murniramli

Anak SMA boleh bekerja di Jepang

In Pendidikan Jepang, SMA di Jepang on Oktober 16, 2007 at 5:33 am

Seminar PDP mulai lagi di kampus saya setiap selasa malam, dan materi perdana yang kami diskusikan adalah ‘kemiskinan yang meningkat secara drastis ‘(hinkon kyuuzou) di Jepang. Dari tulisan yang dimuat di journal pendidikan (zasshi kyouiku) edisi bulan 10, ditampilkan tabel berikut tentang standar kemiskinan yang dipakai di Jepang dan menurut OECD.

Standar kemiskinan

Pendapatan per tahun berdasarkan jumlah tanggungan (yen)

1 org

2 org

3 org

4 org

5 org

Standar th2002

1.150.000

1.920.000

2.610.000

3.160.000

3.840.000

Standar th 97

1.060.000

1.820.000

2.500.000

3.030.000

3.660.000

Standar OECD th 2000

1.380.000

1.950.000

2.390.000

2.760.000

3.090.000

Pada tahun 1997, persentase working poor (pekerja yang bekerja tapi berpenghasilan kecil) sebesar 16,3%, dan meningkat menjadi 22,3% di tahun 2002. Di daerah Tokyo terjadi peningkatan tajam jumlah siswa yang memerlukan beasiswa dari tahun 1993 yang hanya sebesar 15,8% menjadi 42,2% pada tahun 2005.

Secara umum, keluarga-keluarga di Jepang tak menampakkan gap, bahkan bagi orang asing seperti saya, masyarakat Jepang kelihatannya berada di garis keseimbangan, apalagi jika dibandingkan dengan masyarakat Indonesia yang gap secara ekonomi sangat lebar. Tapi tulisan ini menampakkan realita lain tentang masyarakat Jepang. Beberapa guru yang menghadiri seminar membenarkan kenyataan ini, dengan mengatakan banyak anak SMA yang berhenti sekolah di tempatnya mengajar dengan alasan orang tua yang tak mampu membiayai, dan dia terpaksa harus bekerja part time.

Tapi kalau kita amati betul sehari-hari anak-anak SMA yang bersekolah di daerah perkotaan dan pedesaan di Jepang, memang terlihat nyata perbedaannya. Saya sering menjumpai anak-anak dengan sepatu menganga, dan baju serta tas kumal ketika saya berangkat mengajar ke daerah Toyota atau Anjo, atau anak-anak yang terlihat kurang sehat dengan wajah yang kuyu dan tak segar di pagi hari. Penampilan anak-anak SMA di atas bukan karena mengikuti model, tapi terlihat jelas mereka berada dari keluarga yang kurang berkecukupan. Di lain pihak, anak-anak SMA yang bersekolah di sekolah swasta terlihat rapih dan tentu saja dengan segala pernak pernik bermerk-nya.

Toko 100 yen yang selalu diidentikkan dengan orang asing 😀 sekarang pun diserbu oleh orang Jepang yang tak sanggup dengan harga-harga yang melambung. Tapi tetap saja banyak orang Jepang yang membelanjakan uangnya di pertokoan elit Matsuzakaya, Maruei, Loft, atau pun Mitsukoshi. Anak-anak SMA dan orang-orang muda Jepang yang tetap ingin terlihat berkelas dengan barang bermerk menghabiskan hasil kerjanya selama sebulan dengan membeli barang-barang bermerk second hand.

Menjadi menarik untuk diamati di Jepang, karena pemerintah mengijinkan anak SMA berumur 16 tahun untuk bekerja paruh waktu. Tentu saja tempat bekerja untuk mereka terbatas, seperti toko kue atau restoran. Di pelosok kampung, anak-anak SMP malah sudah bekerja karena keterpaksaan. Tapi fenomena belakangan ini sungguh mengejutkan karena banyak anak-anak SMA yang memilih bekerja part time daripada terus belajar di SMA. Kelihatannya anak-anak seusia SMA setelah mereka merasakan bagaimana nikmatnya menerima gaji dan membelanjakannya untuk keperluan sehari-hari, dan membandingkannya dengan kehidupan ‘keras’ di sekolah yang memaksa otak mereka bekerja keras, berfikir dan mempersiapkan ujian masuk PT.

Karenanya, seorang ibu yang setia menghadiri seminar kami berharap agar bapak ibu guru berusaha memotivasi anak agar setidaknya dapat lulus dari SMA. Fakta ini memang sangat memprihatinkan bagi orang-orang tua di Jepang. Jika berketerusan, maka anak-anak SMA ini akan semakin menambah jumlah working poor di Jepang, orang-orang yang bekerja tapi berpenghasilan rendah. Sementara posisi kerja yang membutuhkan skill akan diisi oleh pendatang asing yang mulai berdatangan di Jepang atau juga mahasiswa-mahasiswa asing yang saat ini sedang bersekolah di Jepang, dan memiliki kecenderungan bekerja di Jepang dengan alasan gaji yang lebih tinggi daripada di negara asalnya.

Tetapi jika problem ini coba dipecahkan melalui penghapusan kebolehan bekerja bagi anak-anak SMA, maka dampak buruk lainnya akan muncul yaitu kriminal dan stress, dan tentu saja gap makin melebar. Orang muda yang bisa bersabar dengan penampilan sederhana dan tak mengikuti arus, kelihatannya barang langka di Jepang.

Iklan
  1. penyebab anak sma di jepang itu boleh bekerja apa aja mbak?kalau bisa lebih dari lima masalah,,mohon bantuaannya mbak,saya lg ngumpulin bahan buat skripsi tentang budaya.makasih,,atau apa aja yang mbak tahu tentang permasalahan yg lg in menyangkut budaya

    murni : dalam tulisan sdh saya jelaskan, penyebabnya krn biaya hidup tinggi.
    Mohon maaf, saya ndak bisa membantu krn budaya luas sekali dan tidak terlalu mendalami masalah ini, barangkali bisa tengok blognya Mas Sany ( A Sunny Day) atau blog Pak Anto (Corat-coret Anto S Nugroho)

  2. emang disana anak sma nggak belajar bu?

    murni : belajar, cuma sambil kerja boleh

  3. Bu Murni, yang saya tahu anak sma sudah boleh bekerja jauh sebelum isu kesenjangan sosial meningkat. Dan sekalipun mereka berhenti sekolah untuk bekerja penuh, itu tidak menjadi masalah karena wajib belajar hanya sampai smp dan mereka sdh masuk usia tenaga kerja. Maaf saya kurang bisa menangkap point permasalahnnya. Mohon pencerahannya.

    murni : terima kasih atas komentarnya, Mas Dony
    Permasalahannya adalah jika mereka DO dan memilih bekerja, secara usia memang legal secara hukum tapi dari segi pengalaman dan kemampuan berfikir dianggap masih mature. Sehingga pekerjaan yg bisa mereka lakukan atau sebaliknya perusahaan yang mau menampung tenaga mereka hanya mau memperkerjakan mereka sebagai tenaga kasar atau staf rendahan. Jika demikian terus adanya maka perusahaan Jepang akan semakin banyak memakai tenaga ahli asing karena orang mudanya juga tidak bersekolah hingga menjadi ahli 🙂
    atau masyarakat kelas bawah akan semakin membengkak dan yang atas makin mengerucut.

    Wajib belajar di Jepang sekrg sedang dipolemikkan, apakah sampai SMP saja atau dicukupkan sampai SMA.

  4. indonesia menang tuh klo untuk satu ini 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: