murniramli

Dilema dalam pendidikan Jepang

In Pendidikan Jepang on Oktober 9, 2007 at 1:22 pm

Hari Kamis yang lalu saya kembali bergabung dengan rombongan Nanbu Sensei untuk menjadi ‘school councillar’ di kota Takahama. Dua sekolah yang kami kunjungi yaitu SD Takahama dan SD Tsubasa. SD Tsubasa adalah SD baru, berumur 6 tahun dan menjadi SD percontohan di kota Takahama.

Kunjungan ke SD Tsubatsa meninggalkan kesan yang sama kepada saya tentang sekolah-sekolah baru di Jepang yang mulai dibangun dengan ornamen kayu lebih banyak dibandingkan sekolah-sekolah lama, plus space yang luas yang selalu tersedia di setiap lantai. SD Tsubasa didirikan di areal yang dilingkupi persawahan dan industri dengan jumlah siswa sebanyak 656 orang dan guru sebanyak 38 orang.

Ketika berkunjung, kami sempat mendatangi kelas-kelas (kelas 1-6) dan yang menarik adalah kelas 1 yang sedang belajar membaca. Dua kelas dengan jumlah murid rata-rata 25 orang membaca dengan teknik yang berbeda-beda. Kelas pertama membaca per kalimat dengan cara dibaca secara bersama oleh anak-anak yang duduk sebaris dari anak yang duduk paling depan hingga belakang. Tentu saja dengan suara yang kencang. Kelas kedua membaca satu persatu. Saya sangat tertarik dengan kelas yang pertama, karena walaupun sudah siang (jam 14.00), anak-anak masih bersemangat, bahkan berteriak ketika membaca. Sayangnya dengan model begini, guru hampir tak memperhatikan siapa yang bersuara lantang siapa yang tidak, siapa yang lancar membaca, siapa yang hanya cuap-cuap. Barangkali harus diseling dengan teknik membaca yang kedua.

Kelas 5 dan 6 yang kami tengok sedang memanen padi dari sawah yang dipinjamkan petani untuk menjadi tempat pembelajaran bagi anak-anak Tsubatsa. Di SD Takahama, karena sekolah berada di tengah kota, maka anak-anak bertanam padi di ember-ember yang ditata di halaman sekolah. Banyak sekolah-sekolah Jepang yang mengajarkan pelajaran dan pengalaman bercocok tanam padi, karena nasi menjadi bagian hidup mereka dan tak bisa dilepaskan dari kehidupan orang Jepang kebanyakan.

Setelah melihat anak-anak belajar, kami kembali ke ruang kepala sekolah untuk mendengarkan penjelasan lebih lanjut dari kepala dan wakil kepala sekolah, kemudian kesempatan berkomentar dari konsultan sekolah dan tanya jawab.

Satu hal yang menarik adalah kekhawatiran kepala sekolah tentang prestasi anak-anak yang semakin menurun. Berdasarkan hasil survey, anak-anak memang senang di sekolah, mengaku mengerti pelajaran, dan menikmati semua aktivitas di sekolah. Tapi kenapa angka assessment (gakuryoku) mereka rendah ? Apakah karena guru tak mengajar serius, ataukah level soal yang ditanyakan terlalu tinggi ? atau anak-anak memang sudah tak menyenangi belajar untuk ujian ?

Perkara ini menjadi dilema besar dalam pendidikan Jepang saat ini ? Mengembalikan model pembelajaran seperti dulu yang lebih bertumpu kepada “ujian” dan PR yang banyak dikhawatirkan akan membawa tekanan yang akan meruncing kepada angka bunuh diri dan keengganan bersekolah, tetapi membiarkan seperti ini, anak-anak akan tak mampu bersaing dan terlalu dibuai dengan pola bermain. Untuk segera menghapuskan yutori kyouiku yang lebih menekankan pembelajaran melalui pengalaman, menjadi pembelajaran yang menekankan kepada kemampuan akademik yang dievaluasi melalui ujian, sepertinya menjadi dilema dan kebingungan bagi guru-guru Jepang.

Nanbu sensei mengusulkan agar guru-guru mencoba membuat analisa soal-soal ujian, dan menemukan bagian mana yang siswa tak dapat menjawabnya. Dulu ketika saya menjadi guru di MA, saya pun sering melakukan ini, memeriksa semua soal dan jawaban siswa, lalu menghitung presentasi jawaban benar siswa, untuk mengetahui bagian mana yang siswa tak paham.

Melihat kondisi di Jepang, saya jadi teringat kondisi di Indonesia yang sejak SD bahkan TK, anak-anak sudah dilatih mengerjakan soal-soal, hingga SMA, para siswa tak pernah istirahat berkompetisi. Atmosfer seperti ini barangkali kurang baik bagi perkembangan psikologi anak, tapi barangkali juga punya sisi positif, mengajarkan anak untuk senantiasa bergiat dan menyenangi kata “belajar”

Alangkah bagusnya jika, seperti yang biasa saya ungkapkan, “otak, badan, dan jiwa” anak berkembang dengan baik melalui pendidikan di sekolah, rumah dan lingkungannya, tapi alangkah sulitnya merumuskan ini dalam sebuah program pembelajaran, apalagi melaksanakannya.

Iklan
  1. Yang terakhir persis gaya Gus Dur tiap menutup sebuah tulisan :-). Selamat mengakhiri Ramadhan Mbak. Mdtk, MSR

    murni : Belum pernah baca tulisan Gus Dur, Mas…jadi ngga tau kalo beliau “menjiplak” kalimat penutup saya 😀

  2. Selamat Iedul Fitri, Mohon maaf lahir bathin, semoga Mbak Murni sehat sejahtera senantiasa

    murni : Sama-sama, Pak. Slamat hari Raya, mohon maaf lahir bathin.
    Semoga senantiasa dalam perlindungan dan kasih sayang Allah

  3. Mbak Murni …. Minal Aidin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.

    murni : terima kasih Mba Santi, sama-sama mohon maaf lahir bathin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: