murniramli

Bagaimana dengan sertifikasi guru selanjutnya ?

In Manajemen Sekolah, Pendidikan Indonesia on September 4, 2007 at 10:27 am

Perbincangan tentang sertifikasi tak henti-hentinya muncul di media massa, mulai dari protes guru yang kebingungan dengan proses pelaksanaannya, wakil pemerintah yang berbicara tentang rencana sertifikasi yang akan dilaksanakan, atau orang-orang ekonom yang miris dengan anggaran pendidikan yang logikanya tak bisa terpenuhi (20%), karena pemasukan negara lebih kecil daripada belanjanya. Alhasil melaksanakan sertifikasi secara berkesinambungan pun mungkin akan tersendat-sendat.

Terlepas dari kerikil-kerikil itu, saya iseng-iseng mempelajari pola sertifikasi yang sedang dilaksanakan pemerintah dan mencoba berandai-andai menyiasati pelaksanaan sertifikasi.

Memperjelas makna sertifikasi guru

Definisi sertifikasi guru harus diperjelas dulu dengan membuat batasan berdasarkan waktu dan cakupan wilayah. Ada dua jenis sertifikasi yang bisa dikeluarkan yaitu sertifikasi yang berlaku seumur hidup atau sertifikasi dalam masa waktu 10 tahun. Sehingga seorang guru yang mulai bekerja pada usia 23 tahun dan akan pensiun pada usia 60 tahun, maka dia akan mengalami setidaknya 3 kali masa pembaruan sertifikasi. Selang waktu pembaruan bisa saja 5 tahun tetapi mengingat penghematan biaya, maka 10 tahun lebih ideal.

Berdasarkan cakupan wilayah, ada dua jenis sertifikasi yaitu sertifikasi yang berlaku secara nasional dan sertifikasi yang berlaku regional. Ide ini sangat erat kaitannya dengan era otonomi daerah, yang memberikan wewenang lebih kepada daerah untuk mengatur managemen pendidikan daerah termasuk mengatur ketenagakerjaan di bidang pendidikan. Sertifikasi yang bersifat nasional dikeluarkan oleh Menteri Pendidikan dan dapat dipergunakan untuk mengajar di seluruh wilayah Indonesia. Adapun sertifikasi yang bersifat wilayah hanya dapat digunakan untuk mengajar di wilayah bersangkutan, terkait dengan wilayah di mana sertifikat itu dipublikasikan. Sertifikat wilayah juga merupakan alternatif untuk menekan pembiyaan negara terhadap proses sertifikasi dan melimpahkan kepada daerah.

Sertifikat juga harus dibedakan antara sertifikat untuk guru TK, guru SD, SMP, SMA, SMK, MA, MTs, MI, dan SLB. Sehingga pemegang sertifikat guru SD hanya boleh mengajar di SD, dan pemegang sertifikat guru SMA hanya boleh mengajar di SMA atau sekolah yang sederajat. Pemilik sertifikat ganda tidak diakui. Peraturan ini dimaksudkan untuk memberikan spesifikasi dan sekaligus memberikan kesempatan kepada guru bersangkutan untuk lebih serius mendalami dan mengenali lingkungan kerjanya.

Bagi guru-guru bersertifikat regional yang diperlukan untuk membantu pendidikan di daerah pedalaman dan daerah yang tertinggal maka diperlukan surat rekomendasi yang dikeluarkan oleh Menteri Pendidikan. Guru-guru ini harus mengikuti training untuk mendapatkan informasi mengenai kondisi tempat mengajarnya, yang diselenggarakan oleh pemerintah setempat. Oleh karenanya setiap provinsi atau kabupaten harus memiliki Pusat Pelatihan Guru, yang penyelenggaraannya dapat bekerja sama dengan lembaga pendidikan tinggi.

Menyiasati prosesnya

Pelaksanaan sertifikasi yang saat ini diberlakukan dengan fokus kepada guru SD dan guru senior akan membutuhkan waktu dan menghabiskan biaya yang cukup besar sekaligus mementahkan ijazah pengakuan guru yang diperoleh oleh lulusan sekolah guru atau fakultas pendidikan.

Oleh karenanya sertifikasi harus dilaksanakan dengan beberapa kategori, yaitu

1. Guru-guru yang merupakan lulusan IKIP atau institusi pendidikan lainnya yang sederajat berhak atas sertifikat guru, tanpa harus menjalani proses training lagi. Dengan demikian sertifikat secara otomatis mereka dapatkan tanpa harus mengumpulkan portfolio atau menulis karya ilmiah, karena kemampuannya sebagai guru telah terbukti dengan kapabilitas mengajarnya. Sertifikat otomatis ini juga diberikan kepada lulusan baru yang menjadi guru junior, dengan syarat selama menjadi mahasiswa, dia telah mengikuti praktek kerja di sebuah sekolah selama 2 hingga 3 bulan.

2. Guru-guru yang merupakan lulusan PT Non kependidikan, maka sertifikat dapat diperoleh setelah yang bersangkutan mengikuti training tentang kepengajaran dan kependidikan yang belum didapatkannya selama menjadi mahasiswa. Dan apabila yang bersangkutan telah mengikuti training serupa sebelumnya, maka dia dapat diberi sertifikat guru. Apabila guru-guru ini telah memiliki AKTA 4 maka secara otomatis pula dia berhak atas sertifikat guru.

3. Guru-guru yang belum memegang gelar sarjana harus ditangani secara serius oleh pemerintah. Guru-guru ini harus mengikuti program ekstension di LPTK yang ditunjuk, mengikuti sejumlah kuliah dengan kurikulum dan standar kredit yang sudah ditetapkan, sehingga memperoleh gelar sarjana. Selanjutnya sertifikat dapat diberikan.

4. Guru-guru senior yang dalam jangka waktu 10 tahun belum mengikuti training penyegaran sebagai guru diharuskan mengikuti training singkat sebelum memperoleh sertifikat guru.

Mana yang lebih penting Sertifikasi Guru vs Evaluasi Guru ?

Kedua kata ini saling bersinergi. Sertifikasi untuk memberikan jaminan akan kompetensi kepengajaran dan kependidikan yang dimiliki oleh seorang guru/calon guru, sedangkan evaluasi adalah suatu proses untuk menilai perkembangan kemampuan dan profesionalisme seorang guru.

Proses evaluasi guru harus dilaksanakan secara berkesinambungan, yang pelaksanaannya dapat dikendalikan dari pusat atau didelegasikan kepada pemerintah daerah. Langkah kedua lebih demokratis dan memacu kompetisi antar daerah yang akan berimbas kepada percepatan kemajuan daerah. Proses evaluasi guru yang selama ini dilakukan dengan menunjuk kepala sekolah sebagai evaluator dapat diteruskan, dan akan lebih bertanggung jawab jika evaluasi juga dilakukan oleh komponen sekolah yaitu komite sekolah dan siswa. Kriteria evaluasi mencakup teknik pengajaran, partisipasi managerial, dan kehidupan sosial guru, termasuk sikap dan tingkah laku.

Hasil evaluasi dapat dipergunakan sebagai parameter untuk meningkatkan kesejahteraan guru berupa bonus atau tunjangan lainnya. Sebagaimana disebutkan dalam UU Guru dan Dosen, pemerintah berkewajiban memenuhi pendapatan guru dan memberikan tunjangan-tunjangan.

Dengan demikian sertifikat guru dipakai sebagai surat bukti bahwa seseorang yang memegangnya berhak untuk mendapatkan pendapatan sesuai profesinya, yaitu gaji dasar guru. Sedangkan evaluasi guru dipakai sebagai alat untuk memacu kompetisi dan meningkatkan kesejahteraan guru.

Konsep pemerintah saat ini yang mengatakan bahwa gaji guru akan dinaikkan setelah mendapatkan sertifikat, penulis pikir akan berdampak kepada ketidakpercayaan karena hanya berupa premis. Oleh karenanya pemerintah harus menetapkan gaji dasar guru yang manusiawi yang berhak diperoleh oleh semua guru pemegang sertifikat guru. Adapun tunjangan dan bonus diberikan berdasarkan prestasi gemilang guru setelah dievaluasi.

Karena sertifikat guru menjadi dasar untuk memperoleh gaji dasar guru dan hak untuk mengajar, maka ada kemungkinan proses sertifikasi akan berjalan lebih cepat jika para guru terdorong untuk menempuh program pendidikan dengan biaya sendiri.

Iklan
  1. saya tidak setuju dengan pendapat Anda tentang lulusan IKIP secara otomatis bisa mendapatkan sertifikasi. Saya kira semua guru baik dari kependidikan maupun yang nonkependidikan harus ikut tahapan baik pengumpulan portfolio & karya ilmiah. Saya pikir lulusan keduanya ada kelebihan dan kekurangan, misal lulusan IKIP lebih menguasai psikologi anak dan metoda pengajaran tetapi mungkin dari segi keilmuan kurang, tetapi sebaliknya yang lulusan Fisika UNPAD atau Sosek IPB akan lebih menguasai keilmuannya.Mari kita bersaing dengan sehat tanpa ada prioritas berlebihan terhadap pihak tertentu. trimakasih

  2. Terima kasih atas komentarnya.
    Saya lulusan IPB, dan menjadi guru, tapi tak berani menjudge kalau keilmuan saya lebih drpd teman2 IKIP. Kadang2 saya malah tak tahu materi yg saya ajarkan scr detil (memang dasarnya IQ-nya jongkok 😀 ) dan banyak belajar dr teman2 IKIP

    Usulan sertifikat otomatis kpd lulusan IKIP bukan u memberikan prioritas, tp u menyiasati agar proses sertifikasi tak tersendat-sendat. Program sertifikasi u guru direncanakan akan tuntas dalam 10 tahun, tp mengingat budget pendidikan yg 20% dan APBN yg lebih besar pasak daripd tiang, maka saya tak begitu yakin bhw, ini akan berjalan mulus dalam 10 th. Sbg alternatif, saya usulkan agar lulusan IKIP yg mau menjadi guru mendapat sertifikat, krn kompetensi u mendpatkannya sdh merka penuhi dlm program belajarnya di IKIP.

    Selanjutnya hrs mulai dipikirkan juga agar program pendidikan bagi kandidat guru harus dibenahi, shg hanya bagi lulusan pendidikan guru saja yg bisa menjadi guru. Pendidikan guru berlaku bagi calon guru dr kependidikan dan non kependidikan.

    Saya lebih cenderung dg sistem sertifikasi berupa tes drpd sistem portfolio, apalagi karya ilmiah. Insya Allah akan saya tulis mengapa kedua sistem ini tak akurat u menilai kompetensi guru. Agar menghemat anggaran, sistem tes harus didelegasikan kpd pemerintah daerah.

    Usulan lain agar kualitas guru tetap terjaga dan tak ada beda antara lulusan IKIP atau IPB, maka evaluasi guru harus dilaksanakan secara ketat dan berkesinambungan.

  3. Saya setuju dengan usulan Bu Murni, tentang lulusan IKIP (sekarang sudah ganti jadi Universitas biasanya), yang langsung mendapat sertifikat. Kenapa?

    Mereka selama menempuh pendidikan di PT, calon guru dari IKIP selain mendapat materi keilmuan juga materi kependidikan yang diberikan secara terintegrasi dengan materi keilmuan. Tiap materi keilmuan yang dipelajari, selalu diinternalisasi dengan nilai-nilai kependidikan. Plus juga mereka dapatkan materi kependidian itu sendiri, di mata kuliah kependidikan dan pembelajaran. Contohnya, ketika saya belajar kalkulus (selain materi matematika saya dapatkan, juga ada nilai-nilai lain yang saya dapat, yakni nilai-nilai mendidik itu sendiri). Contoh lain, saya mendapat mata kuliah evaluasi pembelajaran matematika (jadi terkait secara langsung dengan materi yang akan kami ajar nantinya).

    Nah inilah yang membuat “beda” guru lulusan IKIP atau mantan IKIP dibanding lulusan PT lain yang jadi guru.

    Lulusan PT lain yang jadi guru, biasanya baru belajar ” materi kependidikan” untuk dapatkan akta IV. Mereka belajar tentang materi kependidikan saja, biasanya selama setahun (menimba puluhan sks mata kuliah kependidikan, yang terpisah dari materi keilmuan), sehingga nilai-nilai kependidikan itu kurang terinternalisasi. Untuk menginternalisasinya, butuh proses yang agak lama, dan perlu didasari kecintaan mendidik. Selain itu, yang cuma ngambil materi kependidikan ini, tidak praktik di sekolah lagi (karena dianggap sudah cukup. Padahal harusnya tetap perlu dilatih, walau ia sudah pengalaman jadi guru).

    Selain itu, guru yang lulusan IKIP atau mantan IKIP, sudah dilatih praktik mengajar di sekolah secara langsung. Contohnya, saya lulusan UPI (IKIP Bandung), berlatih mengajar selama satu semester di sekolah. Mungkin beda dengan LPTK lain (yang gosipnya latihan ngajarnya cuma sebulan atau dua bulan saja atau bahkan dua atau tiga minggu doang.)

    Tentang materiu keilmuan, mungkin saja benar bahwa guru lulusan PT non IKIP itu punya kelebihan. Tapi, bila mengajarnya kurang dilandasi nilai-nilai mendidik, penyampaian materi akan sukar diterima siswa. Menimbulkan kesan pembelajaran materi tertentu itu sulit. Kenapa? Biasanya, yang lulusan non IKIP itu, mengajarnya sesuai keinginannya, menganggap kemampuan siswa itu sama dengan dirinya. Ujung-ujungnya mereka ngajar dengan kecepatan dirinya yang sudah memahami materi sebelumnya. Yang sudah pandai sebelumnya. Kurang memperhatikan siswa. Kurang berempati pada siswa yang baru belajar, perlu dituntun dengan kecepatan yang proporsional. (Ini saya perlu ungkapkan. Berdasar pengalaman jadi siswa dulu. Banyak sekali teman-teman saya yang terseret-seret mengikuti gaya mengajar guru-guru semacam ini).

    Oh, iya. Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa. Kita mengajar itu sebaiknya sesuai bidang keilmuan kita. Kenapa? Ajaran agama kita (Islam) mengajarkan pada kita bahwa, serahkan lah urusan itu pada ahlinya. Bila tidak, maka tunggulah kehancurannya. Nah, jangan-jangan rendahnya mutu pendidikan negeri kita itu karena banyak masalah pendidikan di negeri kita ini tak diserahkan pada ahlinya. Misal, guru yang mengajar tak sesuai bidang keahliannya, keilmuannya.

    Mudah-mudahan menjadi bahan pertimbangan. Mohon maaf bila ada perkataan yang kurang berkenan.

    Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan.

    Wassalam

    Al Jupri

  4. Alhamdulillah, saya tertolong dengan penjelasan ini.
    Yg ngomentari bener-bener guru matematik sejati 😀 , dan murni lulusan IKIP.
    Kalau ada waktu, saya malah ingin sekolah di Universitas keguruan supaya benar-benar memahami apa itu mendidik (maksudnya mulai lagi dari S1). Sekarang sy lgsung nyemplung ke S3 pendidikan….radha-radha ga nyambung.
    Saya termasuk guru yang mengajar tak sesuai bidang studi dan sesuai bidang studi 😀 Jadi, saya ngaku deh, saya termasuk salah satu oknum yg menyesatkan dan memundurkan pendidikan kita (>_<) Ampun, Pak guru….!

    hehehe….selamat berpuasa, mohon maaf lahir bathin. Gimana cuaca di Holland ?

  5. Cuaca di Hollad sudah mulai dingin (mulai musim gugur lagi). Di Jepang gemana Bu?

    Oh, iya, maaf bila perkataan pada komentar sebelumnya kurang bijak. Saya terlalu bersemangat menuliskannya. Itu perlu saya katakan, walau “pahit” rasanya.

    Saya pikir, seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, nilai-nilai mendidik itu akan terinternalisasi dengan proses yang cukup, butuh waktu. Saya amati, dari tulisan-tulisan ibu, nilai-nilai mendidik itu sudah melekat. BAhkan saya sering belajar banyak dari tulisan ibu. (Saya sendiri sedang belajar kok, Bu…). 😀

    Oh, iya lagi. Tadi, barusan setelah saya menulis komentar sebelum ini, saya baru saja menulis tentang daun kelor (yang saya kait-kaitkan dengan matematika). Saya pikir Bu Murni kompeten akan hal ini, mohon koreksi dan masukannya Bu. Terimakasih.

    Mohon maaf bila ada kata yang kurang berkenan.

    Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan. (Saya sudah terima ucapan itu dari ibu).

    Wassalamu’alaikum

  6. Saya rasa, bukan masalah guru itu lulusan dari man. menurut saya yang paling penting bagi seorang guru adalah semangatnya dalam mendidik anak bangsa. sehingga apapun akan dilakukan untuk mencerdaskan bangsa.
    saya katakan demikian karena saya melihat (maaf) banyak guru yang tidak belajar. tidak mampu menyesuaikan dengan kemajuan pendidikan. sehingga anak didik jadi bingung. harus ikut guru atau situasi kependidikan global. ini terjadi kebanyakan pada guru SD yang nota bene sudah senior.
    jadi yang penting adalah semangat untuk membuat bangsa ini maju dengan PENDIDIKAN.
    Buat GURU2 ku teruslah belajar, supaya tidak ketinggalan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: