murniramli

Berlomba dengan bulan

In Islamologi, Renungan on September 27, 2007 at 12:00 pm

Saya kadang-kadang tak ingat ini sudah puasa hari keberapa.  Saya hanya berpatokan dengan bulan yang bentuknya kian hari kian membulat.  Berarti sudah hampir separuh perjalanan ramadhan.  Ini sebagai pertanda juga bahwa seharusnya bacaan Al-Quran saya semestinya kian mendekati juz 15 atau seharusnya sudah lebih.

Tekad mengkhatamkan Al-Quran di bulan ramadhan barangkali menjadi penyemangat bagi sebagian orang Islam.  Bahkan barangkali ada yang meniru Imam-imam salaf dan khalaf yang menkhatamkannya sehari semalam.  Saya masih belum selevel mereka.  Menghatamkannya dalam separuh bulan saja rasanya sungguh berat.  

Untuk menyempurnakan bacaannya hingga akhir ramadhan nanti, saya biasakan membacanya setelah sholat subuh, dalam perjalanan kereta ke tempat kerja, atau bahkan di kampus ketika bengong tak tahu harus mengerjakan apa, karena kampus masih sepi.  Sekarang sudah selesai hampir 2/3 nya. mou sukoshi ganbaranakya…. (harus berusaha sedikit lagi)

Seperti halnya bulan yang menggembung pelan-pelan menuju hari ke-15, saya pun sangat bersemangat.  Seakan berlomba dengan bulan menyempurnakan bacaan Al-Quran di hari ke-15.  Selanjutnya bulan akan memipih pelan-pelan, tapi herannya semangat orang yang berpuasa semakin menggembung, sebab Allah menjajikan pahala yang lebih banyak di akhir-akhir ramadhan, apalagi di malam-malam yang penuh misteri, lailatul qadar.  Malam yang menjanjikan kebaikan 1000 kali lipat.  Ah, siapa yang tak mau mendapatkannya ?

Sebagaimana halnya dengan orang yang percaya akan nikmat surga, maka dia pun semakin menggebu mendekati Allah di usianya yang uzur.  Masjid-masjid, surau-surau di kampung kata teman saya, sekarang lengang dari suara anak-anak melafalkan alif ba ta, yang justru ramai bertandang adalah orang-orang tua.

Saya sangat mendukung aksi mematikan TV pada jam-jam tertentu di bulan ramadhan yang sekarang sedang digalakkan di beberapa kota di tanah air, agar anak-anak dan orang dewasa tak punya pilihan mengumbar syahwat dan kesenangan selain bergegas menuju Tuhannya.  Seandainya surau-surau dapat berbicara, barangkali dia sudah menitikkan air mata keharuan melihat sandal-sandal berjejer di pelatarannya, mendengarkan suara amin dikumandangkan dan memantul dari dinding-dindingnya, menambah hikmat orang yang beribadah di dalamnya.

Sungguh masjid di bulan ramdhan mempunyai aroma yang berbeda.  Aroma yang menghipnotis orang agar duduk tepekur melantunkan ayat-ayatNya.  Aroma yang memaku seorang hamba sehingga dia bersujud lebih lama.

Ah, malam ini bulan tak tampak karena mendung menutupinya.  Tapi pasti bentuknya semakin gepeng pertanda ramadhan tak lama lagi akan pergi.  Sedikit lagi….sedikit lagi waktu untuk berjuang menjulangkan tumpukan amal.

Iklan
  1. Assalaamu’alaikum
    Numpang nimbrung nih Bu…
    Sudah lama tidak berkunjung… 🙂
    Saya kemarin tidak selalu sempat membaca Al-Quran karena kesibukan yang tidak biasa didapat ketika Ramadhan. Padahal saya sudah berlomba dengan seorang teman, untuk melihat siapa yang bacaannya paling banyak ketika bulan Ramadhan. 🙂

    Sayang, saya kalah telak, separuh Quran pun saya belum sampai :(. Mudah2an kita masih diberi kesempatan oleh Allah untuk mencicipi puasa tahun depan ya Bu? 🙂

    Wassalaam

    __bowo;

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: