murniramli

Memberi = Menerima

In Islamologi, Renungan on September 8, 2007 at 10:33 am

Menerima hadiah, makanan atau bantuan dari orang lain adalah suatu kesenangan dan kebahagiaan.  Tak ada orang yang suka menolaknya.  Tapi memberi sesuatu kadang-kadang berat. Ah, manusia memang tak sempurna !

Saya barangkali termasuk orang yang sangat sering menerima.  Hampir setiap hari, ada saja yang menawarkan makanan, kadang tak dapat saya makan.  Terkadang pula barang yang sebenarnya tak jelas apakah saya membutuhkannya.  Kemarin, seorang sensei kenalan saya menawarkan jahe fermentasi, makanan khas Jepang yang selalu disantap dengan sashimi, ikan mentah.  Beliau sering sekali memberikan saya makanan, beliau tahu saya jarang makan makananan enak hehehe….Pernah sekali beliau mengundang makan siang di rumahnya, dan seperti ibu kebanyakan yang selalu khawatir dengan anaknya yang kelihatannya hanya belajar saja, tanpa memikirkan makan, ketika pulang beliau membekali bento (bekal makan malam).

Ada teman China yang seruangan dengan saya, selalu saja datang mengendap-endap dari arah belakang dan membisikkan: bagaimana kalau kita minum teh China ? Dan saya yang seharian duduk di depan komputer pasti tersenyum girang, sambil buru-buru menyodorkan gelas 😀   Dia juga sering meninggalkan permen, dan makanan kecil di meja.  Ah, saya banyak sekali diberi.  Ada seorang teman lagi yang selalu membelah kuenya dan menyodorkan kepada saya ketika kami asyik berbincang sekedar rehat dari kejenuhan berfikir.  Saya dan teman-teman China itu tak pernah canggung berbagi.  Kami tak peduli dengan unggah-ungguh Jepang, yang harus bersikap sopan ketika menawarkan makanan : yoroshikereba, douzo !

Saya tak tahu apakah saya sering memberi atau tidak.  Tapi saya meyakini sebuah prinsip yang diajarkan mamak dan bapak melalui perilakunya dan kemudian saya pahami di Al-Quran,  bahwa memberi itu sama dengan menerima.  Jika ingin menerima maka semestinya orang memberi.

Mamak dan bapak orang yang sangat gemar memberi.  Mangga yang berbuah selalu beredar ke tetangga, pisang, jagung dan kacang tanah selalu sempat dicicipi oleh anak-anak kompleks kami.  Ya, barangkali karenanyalah mangga kami tak pernah malas berbuah.  Selalu saja buahnya penuh.  Dia tahu kalau dia membawa kesenangan di mana-mana.  Dia tahu kalau buahnya yang enak membuat anak-anak kecil tertawa senang sambil berteriak `ueeenaaak !`

Keluarga kami pun selalu saja menikmati makanan hantaran, entah dari tetangga yang baru pulang dari perjalanan, entah Bu A yang sedang kendurian, atau Pak B yang sedang merayakan ulangtahun putranya.  Ah, senangnya tinggal bertetangga dengan mereka.

Jauh dari mamak dan bapak, membuat saya selalu teringat-ingat dengan contoh laku mereka.  Saya bukan orang yang berkantung tebal, tapi saya juga bukan orang yang tak beruang.  Saya sangat berkecukupan dan sungguh menikmati dan mensyukuri makanan yang masuk ke perut saya sehari-hari.

Di Jepang sama saja dengan Indonesia, orang gemar membawa oleh-oleh ketika pulang dari bepergian.  Di tempat saya bekerja di mister donut selalu saja ada kue-kue penganan dari banyak kota di Jepang karena banyak teman yang berpiknik di musim panas.  Pak Manager dan wakilnya pun tak hentinya membawa penganan khas dari tempat-tempat yang dikunjunginya.  Saya termasuk beruntung bisa mencicipi banyak makanan dari tempat-tempat yang belum tentu bisa saya datangi.

Karena banyak menerima, maka sewajarnya jika saya pun suka memberi.  Seandainya semua orang tak enggan menggigit dari bekas gigitan saya, kue yang saya makan akan saya sodorkan kepadanya.  Seandainya semua orang tak ragu meminum dari bekas minuman saya, maka botol pocari sweat yang sehari-hari saya tenggak akan saya sodorkan padanya.  Yang pasti saya tak akan menawarkannya kalau saya sedang batuk 😀

Memberi tak selalu berarti sesuatu yang `wah`.  Bahkan rumput yang sehari-hari kita injak pun sudah memberi kita kenyamanan hidup dengan embun yang menetes di daunnya, dengan akarnya yang menahan air.  Memandangnya saja sudah sangat nikmat.  Hanya saja kita belum memberikan sesuatu yang berarti padanya.

Iklan
  1. Ehm… jadi sejuk setelah membaca bagian terakhir

    murni : saya baca berulang2 bagian yg Bapak maksud…ternyata memang menyejukkan hehehehe

  2. Ya setuju. Memberi = menerima.

    Pada saat memberi, sebenernya kita menerima. Pada saat menerima, sebenernya kita memberi. Tergantung dari sudut mana kita memandang. 😀

  3. […] kalau aku Lebaran – Anjela itu Natalan. Ada pertanyaan Anjela yang membuatku gundah waktu itu. “Aku selalu mengucapkan Selamat Lebaran, namun kebanyakan kawanku yang Lebaran, termasuk kamu … Bukankah…, ataukah…, […]

  4. wah artikelnya ringan dan nyaman dibaca, hemm makasih ya pemberian artikel yang sejuk ini…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: