murniramli

Mengajar matematik dengan kalender

In Pendidikan Jepang, SD di Jepang on September 21, 2007 at 4:35 am

Pagi ini di NHK Pendidikan, Pak Guru yang saya pernah tulis di sini kembali menyampaikan pelajaran matematik : `kanjiru sansuu 1,2,3` (かんじるさんすう)kepada anak kelas 1 atau 2 SD (saya tak mengikutinya dari awal). Tema yang diangkat adalah : カレンダーのひみつ(karenda no himitsu), atau rahasia/misteri kalender.

Pak guru menyiapkan selembar besar kertas kosong yang sudah dikotak-kotak. Di atasnya bertuliskan kalender bulan Agustus 2007. Anak-anak duduk di lantai mengerumuni Pak Guru dan papan tulis. Beliau kemudian membagikan potongan kertas persegi bertuliskan tanggal-tanggal dalam kalender. Selanjutnya anak-anak diminta mengisi dari bagian kolom dengan aturan : Setiap kolom berisikan angka-angka yang merupakan penjumlahan angka 7.  Misalnya hari rabu (水曜日=suiyoubi), 1+7=8, 8+7=15, 15+7=22, 22+7=29.

日曜日 月曜日 火曜日 水曜日 木曜日 金曜日 土曜日
      1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31  

Anak-anak dengan memahami penjumlahan dengan angka 7 secara cepat akan meletakkan kertas-kertas potongan tanggalan ke urutan yang sebenarnya.

Selanjutnya Pak guru mengajak anak-anak menemukan misteri angka di balik kalender. Seorang anak maju dan mengatakan angka-angka yang membentuk garis diagonal yaitu 4, 10, 16, 22, dan 28 merupakan hasil penjumlahan dengan angka 6. Lalu dia mencobanya untuk diagonal yang lain dan ternyata hasilnya sama ! Semuanya merupakan hasil penjumlahan angka 6.

Kalau arah melihat dibalik dengan membuat garis diagonal dari kiri atas ke kanan bawah, maka deretan angka yang terbentuk merupakan hasil penjumlahan angka 8.

Anak-anak bersorak dan berteriak-teriak gembira. Sugooooi ! (hebat !!)

Selanjutnya Pak guru menutup angka di sekitar angka 10 sehingga membentuk tanda plus. Yang ditutup adalah angka 3, 9, 10, 11, dan 17. Lalu Pak guru bertanya yang mana yang hasil penjumlahannya lebih besar ? Penjumlahan ke arah kolom (penjumlahan ke bawah) atau penjumlahan ke arah baris (ke samping) ? Seorang anak mengacungkan tangannya, dan maju menguraikan hasil penjumlahan yang ternyata hasilnya sama, 9+10+11=30 dan 3+10+17 = 30. Lalu Pak guru mengatakan semua angka yang berdekatan dengan angka 10 jika dijumlahkan dengan cara yang sama seperti pola tadi akan menghasilkan angka 30. Misalnya : 2 +10+18 = 30 dan 16+10+4 =30.

Begitulah, anak-anak sangat senang menemukan angka-angka yang begitu memukau urutannya dan tak disangka kalender pun mempunyai himitsu (rahasia) 😀

Ayo anak-anak, bisakah menemukan misteri yang lain dalam kalender ? 😀

Iklan
  1. Begitupun jika kita tambahkan angka2 dengan pola zig-zag arah kolom maupun baris, selama “jumlah setiap baris sama, genap & berpasangan”, misalnya:
    2+10+16+24 = 52 dan 3+9+17+23 = 52, atau
    5+13+7+15+9+17 = 66 dan 12+6+14+8+16+10 = 66.
    Horeeee aku bisaaaa…. 😀
    Terlebih jika ini dikenalkan kepada anak2, bisa jadi merupakan permainan matematika yang menarik….. 😛

    murni : duh senengnya 😀 selamat mengajari anak, Pak

  2. Wah asyik dong belajar tentang belajar di Jepang, slamat. Saya punya pertanyaan teman yang sudah di jawab: Kenapa semakin banyak ahli pendidikan, termasuk yang sekolah ke luar negeri, pendidikan kita semakin curam mundurnya?

    Sebagai orang yang belajar pendidikan, saya seolah ditohok kawan itu. Argumen kuarng ini kurang itu, ngak mempan.

    Apa di Jepang, gurunya memang hebat-hebat?

    murni :
    Alasannya banyak, Pak :
    karena para ahli tidak mau turun ke sekolah. Sehingga kebijakan dan pemikiran yg dihasilkannya hanya merupakan `perdebatan teori`.
    karena ahlinya ngga kepake di Indonesia 😀
    karena pendidikan kita bukan untuk mencerdaskan anak, tapi mencerdaskan bangsa 😀 (btw, ini sama artinya ya ?)
    karena pendidikan kita berorientasi bisnis bukan `mendidik`
    karena para ahli masih banyak yg perlu duit, sehingga ndak ikhlas (mohon maaf bagi yg ikhlas)
    karena….
    karena….
    karena…..

    Guru2 di Indonesia mungkin lebih hebat drpd guru di Jepang, Pak. Guru2 Jepang sederhana sekali konsep berfikirnya : `Saya mengajar supaya anak mengerti dan bisa`
    Selalu saja kata `kodomo no tame ni ` (untuk anak/murid) selalu menjadi jawaban wajib setiap mereka ditanya u apa menjadi guru ? u apa mereform sekolah ? u apa capek2 training ?

  3. Sememangnya satu satu himitsu kalendar yang menarik hati.

    murni : ya, sangat menarik hati 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: