murniramli

Pembimbing Akademik seharusnya …….

In Pendidikan Jepang, Penelitian Pendidikan, Serba-Serbi Jepang on September 14, 2007 at 7:12 am

Selama menjadi mahasiswa doctor di Meidai, pertemuan saya dengan pembimbing akademik saya tergolong menurun dibandingkan saat menjadi peserta training.  Saya lebih banyak berkonsultasi dengan professor yang lain.  Alhasil saya merasa tak maju-maju dalam penulisan thesis.

Banyak yang berpendapat memang, mahasiswa doktor seharusnya mandiri.  Ya, saya akui itu.  Saking mandirinya, terkadang saya ikut conference tanpa sepengetahuan professor saya. Beliau hanya tahu bahwa saya terus menulis dan menulis, padahal sebenarnya saya kadang-kadang stagnant.

Sejak diangkat menjadi kepala sekolah SMP dan SMA afiliasi Meidai, sebagian besar waktu dinas dihabiskannya di sekolah.  Professor sangat jarang saya jumpai di lab atau di ruang kerjanya.  Tidak hanya saya yang mengeluh akan absensi beliau, tapi beberapa mahasiswa Jepang bahkan sudah putus asa dan memilih melanjutkan studi doktor dengan professor yang lain, atau memilih berkonsultasi dengan professor yang lain.  Artikel jurnal yang saya submit 3 bulan yang lalu pun belum beliau periksa sama sekali dengan alasan sibuk.

Masalah administrasi semakin menyibukkan beliau dan penelitian ataupun tulisan-tulisannya pun menjadi stagnant.  Saya jadi terfikir, apakah seharusnya seorang pembimbing akademik/dosen layak diberi tugas tambahan mengurusi masalah administrasi.  Ataukah sebuah Perguruan Tinggi akan lebih maju jika bagian administrasi diserahkan sepenuhnya kepada sebuah komisaris/dewan, dan para dosen diberi kesempatan mengajar dan meneliti lebih luas ?

Kejadian yang sama menimpa dosen-dosen yang lain berdasarkan penuturan teman-teman.  Dosen yang menjabat fungsi struktural akan menurun aktifitas penelitian, seminar, atau bahkan semakin sedikit waktu mengajar dan mahasiswa yang dibimbingnya makin keteteran.

Hari ini saya dapat teguran karena meminta rekomendasi pengajuan exemption SPP secara mendadak.  Saya meminta rekomendasi itu 3 hari sebelum deadline, tapi menurutnya ini mendadak.  Dengan alasan tugas kepala sekolah sangat banyak dan tahun ini ada fieldtrip ke Souya bersama anak-anak S1. Ya, saya seharusnya meminta ini sebulan sebelumnya ! Tapi beliau meminta maaf atas keterlambatannya memeriksa artikel saya yang seharusnya terbit di edisi sebelumnya. Dengan janji menyediakan waktu konsultasi minggu depan tapi ketika saya temui tak ada kesempatan untuk menanyakan kapan beliau lowong.  Ah, professor benar-benar super sibuk (>_<)

Saya merindukan pembimbing2 saya ketika kuliah S2 di IPB dulu.  Sesibuk apapun mereka jadwal konsultasi kami terus berjalan, hingga saya sudah menjadi tak asing bagi keluarga mereka karena seringnya menemui beliau-beliau di rumah. Dua pembimbing saya juga memgang jabatan struktural di Dikti dan Penelitian Padi Cimanggu, tapi keduanya tetap meluangkan waktu diskusi.

Saya pun merindukan waktu-waktu diskusi dengan professor Ueda yang dulu sering saya lakukan ketika mengikuti Teacher Training.   Atau mengikuti seminar/gakkai bersama dan biasanya saya dan mahasiswa lain bebas berdebat dan mengomentari presentasi sembari kami menikmati makanan khas Jepang, seusai seminar. Kelihatannya ini makin sulit.

Seperti apa seharusnya seorang pembimbing akademik ?

Dari sudut pandang saya sebagai orang yang dibimbing, seharusnya seorang pembimbing akademik memenuhi karakter sebagai seorang pembimbing yang dengan senang hati memberikan bimbingan, tidak pura-pura sibuk ketika ditanyai : ada waktu ?, mendorong mahasiswa bimbingannya untuk maju dalam penelitian dengan ikut membantu menemukan jurnal-jurnal baru atau membantunya dengan pemahaman konsep, baik melalui penawaran artikel, buku2 atau referensi lain.

Beberapa hari yang lalu saya mengobrol ringan dengan teman China saya tentang beberapa tutor Jepang untuk mahasiswa asing yang diberikan kampus sebagai pelayanan untuk mahasiswa asing.  Fungsi mereka sama dengan pembimbing akademik bagi mahasiswa2 asing yang agak kesulitan dengan bahasa atau kehidupan di Jepang.  Beberapa di antara mereka adalah mahasiswa-mahasiswa doktor tiga atau lebih yang kelihatannya berambisi menjadi asisten professor.  Saya dan teman saya yang juga sama-sama mahasiswa doktor sering menjadi tempat mengadu mahasiswa asing lain tentang tutor-tutor mereka.  Ya, bagi kami, para tutor itu tak punya sense `membimbing`, hubungan dengan sesama mahasiswa pun kelihatannya hambar.  Saya sering bertemu mereka, menyapanya dengan senyum atau anggukan tapi tak ada jawaban.  Benar-benar daisenpai !!!

Pembimbing mahasiswa seharusnya belajar psikologi, agar memahami makhluk seperti apa itu `mahasiswa` dan bagaimana bergaul dengan mereka. Pembimbing mahasiswa seharusnya menganggap mahasiswa bimbingannya sebagai orang yang dapat membuatnya makin berkembang, maju dalam penelitian.  Pembimbing harus menganggap mahasiswa sebagai partner kerja, bukan sekedar hubungan ayah dan anak !

Menuntut pembimbing akademik untuk menjadi orang ideal sama saja dengan menuntut diri sebagai mahasiswa agar menjadi mahasiswa ideal 😀

Iklan
  1. Rak ya memang terus menulis to Mbak? Terutama, dan yang terajeg, ya di blog, he..he..

    Mdtk, MSR

    murni : ne sing iki nulise ra mumet tenan, Mas, makane ajeeggg 😀

  2. salam kenal,
    wah ada juga ya prof yg kayak gitu. Kalau pengalaman saya sebaliknya: saya yg kucing2an sama para prof saya, pusing menghindari high demand dari mereka.
    Padahal advisor utama saya adalah direktur program kami, satunya lagi tim reformasi pajak nasional dan senior konsultan IMF, satu lagi senior adviser JICA/JBIC. Kalo soal sibuk, jelas lebih sibuk mereka daripada saya 🙂 Lha tiap bulan pasti mereka ada trip ke luar Jepang.

    Memang tergantung attitude individu kali ya.. sibuk bukan alasan untuk mengacuhkan mahasiswanya. Ada mekanisme mengeluh ke universitas ngga?

    murni : salam kenal juga, Mba.
    Saya lebih suka model pembimbing yg kayak mba punyai, mending dituntut terus biar sibuk terus hehehe….
    sayang mekanisme mengeluhnya belum terbangun, jadi cuman ngeluh ke temen, dan ga ada penyelesaian selain disuruh usaha terus dan sabar !

  3. Mbak Murni,

    Memang kalau professor pembimbing kita orang terkenal, atau yang punya jabatan, kemungkinan besar justru kita sulit mendapatkan kesempatan dibimbing beliau. Saya dulu juga hampir tidak pernah konsultasi dengan professor pembimbing. Sensei dulu sangat sibuk karena merangkap sebagai wakil rektor. Paper saya pun hampir tidak pernah dikoreksi dengan detail, tapi beliau memberikan kepercayaan penuh untuk langsung submit. Jadi saya lebih banyak konsultasi dengan joshu.Akhirnya, untuk urusan contents riset, sudah umum kalau gakusei (terutama mahasiswa S3) lebih faham daripada sensei-nya. S3 kan harus mandiri, mulai dari mencari tema sampai menyelesaikannya.

    Tips-nya kalau konsultasi dengan professor yang sibuk, siapkan satu kertas barang 1 atau 2 lembar berisi planning kita sampai 3 atau 6 bulan mendatang. Dengan melihat long-term plan itu, professor akan tersadar bahwa ada PR mengoreksi paper yang harus segera dia selesaikan 😀 Dulu saya sering begitu dengan sensei. Jadi konsultasi hanya singkat 10-15 menit saja, dan cuma bicara tentang planning ke depan. Dan jangan lupa, agar di kertas plan itu ditulis secara eksplisit kalau paper itu rencananya akan disubmit tanggal sekian.
    Semoga mbak Murni sukses.

  4. matur nuwun saran2nya, Pak Anto

  5. perbedaan pemaknaan dan pemahaman atau penafsiran diantara dua kata depan : “di & pe” atas kata dasar : ” bimbing” merujuk sifat dan perilaku berbeda diantara keinginan dan harapan sifat dua
    belah pihak : [analog] bak berpasang2an

    [ada pelanduk mati terjepit diantara pertarungan kepentingan ; si penjaga pustaka/literatur, dicaci sekaligus dicari, terlupakan, spt. kopling tergencet diantara dua roda gila kebutuhan raksasa]

    seyogyanya berlaku cerdas bukan cemas
    seyogyanya menyadari posisi & porsi masing-2
    seyogyanya sederajat bukan afiliasi lemah & kuat
    disadari atau enggak terjadi interaksi saling ketergantungan diantara keduanya, andai mengetahuinya… [symbiose mutualisme]
    hal indah bukan, idealnya begini.

    realita yang ada,
    berbeda cerita kalau symbiose terjadi itu
    safrofit bahkan parasitisme [tak sehat & saling melukai dan menyakiti….?]
    mengapa harus sering terjadi dan banyak yang tanpa sadar memilih kondisi seperti ini?
    tanya knapa?

    kekhawatiran diri…
    memposisikan diri…
    rasa mendominasi….
    ingin dihormati & dihargai
    rasa kesombongan & takabur
    telah menjerumuskan insan & kelupa’an bahwa
    apa diinginkan & dikaji itu semua Milik-NYA yg
    dipinjamkan kepada insan manusia tu’ lebih jelas dalam memahami, mengerti, mengabdi dan bersujud dengan lebih baik lagi kepada-NYA.

    andai kumengerti, mengapa kuseringkali lali?
    ampun diri dhoif ini…..
    semoga amin amin amin

  6. Pak Ardi,
    komentarnya selalu dalam dan kadang2 membuat saya sulit mengerti karena saking tingginya level bahasa yg dipake.

    btw, sbg ponggawa perpus, banyak sekali yg terbantu tentunya dg kerja Bapak apalagi di akhir2 studi.
    Sebuah amal yg bisa menghapus kekhilafan,insya Allah

  7. Pembimbing akademik S2 saya saya anggap laksana anjing, yang kalau dia menggonggong maka saya bisa berlari atau lompat sampai 1 meter hehehe. Pembimbing yang teliti dan telaten menjadikan proses pembelajaran betul-betul tumbuh dalam diri kita dan menjadikan karya kita makin sempurna (tapi kadang makan waktu juga:-(). Tapi saya bersyukur karena banyak teman yang pembimbingnya cuek, tinggal tanda tangan, tapi karyanya jadi ancur-ancuran dan dibantai waktu seminar.
    Terima kasih sudah berbagi pengalaman. Saat ini saya sedang mencari format ideal seorang pembimbing akademik untuk S1 karena saya baru diamanahi jadi PA di FK UII. Satu dosen menjadi pembimbing dari 30 mahasiswa. Jadi ketemunya cuma waktu konsultasi judul skripsi dan hanya membantu mahasiswa bermasalah. Hope will get a better PA profile..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: