murniramli

Menjadi manajer di Jepang

In Serba-Serbi Jepang on September 12, 2007 at 7:01 am

Dua minggu yang lalu, manager mister donut tempat saya bekerja mengatakan bulan oktober akan datang manager baru dan dia berhenti.  Alasannya ? Saya malas menanyakannya waktu itu, tapi hari ini saya tanya juga karena penasaran kenapa setelah bekerja selama hampir 12 tahun dia memutuskan berganti pekerjaan ?

Alasannya sepele kalau mendengar dari penuturannya : sejak 3 tahun yang lalu ada kenalannya yang selalu mengajaknya bekerja di kantornya, dan baru dia putuskan tahun ini.  Ya, berfikir selama 3 tahun barangkali sudah cukup untuk memutuskan yang terbaik.

Saya pikir, keputusannya berhenti bukan karena masalah sepele itu saja, tapi barangkali karena lambatnya proses promosi jabatan di chitaka co, perusahaan yang join dengan duskin untuk memodali sebagian toko mister donut.  Secara struktural  dan ringkas, jabatan  managerial di perusahaan Jepang adalah  社長 (sachou) = chief executive,  部長 (buchou) = department chief , 課長(kachou) =division chief.

Sindiran terhadap promosi bekerja di beberapa perusahaan Jepang banyak dilontarkan oleh manager dan pekerja asing.  Salah satunya di sini.  Pekerja-pekerja Jepang sering disebut sebagai lebah pekerja, karena kepatuhan dan keteraturannya bekerja, dan hampir tak terlibat dalam perumusan strategi perusahaan.  Namun menurut analis managerial dari barat, model ini tak baik untuk masa depan perusahaan.  Dalam dunia kerja di Jepang seperti sudah tertanam di benak masing-masing pekerja bahwa mereka harus bersabar hingga 20 tahun untuk bisa naik ke level kachou atau buchou.  Para top manager di Jepang pun tergolong pelit mendidik bawahannya untuk menjadi lebih baik, agar mengenali juga konsep-konsep perusahaan.  Ini yang ditulis di Barat.

Sindiran lain, manager Jepang tak disukai beberapa pekerja dan expert asing.  Misalnya expert China, India atau Thailand lebih memilih bekerja dengan bos Amerika atau Eropa, sebab bos Jepang kadang hanya berkomunikasi dalam bahasa Jepang dan tak peduli dengan budaya bangsa lain, tapi lebih suka menanamkan kejepangannya, budaya Jepang dan pemahaman Jepangnya.  Apakah ini tanda Jepang tak siap memasuki dunia kerja global ?

Teman-teman mahasiswa Jepang  saya tak banyak yang ingin bekerja di luar Jepang.  Kalaupun ada, mereka lebih suka memilih negara Asia atau Afrika, dan kebanyakan menjadi staf NGO. Tetapi sudah terkenal seantero jagat bahwa orang Jepang sangat gemar ber-travel ria.  Kegemaran ini tak memacu mereka untuk menguasai bahasa Inggris.

Dilaporkan banyak kelesuan di beberapa perusahaan Jepang yang teratasi dengan menggaji expert dari luar.  Misalnya Carlos Ghusn yang menyelematkan Nissan Motor co, Howard Stringer yang mentrigger Sony Co. , bahkan sampai manager team  sepak bola World Cup-nya yang selalu orang asing, atau team baseball Marines yang menyewa Bobby Valentine.  Toyota pun tak lepas dari kedatangan expert dan manager asingnya.

Sebagai part timer di mister donut, saya pikir memang sedikit sekali kesempatan untuk menanyai bawahan tentang ide-idenya.  Di toko kami ada sebuah lembaran kertas besar yang ditempel di dinding berisi konsep masing-masing pekerja (kore kara no mokuhyou) yang cenderung isinya adalah `kore kara mo motto ganbaritai to omoimasu` (sejak saat ini pun saya akan bekerja lebih keras).  Pekerja-pekerja yang kebanyakan adalah part timer hanya mengikuti pola yang ada, menjawab jika ditanya dan tak berani mengusulkan apapun.  Mereka hanya bekerja, bekerja dan bekerja.

Yang menarik, tipe pekerja seperti inikah atau pola bekerja yang beginikah yang berhasil mengangkat perekonomian Jepang dulu ?  Apakah model seperti ini masih layak dikembangkan di era global saat ini ?

Saya tak tahu jawabannya, tapi kelihatannya manager saya termasuk orang yang hanya bisa bersabar selama 10 tahunan di sebuah perusahaan, dan berprinsip ` kore kara, atarashii jinsei o tsukuritai` (saya ingin menjadi manusia baru sejak sekarang) 😀

Sebuah penelitian tentang pekerja muda di Jepang mengatakan bahwa rata-rata orang muda Jepang hanya mampu bekerja 3 tahun di sebuah perusahaan dan lebih memilih pindah ke perusahaan baru.  Menurut ahli psikologis, kenyamanan dan kenikmatan bekerja baru akan terasa 3-4 tahun setelah bekerja.  Kelihatannya para orang muda Jepang tak percaya dengan penelitian ini, dan tak mau menikmati pekerjaan di satu tempat lebih dari 3 tahun 😀

Iklan
  1. Formasi 3, 3, 3 Mbak saat ini populer. Tiga hari, 3 bulan, atau 3 tahun untuk memutuskan pindah/ganti kerja :-). Mohon fenomena ini diklirkan lagi, soalnya saya juga dari sumber “katanya” :-).

    Mdtk, MSR

    murni : la ne cuman 3 hari, yo opo iso ? urung sempet nakoni gajine piro 😀

  2. Weks, 20 Tahun untuk jadi manager…
    Itu mungkin utk fresh graduate yang paling minim (non skill) ya Bu?
    Dan fenomena 3tahun sekali ganti pekerjaan adalah salah satunya untuk mendongkrak prestise, CMIIW..
    Fakta:
    Pengalaman kerja 9 tahun di tiga perusahaan berbeda (dengan asumsi di tiap perusahaan bekerja selama 3 tahun) akan lebih berharga dibanding pengalaman kerja yang sama di hanya satu perusahaan… (kayak saya….hiks hiks…)

    murni : ya, 20 th itu jika dirintis dari nol.
    Saya ngga tahu juga, Pak apakah memang akan mendongkrak prestise, tapi banyak teman2 IPB saya yg menggunakan sistem kutu loncat- pindah2 perusahaan dg target sebenranya perusahaan besar yg menginginkan tenaga berpengalaman.
    Setiap orang beda2, Pak. Ada yg bisa adaptasi cepat, ada yg susah. Ada yg mengejar gaji, ada yg mengejar kenyamanan bekerja (ningen kankei ga ii)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: