murniramli

Anak gemuk bukan salah dia

In SD di Jepang on Agustus 9, 2007 at 12:30 pm

Di sebuah channel TV dikabarkan bahwa tingkat obesitas anak-anak Jepang meningkat drastis belakangan ini. Tapi ini bukan karena gejala keinginan menjadi pesumo yang melegenda, tetapi kebiasaan makan dan nyemil yang tidak terkontrol.

Pernah pula ditayangkan seorang anak SD yang mengalami obesitas karena kebiasaan makan yang over. Di rumah, sewaktu makan siang dan malam, kegemarannya mengkonsumsi ayam goreng tak bisa dikendalikan, alhasil dibandingkan dengan sebayanya, tubuhnya kelihatan tak proporsional.

Untuk mengatasi kegemukan anak, orang tua bukanlah pihak yang harus bertanggungjawab melaksanakan diet ketat untuk si anak, tapi sekolah pun harus bekerjasama. Sebuah tayangan di TV memaparkan bagaimana sekolah-sekolah di Jepang bekerjasama dengan rumah sakit setempat mencatat dan merekam perkembangan tubuh anak. Anak-anak yang mengalami obesitas harus mengikuti pola makan dan olah raga yang dianjurkan dokter di bawah pengawasan ketat orang tua di rumah dan guru di sekolah.

Saya teringat seorang cucu kenalan saya yang tinggal di Bogor begitu gemuk dan susah bergerak karena diberi makanan yang amat bergizi. Sarapan dengan campuran labu, salmon, brokoli, kentang yang diblender, kemudian sedot susu. Makan siang hampir sama, plus buah. Makan malam saya tak begitu tahu karena malam hari biasanya si bayi diasuh ibunya yang baru pulang bekerja sore hari.

Berapa sebenarnya berat badan ideal, berapa banyak kalori yang harus kita konsumsi untuk mempertahankan bobot ideal, dan sebagainya informasi yang berkaitan dengan kesehatan anak merupakan pengetahuan yang mesti diketahui ibu dan pihak sekolah. Sekolah tidak hanya merancang pelajaran yang harus diberikan kepada anak, tetapi juga harus merancang kegiatan bermain yang bisa membakar energi, olah raga yang menguras keringat dan melatih motorik anak, seperti lompat tali (saya paling jago pas SD dulu  😀 ), panjat memanjat tebing/tali temali, lompat kuda-kudaan, dll.

Di Jepang anak-anak TK dan SD sejak dini dilatih untuk bisa bermain salto di tiang yang diatur ketinggiannya. Dengan berpegangan di tiang yang dipasang memanjang, mereka harus melempar tubuh ke atas, bertumpu di kedua tangan kemudian membalikkan tubuh, memutari tiang memanjang yang dipegang dan kembali ke posisi tegak. Anak-anak yang mengalami obesitas tentu saja kesulitan melakukan ini, bahkan kadang membuat frustasi dan minder.

Sewaktu mengajar di TK Iwakura, saya sering dipaksa anak-anak TK untuk melakukan hal yang sama, mereka tak mau tahu kalau saya sudah tua  😀 , yang mereka lihat hanya badan saya mungil seperti mereka. Terpaksa dituruti dan tentu saja tak berhasil, hanya sukses melempar badan setengah lingkaran, dan tak bisa memutari tiang 😦

Berat badan normal dihitung dengan rumus yang gampang sekali ( TB-100) x 1 kg, atau bobot badan ideal dihitung pakai rumus Broca : 90% x (tinggi badan-100) x 1 kg. Adalagi penghitungan Indeks massa tubuh yang dihitung dengan rumus berikut BB (kg) : TB (m2). Yang memiliki IMT 18,5 – 22,9 dianggap normal.

Supaya tubuh mencapai keriteria normal atau ideal lagi tetap sehat apakah harus diet ketat, misalnya menghentikan makan nasi, ayam goreng, bakso, atau makanan yang enak-enak lainnya ? Kata ahlinya sih tidak juga, tapi harus mengatur asupan kalori ke dalam tubuh. Kebutuhan kalori dasar orang dewasa sekitar 25-30 kalori per BB. Angka ini bagi yang tidak aktif, tapi bagi pekerja berat kebutuhan kalori bisa mencapai 35-40 kalori/BB.

Nah, makanan apa yang harus dimakan supaya memenuhi kalori itu ?

Di Jepang agak mudah menghitungnya karena setiap produk yang dijual semuanya dilengkapi dengan berapa banyak kalori yang dikandungnya. Misalnya es krim macha (teh hijau) yang saya makan untuk berbuka hari ini mengandung 309 kcal. Bahkan donut-donut yang dijual di mister donut pun bisa diketahui berapa kalori yang dikandung melalui situs mister donut.

Supaya yang mengalami obesitas tidak sesak lagi bernafas, maka tidak dianjurkan untuk terpengaruh iklan-iklan di TV yang menawarkan menu pengurusan yang cepat. Program pengurusan yang ideal adalah berkurang 2-4 kg per bulan. Jadi tinggal diatur makannya, misalnya sarapan dengan tahu, telur rebus, dan susu non fat. Makan siang dengan 3-4 sendok nasi atau 1 onigiri/lemper, sayur, plus sepotong ikan/daging/tempe/tahu. Makan malam tanpa nasi, tapi sayur dan lauk saja plus buah. Lalu dilarang keras ngemil sambil nonton TV sesudah jam makan malam (jam 7-9 malam). Wah, ini yang menyiksa 😦

Untuk orang dewasa yang tidak bisa mengontrol pola makannya dianjurkan mengikuti program diet di bawah pengawasan dokter, sedangkan anak-anak yang belum tahu menghitung bobot badan ideal atau mengecek kalori makanan yang diemilnya, orang tua dan guru harus bekerjasama mengatur pola makannya di rumah dan di sekolah.

Kalau sudah ada kerjasama yang baik antara pihak sekolah dan rumah mengenai perkembangan fisik anak, maka semuanya akan merasa nyaman. Selanjutnya tinggal bekerjasama mengawasi perkembangan otak dan batin/perilakunya.

Iklan
  1. …kemudian sedot susu.

    hehehe…, maaf (^_^)
    membaca itu saya jd geli karena koq sepertinya si anak nyedot langsung ke sapi ato kambing

    maaf.. maaf,
    adi.n

    murni : hehehehe….ini bukti bahasa Indonesia yang kaya makna 😀
    sedot = satu dot , menyedot
    kayak ini juga : beruang = mempunyai uang , beruang

  2. Coba deh saya hitung berat badan ideal saya:

    (169 – 100) x 1 = 69 kg. (Alhamdulilah saya normal euy…) 😀

    Tapi, kalo dihitung pake rumus yang satunya lagi, kelebihan sedikit euy… (gpp lah cuma sedikit).

    “Sedot susu-nya, sedot susu-nya, …,…,….

    haha… 😀

  3. o.., ternyata satu dot susu (^_^)

  4. Wah rumus berat badannya cuma buat yang udah gede ya mbak alias yang tinggi badannya udah lebih dari 100 cm, soalnya mau ngitung berat badan ideal my baby nggak bisa dech…tingginya kan baru 71 cm. So kapan2 kalo ada nemu rumus buat anak or baby di posting ya mbak…pasti dech saya pembaca pertamnya he…he…(maunya sih).

    murni : Mba Heni, saya ndak perlu nulis lagi ttg ini, karena ketemu ahlinya yg nulis di sini :
    http://geasy.wordpress.com/2007/06/15/menghitung-berat-badan-ideal/

    Selamet ngitung 😀

  5. Mbak Murni thanks ya infonya bahkan udah dilink juga…dan udah dihitung ternyata my baby, her name is Zahra, berat badannya dibawah berat badan ideal tapi masih di range normal ya syukur dech ternyata masih normal wae..soalnya bulan july kemarin sering banget sakit. Sebenarnya punya panduan yang berisi segala macam about baby tapi karena terbitan luar jadi mikir cocok nggak ya buat produk Indonesia he..he..

  6. Menurut saya, mendisiplinkan makan anak baik2 saja. tapi bukan berarti menyiksa dia agar tidak memakan makanan yg umumnya `menghibur` anak2. karena pepatahnya orang Paris (yg masyarakatnya ga pernah mengalami obesitas) bilang “makanan adalah hiburan”. jadi makanan bukan kebutuhan raga aja tapi jiwa.
    Soal ngemil malam hari juga ga baik jika dilarang.
    yang baik, kita menggantikannya dengan buah2an, yg pastinya yg manis, karena anak2 suka manis.
    Dalam sebuah acara (Oprah W. Show), pernah dibahas mengenai diet anak.
    bukan mengurangi atau melarangnya memakan makanan kesukaan anak2, tapi menambahkan menu sehat untuk menetralisir kelebihan lemak ^_^
    (adik bungsu saya suka Donat & saya ga pernah mau melarang dia makan,karena kami sama2 penggemar Donat, tapi kami ga mengalami Obesitas).

  7. oya! kunjungi Friendster saya ya…!
    di
    http://www.friendster.com/kiranitaurus/

    blog… coming soon… ^_^

  8. oya! kunjungi Friendster saya ya…!
    di
    http://www.friendster.com/kiranitaurus

    blog… coming soon… ^_^

  9. Yang benar saja, guru ikut bertanggung jawab atas obesitas anak? sementara yang punya anak cuci tangan? Maaf, mungkin saya salah persepsi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: