalu ketika jam istirahat, menjualnya bareng dengan mbak2 di kantin. Suer keda kaka tertua saya itu nggak ada gengsi2 nya. sd sekarang saya salut banget sama kegigihan mreka ingin menyekolahkan anak2nya setinggi2nya..^-^

    Tapi pas giliran saya, si bungsu. suatu hari mamah beli kulkas. lalu meminta saya bantu bikin es yg dimasukin palstik2 itu loh. Nah..saya pikir saya cuma diminta bikin doang, walo ikat an tali di plastik esnya rata2 kedodoran nggak kayak ikat an mamah yg kenceng2. Ehh…tau2 saya juga disuruh membawa termos gede itu dan menjualnya ketika istirahat sekolah. Waduhhh..mbak aku malu euyy saat itu. Pas brangkat termosnya ta tempeli koran jadi gak ketauan itu termos es. pas jualan aku pura2 juga lagi jajan di kantin alias nggak nungguin termos nya. tapi cukup ngawasin doang dari jauh berapa org yg ngambil es dan masukin receh 10 perak an ke kotak yg saya sedia in. Hihihi…brarti belon jadi sacho beneran yah?…Hihi tapi suer kalo inget suka ketawa sendiri. Hmm…kalo mamah nggak ngajarin prihatin begitu mungkin saya nggak akan pernah berani melangkah sampe sini mbak ya?..(walo sampe skarang masih juga sering maju mundur huheheh)

    murni : pantes ngedagangin kerudung malu-malu hehehe….

  5. emang mental anak2 harus dilatih mulai dari waktu kecil,

    jangan rajin marahiiiiiiiiiiin trus…..

    bagus tuh cara nya

    murni : kalo dimarahin mulu, besarnya jadi pemarah ya, Pak 🙂

  6. Learning by doing. Betapa anak-anak Jepang mampu merasakan betul bagaimana sulitnya perjuangan seseorang dalam cita2 untuk jadi bos. Hal yang amat kontras dg di Indonesia. Sejak kecil biasa jadi kolokan, kalau dah dewasa mencoba belajar jadi koruptor, he3x.

  7. itu semua dalam kerangka “proses pembelajaran” bekal hidup bagi anak kelak, dia besar nanti akan
    mengalaminya juga [life skill], rasanya diajarkan juga di Indonesia dengan modifikasi metode agak beda :
    di jepang barangkali, coba di “lakukan & rasakan”
    di indonesia saya kira, bisa di “katakan & ingat-2”
    di negeri entahmana ya, “keduanya dijalani saja”

    dua metode agak beda sedikit …. lama-2 hasilnya jadi bukit jurang konsekwensi perbedaan nyata benar hasilnya hehehe….
    ada yang pandai bikin cerita juga berita wal acara
    ada yang suka bekerja & mewujudkan karya nyata
    ada yang menggabungkan ke-2-nya dalam 1 jiwa

    kepribadian terbelah [-] ada rangkain/mandiri :
    ya diketahui – brenti disini sbg. memori otak
    ya dipelajari – brenti disini sbg. kebutuhan hati
    ya dilakukan – brenti disini sbg. kebutuhan hidup
    boleh di golongkan sekuler [munafiq]

    kepribadian utuh [terangkai] dalam satu untaian :
    ya diimani- ya dipelajari – ya dijalani
    bisa di golongkan muslim, karena memang itulah
    seharusnya dilakukan oleh setiap insan manusia.

    knapa bisa terjadi demikian … ya terhitung lumrah,
    pertama: [unsur berpengaruh] oleh budaya /pengalaman/ misi moral pendidikan diajarkan & diperoleh… bisa membentuk sudut cara pandang seseorang.. berkepribadian… gak ber kepribadian [stateles]/terbelah/ganda/atau malah utuh?

    kedua : situasi & kondisi mungkin terlaksana
    [lebih ke “alasan” jurus ampuh mengelak & selamatkan diri saja hehehe] …

    ketiga : barangkali sudah bisa diramalkan bentuk
    akhir pola didik dilakukan departemen pendidikan indonesia itu bagaimana ….akhirnya bagi peserta didik dan para investor pendidikan [orang tua siswa] sedari dini …….
    dimulai dari mempelajari “sentilan”-2 trend blog-nya bu Murni ini ya…

    hikmah ekses dr. “BUAH namanya PENDIDIKAN”
    bagi seseorang ; walau gak harus makan sekolahan.
    maap saya sbenarnya ngelu+ngilu+ngalih wal ngeri. alhamdulillah walau belum mampu “melakukan” masih diberi kesempatan bisa “merasakan”, dan mencoba bertanam bibit akar rumput hidup buat bekal kelak di kemudian hari ditanya Oleh-NYA.

    karna beban moral & tg.jawab seorang digaji sebagai guru berat sekali berbanding terbalik
    dengan pendapatannya… berbuah kelak d Sorga
    kelama’an .. hehehe, sekarang maunya serba instant
    kalau instant hadiah/imbalan-NYA semua suka
    kalau instant ukuman/oleh-oleh-NYA ya nanti

    kagem bu murni
    matur nuwun telah menyentil inspirasi kecil, namun eksesnya luar biasa [mau buruk/baik] kelak.
    Seperti kepak sayap kupu kecil di Beijing,
    menimbulkan [badai] tornado di New York…

    maap kayake ndak nyambung ya…. sama toelisan
    wah sampun sudah kesasar kie…

  8. Saya mau jadi hancho aja mbak.
    Salam kenal ya mbak….Yoroshiku onegaishimasu.

    murni : salam kenal juga, kochira kouso

  9. […] https://murniramli.wordpress.com/2007/08/07/siapa-yang-ingin-jadi-bos-alternatif-liburan-musim-panas-… ▶ Belum Ada Tanggapan /* 0) { jQuery('#comments').show('', change_location()); jQuery('#showcomments a .closed').css('display', 'none'); jQuery('#showcomments a .open').css('display', 'inline'); return true; } else { jQuery('#comments').hide(''); jQuery('#showcomments a .closed').css('display', 'inline'); jQuery('#showcomments a .open').css('display', 'none'); return false; } } jQuery('#showcomments a').click(function(){ if(jQuery('#comments').css('display') == 'none') { self.location.href = '#comments'; check_location(); } else { check_location('hide'); } }); function change_location() { self.location.href = '#comments'; } }); /* ]]> */ Klik di sini untuk membatalkan balasan. […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: