murniramli

Karena jari tangan saya lima

In Renungan on Agustus 10, 2007 at 3:23 am

p1190031.jpg

Ada pegawai baru di tempat saya bekerja.  Seorang anak muda, kelas 2 SMA.  Pak Manajer mengenalkannya beberapa pekan yang lalu dengan pesan-pesan agar saya tak kaget, bahwa si anak memiliki ketaksempurnaan :  Jari tangan kanannya hanya 3 buah.  Kemudian kami langsung sepakat untuk memberikan pekerjaan yang agak mudah baginya.

Anak itu sangat bersemangat dan dengan kacamata besarnya kelihatan kalau dia pandai.  Ketika bertemu pertama kali saya tak berani menyuruhnya atau menegur jika dia membuat kesalahan, karena takut dia akan tersinggung.  Tapi, Pak Manajer kelihatannya sudah terbiasa menghadapi anak-anak yang seperti ini, supaya mentalnya tak jatuh, dengan bercanda dia mengukur kecepatan kerja anak itu, lalu memberi pujian sesudahnya.

Anak-anak di Jepang sangat jarang menerima pujian.  Saya pun biasanya agak pelit memberi pujian, tapi sekarang sudah agak terlatih mengatakan : `ii desu nee` (bagus !) atau `sugoi desu nee ! (hebat !).

Dua hari yang lalu saya bekerja bareng lagi dengan anak itu, kebetulan tamu membludak dan saya yang seharusnya sudah harus pulang pada jam 2 siang terpaksa ditahan, sebab tak ada orang di dapur dan si anak belum bisa diandalkan bekerja cepat.  Suatu kali saya mengajarinya melipat pie yang kelihatan sekali dia kesulitan mengerjakannya.  Tapi sesudahnya saya menyesal,karena saya cuma menunjukkan caranya dan meminta dia membuat yang serupa, padahal jelas-jelas dia tak bisa membuat sesempurna buatan saya.  Pak Manajer langsung turun tangan melipat semua pie, kemudian meminta si anak mengiris-iris saja.  Saya jadi malu.  Tapi si anak tetap membungkuk mengucapkan `arigatou gozaimasu`

Ah, lagi-lagi saya kurang peka. Maaf !

Saya teringat ketika datang pertama kali ke Jepang, saya sangat rindu masakan ikan bumbu kuning mamak, karenanya ikan saba saya beli dan potong.  Tapi karena tak hati-hati, jari tangan sayapun ikut teriris.  Perih sekali rasanya.  Selanjutnya ketika membaca buku, saya hanya bisa menggunakan 4 jari untuk memegang, rasanya aneh sekali.  Ketika mengangkat gelas, 4 jari tak sanggup memegannya dengan sempurna.  Apatah lagi si anak yang hanya mempunyai 3 jari.

Karena jari tangan saya lima maka saya bisa melipat pie dengan sempurna.  Karena jari tangan saya lima maka saya bisa mengetik tuts keyboard dengan cepat.  Karena jari tangan saya lima maka saya bisa memegang pensil dan menulis dengan indah.

Sekarang saya suka memperhatikan jari-jari tangan saya yang lima, yang panjangnya tak sama tapi jika dijejerkan maka ujung-ujungnya bisa membentuk lengkungan indah.  Setiap jari pun memiliki 3 ruas yang bisa ditekuk, yang sangat bermanfaat ketika saya menjentik semut (iseng banget !), atau ketika mengetik.  Seandainya jari tengah lebih pendek, maka mungkin fungsinya akan berkurang.  Seandainya jari kelingking atau jempol memanjang, maka dia sangat mengganggu ketika saya harus menulis.

Ah, jari-jari diciptakan sangat sempurna olehNya !

Karena jari-jari tangan saya lima, maka saya akan mempertanggungjawabkan apa yang dibuat lima jari tangan kanan dan lima jari tangan kiri itu kelak di hadapanNya.

Iklan
  1. `ii desu nee`

    murni : arigatou gozaimasu. Pak Dedi, makasih sudah menjawab pertanyaan saya. Maaf, tadi tdk di depan komputer

  2. bu murni,
    bukannya anak jepang lebih banyak dapat pujian ?

    murni : oh iya ya ? 😀

  3. Iya lho Bu, terkenal lho di Yapun, pendidikan dengan jalan memuji anak (homeru kosodate). Ini juga sering ditekankan oleh Enchou Sensei-nya anak2, “okosan tachi wo homete, homete agete kudasai”. Maaf, hanya membebek Pak Gun ;-).

    Mdtk, MSR

    murni : ya, bener. Ini termasuk bentuk reformasi pendidikan di jepang pasca perang.
    Tapi ada sebuah penelitian th 2001 yg menunjukkan data anak-anak SMP dan SMA Jepang menjawab sangat sedikit menerima pujian dibandingkan siswa dari US, Perancis dan Korea. Bahkan lebih parah lagi mereka mengatakan tidak puas dengan masyarakat sekitarnya.

    Maaf, juga hanya mbebek para peneliti itu 🙂
    Terima kasih.

  4. Mbak…kalo jari tangannya lebih dari lima gimana yach(maaf)?? Saya jadi inget anak tetangga saya, umurnya baru 2 tahun, dari sejak lahir (maaf) jari tangannya ada enam. Sama dokter diusulkan untuk dioperasi alias dibuang satu biar bisa normal dan kalo besar nanti anaknya nggak minder karena punya kekurangan (maksudnya kelebihan jari). Tapi ya itu neneknya nggak ngijinkan untuk dioperasi karena menurut sang nenek itu anugerah dari Alloh jadi ya harus diterima….Kalo udah gini gimana ya?? Soalnya temen saya itu jadi bingung mau ambil keputusan yang mana…

    murni : saya juga bingung nih, Mba.
    Bukan ahlinya soalnya 😦

    Mungkin sebaiknya minta saran ke dokter, apakah jari tambahan itu akan menganggu aktivitas si anak kelak.
    Masalah minder atau tidak ini tinggal pendidikan kepribadiannya yang harus dilakukan dg benar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: