murniramli

Siapa yang harus membuang sampahnya ?

In Serba-serbi Indonesia, Serba-Serbi Jepang on September 14, 2007 at 10:21 am

Tulisan ini terinspirasi oleh komentar Pak Taopik di salah satu tulisan saya. Beliau menanyakan kepada saya apakah saya akan menularkan kebiasaan positif di Jepang sekembalinya saya ke Indonesia ?

Dan tentu saja saya yakin bisa. Tapi saya ragu, jangan-jangan saya seperti bunglon yang segera berubah penampakan ketika lingkungan berubah ? (>_<) Mengapa demikian ?

Ini oleh-oleh dari Kongres dan Temu Ilmiah PPIJ baru lalu yang diselenggarakan di Kyoto University. Seperti biasa seminar-seminar yang diselenggarakan orang Indonesia, selalu dilengkapi dengan konsumsi. Ini besar manfaatnya untuk memberikan keuntungan balik kepada sesama warga Indonesia. Supaya tidak jajan masakan Jepang yang jarang sekali ketemu dengan yang mengenyangkan lagi halal (seporsi bento), maka memang lebih baik ditangani sesama warga Indonesia.

Permasalahan yang muncul jika orang Indonesia kumpul dengan orang Indonesia adalah kebiasaan baik orang Jepang yang sudah dihafalnya menguap begitu saja. Salah satunya adalah membereskan sisa makanan, mengelompokkan jenis sampah dan membuangnya di tempat yang disediakan. Yang terjadi dalam kongres kemarin adalah kotak-kotak makan bergeletakan di atas meja, dengan makanan yang hanya disantap sebagian atau bahkan kosong. Lalu datanglah pasukan semut panitia yang sudah berwajah letih membereskan semuanya, hingga ruangan kembali bersih.

Padahal, jika kami berseminar atau kumpul-kumpul dengan orang Jepang, kami sangat telaten merapikan sisa makan kami, membaginya dan membuangnya sendiri ke tempat sampah yang sudah disiapkan. Apakah ini karena malu ditegur oleh orang Jepang sebagai bangsa yang tak tertib atau malu dibilang jorok 😀

Tapi budaya mempekerjakan sesama bangsa kelihatannya sangat melekat pada aliran darah kita. Karena sudah ada yang bertugas, lebih baik dia yang mengurusi, buat apa saya harus repot-repot ? Karena sudah ada panitia, biarlah mereka yang beberes !!

Kalau sudah begini, dan ini pelakunya adalah kami para mahasiswa, orang berpendidikan di level tertinggi yang patutnya menjadi tombak- saya menjadi ragu apakah saya dapat mengajarkan nilai-nilai positif itu jika pulang kelak.

Selama berada di Jepang, tas ransel saya selalu penuh dengan sampah bungkus permen atau roti karena saya punya kebiasaan ngemil kalau lagi bengong di kereta 😀  Sewaktu pulang ke Indonesia beberapa bulan lalu, kebiasaan ini masih saya pegang, tapi memilah-milah sampah tidak begitu ketat, sebab di rumah saya di Madiun, kami hanya memisahkannya menjadi sampah basah (dapur), air cucian (buat nyiram tanaman), dan sampah plastik. Kadang-kadang kakak dan mamak saya rajin juga memisahkan kaleng-kaleng bekas, lalu menaruhnya di depan rumah untuk diambil pemulung yang lewat. Tapi ketika berada di pesantren, saya kebingungan karena sampah tak dipisahkan, akhirnya kembali lagi ke kebiasaan mencampur semuanya.

Ah, rupanya susah juga memberi contoh dan mempertahankan kebiasaan baik 😦

Iklan
  1. that’s why Indonesia never be a big country that its people could proud of

  2. Wah, Terima kasih sekali sudah bisa memberikan inspirasi…
    Indonesia jin wa taihen da ne…
    Nampaknya kita harus memposisikan bangsa ini pada kondisi seorang “balita” yang harus dengan penuh kesabaran dan kasih sayang kita ajari dan ayomi tentang kebiasaan2 baik.
    Dalam kasus di atas, tentunya pihak panitia “kecolongan” yang seharusnya bisa antisipasi sebelumnya dengan tidak segan memberikan pengumuman: “setelah makan, semua sisa makanan/minuman harap dibuang pada tempat sampah yang sudah “disediakan”…bla bla bla…
    Intinya harus selalu dikondisikan bahwa kalo orang2 kita lagi ngumpul, tak ubahnya anak2 TK yang lagi ngumpul 😀 , CMIIW.
    Dan kalo sudah terlanjur kayak di atas, coba saja direview lagi ke semua peserta yang dateng, paling mereka malu sendiri.
    Jadi PR utama sebenarnya adalah meyakinkan rekan2 yang ada di Jepang supaya sekembalinya ke Indonesia bisa “sama2 menyebarkan virus” kebaikan di kampung halamannya masing2, CMIIW lagi.
    Ja, gambatte ne…

  3. Sepulang dari Jepang th 1998, yang masih sy pratekkan dengan sangat konsisten adalah mengurangi konsumsi gula … sementara buang sampah belum bisa, karena tak ada sarana pemisah jenis sampah di tempat umum … thx dah kembali mengingatkan 😀

    murni : Pak, mungkin SMK3 bisa mulai dg proyek pemisahan sampah 😀

  4. hehehe….
    itu namanya perilaku yg. dibiasakan [masing-2], & menjadi kebiasaan dilakukan, dipikirkan dan diteriima [oleh banyak orang], membentuk namanya budaya. Mengubah budaya = merubah kebiasaan, bukan sulit namun perlu ketelatenan, kesabaran & contoh/suri tauladan dilakukan terus menerus tanpa putus, persis apa yang ditulis pak Tovic_1005 (Telor_008).

    Dari mana mulai & bilamana?
    dimulai,
    dari diri sendiri [niat kuat & tahan uji]
    kemudian kasih contoh sama orang lain [paling bagus, berhasil maksudna] dilakukan oleh public
    figure {sebab budaya indonesia, budaya patron, perilaku apa saja dilakukan oleh yang “di tuakan”
    serta merta diikuti oleh yang “menuakan” tokoh tsb ;

    & bilamana,
    kecuali mereka yang telah makan [tembok] sekolah, pola berfikir & kulturnya [diharapkan menyerap nilai kultur baru dikenalkan sang guru] sudah berbeda…

    andaikan hasilnya gak jauh beda, antara belum & telah makan sekolah….. ini yang perlu dicermati!
    [sang operator gak “ngeh”… atau kurikulumnya, perlu di sertifikasi hehehe..] ; di rumah tanggapun pun berlaku hal yang sama [bukankah orang tua siswa itu alumni murid juga kan?, masak sudah lupa sama ajaran sang guru kala itu]

    seyogyanya ada gerakan bersama multimatra mestakung [semesta mendukung].
    jadi … bersama kita bisa [pinjam slogan kampanye
    punya …siapa ya…?] lupa tuh…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: