murniramli

Tak akan kuucapkan lagi

In Pendidikan Jepang, Renungan, Serba-Serbi Jepang on September 19, 2007 at 8:23 am

Ada satu kata yang sudah saya coba hindari sejak belajar banyak tentang pendidikan.  Kata ini menurut saya sangat pantang diucapkan oleh seorang guru, ayah/ibu, atasan, orang dewasa dan …siapa saja.  Sudah sejak lama saya tak mengucapkan kata itu, tapi 2 hari yang lalu terlompat dari mulut saya, tanpa sempat saya kontrol. Ah, lidah memang tak bertulang.

Saya tidak tahu mendapat limpahan gen dari siapa : bapak atau mamak, atas kepekaan terhadap perasaan orang.  Saya selalu tak bisa tidur sehabis mengucapkan sesuatu yang saya pikir akan menyakiti hati seseorang. Sewaktu menjadi guru dulu, kadang-kadang kalau sudah capek, emosi saya meninggi ketika murid-murid mulai ramai seperti pasar, dan mulai berlompatan kata-kata yang tak terkontrol.  Tapi sesudahnya biasanya, saya mengeluh : Ah, kalian ini menambah dosa saya saja (Padahal saya yang tak bisa menahan emosi (>_<))

Kata yang saya maksud di atas adalah kata `bodoh`.  Atau dalam bahasa Jepang : `baka (konyol) atau atama ga warui  (bodoh dalam berfikir). Kata ini mungkin tak asing lagi bagi telinga anak-anak di Jepang atau bagi para karyawan/buruh di perusahaan.  Guru atau atasan paling sering memarahi dengan ungkapan : `baka da na omae !` (lu, bodoh amat sih).  Setiap mendengar orang dimarahi, biasanya saya ikut gemetaran, padahal bukan saya yang dimarahi.

Dua hari yang lalu, sambil bekerja saya mengobrol dengan manajer, dan mengatakan sambil guyon bahwa karyawan dari China akan berhenti bekerja juga karena pak manajer juga berhenti.  Dan pak manajer langsung mengucapkan : iie, mou yakusoku shiteta yo, yamenai te.  (Ngga, dia sudah janji kepada saya, tak akan berhenti) Sonna baka no koto o shinai yo (Jangan mengerjakan perbuatan sebodoh itu !).  Dan anehnya saya menyahut pula :  Watashitachi wa baka janai, tenshuu ga baka da yo.  (Kami ngga sebodoh itu. Bapak yang bodoh) . Zettai baka na koto o yaranai ! (Pokoknya saya ngga akan melakukan perbuatan bodoh). Untungnya ungkapan itu kami lontarkan sambil guyon.  Haik, haik watashi baka desu ! (ya, ya, saya bodoh !), pak manajer membungkuk-bungkuk tanda bersalah.

Setelah itu topik perbincangan berganti, dan saya melupakan guyonan tak sopan yang keluar dari mulut saya, pada saat saya sedang berpuasa lagi. Astaghfirullah ! Sehabis sholat witir, saya terpekur dan terbayang kembali amalan yang saya kerjakan hari ini. Aduh, lebih banyak dosanya daripada perbuatan baiknya.  Bahkan saya ringan sekali mem-`baka`-kan pak manajer.

Sehari setelah kejadian itu, saya diliputi perasaan bersalah, apalagi setelah membaca surat pernyataan mengundurkan diri pak manajer yang dibagikan kepada semua pegawai.  Akhirnya, pagi-pagi saat masuk kerja, saya membungkuk, `tensyu, kinou warui koto o iimashita, moushiwake gozaimasen. sumimasen deshita !` (Pak, kemarin saya mengucapkan kata yang tak baik kepada anda, mohon maaf yang sebesarnya).  `eh ? nan no koto ?` (heh ? masalah apa ? ).  Lho ? Ternyata beliau menganggap itu sebuah guyonan, sementara saya memikirkannya dengan serius 😦

Membodohkan orang lain adalah sebuah bentuk kebodohan.  Kebodohan karena kita tak bisa memahami dan menerima `alasan` atau `kekurangan` orang lain.    Saya tidak tahu dengan orang lain, tapi saya pribadi bisa tidak tidur dan tidak bisa makan jika diumpat dengan kata `bodoh`.  Kata ini seharusnya dihilangkan dalam kamus pengajaran.  Sebab semua orang yang diajar punya kelebihan, dan tak ada yang `atama ga warui` (bodoh dalam berfikir).  Semua anak didik punya kemampuan, tak ada yang bodoh.  Hanya saja mereka tak sama dalam kecepatan menangkap dan memahami materi. Guru harus memiliki dua kali lipat kesabaran untuk mengajar anak-anak yang mencerna dengan lambat. Bahkan guru harus bersumpah : Tidak akan menyemprot siswanya dengan kata : bodoh, atau kata yang semakna : otak di dengkul, tak berotak, dll.

Sebab dengan kata-kata yang keluar dari mulut guru, murid belajar. Dia belajar sesuatu yang baik dari orang dewasa di sekitarnya, demikian pula hal yang buruk.  Keberaniannya membodoh-bodohkan temannya yang lelet mikir atau lamban bergerak, dicontohnya dari pengajaran orang dewasa !

Tak akan kuucapkan lagi !

Iklan
  1. Betul sekali Mbak, kata-kata itu sebaiknya digantikan dengan kata lain saja, tapi apa ya?
    Coba saya hubungkan dengan perkembangan anak2 saya (Nadifa 10th kelas 5 di SDIT, Al Daffa 5th TK-B di yayasan yang sama dan Rafeyla 2th), memang Allah menciptakan manusia dengan sempurna, tidak ada yang b***h. Yang ada hanya perbedaan dalam ketertarikan (interest thing, CMIIW) seseorang terhadap sesuatu.
    Budaya pendidikan sekarang (khususnya di sekolah2 Terpadu) biasanya menerapkan sistem pengajaran interaktif dimana siswa dipacu untuk menilai setiap pelajaran dari sisi ketertarikannya.
    Sayangnya hal ini belum diikuti oleh sekolah2 negeri, CMIIW lagi.
    Lagi-lagi tugas Mbak Murni sebagai pendidik dan pasti akan kami dukung sebagai orang tua untuk membenahi semua ini demi masa depan anak cucu kita.
    Mata Gambarimashoo.

  2. Yap. Memang tidak ada yang bodoh di dunia ini, bukan ? 😕

    Hanya saja takaran ilmu nampaknya memang berbeda…

  3. Kalo anak2, juga sesekali terimbas kata ini dari luar Mbak. Normal lah, wong saya dulu sampai dilombok mulut saya oleh Almh. Ibu saya, he… Tapi mereka sekarang selalu membaliknya begini “baka to iutta hito wa baka da” (orang yang bilang bodoh, dialah yang bodoh :-P), juga misalnya untuk istilah2 buruk lainnya. Kadang2, terpikir kedalaman makna di balik ungkapan mereka ini :-).

    Mdtk, MSR

  4. jangan khawatir dengan kategori Orang “Bodoh”
    ternyata.. dibalik itu semua ada rahasia tersembunyi, kekuatan luar biasa … Mbak Murni.

    ada literatur memutarbalikkan paradigma selama ini berlaku …

    judul : Orang “Bodoh” lebih cepat Sukses! –
    inspirasi bisnis ala Londen
    karya : I Nyoman Londen & Dodi Mawardi
    terbit : Elex Media Komputindo
    tahun: 2007

    Mungkin Anda akan mengerutkan ahi, ketika membaca judul buku ini. Atau Anda langsung menyanggah,”Ah yang benar saja.” Buku ini memang sengaja memancing Anda untuk berkerut dan lebih jauh berfikir,” Apakah benar, orang “bodoh” lebih cepat sukses?”

    Bob Sadino, pengusaha sukses dalam beberapa zaman mengungkapkan,”Sekolah kita hanya mendidik oran menjadi pintar, tidak mengajari orang menjadi bisa.” Mungkin itu dapat menjadi jawaban untuk judul buku ini, karena kenyataanya terlalu banyak orang pintar lulusan sekolah yang tidak bisa berbuat apa-apa. Sebaliknya banyak orang yang “bisa”, dan tidak pintar di sekolah, justru mendulang kesuksesan luar biasa.

    Bukankah untuk berwirausaha yang dibutuhkan bukan orang “pintar” yang tidak bisa apa-apa, melainkan orang “bodoh” tetapi banyak kebisaan
    nya?!

    Sebagian Besar Orang “Pintar” Ternyata Goblok!
    — pengantar Bob Sadino–

  5. Pak Ardi,

    yg dibutuhkan memang hanya keahlian, sense memanusiakan orang dan kepandaian membawa diri 🙂

    Orang bodoh yang sukses itu bukan berarti tidak pandai. Tapi dia cuman lemah di math 😀

  6. Kata kata yang berkonotasi negatif tetap diperlukan supaya kita juga mengerti yang baik. Kalau semua tempat sama warna dan intensitas cahayanya, bagaimana kita dapat membedakan satu dengan yang lain?
    Menurut saya, yang penting setiap kata digunakan untuk “sasaran” yang tepat, sasaran yang kita mengerti. Tentunya kita harus sadar akan keterbatasan kita sendiri untuk MENGERTI sasaran itu sehingga tidak sembarangan. Dan lebih bijak kalau kita menemukan ada yang bodoh, simpan saja kata bodoh itu di hati. bersama itu kita berdoa dan berusaha memintarkannya, kalau kita sendiri memang pintar tentunya.

    murni :
    Bukan mau menegasikan kata2 negatif, tapi menolak mengucapkan kata2 yg tak sopan kepada sesama.
    Saya malah sedang berusaha tak berfikir seseorang itu bodoh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: