murniramli

Neo kolonialisasi dalam dunia pendidikan

In Pendidikan Indonesia on September 25, 2007 at 6:22 am

Dalam berita yang dirilis koran Jawa Pos, Minggu 23 Sept 2007, dikabarkan 7 SMA negeri di Jawa Timur akan mengikuti ujian Cambridge sebagai salah satu realisasi SNBI (sekolah nasional bertaraf internasional). Dengan mengikuti ujian level A, sekolah2 yakin siswanya dapat masuk Cambridge Univ, atau universitas yang lain di luar negeri.

Sebuah fenomena yang memiriskan !  Hanya untuk tujuan itukah sebuah pendidikan ?

Kian bertambahnya jumlah SNBI di tanah air menjadikan wajah pendidikan kita semakin tak berbentuk. Wajah Indonesia sepertiga nongol, sedangkan sisanya adalah wajah bangsa lain.  Saya bukan menolak ide globalisasi, tapi dalam globalisasi semestinya sebuah bangsa masih bisa ditandai sebagai sebuah nation.

Dengan alasan devisa yang tak akan terkuras, dipakailah SNBI sebagai alat untuk menahan agar siswa-siswa tak segera melarikan uangnya untuk bersekolah di luar negeri pada tingkat menengah. Padahal berapa orang sih yang pergi ke luar negeri ? Apakah separuh dari jumlah anak yang seharusnya berpartisipasi dalam pendidikan dasar dan menengah ? Apakah sepertiga dari mereka ? Katanya hanya 2500 orang saja. Devisa yang mereka buang ke luar negeri sebanding dengan besaran korupsi yang dilakukan seorang pejabat kelas teri.

Mengapa tak terfikirkan oleh kita bahwa kita telah menguntungkan negara lain dan menyelungsupkan negara kita sendiri ke dalam jurang yang dalam, dengan ramai-ramai ber-internasional ? Mengapa tak PD kita dengan pendidikan Indonesia yang diajarkan di sekolah-sekolah yang didatangi rakyat awam ? Mengapa kita cenderung mengikuti arus ?

Kelihatannya memang kita bangsa yang gemar mengekor dan gemar menjadi jajahan!

Penjajahan pada era neo liberalism, bukan lagi penjajahan wilayah, daerah atau negara.  Tapi sudah bergerak ke penjajahan yang `lebih sopan`, menanamkan ide-ide, ideologi, sistem, gaya, dsb.  Termasuk pengadopsi kurikulum dan standar negara tertentu karena merasa tak sukses dengan kurikulum sendiri.  Ini sama saja dengan kita dijajah.

Penukilan ide dari negara lain boleh saja terjadi, tetapi tidak dengan mengubah `wajah` sendiri.  Yang baik diikuti sedangkan yang tak sesuai dengan `kondisi tubuh` bangsa, sebaiknya dienyahkan saja.  Tidak perlu malu jika terkategorikan sebagai bangsa yang prestasinya rendah dalam TIMMS atau PISA. Karena memang itulah adanya.  Penyelesaian rasa malu ini bisa dipecahkan dengan mencermati di mana letak titik-titik krusial pendidikan kita, yang selanjutnya perlu ditusuk jarum akupuntur untuk memperlancar aliran darahnya.  Bukan dengan mengubah sekolah nasional menjadi internasional.

Atau barangkali kita memang ingin merasakan bagaimana menjadi jajahan bangsa Inggris agar lidah kita lemes ketika bercas-cis cus dalam bahasa Inggris seperti halnya orang Malaysia atau Singapura 😀

Iklan
  1. Mbak Murni, saya seneng nih baca2 blognya … mungkin krn saya ada sedikit pengalaman mengajar, jadinya bisa nyambung ke tulisan2 di blog ini.

    Saya juga bingung ini dengan sistem pendidikan di Ind. Kesenjangan sosial semakin menganga dengan pola seperti ini. Bagi yg punya uang, anak2nya akan disekolahkan dgn yg kurikulum nasional plus *yg lulus dapet ijazah IB itu kalu ngga salah ya?*, sementara mereka yg kurang mampu udah syukur bisa masukin ke sekolah negeri. Di Ind, pendidikan yg bagus sepertinya ditujukan untuk kaum berduit gitu ya? Kesannya yg bisa maju nantinya hanyalah mereka yg lulusan sekolah2 tersebut.

    Lebih jauh, apa ya barometer kualitas sekolah2 yg berlabel nasional plus dan sekolah2 yg pake2 nama luar negeri? Saya bukan ahli, tapi saya bingung ini kok nampakya mudah sekali untuk bikin sekolah di Ind .. sekolah2 seperti itu menjamur di mana2, ortu2 berbondong2 masukin anak2 ke sekolah2 tersebut.

    Terus ortu2 yg tidak puas dgn sistem sekolah, akhirnya banyak yg milih homeschooling. Tapi saya kok bingung juga ini … banyak yg homeschooling dgn kurikulum luar negeri. Nanti ijazahnya bagaimana? Bukan ijazah sekolah Ind gitu?

    Maaf panjang nih komentarnya … heheh.

  2. sebenarnya si enggak perlu membuat sekolah berbau asing dengan tujuan bisa mempermudah lulusan memasuki universitas di luar negeri. Tidak semua produk luar berkualitas. Lihat saja di berita tentang penyakit sapi gila, asalnya darimana?. Mending kembali ke Sistem Among (ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karso dan tut wuri handayani).
    Harapan yang harus dimunculkan adalah sebuah lembaga pendidikan yang berfungsi sebagai pembangun karakter bangsa Indonesia yang mempunyai ketrampilan mendunia.
    Tidak perlu membuat SNBI untuk mencetak Habibie supaya berhasil menembus universitas di Jerman. Toh ketika kita belajar di sekolah biasa, apakah pelajaran matematika yang diberikan berbeda dengan teman-teman kita di negara maju ? Kurang lebih sama kok.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: