murniramli

Kalau anak sering disuguhi jajanan

In Renungan on Oktober 4, 2007 at 12:00 pm

Apakah anda bisa membedakan mana makanan yang enak dan mana yang tidak enak ketika pertama kali mencicipi masakan ?   Orang Jepang tidak bisa membedakan mana makanan yang enak ataupun yang tak enak, sebab mereka selalu berteriak “oishii” setiap kali menyantap makanan apapun 😀

Teman saya mengeluhkan suaminya (orang jepang) yang tak pernah protes tentang masakan yang dibuatnya, semuanya disantap, enak atau tak enak.  Dan ketika dia meminta suaminya memasak, hasilnya tak pernah enak.  Usut punya usut, ternyata sang suami tak pernah merasakan masakan khas buatan ibunya, tapi selalu disuguhi dengan jajanan pasar atau makanan jadi.

Entah ada kaitannya atau tidak secara ilmiah, tapi kami meyakini bahwa anak yang terbiasa dibuatkan penganan/kue-kue oleh ibunya sejak kanak-kanak, perkembangan indera perasa lidahnya akan sangat baik.  Dia mampu membedakan masakan yang enak dan tak enak 😀

Kue-kue camilan buatan ibu akan terasakan enaknya sampai kita berumur lanjut seperti mereka.  Saya tak bisa melupakan enaknya penganan pisang yang biasa mamak buat, juga nikmatnya ayam bumbu laosnya, juga “barobbo” (bubur jagung dan sayur).  Saya tak sepandai mamak memasak, tapi lidah saya terlatih membedakan yang enak dan tak enak 😀   Meskipun demikian, makanan tak enak kadang-kadang saya makan juga, karena sebelum makan, otak saya mengeluarkan  database tentang manfaat makanan yang tak enak tadi.  Contohnya okra, natto, rumput laut dan segala makanan yang berlendir lainnya….hueeek (>_<)

Beruntunglah anak-anak yang ibunya pandai memasak, beruntung juga anak-anak yang ibunya rajin mencoba resep, walaupun hasilnya tak memuaskan.  Ibu-ibu jangan berputus asa, sekali ngga enak, dua kali ngga enak, yang ketiga kalinya …..mungkin lebih ngga enak 😀    Barangkali pembuat resepnya membuat kekhilafan, kembangkan sendiri resep anda ;D

Iklan
  1. Mbak Murni, udah bisa makan nasi yang dituang ke atasnya nama-tamago (telur mentah) nggak ? Kalau masih kurang sedap, tambah dg shoyu (kecap). 😀

    murni : sudah, Pak ditambahi merica 🙂
    bahkan natto pake telur mentah juga sudah, yang ngaduknya 40 kali putaran hehehehe

  2. wahh bagus nie infonya buat parabunda.

    salam kenal, tukeran link y?

    murni : terima kasih.
    Salam kenal, Mba Inna

  3. weleh-weleh info bagus nih. Mumpung anak saya masih batita, gak akan dibiasain jajan dulu kalau begitu.

    salam kenal.

    murni : salam kenal juga 🙂

  4. oh gitu yah… anak ku suka banget makan chips dr luar … tapi ujung2nya malah gak napsu makanan rumah… brarti harus dibatasai yah

    murni : ya dibatasai atau dihentikan saja.apalagi yg ber-MSG

  5. Sepakat, mbak. Walopun ibu saya (ngakunya) ga pinter masak, tapi tetap aja saya rindu banget ma ikan serai dilado buatannya. Makanan yang mesti ibu yang membuat 🙂

    murni : itu makanan Padang ya ? 🙂

  6. kalo saya jajanan suku, buatan ibu juga suku, yang penting gratis 😀

    murni : ya, harus disyukuri ya, Pak, la wong tinggal makan 😀

  7. Ooo begitu ya?

    Berarti enak tidaknya makanan itu relatif ya?

    Kalau sedari kecil terus menerus disuguhi makanan enak, maka tak bisa membedakan makanan enak dan tak enak ya? Begitu juga sebaliknya? 😀

    Kalau makan makanana buatan ibu sendiri yang bervariasi keenakannya, maka kita bisa mudah membedakan makanan enak dan tidak enak. 😀

    murni : ini kayak premis math : jika p maka q 😀
    Kalo dari kecil disuguhi makanan enak terus, maka pas besarnya makanan ga enak ga bisa ketelen, karena lidahnya ngga terlatih 🙂
    Kalo dari kecil disuguhi makanan “tak enak”,maka ketika makan makanan enak serasa makanan surga heheheh….

    Makanan tak enak = berMSG tinggi + berzat pengawet+ngga fresh dari panci 😀 +warnanya nge-jreng + bergula tinggi + bergaram tinggi + ndak ngga dimasak dengan kasih sayang 🙂
    Kita bisa menikmati keenakan masakan ibu walaupun tak enak karena terbayang ibu yg memasaknya dengan penuh kasih sayang, apalagi sekarang masa-masa berbuka, semua daftar resep andalan ibu ada di kepala hehehee.

  8. Wah saya penggemar makanan Jepang. Tahun 1997 saya pernah berkunjung ke Tokyo selama 1 minggu … dan naik 2 kg hahahha. Semua saya makan .. sampai itu apa ya namanya … shabu2(?) yg dituang telor mentah … enaknyaaaa.

    Setujuh .. makanan bikinan emak ngga ada tandingannya!! Sampai sekarang, saya ngga bisa nyamain rasa orak arik buncis telor buatan ibu saya … padahal bumbunya kan sederhana sekali, tapi tetep sentuhan ibu saya bikin rasanya lebih maknyos buat saya :D!

    murni : duh…itu orak-arik buncis telur juga ngangenin 🙂

  9. gitu yaa bu, anak saya nggak saya biasakan untuk makan jajanan yang instan tuh, supaya lebih sehat aja, tapi ternyata ada hubungan dengan indra yang lain yaa

  10. salam kenal.
    kalau diijinkan kami akan mengambil artikel-artikel yang berhubungan dengan keTK-an, untuk dimasukkan dalam rubrik yang ada di website kita. Maaf dan terimakasih

    murni : silahkan Pak/Bu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: